NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. WIIIUUUU WIIIUUUUU

Alvin perlahan menoleh.

Di lorong sempit antara rak-rak besi dan tumpukan barang reject, lima lelaki bertubuh besar berdiri dan memblokir jalan keluar.

"Serius ini yang harus kita habisi?"

Sesosok lelaki berkepala plontos dengan cambang kasar menghiasi wajah perseginya yang berminyak serta merta mendengus. Sepasang mata kecilnya menatap Alvin dengan sorot menghina.

"Jangan tertipu penampilannya... bisa jadi dia lebih berbahaya dari kobra berbisa," lelaki lain yang berperawakan lebih jangkung dan ramping menelengkan kepalanya yang berambut merah cepak, tatapannya seakan ingin menguliti Alvin hidup-hidup.

"Lebay! Aku berani taruhan ular di selangkangannya saja tak sanggup tegak lama-lama--lihat saja tampang dan penampilannya! Lembek! Tipikal anak mami!" ejek preman lain yang berbadan gempal dan berleher setebal tabung gas tiga kilogram.

"Paling sebentar lagi juga pipis di celana," ledek rekannya yang bewajah lonjong dan berambut panjang dikuncir kuda.

Alvin terdiam sejenak dan mengawasi setiap preman itu lekat. Masing-masing dari mereka membawa benda yang cukup berbahaya--tongkat besi, rantai, kunci roda, dan bahkan ada yang kedua tinjunya dilengkapi cakram besi bergerigi tajam.

Jantung Alvin berdentam makin liar. Jujur saja ia tak sehebat Adrian dalam urusan pertarungan fisik--kakaknya itu pemegang sabuk hitam karate yang bisa menghancurkan setumpuk batako dengan satu pukulan tangan kosong. Sementara Alvin cuma jago lari pagi di car free day--itu pun lebih banyak melipir untuk beli jajan daripada lari di jalanan.

Lari. Cuma itu satu-satunya cara yang paling masuk akal untuk menyelamatkan diri. Melawan tanpa keahlian sama saja cari mati

Akal Alvin berkelebat cepat untuk mencari celah dan kesempatan mencapai mobilnya di halaman depan dengan tubuh utuh.

"Kalian jelas tidak datang kemari untuk mencuri busi atau numpang pipis," komentar Alvin dengan suara dan ekspresi yang dipaksakannya setenang mungkin. "Berapa banyak yang Derek tawarkan pada kalian untuk memutus napasku?"

"Oh? Kamu tak bodoh, rupanya... sampai bisa menebak sejitu itu," si botak tersenyum miring. "Tapi otak cerdas dan muka tampan saja tak akan sanggup menyelamatkan nyawamu malam ini..."

"Jangan terburu-buru membunuhku," sela Alvin dengan tatapan ramah. "Bagaimana kalau kita ngobrol dulu sambil ngopi di St*rbucks? Kalau kalian mau, aku bisa memberikan lebih banyak dari yang Derek janjikan, dan kalian tak perlu diburu polisi karenanya..."

"Hmm, menggiurkan," si wajah lonjong mengelus dagunya. "Berapa banyak yang bisa kamu tawarkan?"

"Sebanyak yang kalian mau," sahut Alvin cepat.

"Begitu? Kamu sungguh rela memberikan semua hartamu hanya agar tetap bisa hidup?"

Para preman itu saling melirik dan terbahak.

"Apa yang lucu, Tuan-Tuan?" tanya Alvin tak mengerti.

"Kami mungkin tak sekaya kamu, tapi kami tak bodoh, tahu!" sembur si jangkung cepak. "Mana ada orang tajir sudi jadi miskin? Yang kamu tawarkan ini cuma akal-akalan saja, ketahuan jelas ngibulnya...!"

"Aku tidak bohong! Kalau kalian mau, aku bisa transfer sekarang juga--"

"Caramu tak akan cocok di dunia kami!" sergah si gempal. "Kamu pikir transferan uang saja bisa membuat kami berubah pikiran? Bisa menjamin hidup kami nyaman dan aman? Tak semudah itu, Ferguso!"

