Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Beracun dan Bayangan di Balik Layar
( Malam Hari )
Malam itu terasa berat dan mencekam, bahkan untuk ukuran apartemen mewah yang didominasi warna gelap dan sepi. Zhafran duduk di sofa kulitnya, di tengah kegelapan total, hanya diterangi oleh pantulan cahaya lampu kota dari jendela. Sejak dua hari lalu, dia benar-benar mengunci diri di sini, di apartemen pamannya yang sedang dinas ke luar negeri.
Ponselnya mati. Dia tidak ingin mendengar, melihat, atau merasakan apa pun. Pikirannya seperti pusaran badai, bolak-balik antara foto Auna dan Rafka, dan memori pernikahannya, serta putri yang ia sayangi yaitu 'Zifa'.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin Auna kayak gitu!"
Hati kecilnya menolak. Tapi foto itu... begitu jelas. Dan keheningan Auna setelah kejadian itu makin menghancurkannya.
"Kenapa dia nggak bela diri? Kenapa dia nggak marah? Kenapa dia nggak bilang itu nggak benar?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mendera. Amarahnya sudah mulai mereda, digantikan oleh rasa sakit yang menusuk dan kebingungan. Rina benar, Zhafran mulai berpikir jernih. Dia mulai meragukan semua ini.
Tiba-tiba, terdengar bunyi gesekan pelan dari luar pintu apartemen.
Zhafran tersentak. Dia reflek meraih vas kecil di sampingnya. Langkah kakinya pelan menuju pintu. Dia mengintip dari lubang intip, tapi tidak ada siapa-siapa. Dia menarik napas lega.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu di celah bawah pintu, selembar kertas putih yang menyembul sedikit. Zhafran membukanya perlahan. Di lantai, tergeletak sebuah amplop cokelat kecil.
Dia mengambilnya dengan tangan gemetar, lalu kembali ke sofa, menyalakan lampu duduk kecil di sampingnya.
Amplop itu tidak berlabel, tidak ada nama pengirim. Hanya berisi satu lembar kertas hasil print berwarna. Zhafran menarik keluar kertas itu.
Dan di situlah dia melihatnya. Dua screenshot chat palsu yang dibuat Rina.
Matanya menyapu cepat rentetan pesan itu.
📩 Rafka: "Lo yakin, Au? Zhafran pasti hancur banget lihat foto itu."
📩 Auna: "Ya mau gimana lagi, Raf? Gue udah capek pura-pura bahagia. Gue juga nggak bisa nolak lo. Gue benci jadi istri Zhafran."
📩 Rafka: "Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi semua selesai. Setelah lo bebas, kita bisa mulai hidup baru."
Seolah ada palu godam menghantam dadanya. Ini bukan hanya masalah fisik, ini pengkhianatan emosional. Kata-kata itu... "Gue benci jadi istri Zhafran."
Rasa sakit yang sebelumnya berupa luka robek, kini terasa seperti asam yang membakar. Kebencian, amarah, dan rasa dikhianati yang luar biasa langsung kembali membanjiri dirinya, melenyapkan semua keraguan yang sempat muncul.
"Jadi... ini semua sandiwara?" Zhafran berbisik, suaranya parau dan serak.
Dia membanting ponselnya yang mati ke atas meja, lalu tertawa getir, tawa yang terdengar seperti tangisan yang tertahan. Dia merasa seperti orang bodoh.
Dia nggak bela diri karena... semua yang ada di foto itu benar. Dia nggak marah karena... dia malah senang semua ini terbongkar. Dia benci jadi istri gue.
Seketika, semua harapannya untuk memperbaiki pernikahan hancur lebur. Keputusannya sudah bulat.
"Cukup," katanya. "Cukup. Gue nggak bisa lagi pura-pura buta."
Zhafran berdiri, langsung menuju kamar mandi, menyalakan shower dengan air dingin. Dia harus mengurus ini sekarang. Dia harus menyelesaikan kekacauan ini.
Kantor Advokat milik ayah Zhafran - Waktu yang Sama
Sementara itu, di kantornya yang mewah, Rafka sedang menyambut seseorang yang tak terduga yaitu pemilik kantor itu sendiri yaitu Ayah Zhafran, yang datang bersama seorang detektif swasta kepercayaan keluarganya.
