Sandrina nekad tidur dengan pria yang dijodohkan dengan kakaknya, Bastian Helford. Lantaran kakaknya telah tidur dengan tunangannya.
Semua miliknya direnggut, dan Sandrina berjuang untuk mendapatkan kembali yang menjadi miliknya
"Dia satu-satunya milikku yang kurebut kembali"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan Bastian
Dilihat dari sisi Bastian, pria itu tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya terhadap Sandrina. Pandangannya terhadap gadis itu jelas berbeda. Baginya Sandrina adalah gadis yang unik, singkatnya Sandrina itu cantik, bukan cuma keindahan stereotip seperti itu. Tapi Sandrina mempunyai aura yang unik.
Bastian belum pernah melihat wanita dengan aura seperti itu sebelumnya. Dan alasan kenapa Bastian menyerah pada godaan canggung Sandrina saat itu di bar. Ya, karena dia adalah Sandrina. Itulah alasan yang sangat pasti baginya.
Meja makan itu berderit dengan gerakan kasar yang Bastian lakukan. Pria itu bahkan tidak mau tahu dengan beberapa piring bekas makanan yang sudah jatuh dan pecah. Intinya saat ini dia lebih tertarik untuk memakan Sandrina. Hanya dalam hitungan detik saat dia berhasil meloloskan semua kain ditubuh Sandrina hingga membuat gadis itu tampil polos kembali didepannya, sedang Bastian bahkan tanpa repot-repot menyingkirkan pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
"Ngh! Ah, kumohon..." pinta Sandrina yang terus saja menerima hujaman kasar dari Bastian
"Apa?" sahut Bastian dengan wajah memerah, sarat akan hasrat yang butuh untuk dilampiaskan
"Tolong, pelan- pelan sedikit!" keluh Sandrina dibawah sang pria.
Bastian terdiam sejenak, dia kembali kehilangan sifat rasionalnya tadi dan melakukan apa yang jiwa liarnya tunjukkan
"Sial! Ini benar-benar nikmat!" seru batinnya yang sangat ingin Bastian ingkari, namun faktanya dia larut dalam kenikmatan pembagian suhu tubuh ini.
"Oh Sandrina! Aku sampai bertanya-tanya. Bagaimana bisa aku hidup selama ini tanpa mengetahui hal seperti ini," gumam Bastian ditengah gerakannya yang sama sekali tidak berkurang ritmenya. Selama ini dirinya tidak pernah dekat dengan wanita manapun kendati banyak wanita yang mencoba menempel padanya. Bastian sibuk dengan pekerjaan dan pemikirannya akan bisnis, hingga akhirnya malam itu terjadi. Malam dimana dia berbagi keringat dengan Sandrina, disitulah awal mula Bastian mulai mengetahui betapa nikmatnya bercinta
"Apa?" Sandrina yang tidak mendengar jelas gumaman sang pria bertanya. Bagaimana bisa dia mendengar jelas, saat dirinya sedang disiksa dalam kenikmatan.
"Kamu membuatku gila, Sandrina" Bastian berucap demikian seraya menggigit kecil telinga Sandrina. Memberikan penetrasi hiburan pada sang gadis yang terus saja mengeluarkan suara desa hannya.
Bastian menginginkannya. Dari kepala sampai ujung kaki Sandrina. Semuanya, seluruh tubuh Sandrina.
"Ahh__" de sah Sandrina yang segera teredam dengan ciuman tiba-tiba dari Bastian. Sungguh rasanya Bastian ingin menelan Sandrina. Rasanya dia terus haus akan sang gadis. Hingga timbul pertanyaan. Kenapa, kenapa targetnya Bastian itu Sandrina dan bukan yang lain?
Dan akhirnya Bastian menyelesaikan ritualnya dan melepaskan Sandrina tanpa melanjutkannya lagi. Dia tidak ingin Sandrina pingsan lagi jika Bastian terlalu memaksa kehendaknya pada gadis itu
Setelah Bastian melepasnya, Sandrina bersegera meraih pakaiannya yang kebetulan masih bisa dipakainya tanpa robek. Bastian menepati janjinya untuk tidak merobek pakaian lagi saat bercinta. Namun, sekarang pria itu jauh lebih gila karena tidak tahu tempat untuk menyalurkan hasratnya.