Alvin menghela napas panjang, jemarinya yang mencengkeram aki bekas berisi flashdisk itu terasa lebih dingin sekarang. Diam-diam ia menekan-nekan smartwatch yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Jadi kalian sama sekali tak mau memberiku kesempatan...?"

Si plontos tersenyum mengerikan.

"Tidak... tak boleh ada yang tetap hidup setelah melihat wajah kami. Kami hanya mau nyawamu!"

Lima preman itu maju bersamaan.

Adrenalin yang mengalir deras di sekujur tubuh Alvin seketika melenyapkan gentarnya dan menajamkan refleksnya.

Alvin dengan cepat menjatuhkan tubuh ke samping ketika tongkat besi di tangan si plontos terayun kuat ke kepalanya--membuat tongkat itu menghantam dus aki alih-alih meremukkan tengkorak Alvin.

BRAK!

Percikan debu bertebaran. Dus itu hancur dan aki-aki bekas di dalamnya bergulingan ke lantai.

Alvin menyambar salah satu aki dekat kakinya dan melemparnya ke preman yang bertubuh paling pendek dan membawa cakram di tangannya dengan kecepatan mengejutkan.

DUAK!

"Aaaaaaargh!"

Aki itu menghantam telak di wajah si pendek, membuatnya terkapar di lantai dengan darah mengucur deras dari hidungnya yang patah.

Tetapi serangan maut tak berhenti di situ. Si jangkung memutar dan melempar rantai di udara. Yang lain dengan brutal mengayunkan tongkat besi dan kunci-kunci roda yang dibawa.

Sekeras apapun Alvin mencoba menghindar dan melawan, ia gagal. Ia kalah jumlah. Ia kalah cepat dan kuat. Ia kalah pengalaman dan keahlian.

Dalam sekejap, rantai sudah melilit bahunya. Tongkat besi menghantam punggungnya. Kunci-kunci roda melibas wajah dan lengannya hingga robek dan berdarah.

BUGH! BUGH! BUGH!

"Uhuk! Uhuk!"

Tak berhenti di situ, para preman menghajarnya bertubi dan telak di kepala, dada, dan perutnya. Alvin terbatuk keras dan memuntahkan darah. Pandangannya seakan terbelah. Sekujur tubuhnya ngilu dan nyeri parah.

Ia pun tersungkur dan merintih lemah.

"Boleh juga, mencoba melawan sendirian... tidak ngompol di celana atau memohon-mohon ampun," si jangkung tergelak tanpa belas kasihan. "Lebih bernyali dari yang kukira. Sayangnya, lemah tetap saja lemah!"

"Sudahlah. Kita bereskan saja."

Alvin bahkan tak sanggup mendongak dan melihat para penyerangnya dengan jelas. Napasnya terputus--yang barangkali, akan menjadi napas terakhirnya.

Ibunda Ratu... maaf, aku tak akan menyusahkanmu lagi... tolong jaga Nia setelah aku pergi...

Wajah cantik Erina pun tiba-tiba membayang, tepat ketika Alvin memejamkan mata--bersiap menerima serangan terakhir.

Aku mencintaimu, Rin... selamat tinggal...

WIIIIIIIIIUUUUUUUU WIIIIIIIUUUUUUU WIIIIUUUUUU!

"POLISI! JANGAN BERGERAK!"

Tiba-tiba suara sirine dan teriakan menggema. Para preman itu terlonjak hingga menjatuhkan senjata mereka ke lantai dengan bunyi debum keras.

"Polisi?!"

"Bagaimana bisa...?"

"Sial--ayo lari! Cepat! Lewat pintu belakang!"

Lima lelaki itu lari tunggang langgang meninggalkan Alvin tergeletak berlumuran darah dan sendirian di gudang yang penuh debu dan gelap.

"Alvin..."

Sentuhan hangat dan gemetar di pipinya, juga suara yang tak asing dan begitu memikat hatinya itu membuat Alvin membuka mata perlahan.

"E... ri... na...?"

Alvin bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah kepalanya yang dihajar keras telah menciptakan halusinasi--sebab Erina kini berlutut di depannya dan menyentuh lembut wajahnya, raut mukanya pucat pasi dan air mata menggenang di balik pelupuknya.