Di atas meja, sudah tergeletak dua barang bukti yang sangat krusial:
Hasil lab yang mengonfirmasi bahwa Auna terpapar Rohypnol (obat bius kuat) di malam kejadian.
Sebuah flash disk yang berisi salinan utuh rekaman CCTV dari lorong hotel, dari satu jam sebelum Rina muncul hingga detik Dani memasukkan Auna ke kamar.
Ayah Zhafran atau mertua Auna, seorang pengusaha senior yang tenang, tapi tajam menatap lurus ke arah Rafka.
"Saya tahu kamu bukan orang yang gegabah, Rafka," kata Ayah Zhafran, suaranya berat. "Kamu kirim orang untuk mengecek Auna, dan kemudian kamu menghilang. Sekarang, apa yang kamu ketahui?"
Rafka menarik napas panjang. Dia tidak bisa menutupi fakta bahwa dia terlibat dalam hal ini, demi melindungi Auna.
"Om, jujur. Malam itu, saya diajak Dani untuk keliling hotel karena pekerjaan kami berdua jaga-jaga area hotel. Dia kerabat saya dan Rina juga, saya pikir hanya hal pekerjaan, tapi saya dijebak. Ternyata dia suruhan Rina," jelas Rafka, "Dani berhasil ngambil Auna, tapi sebelum itu, tapi saya berhasil ambil barang buktinya,"
Dia menunjuk ke flash disk dan hasil lab.
"Semua ini ulah Rina. Dia yang ngasih Auna Rohypnol dan dia yang bikin skenario seolah Auna selingkuh," Rafka menjelaskan dengan cepat. "Dia manfaatin Dani, dia tahu Dani butuh uang. Tapi yang paling bahaya, Dani itu kerabat deket saya, Om. Saya nggak akan curiga sama dia."
Ayah Zhafran menghela napas, matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. "Wanita itu... Saya nggak nyangka dia bisa serendah ini."
"Yang kita butuhin sekarang bukan cuma bukti, Om. Kita butuh strategi," kata Rafka serius. "Zhafran pasti sedang hancur. Dia cowok emosional. Kalau kita datang sekarang dengan bukti ini, dia mungkin malah nggak percaya, atau dia menganggap ini upaya kita buat menyelamatkan muka Auna."
Detektif swasta itu, seorang pria paruh baya bernama Haris, angkat bicara.
"Mas Rafka benar. Pelaku kejahatan emosional biasanya sangat pintar memutarbalikkan fakta. Kita harus biarkan dia mencapai titik terbawahnya, dan baru kita berikan kejutan. Tapi, Pak, sekarang kita tahu mas Zhafran ada di mana," kata Haris, merujuk pada hasil lacak GPS mobil Zhafran yang sudah mereka dapatkan dari data penelusuran.
"Kalau gitu, kita tunggu dia bergerak ke Pengadilan Agama," putus ayah Zhafran, matanya dingin. "Kita biarkan dia urus perceraiannya. Itu puncak dari amarahnya. Begitu dia ada di sana, baru kita datang dengan bukti lengkap."
"Kenapa harus ke Pengadilan Agama, Om?" tanya Rafka bingung.
"Karena di sana, dia akan merasa segalanya sudah final," jawab Ayah Zhafran. "Di sana, amarahnya akan memuncak. Dan di sana juga... dia akan bertemu dengan Auna, untuk terakhir kalinya sebelum perpisahan. Itu waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran, Rafka. Biar dia tahu, siapa Auna yang sebenarnya dan siapa dalang yang sesungguhnya."
Rafka mengangguk. Dia tahu ini adalah rencana yang paling berisiko, tapi juga yang paling efektif. Mereka akan membiarkan Zhafran berpikir bahwa dia telah kehilangan segalanya, sebelum akhirnya menyelamatkannya dari jebakan Rina.
"Oke, Om. Kalau gitu, saya yang akan urus semua berkas gugatan balik Rina, sekalian sama laporan polisi tentang Rohypnol itu," kata Rafka, meraih ponselnya.
Malam itu, nasib Auna dan Zhafran ditentukan bukan oleh amplop berisi kebohongan, melainkan oleh strategi rahasia di sebuah kantor pengacara. Mereka siap untuk pertarungan terakhir.
Apa langkah pertama Rafka setelah membuat kesepakatan strategi dengan Ayah Auna? Apakah dia akan menghubungi Auna atau langsung menyusun berkas hukum untuk Rina?