Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bima's Angel
Bianca meninggalkan ruangan karaokenya sebentar dan menuju ke kamar karaoke lain yang lebih kecil.
Disana sudah ada Angeline dan Jihan.
Angeline mendekati Bianca dengan antusias untuk menanyakan kabarnya.
"Jeng!! Gimana, gimana, jadi sekarang kita grebek?!" tanyanya tak sabar.
Bianca menghela napas.
"Yang ketemu Bima lo aja, Jihan disini."
Jihan terkesiap mendengar Bianca.
"Kenapa?" tanyanya gemetar.
"Karena lo ngga pantas."
Jihan menatap Bianca dengan ketakutan.
"Bi..."
"Ada yang harus lo kasih tau ke kita berdua kan?!" potong Bianca.
Jihan menunduk. Tangannya gemetar.
Namun dengan keadaan perut yang membesar, Bianca ngga sampai hati menekannya. Wanita itu menghampiri Jihan dan duduk di sebelahnya, mengelus lengannya menenangkannya.
"Lo tau kalau Bima bukan pasangan yang tepat buat lo... Memangnya kalau lo berhasil, perasaan Bima akan sama dengan yang lo rasakan?"
"Bukannya ke perempuan lain juga sama aja?!" sahut Jihan sinis.
"Ke Angeline ngga."
"Bagaimana lo tau?!" Jihan bertanya dengan nada yang agak keras.
"Bima ngomong sendiri barusan ke gue." Bianca menatap Jihan dengan dingin.
Jihan mengernyit. "Gue ngga ngerti maksud lo."
Bianca tersenyum sabar.
"Jihan... Ada sesuatu yang harus lo omongin ke kita ngga? Ato gue aja yang ngomong?" tuntut Bianca.
Jihan hanya terdiam.
Lalu ia mengelus perutnya.
Perlahan.
"Gue... butuh ayah untuk anak ini." sahut Jihan. "Gue suka sama Bima, udah lama. Bahkan gue suka sama dia sejak gue udah tunangan sama Krisna, kakaknya. Saat gue dikenalkan ke calon mertua gue, dia ada di sana. Tersenyum ke gue. Menjabat tangan gue."
Jihan menatap Bianca.
"Bahkan saat gue diperkosa sama Krisna, Bima yang bawa gue ke rumah sakit, nungguin sampai gue sadar." Jihan mulai terisak.
"... Yang dia ngga tau... adalah... gue ngga tau siapa bapak anak ini. Karena yang memperkosa gue bukan cuma Krisna. Masih ada 9 orang lagi."
Bianca dan Angeline memekik tertahan.
"Sori... Gue harus bohong sama lo, sama Angeline... Tapi gue bener-bener tidak punya siapa-siapa lagi untuk gue berkeluh kesah. Keluarga gue bahkan ngga tau gue hamil, gue tinggal terpisah sama mereka sejak perut gue membesar. Sementara Krisna pergi begitu saja pas tau gue hamil, dia malah ke luar negeri entah di mana untuk mengurusi perusahaan keluarganya yang lain. Dia mengancam akan menyebarkan video gue diperkosa kalau gue sampai minta tanggung jawab. Gue bingung..." Jihan menutup telinganya sambil menangis.
Bianca menarik napas dan menahan tangisnya, lalu memeluk Jihan. Angeline bahkan sudah menangis dengan suara yang lebih kencang dari Jihan. Bagaimanapun ia sangat mengetahui kesulitan yang dihadapinya saat hamil dan melahirkan tanpa seorangpun di sisinya.
"Gue bisa aja menantang balik dengan menuntut ke keluarganya, tapi gue ngga sampai hati kalau anak ini tahu kenyataannya, dan keluarga gue apakah mau menerima anak ini apa adanya... Lalu kalau sampai Krisna dipenjara pun dan akhirnya mau menikah sama gue, apa ada jaminan dia ngga akan berlaku semena-mena lagi sama gue?! Dia tega ngasih gue ke temen-temennya habis perawanin gue, apa itu yang namanya manusia?!" isak Jihan.
Mereka saling berpelukan, setengahnya ada perasaan saling menenangkan, setengahnya lagi saling melindungi.
Hanya ada isak tangis saat ini.
Kesialan bisa terjadi pada siapapun, seperti halnya kematian. Tidak memandang status dan kedudukan.
Memberi dukungan adalah cara terbaik saat ini.
"Ehm... sori... ibu-ibu?!"
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu masuk.
Bara sudah ada disana.
Pria itu langsung menyadari dia masuk disaat yang tidak tepat.
