Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH
Begitu aku keluar dari kamar mandi, langkahku melambat. Pandanganku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak.
Revan duduk menunduk, fokus pada ponselnya dengan wajah serius. Sementara itu, di sisi lain meja, Bu Yuanita tampak berbicara dengan Althaf. Tawa renyah Bu Yuanita terdengar jelas, dan yang membuatku semakin tak nyaman, tangannya sempat menepuk lembut lengan Althaf. Pemandangan itu seperti menusuk. Ada rasa asing, tak enak, dan… jujur saja, menyakitkan.
Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. Begitu aku sampai di meja, Revan langsung mendongak, sorot matanya melembut begitu melihatku. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menyimpan ponselnya, lalu mengemas barang-barang kami: tas jinjingku, juga paperbag yang berisi parfum.
“Maaf, sepertinya saya dan Senja harus pamit duluan,” ucap Revan tiba-tiba sambil bangkit berdiri. Suaranya tenang, tapi tegas. “Takut terlalu malam, Senja juga harus ambil motornya di bengkel.”
Ucapan itu disertai aksinya meraih tanganku, menggenggamnya hangat. Tas jinjingku ia sampirkan begitu saja di lengannya yang lain, seolah otomatis mengambil alih bebanku.
Aku terkesiap. Tatapanku terhenti padanya beberapa detik, antara kagum, bingung, sekaligus… takut.
“Ke bengkel, ya?” suara Althaf tiba-tiba memecah suasana. Nada bicaranya terdengar tenang, tapi senyum miring yang melengkung di bibirnya jelas penuh sindiran. Matanya menatapku tajam, seolah menantangku untuk menjawab.
Aku tercekat.
Dia tahu.
Tentu dia tahu kalau motorku bukan di bengkel, tapi di rumah Oma.
Revan menoleh cepat ke arah Althaf, nada suaranya sedikit mengeras. “Iya, Pak. Ada masalah kecil sama motornya.”
Althaf hanya mendengus pelan, lalu menyandarkan tubuhnya santai ke kursi. “Oh, gitu…” katanya dengan seringai getir yang sukses membuat perutku melilit tak karuan.
“Astaga, sudah malam ternyata,” ucap Bu Yuanita, memecah ketegangan dengan senyum antusias khasnya. “Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Kapan-kapan kita makan bareng lagi. Seru juga, kan?” Ia menatapku penuh harap, seolah benar-benar tulus.
Aku hanya bisa membalas dengan senyum tipis. Senyum yang terasa lebih mirip topeng daripada ketulusan. “Iya, Bu.”
Saat hendak beranjak, suara Althaf kembali terdengar. Kali ini nadanya ringan, tapi menyisakan sesuatu yang membuat dadaku terasa diremas.
“Hati-hati ya, Senjani.”
Bukan sekadar kalimat biasa. Ada nada mengejek, ada tatapan penuh arti yang membuatku ingin menjerit. Seolah penderitaanku adalah hiburan baginya.
Aku menggigit bibir bawahku keras-keras, menahan emosi yang hampir pecah. Rasanya ingin berbalik dan membentaknya, menanyakan kenapa dia selalu harus seperti itu. Tapi aku memilih diam.
Revan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tahu apa yang kurasakan. “Ayo, Sen,” bisiknya pelan.
Aku hanya mengangguk, menunduk, lalu melangkah pergi bersamanya. Tapi di dalam hati, aku bergemuruh.
Kenapa, mas?
Kenapa selalu terlihat puas setiap kali aku tersiksa begini?
Apa semua ini cuma lelucon di matamu?
Udara malam menyambutku dengan dingin begitu aku dan Revan keluar dari mall. Tangannya masih menggenggam tanganku erat, seakan takut aku akan lepas kalau ia longgarkan sedikit saja.
“Sen…” suara Revan akhirnya terdengar, pelan tapi dalam.
Aku tak langsung menoleh. “Hm?” sahutku singkat, berusaha terdengar biasa saja.
“Lo… nggak nyaman tadi, kan?” tanyanya, kali ini lebih lembut. “Gue lihat ekspresi Lo berubah waktu makan .”
Aku terdiam. Jantungku berdetak kencang. Ingin bilang iya, tapi lidahku kelu.
