Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Lagi Jadi Prioritas Celo
Perjalanan berkeliling danau dengan perahu pun usai, bapak pemilik perahu meminggirkannya diikuti aku dan Celo yang menurunkan kaki dari perahu.
Tanpa bersuara aku berjalan lebih dahulu meninggalkan Celo seorang diri, rasa jengkel karena pelarangan untuk ikut ke London bersamanya masih menghantui hatiku.
Ketika sampai di penginapan rupanya bunda sudah menungguku dikamar, beliau nampak berdiri didepan pintu dengan raut muka sedih, aku sontak berlari kearahnya untuk memastikan apa yang sebenarnya dirasakan bunda.
"Bunda." Teriakku seraya berlari.
Bunda hanya melambaikan tangan sebagai tanda respon dari panggilanku dan ketika jarak kita lebih dekat barulah dia tersenyum kemudian memintaku untuk segera membuka pintu kamar karena ada hal yang ingin disampaikan.
"Ada apa, bun?" Tanyaku heran.
"Celo dimana? Kalian baik-baik saja kan?" Timpal bunda yang justru ikut bertanya balik padaku.
"Bunda bukannya menjawab ku lebih dulu malah balik tanya." Jawabku kesal.
"Gak ada apa-apa, bunda justru takut jika hubungan kalian terganggu dengan adanya wanita asing tadi." Imbuhnya.
"Begitulah bun, dia sepertinya akan lebih sering menyita waktu Celo daripada aku karena lusa pun mereka akan pergi ke London berdua, aku meminta ikut juga dilarang oleh calon menantu kesayangan bunda dan ayah itu." Tegas ku.
"Ke London? Dalam rangka apa?" Tanya bunda kaget.
"Katanya sih berobat karena Lady di vonis kanker serviks stadium lanjut dan dia sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain Celo sebagai keluarganya." Jelas ku.
"Berapa lama mereka kesana?" Lanjutnya.
Aku mengangkat kedua bahu sebagai kata ganti jika aku juga tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan bunda kali ini.
Bunda memintaku untuk tetap mendampingi Celo meskipun hanya sampai bandara, tetapi aku juga belum mau menanyakan hal ini kepada Celo karena takut jika penolakan yang harus aku terima kembali.
Bunda membelai wajahku, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan namun tidak ingin membuatku semakin sedih.
Tak lama dari momen indah perbincangan antara anak dan ibunya itu berlangsung terdengar bunyi ketukan dari balik pintu, aku melangkah untuk membukanya dan alangkah terkejutnya aku rupanya Celo sudah berdiri tegap dibaliknya.
"Ada hal apa yang ingin disampaikan?" Cetus ku.
"Sayang, aku cukup paham mood mu hari ini sedang tidak kondusif dan aku minta maaf untuk kesekian kali jika untuk kedepannya waktu kita berdua akan lebih sedikit." Tuturnya lembut.
"Sudahlah, aku bukan wanita manja yang akan galau sepanjang hari jika tidak dibelai sama kamu, aku kan punya kesibukan selain hanya sekedar mengurusi kisah percintaan." Jelas ku kesal.
"Aku tahu dan aku juga ingin ngasih kamu boneka ini sebagai tanda penggantiku jika nanti kamu kangen dengan kehadiranku." Imbuhnya seraya memberikan sebuah boneka panda yang kebetulan juga salah satu hewan kesukaanku.
"Okay, tetapi apakah aku boleh antar kamu ke bandara?" Tanyaku singkat.
"Maaf sayang untuk keberangkatan kali ini sebaiknya kamu jangan antar ke bandara ya karena aku gak mau kamu kelelahan." Balasnya lirih.
Tanpa meminta penjelasan lebih lanjut aku segera mendorongnya keluar dan membanting pintu kamar.
Sungguh tak habis pikir hanya demi seorang sepupu yang bahkan ketemu pun jarang dia berani mengesampingkan keberadaan ku sebagai calon istrinya.
Bunda yang masih ada dikamar mencoba untuk menenangkan ku dengan mengatakan jika ini adalah salah satu bentuk ujian sebuah hubungan yang sudah memasuki fase lamaran menuju tahap pernikahan.