"Kalau saya mengganggu, saya akan keluar dulu."
"Pak Bara... Tidak menganggu kok, silahkan masuk." desis Bianca sambil menghapus air matanya.
"Beneran?" Bisik Bara saat Bianca menghampirinya.
Wanita itu mengangguk.
"Saya malah... Mau minta tolong titip Jihan sebentar karena saya dan Angeline mau ke ruangan sebelah."
Bianca harus mengingkari janjinya ke Bima untuk menyembunyikan rencana pria itu menikahi Angeline. Bagaimanapun mereka harus bertemu, Bima tidak bisa menghindari Angeline terus menerus dan membuat wanita ini salah paham. Apalagi Seven selalu menghalangi Angeline bertemu Bima.
"Yah... Saya memang mau membahas kerjasama mesin server dengan Bu Jihan sih..." Sahut Bima.
Bianca mengangguk.
Wanita itu menarik Angeline sementara Bara duduk di sebelah Jihan yang terpaku menatap sosok tinggi besar dan bermata elang itu.
Pria itu menyerahkan tisu ke Jihan.
"Suka nyanyi lagu apa bu Jihan?" tanyanya.
*****
"Gue harus gimana? Harus ngomong apa?!" seru Angeline.
"Kenapa lo jadi panik? Bukannya yang minta ketemu dari awal itu elo yah..." Bianca menatap Angeline masih dengan tatapan dinginnya.
"Itukan pas gue emosi!"
"Tadi yang ngomong langsung grebek tuh siapa yah?!" sindir Bianca.
Angeline menghela napas.
"Udah berapa lama lo ngga ketemu Bima?"
"Udah... Setahunan... Sejak Gabriel 3 bulan. Tapi dia tetap kasih nafkah ke rekening gue, sih..."
Bianca menghela napas.
"Ya kalo lo puas sama yang begitu, okelah... gue masuk ruangan lagi, lo pulang aja." Bianca beranjak untuk membuka pintu.
Angeline menarik tangan Bianca, merengut.
"Paling enggak kasih gue semangat lah..." desis Angeline.
Bianca menghela napas.
"Masuk, sana. Jangan sampe ketahuan kalo gue yang bawa lo ke sini." sahut Bianca.
Ia menatap Angeline yang menarik napas panjang dan mengucap doa.
Bianca tersenyum jahil.
"Hey..." sahutnya ke Angeline. "Do it with pride. Di dalam ada Farah, ada Sisca juga yang selalu mendukung Farah. Keduanya sering dipake Bima untuk selingan, Mereka yang sering menghalang-halangi lo ketemu Bima. Lo harus lakukan dengan anggun pertahankan harga diri lo, jangan emosi, seandainya Bima ngga mau nemuin lo juga, ngga mau ngomong sama lo juga, lo harus terima. Karena yang dibutuhkan anak lo yang utama adalah ibunya."
"I'll do it for my son, for Gabriel." desis Angeline.
Ia tersenyum bangga.
Lalu masuk ke ruangan besar.
*****
Bianca menunggu mereka di ruang tunggu depan kasir sambil memainkan ponselnya.
Lucas lagi ngapain yah...
Pikir wanita itu.
Dan kenapa Pak Bara ada di sini?
Kenapa waktunya pas sekali?
Lalu ponselnya berdenting. Telepon masuk dari Alex.
"Six." Sahut Alex.
"Malam, Pak..."
"Saya sudah bicara dengan Pak Haidar. Penawarannya malah masuk di angka lebih tinggi dari yang ditawarkan Jihan. Jadi untuk berikutnya biar Bara langsung berhubungan dengan Pak Haidar."
"Baik Pak. Terima kasih."
"Ah iya saya mau tanya... Kamu kenapa ngga mau terima hadiah saya?
Bianca menghela napas.
Ini dia...
Cepat atau lambat Pak Alex pasti bertanya.
"Atau ada hadiah lain yang lebih kamu inginkan?" tanya Alex lagi.
"Saya tidak terbiasa menerima hadiah semahal itu pak."
"Menurut saya hadiah yang saya berikan sesuai untuk kamu, se-exclusive diri kamu."
"Terima kasih atas pujiannya pak."
"Atau kamu berpikiran saya memberi kamu hadiah mahal pasti dengan tujuan tertentu yah?"
Bianca berdehem.
Tajam juga feelingnya.
"Tenang saja Six...ngga ada maksud tertentu kok. Saya cuma pingin asisten saya tampil lebih anggun."
Oh
Masa?!