Revan menghela napas. “Gue minta maaf, ya. Harusnya aku nggak bawa lo ke situasi kayak tadi. Gue cuma nggak enak sama Bu Yuanita.”
Aku akhirnya menoleh. Wajah Revan serius, sorot matanya penuh rasa bersalah. “Revan, itu bukan salah lo,” ucapku pelan.
Revan tersenyum tipis, tapi senyum itu lebih mirip upaya menenangkan hatiku. “Tetap aja, gue nggak suka lihat lo harus nahan perasaan kayak gitu. Kalau lo tersiksa, gue juga ikut ngerasain.”
Aku tercekat. Kalimatnya sederhana, tapi hangatnya langsung merembes ke dalam hati.
Darahku berdesir. Kenapa Revan selalu sebaik ini padaku? Sikapnya membuatku semakin gelisah, karena aku pernah menolak perasaannya. Aku tidak pernah berniat menyakitinya, tapi kenyataannya perbedaan di antara kami terbentang begitu lebar.
Aku tidak mungkin menerima Revan… ketika statusku masih terikat sebagai istri Althaf. Setiap kebaikan yang Revan berikan justru membuatku semakin dihantui rasa bersalah.
Apa aku harus menjauh darinya? Agar Revan tidak terlalu berharap pada sesuatu yang tak bisa aku berikan? Tapi… kalau aku menjauh, bukankah itu juga akan melukai hatinya?
Aku benar-benar terjebak di persimpangan dilema. Tetap dekat dengannya, aku takut membuatnya terluka. Menjauh darinya, aku takut justru akan membuat luka itu semakin dalam.
Aku masih larut dengan pikiranku sendiri ketika suara Revan tiba-tiba menginterupsi, membuatku sedikit tersentak.
“Sen,” panggilnya lembut. “Bengkel tempat lo benerin motor di mana? Biar gue anterin sekalian.”
Aku menoleh padanya, pura-pura santai, meski dalam hati langsung kacau. Bibirku membentuk senyum tipis, senyum yang kupaksakan.
“Eh… nggak jauh kok dari rumah gue. Lo balik aja langsung, Van. Gue ke sana nanti naik ojek aja,” jawabku cepat, mencoba menutup kemungkinan ia akan ikut campur lebih jauh.
Revan mengernyit, jelas tidak percaya begitu saja. Ia mencondongkan tubuh ke arahku, sorot matanya serius.
“Lo kira gue tega ngelepas lo pulang sendiri malem-malem gini? Gue bisa gila mikirin lo naik ojol sendirian, Sen,” ucapnya, kali ini suaranya lebih dalam, tegas, tapi tetap mengandung ketulusan yang membuat dadaku sesak.
Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat enteng.
“Ya elah, Van. Gue mah tahan banting. Lagian gue juga biasa kok pulang sendiri. Jangan khawatir berlebihan gitu.”
Aku mencoba bercanda, menutup dengan tawa kecil yang justru terdengar kaku di telingaku sendiri.
Revan mendesah panjang, jelas tidak puas dengan jawabanku. Mulutnya sudah terbuka untuk membalas, tapi tepat saat itu dering ponselnya memotong percakapan.
“Sebentar ya, telepon dari Mama.”
Aku mengangguk, menatapnya berjalan menjauh sambil mengangkat panggilan. Punggungnya tampak tegang, dan aku bisa mendengar samar nada suaranya yang rendah, seolah sedang berusaha menahan kesal.
Dalam hati aku berdoa, semoga telepon itu cukup mendesak untuk membuatnya mengurungkan niat mengantarku. Aku tak mau terus-terusan berbohong. Kebohongan kecil saja sudah menyesakkan, apalagi ini menyangkut perasaannya.
Beberapa menit kemudian, Revan kembali. Ekspresinya kusut, alisnya berkerut, seolah menahan rasa bersalah.
“Maaf banget, Sen,” ucapnya pelan. “Kayaknya gue nggak bisa anterin lo pulang. Mama tiba-tiba minta dijemput di rumah temennya. Tadi dia arisan, pulangnya malah maksa gue yang jemput.”
Aku menarik napas lega, tapi buru-buru menutupinya dengan senyum yang lebih tulus kali ini.
