NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Liu Shen

​Sore itu, suasana di pinggiran Kota Azure terasa berbeda bagi mereka.

Setelah mengunjungi Toko Obat "Lentera Hijau" dengan perasaan bangga, mereka keluar dengan kantong yang terasa lebih berat.

Tiga keping koin perak berkilau di telapak tangan Paman Han.

Bagi mereka yang terbiasa hidup dengan menghitung keping perunggu kusam yang sering kali tak cukup untuk makan, cahaya perak itu seperti bulan purnama yang turun ke telapak tangan.

​"Malam ini, kita makan daging!" seru Paman Han dengan nada angkuh yang kembali muncul. Ia membusungkan dadanya yang bidang namun kurus. "Paman Han-mu ini akan menunjukkan padamu bagaimana seorang kultivator sejati merayakan kemenangan!"

​Namun, saat mereka berjalan menyusuri pasar menuju kedai makan, langkah Lu Ming mendadak terhenti.

Di sebuah lorong sempit yang terjepit di antara dua bangunan megah milik sekte lokal, ia melihat sesosok kecil yang tampak sangat kontras dengan kegelapan gang yang lembap dan bau.

​Seorang bocah, mungkin seusia Lu Ming, duduk memeluk lututnya di atas tanah yang kotor.

Hal yang paling mencolok dan aneh darinya adalah rambutnya yang berwarna putih bersih seperti salju sebuah kontras yang tajam di tengah lingkungan kumuh itu.

Kulitnya pucat nyaris transparan, dan matanya yang berwarna abu-abu menatap kosong ke arah jalanan.

Ia tidak meminta-minta, tidak menangis, bahkan tidak bergerak. Ia hanya diam seperti patung es yang dibuang oleh pemiliknya.

​"Siapa itu? Hantu siang bolong?" gumam Paman Han sambil mengernyitkan dahi, aroma alkohol dari nafasnya tercium saat ia bicara.

​Lu Ming mendekat dengan ragu. "Hei… siapa namamu?"

​Bocah berambut putih itu mendongak perlahan. Tatapannya dingin, hampa, dan tanpa emosi. Seolah-olah hatinya sudah membeku dan mati sejak lama sekali.

​"Liu Shen," jawabnya singkat. Suaranya datar, tanpa nada, seperti embusan angin musim dingin.

​"Di mana orang tuamu? Kenapa kau duduk di sini sendirian?" tanya Lu Ming lagi, suaranya melunak.

​Liu Shen terdiam sejenak sebelum kembali menundukkan kepala ke arah lututnya. "Tidak ada. Sudah lama tidak ada."

​Jawaban itu menghantam dada Lu Ming. Rasa sesak yang akrab kembali muncul.

Ia melihat bayangan dirinya sendiri setahun yang lalu; tersesat, kotor, dan tak punya siapa-siapa. Namun, bocah di depannya ini terasa lebih rapuh sekaligus lebih keras di saat yang sama.

​Paman Han mendengus pelan, tangannya masuk ke dalam saku jubahnya yang baru saja berisi koin perak. "Oi, bocah salju. Kau lapar tidak? Jangan menatapku seperti aku ini penjahat. Aku baru saja bertarung dengan beruang raksasa, aku tidak punya energi untuk berkelahi dengan kurcaci sepertimu."

​Liu Shen tidak menjawab dengan kata-kata, namun bunyi perutnya yang keroncongan di tengah kesunyian gang tidak bisa berbohong.

​"Sudahlah, ayo ikut!" Lu Ming menarik tangan Liu Shen. Kulit bocah itu terasa sangat dingin, seperti menyentuh lempengan es. "Hari ini Paman Han sedang banyak uang. Kami akan makan besar, dan kau harus ikut!"

​Di sebuah kedai kecil yang sederhana namun harum oleh aroma lemak daging panggang dan rempah, ketiganya duduk melingkar di meja kayu yang berminyak.

Paman Han memesan tiga porsi besar nasi dengan tumpukan daging panggang dan sup jamur yang masih mengepulkan uap panas.

​Saat makanan dihidangkan di depan mata, pupil mata Liu Shen sedikit bergetar. Ia memegang sumpit dengan kaku, seolah-olah benda itu adalah sesuatu yang sangat asing atau sudah terlalu lama ia lupakan cara menggunakannya.

​"Makanlah. Jangan sungkan," ucap Lu Ming sambil memindahkan sepotong daging besar yang paling empuk ke atas mangkuk Liu Shen. "Aku tahu rasanya… lapar itu sangat sakit, kan?"

​Liu Shen mulai makan. Awalnya perlahan, sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang bermimpi dan takut makanan itu akan berubah jadi debu jika ia terlalu kasar.

Namun, rasa lezat daging itu memicu instingnya. Ia mulai makan dengan cepat, menyuap nasi dengan tangan yang sedikit gemetar, seolah takut makanan itu akan dirampas jika ia berhenti sedetik saja.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!