"Aku akan membersihkan diriku dulu," ucap Sandrina yang terselip sedikit rasa kesal dihatinya. Dia baru saja selesai mandi saat tadi sebelum sarapan, dan sekarang dia harus mandi kembali saat tubuhnya terasa begitu lengket dan tidak nyaman. Dan pelaku semua itu adalah pria yang saat ini membelakanginya.
"Tinggallah disini untuk sementara waktu. Jangan pulang ke rumahmu dulu kalau tidak ingin terjadi keributan," kata Bastian memberi saran yang jelas itu untuk kebaikan Sandrina dan gadis itu juga setuju dengan pendapat Bastian, walau saat mengucapkan hal itu Bastian sama sekali tidak melihat kearahnya. Sandrina tidak mau terlalu memikirkannya. Bagaimanapun pria itu baru saja mereguk kenikmatan darinya, dan sudah pasti tidak membutuhkannya dulu untuk beberapa saat nanti
Namun, yang tidak Sandrina sadari adalah bagaimana Bastian menahan diri untuk tidak menyerang Sandrina kembali. Tindakan tadi jelas tidak cukup baginya yang masih saja kehausan. Mungkin, jika Bastian menatap gadis itu lagi, maka jiwa binatangnya akan kembali mencuat dan memilih menyetubuhi Sandrina kembali
"Baik" jawab Sandrina yang kemudian menghilang dibalik kamar utama menuju kamar mandi.
Bastian juga melangkah menuju kamar mandi lain yang berada di kamar tamu. Dia juga butuh menyirami tubuhnya dengan air dingin agar sedikit menetralisir panas tubuhnya yang masih membara
Traaassshh...
Air dingin yang kini membasahi tubuhnya cukup membantunya. Bastian menunduk, membiarkan air turun dari shower membasahinya
"Ini gila," pikirnya yang tak percaya dengan kelakuannya sekarang. Bastian merasa dirinya bukan lagi seperti dirinya, rasanya dia sering kali lepas kendali dan berpikir tidak rasional sekarang.
Padahal sebelum kembali ke kota X, Bastian telah menyelidiki keluarga Geisler secara menyeluruh . Dia sudah melihat gambar seluruh anggota keluarga itu termasuk juga Sandrina yang diberitahu sebagai anak adopsi.
Bagi Bastian, pernikahan hanyalah untuk memperpanjang bisnis. Jadi, Bastian berusaha untuk mengeruk semua keuntungan yang bisa didapatkannya dari pernikahan yang merupakan janji dari terdahulunya.
Saat itu Bastian memegang erat foto Sandrina dan merasa kalau Sandrina jauh akan lebih berguna bagi Bastian daripada Odette, kendati gadis itu adalah putri angkat keluarga Geisler, setidaknya itulah yang dipublikasikan ke publik.
Pertemuan mereka yang disengaja berkedok ketidak sengajaan yang dilakukan Sandrina saat itu cukup menarik baginya. Lagian, mustahil bagi Bastian untuk tidak mengenali wajah yang telah dia lihat fotonya berulang kali. Dari awal Bastian sudah menyadari semua gerak gerik dan rencana Sandrina saat itu.
Bastian rasa Sandrina jauh lebih baik daripada Odette yang sulit diatur. Itu saja yang menjadi acuan bagi Bastian saat dia dengan senang hati dulu menerima godaan canggung Sandrina untuk ikut dengan gadis itu.
Tapi kenapa Bastian tidak bisa mengontrol dirinya. Mengapa dia ikut terlena dalam perbuatan ini?
"Haa..." hanya hembusan nafas itu yang terdengar tanpa ada jawaban pasti akan perasaan yang saat ini mengenainya. Bastian merasa dia akan kalah dalam permainan yang dibuatnya sendiri.
🍀🍀🍀
Bastian kini berdiri di hadapan gedung pencakar langit yang cukup besar walau tidak sebesar dan semegah perusahaannya tapi gedung didepannya cukup berpotensi untuk berkembang jika berada pada penanganan yang tepat dan ditangan orang yang benar-benar paham akan bisnis.
Dia pergi ke gedung ini setelah sebelumnya memberi peringatan pada Sandrina agar tidak keluar dari apartemennya karena dia akan segera kembali setelah menyelesaikan urusannya.
