“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Canggung
“Apa pembantu baru itu sedang ada masalah?” gumam Huang Lhi, tatapannya menyipit memperhatikan dengan saksama gerak-gerik Ana.
Alis laki-laki itu mengerut dalam saat melihat Ana menyeka air mata setelah panggilan video berakhir. “Dia menangis? Kenapa? Apa dia benar-benar sedang dalam masalah?” Pertanyaan itu memenuhi kepala Huang Lhi.
Laki-laki yang terkenal dingin dan minim ekspresi itu, jarang sekali peduli dengan sekitar, namun pertemuan pertamanya dengan Ana kemarin sedikit mencuri perhatiannya.
Wanita paruh baya, berwajah pucat dan sorot mata sayu, jelas sekali menunjukkan betapa besar beban yang dipikulnya—begitu kira-kira kesan pertama yang di dapat Huang Lhi saat memperhatikan Ana menyiapkan makan malam.
Sejak malam itu, Huang Lhi semakin sering memperhatikan Ana, entah selepas jogging pagi atau malam hari saat Ana menikmati kopi di teras paviliun.
Tiga bulan setelah kejadian malam itu juga kedatangan Ana di rumah keluarga Huang, Huang Lhi selalu menghabiskan waktu paginya di sofa lantai dua, lokasi Ana bekerja, hanya sekedar membaca koran, main ponsel atau sekedar duduk diam—seolah mengeja semua yang Ana kerjakan.
Kegiatan tak biasa itu tentu saja mencuri perhatian Ayi Ling dan juga Citra, yang diam-diam memperhatikan perubahan sang Tuan.
Citra dengan gaya cuek dan centil khasnya, akhirnya memberanikan diri berbicara pada Ana. Sambil membawa sekeranjang baju kotor, gadis centil itu menghampiri Ana yang sedang mengelap lemari kaca.
“Itu orang makin aneh aja tak lihat-lihat?” kata Citra, bibirnya monyong ke arah Huang Lhi yang sedang melihat ponselnya.
“Iya ihh, ngapa jadi seneng duduk di situ sih tiap pagi, bikin canggung aja,” keluh Ana. “Biasanya juga dua hari sekali tah, seminggu dua kali, ini udah sebulan terakhir tiap pagi ngejegrek aja di situ,” imbuh Ana.
“Naksir sama, Kak An ini aroma-aromanya,” seloroh Citra.
Plak!
Ana menggeplak pelan lengan Citra, mata melotot, rahang mengeras, tapi bukan karena marah, melainkan menahan malu. “Asal aja kalo ngomong,” protesnya kemudian.
Citra terbahak kecil, sudut matanya melirik sang Tuan yang sibuk dengan ponselnya. “Positif ini, Kak. Seumur hidup aku nggak pernah liat dia begitu, baru ada, Kak An, ini sikapnya berubah, sumpah!”
“Ck, sembarangan kalo ngomong.” decih Ana, lalu mendorong sang rekan. “Udah sana cepet beresin cucianmu, katanya mau ke minimarket?” lanjutnya mencoba berkilah.
“Cie … cie … salting, lo?” kekeh Citra sambil berlalu.
Ana mengulum bibir, kepala menunduk— menutupi wajah yang seperti kepiting rebus. Ia melirik sekilas sang Tuan, duduk bertopang kaki tatapannya tertuju ke ponsel.
Sedikit ragu Ana bergeser, mengelap lemari yang ada di samping Huang Lhi, ia mencoba tak acuh, namun suara berat laki-laki itu berhasil membuatnya kaku.
“Kamu sudah berapa lama datang ke Taiwan?” tanya Huang Lhi, tanpa ekspresi.
Ana tersentak kecil, bibirnya tergagap. “Eee … kurang lebih hampir tiga tahun, Tuan.”
Huang Lhi mengangguk samar, lalu beranjak dari duduknya, menatap Ana sambil berujar pelan. “Kalau kamu kesulitan, jangan sungkan meminta bantuan, aku akan membantumu sebisa ku.”
Ana termangu, tak mampu menjawab sampai sang Tuan hilang di balik pintu kamarnya.
Sementara itu di tangga, Ayi Ling menguping sambil terkikik. Wanita sepuh yang merupakan adik dari Nyonya Huang itu sudah beberapa hari ini turut memperhatikan perubahan sang keponakan.
Senyum masih tergaris di wajah keriput Ayi Ling saat ia menghampiri Ana, siku menyenggol pelan lengan pembantu barunya.
“Jangan ragu, An kalau mau minta bantuan,” satu tangannya menutupi bibir. “Baru kali ini lihat Huang Lhi perhatian sama orang,” lanjut Ayi Ling.
Ana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tatapannya berpindah-pindah. “Ayi …hehehee.” Ia tertawa canggung.
“Setiap hari sampe bingung pake cara apa lagi biar bisa curi-curi pandang,” goda Ayi, ia lalu masuk ke salah satu kamar, meninggalkan Ana yang masih salah tingkah di tempatnya.
Matahari sudah tinggi saat Ana baru saja menyelesaikan cucian piring yang menumpuk setelah keluarga Huang selesai makan siang. Ia yang tengah sibuk di dapur dikejutkan dengan sentuhan tangan Ayi Ling.
“Kamu tadi di tanyain sama Huang Lhi, rupa-rupanya beberapa hari ini dia ingin mengajakmu berbicara tapi tak tau bagaimana caranya,” ujar Ayi Ling sambil terkikik pelan.
Dahi Ana mengernyit, tak paham dengan maksud Ayi Ling, namun ia memilih diam, enggan menanggapi, takut menjadi lupa diri alias keGRan.
Beberapa saat tadi.
Ayi Ling mengetuk pelan pintu kamar sang keponakan berniat mengganti sprei, namun wanita sepuh itu menunda pekerjaannya saat melihat Huang Lhi memperhatikan photo Ana yang ada di ponselnya.
“Kalau memang suka, katakan saja, Lhi, jangan ditahan nanti diambil orang, lo?” celetuknya.
“Apa dia tidak punya pasangan di negaranya?” tanya Huang Lhi, tak di sangka-sangka.
Ayi Ling sempat terperangah, lalu buru-buru menjawab sambil menarik sprei dan melepas sarung bantal.
“Yang Ayi dengar dari Cita, dia baru saja bercerai dengan suaminya setahun yang lalu.”
Seringai halus muncul di wajah tampan Huang Lhi, tanpa merespon jawaban sang Bibi, laki-laki langsung berjalan masuk ke kamar mandi.
***
Ana masih belum paham dengan maksud Ayi saat wanita sepuh itu menyelesaikan ceritanya, bibirnya bergumam ingin bertanya, namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan.
Hari pun berlalu, setiap pagi Ana harus menghadapi tatapan penuh tanya sang Tuan, juga celetukan godaan dari rekan sejawatnya, hingga sebuah kejadian merubah segalanya.
.
.
.
Wiuuu … wiuuu … wiuuuu
Bersambung
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?