"Alvin... apa yang terjadi? Kamu terluka...," suara Erina bergetar hebat. "Polisi dan ambulans sebentar lagi datang... tolong bertahanlah!"

Alvin mengerjap lemah.

Jadi yang tadi itu bukan polisi...?

Beberapa saat lalu, ketika Erina menyaksikan Alvin dihajar para preman melalui tayangan CCTV di layar komputer pos security, ia dengan cepat menelepon polisi dan ambulans. Tak kurang akal, ia pun menyambar ponsel Bonita yang tergeletak di meja, membuka aplikasi youtube dan mencari potongan drama dengan adegan polisi menyerbu tersangka.

Erina dengan cepat menyambar microphone dan mengaktifkan sistem interkom gudang, lalu memutar adegan itu dan menyiarkan suaranya melalui mic hingga terdengar ke seluruh gudang, hingga membuat para preman itu kabur ketakutan.

"Rosalinda... Alvin... astaga, apa yang terjadi?"

Entah bagaimana, Derek tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di belakang Erina.

"Pak Derek!" Erina menoleh, rasa lega seketika menyebar di rongga dadanya. "Syukurlah Bapak di sini... tadi tiba-tiba ada preman masuk sini dan menyerang Pak Alvin! Mereka baru saja lari melalui pintu belakang..."

Derek menatap tajam Alvin yang berusaha keras mengumpulkan tenaga untuk kembali bergerak dan bicara.

"Rin...," bisik Alvin lemah.

"Kamu sudah memanggil polisi dan ambulans ke sini?" tanya Derek pelan.

Erina mengangguk. "Ya, Pak, sebentar lagi mereka tiba..."

"Jadi yang saya dengar tadi bukan polisi?"

"Eh... bukan, Pak. Itu tayangan youtube... saya putar dan siarkan ke interkom untuk menakut-nakuti para preman supaya tidak menyerang Pak Alvin lagi...," gumam Erina sembari meringis.

Derek menghela napas panjang.

"Kalau begitu, kamu harus ikut saya sekarang. Ayo."

Derek dengan cepat menyambar lengan Erina dan menariknya pergi.

"Pak?" Erina terkejut dan refleks berusaha melepaskan diri.

"Jangan membantah, Rosalinda, para preman itu bisa jadi belum benar-benar pergi. Tempat ini berbahaya. Kamu harus saya bawa ke tempat yang lebih aman--sekarang!" tegas Derek, cengkeramannya kian kuat.

"Tapi, Pak, kita tak bisa meninggalkan Pak Alvin begitu saja... dia terluka!" protes Erina.

"Saya akan tangani dia nanti! Ikut saya--sekarang!"

"Rin, lari!" Alvin berseru lemah, sekujur tubuhnya gemetar hebat saat ia berusaha mengangkat kepalanya. "Dialah yang mengirim preman-preman itu untuk membunuhku... jangan ikuti dia! Lari!"

Erina terpaku.

Derek menggeleng cepat dan berkata, "Kamu jangan percaya dia--dia pasti berhalusinasi setelah kepalanya dihajar separah itu. Ikut saya, Rosalinda, demi keamananmu--sekarang!"

"Tidak!"

Erina dengan tegas menolak dan berusaha melepaskan cengkeraman Derek--yang seketika membelalak.

"Kamu--"

"Saya tak akan meninggalkan Pak Alvin! Jika Anda benar-benar peduli, seharusnya Anda menolong dan mengamankan Pak Alvin lebih dulu karena dia yang diserang dan terluka parah, bukan saya...!"

"Sudah saya bilang, akan saya tangani dia nanti! Ikut saya sekarang!"

"Tidak! Lepaskan saya!" jerit Erina. "Aaaaaaa! Awas ular!"

"Hah? Mana? Mana?"

Derek melompat panik dan melepas Erina, yang dengan cepat menjauh dan menyambar tongkat besi yang ditinggalkan salah satu preman di lantai.

"Kamu berani melawan saya?!" Derek menyadari dirinya ditipu, dan kini bergerak marah ke arah Erina.