“Yaelah, santai aja, Van. Aman kok. Sana jemput Mama lo, jangan khawatirin gue. Gue bisa pulang sendiri, tinggal order ojol juga gampang.”
Revan menatapku lama, seakan mencari celah apakah aku benar-benar jujur. “Lo yakin nggak apa-apa? Gue sumpah nggak tenang kalo lo sendirian. Minimal biar gue mesenin ojol, ya?”
Aku tertawa kecil, berusaha menenangkan hatinya. “Nggak usah, Van. Gue bisa kok. Gue udah biasa kayak gini. Lo fokus jemput Mama lo aja.”
Ia menghela napas panjang, lalu menyerahkan paperbag milikku. Tangannya sedikit menahan, seakan berat melepas.
“Nih… jangan lupa dibawa. Kalau ada apa-apa, langsung telpon gue. Gue serius, Sen. Jangan nekat.”
Aku mengangguk sambil menerima barang itu. “Oke. Aman kok, gue janji.”
Revan masih belum puas. Ia menatapku dalam, lalu tangannya terangkat, mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi sukses membuat dadaku bergemuruh.
“Kalau udah sampai rumah, kabarin gue. Gue nggak mau nunggu dengan rasa khawatir,” katanya lirih, suaranya begitu tulus.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, tak sanggup berkata apa-apa selain tersenyum kecil.
“Ya, Van. Gue kabarin.”
Revan menepuk pundakku sekali, lalu melangkah pergi. Sesaat sebelum benar-benar berbalik, ia sempat melambaikan tangan. Aku membalasnya singkat, menatap punggungnya yang menjauh hingga akhirnya menghilang di balik keramaian.
Begitu ia benar-benar pergi, aku berdiri terpaku. Suara bising sekitar terasa menghilang, berganti dengan kekosongan di dadaku. Ada rasa hangat karena perhatian Revan, tapi sekaligus perih—karena aku tahu, aku tak bisa membalasnya dengan cara yang sama.
Aku mendesah, menatap paperbag di tanganku. Kenapa kamu harus sebaik ini sama aku, Van? kamu nggak tahu aja, perhatian kamu justru bikin aku makin bingung. Aku nggak mau kamu terluka… tapi aku juga nggak sanggup kehilangan kamu.
Saat aku sibuk menunduk, fokus pada ponselku, tiba-tiba ada tangan kasar yang meraih lenganku begitu saja. Aku terkesiap, tubuhku refleks menegang, dan jantungku hampir meloncat keluar dari dada. Nyaris saja aku berteriak, sebelum mataku mendapati siapa pemilik tangan itu.
“Mas… Althaf?” suaraku tercekat.
Dia berdiri di hadapanku, rahangnya mengeras, matanya memerah seolah berusaha menahan amarah yang hampir meledak. Wajahnya dingin, tapi aku bisa merasakan bara di balik tatapannya. Tubuhku sontak dipenuhi ketakutan.
Ya Tuhan… apa lagi salahku kali ini?
“Ayo pulang.” suaranya berat, dingin, tak memberi ruang untuk penolakan.
Sebelum aku sempat merespons, dia sudah menarik lenganku begitu kuat, menyeretku menuju basement tempat mobilnya terparkir. Aku mencoba menahan langkah, tapi genggamannya terlalu keras. Rasa sakit menjalar di pergelangan tanganku, kulitku perih seolah terjepit dalam cengkeraman besi.
“Mas… sakit! Tolong lepasin, saya ikut! Tapi jangan tarik saya seperti ini,” ringisku, hampir menangis.
Althaf tak menjawab. Tarikannya justru semakin kencang, seakan semua amarahnya dialirkan lewat genggamannya. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang yang kami lewati, beberapa menoleh heran, tapi Althaf sama sekali tak peduli. Dia hanya terus menyeretku dengan wajah tegang.
Begitu sampai di depan mobil, akhirnya dia menghentikan langkahnya. Dengan kasar, dia menghempaskan tanganku. Aku tersentak, lenganku terkulai, perihnya begitu nyata hingga kulitku memerah.
Aku menatapnya dengan napas terengah, mataku berair menahan tangis. “Kenapa harus selalu kasar sama saya, Mas? Saya salah apa lagi?” tanyaku lirih, hampir berbisik.