Merapikan jas yang membaluti badannya dengan sempurna, dan dengan langkah tegap penuh kepercayan diri, Bastian melangkah masuk kedalam gedung dimana tertulis dengan huruf kapital diatasnya dengan tulisan AG ENTERPRICE. Bastian melangkah menuju ke hadapan resepsionis yang dengan ramah bertanya tujuan Bastian kesana.
"Saya Bastian helford. Saya memiliki janji dengan pejabat Gery geisler,"
"Baik, saya mengerti. Silahkan ikuti saya, tuan!" sang resepsionis bergerak cepat menuntun Bastian kearah ruangan atasannya. Siapapun disana tahu siapa Bastian, apalagi dengan berita yang simpang siur tentang perjodohan antara dua keluarga itu yang menghiasi halaman depan berita harian.
Setelah sampai disana, sang resepsionis mengetuk seraya berucap memberitahu
"Direktur, Presdir Bastian helford ada disini" ujarnya yang jelas sudah diberitahukan duluan tadi kalau Bastian akan datang
"Masuklah" jawaban dari dalam yang terdengar oleh Bastian dan resepsionis. Bastian dipersilakan masuk setelah pintu dibuka dan si resepsionis langsung undur diri meninggalkan Bastian dengan calon ayah mertuanya berdua di ruangan itu.
.
.
.
Welcome baby Damian 🙏
Buat Author, maaf kalau saya bacanya banyak di Skip, soalnya nunggu Sandrina balas dendam tapi kok cuman wacana doang, ga ada tindakan tegas yg sat set ala-ala wanita tegas, mandiri dan ga plin plan.. 😃🙏
Lagi pula orang kaya, CEO cerdas, pengusaha terkenal pula tapi kalau ga bisa cari hal kecil seperti ini mah.. Kelewatan 😃😃🤣🤣🤣
Kalau cuman segitu doang, harusnya dari dulu Bastian juga bisa, dan harusnya dari dulu Sandrina juga bisa melakukan kan sudah nikah dengan Bastian 🙄😤
Kan pengusaha terkenal 🤔🙄 minimal ada basic bela diri untuk melindungi diri sendiri 🙄 atau punya insting kuat jika ada bahaya.. Apa Bastian juga ga punya Bodyguard yang kuat untuk melindungi Boss nya?? Kan datang ke wilayah musuh harus nya ada persiapan matang 🙄😤 apalagi katanya bapaknya Sandrina seorang Senator / pejabat.. Harusnya tahu dong musuh yg dihadapi seperti apa 😤😤
Sandrina bisa nya nangis doang 😤
Ternyata dari kecil sudah banyak disiksa + disakiti mental nya 🙄 matanya dia ga punya keinginan untuk berontak / melawan, krn pasti disiksa tubuh + mental nya
Lo udah tahu Bastian ga cinta, cuman anggap diri Lo pemuas nafsu yg berlabel istri sah 😃 tapi masih juga diam ga ada perlawanan. Di perlakuan seperti pelacur, bukannya bangkit dan buat Bastian lihat dirimu lebih berharga dari pelacur.. Ehhhh malah pasrah dan diam saja 😤
Kalau begini terus, ya sudah.. Terima nasib saja jadi perempuan bodoh yg tidak bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. 😤
Masalah warisan ibu mu + balas dendam tentang kematian nya belum selesai tapi dirimu masih saja fokus + pasrah jadi pemuas nafsunya Bastian 🤣🤣🤣
Jujur.. Sedih + prihatin lihat Sandrina.. Semoga otaknya terbuka dan bisa digunakan agar tidak terus dimanfaatkan orang lain.. Minimal.. Sandrina bisa menghargai dirinya sendiri dan sadar kalau dia berhak untuk bahagia dan mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai nya dengan tulus 🙏🙏
Ga bisa apa berbuat sesuatu agar potensial diri bertambah, harga diri tetap utuh dan membuat Bastian terbuka otak nya untuk menghargai kamu sebagai istri nya??
Sudah bab berapa ini tapi kok ga ada perubahan nya, masih saja lemah, masih saja mau ditindas, masih saja mau di manfaatkan 😤 trus balas dendam nya kapan??? 🙄🤔
Jujur, benci banget lihat perempuan lemah yg tidak bisa tegas buat diri sendiri agar bisa dihargai orang lain dan suami, bukan cuman dimanfaatkan doang tanpa ada tindakan tegas 😤