"Ja--jangan mendekat!" pekik Erina panik. Ia pun mengayunkan tongkat besi itu dengan liar, tetapi Derek berhasil menghindar dan bahkan menangkap ujung tongkat besi itu dengan tangannya yang besar, lalu menariknya lepas dari cengkeraman Erina dengan kasar.

BRAKK!

Akibat tarikan bertenaga monster itu, Erina terlempar dan menabrak salah satu rak besi. Pelipisnya membentur keras sudut yang runcing hingga berdarah. Ia pun merosot ke lantai dengan kepala dilanda nyeri hebat dan pandangan berkunang-kunang.

"Rin...!" Alvin memekik panik.

"Kamu ini keras kepala sekali!" gerutu Derek. "Jadi kamu lebih percaya kata-kata Alvin daripada aku? Baiklah, kalau itu maumu..."

"A... Anda mau apa...? Jangan...!"

Erina merintih lemah saat Derek sudah berlutut di dekatnya dan menjamah bagian depan tubuhnya.

"Aku tak mau ada saksi yang merepotkan dan mengacaukan rencanaku. Tapi, sayang sekali kalau kamu kusia-siakan begitu saja...," Derek tiba-tiba tersenyum keji. "Aku sudah berkali-kali memimpikanmu, Rosalinda... bagaimana kalau kali ini, kamu benar-benar memuaskanku, untuk yang pertama dan terakhir kalinya?"

Erina berusaha meronta ketika Derek mencoba merengkuhnya dan membopongnya pergi, tetapi rasa sakit dahsyat di kepalanya seketika melemahkannya, bahkan nyaris melenyapkan kesadarannya.

"T-tidak..."

DUAAAKKK!!!

Alvin berhasil mengerahkan sisa kekuatannya untuk bangkit dan maju, lalu menghantam kepala Derek dengan tongkat besi yang disambarnya dari lantai.

"Ugh..."

Derek melenguh kesakitan dan otomatis melepaskan Erina, sebelum akhirnya tersungkur ke lantai, tak lagi sadarkan diri.

Klang!

"Uhuk!"

Tongkat besi itu jatuh dengan bunyi berdentang keras. Alvin membungkuk dan kembali batuk darah--sebelum akhirnya terkapar di lantai, tak jauh dari sisi Erina.

"Rin..."

"Al..."

Keduanya saling memanggil dengan lirih dan susah payah. Kesadaran mereka surut dengan cepat akibat luka dan nyeri parah. Jemari mereka sempat saling sentuh dan bertaut, sebelum benar-benar tenggelam dalam kegelapan total tanpa makna.

***

1
Shamira Zee
Emaknya absurd,anaknya pun ikutan absurd 😭🤣
Shamira Zee
Udahlah Ga terima aja Alvin jadi papamu /Grin/
Shamira Zee
Lho Saga putus sekolah? Duh kasihan... tapi ketemu calon papa, pasti ditolong lah /Proud/
Shamira Zee
Ya ketawa, ya kasihan... Erina plis bisa sembuh yaa
Nyonya Billy
Di balik cerita yang lucu sebenarnya tersimpan banyak makna yang dalam... kasihan Erina, semoga dia bisa sembuh...
Nyonya Billy
Cinta dan perjuangan seorang ibu sangat besar....
Nyonya Billy
Duh jangan sampai...
Nyonya Billy
Sepertinya ini analogi kankernya makin ganas ya... duh...
Nyonya Billy
Iya, sel tumor atau kanker memang begitu...
Nyonya Billy
Nggak sekalian Jungkook ketemu Harry Potter dan Erina di Hogwarts 😂
Nyonya Billy
Sempet-sempetnya vin 😂
Nyonya Billy
Erina dan Alvin sudah pernah bertemu ya saat kecil? Lucu sih ceritanya, ditolong tuyul, ya ampun 😂
Nyonya Billy
😂😂😂😂
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Kapan sih Erin gak ngelawak? 🤣
Shamira Zee
Riii 😅😭🤣
Shamira Zee
Istrinya Glioma yang ganas 😅
Shamira Zee
Ada ya tumor balik demi kolor 😭🤣
Shamira Zee
Lah glioma lagi? 🤣🤣🤣
Shamira Zee
Buatan klinik mana tuh thor? 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!