Althaf tak segera menjawab. Tatapannya menusuk, lama, membuat nyaliku ciut. Rahangnya masih mengeras, dadanya naik turun menahan emosi.
“Cepat masuk.” Ucapnya singkat, dingin, seolah tak ada ruang untuk diskusi.
Nada suaranya membuat lututku lemas. Aku menggigit bibir, menahan isak, lalu tanpa berani membantah, aku membuka pintu mobil dan segera masuk. Tubuhku gemetar, bukan hanya karena rasa sakit di pergelangan tanganku, tapi juga karena rasa takut—dan luka—yang makin dalam di hatiku.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam. Lampu-lampu jalan berkelebatan di luar kaca jendela, memantul samar di wajah Althaf yang tegang. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat, sampai buku-buku jarinya memutih. Aku duduk kaku di kursi penumpang, menunduk dalam, jari-jariku meremas ujung blusku tanpa henti. Perutku mual, dada terasa sesak seolah ruangan ini kekurangan udara.
Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara dingin Althaf.
“Seru juga ya… lihat kamu main pacaran sama temenmu itu.”
Nada bicaranya bukan sekadar dingin—ada getir, ada ejekan, ada kemarahan yang ditahan-tahan.
Aku terperanjat, langsung menoleh padanya. “Maksud Mas apa? Saya cuma nemenin Revan cari hadiah buat mamanya.” Suaraku bergetar, meski berusaha terdengar tegar.
Althaf tersenyum miring, sinis. Tawanya pendek, pahit. “Hadiah? Nemenin doang? Atau… modus biar dibeliin hadiah? Bisa juga kamu, Senjani. Pinter nyari alasan.”
Jantungku mencelos. “Mas, jangan sembarangan ngomong. Saya nggak pernah—”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Althaf menoleh cepat, menatapku tajam dengan rahang mengeras. “Bisa ya… tadi malam kamu berkeringat, mendesah di bawah saya…” ia berhenti, menahan napas, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah tapi menusuk. “…Sorenya, kamu malah senyum-senyum jalan bareng laki-laki lain.”
Darahku berdesir, wajahku memanas, mataku langsung berkaca-kaca. “Mas… itu nggak bener. Saya nggak pernah mesra-mesraan sama Revan.”
“Tidak mesra?” suaranya meninggi, nyaris seperti menggeram. “Terus apa? Biarin laki-laki lain pegang tangan kamu? Tatap kamu kayak kamu itu miliknya? Kamu diem aja, seolah nikmatin. Itu bukan mesra namanya? Atau kamu pura-pura nggak tau kalau kelakuan kamu itu sama seperti perempuan murahan?”
Kata “murahan” itu menusukku seperti belati. Aku refleks menunduk, air mataku jatuh membasahi pangkuan. “Mas keterlaluan… saya nggak pernah goda Revan, dia cuma temen!” suaraku pecah, nyaris tak terdengar.
Tapi Althaf tak berhenti. Ia menekan pedal gas lebih dalam, mobil melaju lebih cepat.
“Kalau cuma parfum murahan kayak gitu, Senjani… satu store pun saya mampu beliin kamu. Kamu nggak perlu sampai goda-goda temen kamu itu!”
Aku mengangkat wajahku, meski kabur oleh air mata. “Saya nggak pernah minta dibeliin apa-apa sama Revan, Mas. Saya juga nggak pernah minta Mas beliin saya apa pun.” Suaraku patah-patah, dada bergetar hebat. “Yang saya minta cuma satu… Mas jangan terus-terusan nyakitin saya dengan kata-kata Mas.”
Hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, mengisi ruang di antara kami.
Althaf melirikku sekilas—matanya masih merah, tapi ada kilatan lain di sana, entah itu amarah, cemburu, atau rasa bersalah yang ditutup-tutupi. Ia menggertakkan gigi, kembali menatap jalan, seolah menolak kalah oleh emosinya sendiri.
Aku menunduk lagi, menggenggam erat tas di pangkuan, air mataku terus menetes. Kenapa setiap perhatian darinya harus dibungkus dengan luka? Kenapa selalu begini?
Mobil terus melaju, tapi udara di dalamnya semakin pekat, seolah mencekik.