Anggukan dariku seakan meragukan pernyataan bunda, satu sisi aku juga mengharapkan hal yang sama ini adalah ujian menjelang pernikahan untuk aku dan Celo.
Tetapi disisi lain aku takut jika ini adalah pertanda bahwa kepercayaanku telah disia-siakan olehnya.
"Sudah malam sebaiknya bunda kembali ke kamar, kasihan ayah sudah menunggu." Ucapku sebagai kalimat pengalihan agar bunda tidak kembali membahas masalah Celo.
"Bunda pikir karena malam ini adalah malam terakhir kita menginap disini maka bunda putuskan akan tidur denganmu." Balas bunda.
"Terserah bunda saja, tetapi tolong izin dulu ke ayah agar beliau tidak menunggu dan aku mohon jangan bahas apapun tentang Celo karena aku capek mau istirahat sebelum besok kembali menempuh perjalanan panjang pulang ke rumah." Imbuhku kesal.
Bunda tersenyum dan memintaku untuk segera tidur agar emosiku tidak semakin meledak jika hal itu dibiarkan berlarut maka energi akan tersita cukup besar sehingga saat perjalanan pulang besok pagi akan mengganggu suasana di mobil.
Matahari menyingsing, alarm ponselku juga terus berdering, perlahan ku buka mata udara malam telah berganti dengan segarnya embun pagi, aku membangunkan bunda agar segera berkemas untuk pulang ke rumah.
Satu per satu pakaian aku susun rapi di koper, dan setelah semua telah tertata aku segera mandi kemudian berdandan lebih cantik dari biasanya agar Lady merasa insecure kemudian segera menjauhi Celo.
"Kamu memang sepupunya, tetapi akulah calon ratu dirumahnya kelak Lady." Gerutuku sambil berdandan didepan cermin.
Tak butuh waktu lama Celo pun datang dengan membawa sebuah buket bunga mawar kuning kesukaanku, dia menjelaskan ini adalah bentuk permintaan maafnya.
Melihat kegigihannya untuk mendapatkan maaf dariku, maka aku pun luluh dan menyambutnya dengan pelukan hangat.
Kita berjalan menuju tempat makan yang terletak disisi kiri penginapan, semua orang telah berkumpul disana tak terkecuali wanita asing yang bernama Lady itu, aku melangkah dengan terus mengelus dada.
Sepanjang ada diruangan itu Celo terus menggandengku. Rasa kepercayaan diriku pun seakan terisi penuh karena laki-laki yang saat ini berstatus sebagai tunanganku ada di pihak ku.
"Duh berasa pengantin baru, sabar kenapa baru juga 50% progress-nya sudah berani tampil mesra depan umum." Ledek Rafka.
"Dasar jomblo, lebih baik lu sama Lady saja daripada sama-sama ganggu orang pacaran kan, atau besok lu temani dia ke London saja." Balasku.
"Aku hanya mau Celo yang menemaniku." Sahut Lady.
"Iya sayang, maksudnya yang sudah tahu dari awal tentang pengobatannya aku jadi sampai pengobatan tahap akhir pun harus aku." Bisik Celo.
Aku dengan spontan meninggalkan meja makan dan memilih masuk mobil lebih dulu karena sudah muak dengan situasi yang masih berpihak pada wanita sialan itu.
Aku pikir dengan Celo berani menggandengku didepannya membuat posisiku dihati Celo masih aman ternyata aku salah.
"Lady sialan, sepupu macam apa yang berani menggeser posisi pasangan dihati saudara laki-lakinya." Teriakku didalam mobil.
"Jadi lu cemburu melihat kedekatan sahabat gue dengan sepupunya yang cantik itu." Ledek Rafka.
"Siapa yang cemburu? Sejak kapan pula lu ngikutin gue?" Tanyaku sewot.
"Gue gak ngikutin lu, tetapi kebetulan pas gue mau ambil charger hp, gue dengar lu lagi teriak-teriak gak jelas." Jawab Rafka dengan nada yang terdengar mengejek.
Aku sontak menimpuk kepalanya dengan tas, bagaimana bisa dia masih ada nyali untuk meledek seorang wanita yang sedang merasa bahwa sang pujaan hati tidak lagi menempatkan dirinya sebagai prioritas dihati pasangannya sendiri.
..