"Bukan maksud saya menolak hadiah bapak, karena saya mencium ada indikasi bapak akan menyusahkan saya dalam hal pekerjaan atau pribadi pak. Saya hanya ingin bapak tahu bahwa tanpa hadiah-hadiah dari bapak pun, saya akan bekerja dengan sepenuh hati saya."
Yak, itu jawaban paling diplomatis menurut Bianca.
"Kalau begitu, karena saya sudah membantu kamu mengenai Haidar Techno... Besok jangan tolak lagi hadiah dari saya yah."
Bianca menghela napas lagi.
"Asal tidak terlalu mahal seperti yang kemarin pak..." sahut Bianca.
Dari sana terdengar hening.
"Dari semua orang kepercayaan ayah saya, kamu yang paling menonjol, Six. Bahkan ibu saya sering membicarakan kamu."
Pak Baskara... Apa kabarnya yah, Bu Retno juga... Sudah lama sekali terakhir Bianca berbincang dengan mereka berdua.
"Kata ibu saya, kamu suka barang yang berkualitas, dan yang modelnya sederhana. Sampai begitu dia memperhatikan kamu." kata Alex.
Bianca tersenyum mendengar penjelasannya. Ya mereka berdua memang sering mengobrol mengenai fashion.
"Ah, Six... Ada satu barang yang dititipkan untuk kamu dari mendiang ayah saya, hari Senin saya kirim ke kantor."
Bianca tertegun.
Tadi dia ngga salah dengar kan?
"...mendiang?" ulang Bianca.
"Iya. Almarhum ayah saya punya bingkisan yang belum sempat ia berikan..."
"Almarhum?"
Bianca merasa ada hawa dingin yang langsung menyelimutinya.
"Iya... Six? Jangan-jangan kamu..."
Bianca tidak membalas pertanyaan Alex. Seketika seluruh kilas balik mengenai masa lalu berputar di benaknya.
Ia bahkan belum sempat berterimakasih secara layak pada Pak Baskara.
"Kapan...?" bisik Bianca.
"Six..."
"Kapan beliau meninggal? Di mana pusaranya?" tanya Bianca.
Terdengar helaan napas dari seberang.
"Sekitar enam bulan lalu, karena penyakit jantung. Gejalanya memburuk setelah dia pensiun lima tahun lalu. Karena itu sekarang saya ada di sini."
Bianca merasa matanya panas. Butiran air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
"Bu Retno... Bagaimana?"
Alex terdiam
Tak ada jawaban dari seberang.
"Pak Alex ? Bu Retno bagaimana? Di mana beliau sekarang? Saya ingin bertemu!"
"Ibu saya... Saat ini koma karena stroke."
Bianca sekali lagi terpaku.
Dia bagai mendapat hantaman petir dua kali dalam satu waktu.
Itu sebabnya Alex akhirnya pulang ke Indonesia setelah sekian lama...? Untuk merawat ibunya? Melanjutkan usaha ayahnya?
"Saat ini waktunya kurang tepat untuk bertemu, saya akan ajak kamu kalau dia boleh dikunjungi. Sekarang hanya keluarga yang bisa menjenguknya." kata Alex.
Berikutnya hanya ada isakan Bianca.
“Six, maaf saya mau bertanya... mumpung ada kesempatannya.” Kata Alex dari seberang, ada keraguan dalam ucapannya. “Setau saya, kalian, Kamu, Bara dan Leon adalah orang-orang kepercayaan bapak saya... Tapi terakhir kali saya bertemu ibu saya, saat beliau masih sadar, dia hanya menitipkan Leon dan Bara kepada saya.”
Bianca menaikkan alisnya.
“Apa kamu ada konflik sama ibu saya atau bagaimana, Six? Kamu sepertinya juga sudah lama tidak mengunjungi mereka berdua.”
“Iya, Setelah pensiun, Pak Baskara dan Bu Retno pindah rumah. Mereka tidak memberitahu alamatnya ke saya. Saya waktu itu... agak marah sama Pak Baskara saat beliau pensiun dan mau menyerahkan seluruh saham ke Anda, Pak Alex. Jadi mungkin beliau tersinggung dan sejak saat itu kami putus kontak.”
Hening beberapa saat dari seberang sana.
“Jadi, secara tak langsung kamu mengatakan kalau kamu membenci keberadaan saya...” desis Pak Alex.
Aku menghela napas.
“Ya, begitulah. Saya tidak percaya dengan Anda. Itu saja, kalau Anda mau tahu.”
Terdengar kekehan dari seberang sana.
“Kamu hebat, Six. Saya mulai suka sama kamu.”
Maksudnya?!
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.