NovelToon NovelToon
KECANTOL DOSEN GALAK

KECANTOL DOSEN GALAK

Status: tamat
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Beda Usia / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:69.1k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Arkana Wibowo Seorang Dosen tampan yang terkenal killer. Diusianya yang mencapai kepala tiga. Pria berjambang tipis itu masih betah melajang. Satu ketika ia bertemu dengan Kanaya, salah satu mahasiswinya yang super aneh, dan selalu membuat Arka kesal. Namun dibalik tingkah menyebalkan Kanaya. Gadis itu mengetahui sesuatu yang Arkana tak menyadarinya. Apakah sebenarnya yang Kanaya tahu tentang dosen killernya itu? Temukan keseruan jawabannya di setiap bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Tak ada luka yang lebih dalam daripada menyadari bahwa nama kita tak tertanam di hati pria yang menjadi imam dalam buku nikah kita. Kanaya terduduk termenung di pinggir ranjang pengantin, menunggu dengan cemas kedatangan suaminya kembali ke kamar mereka. Kegelisahan dan kepedihan terpancar jelas di wajah Kanaya, seakan-akan ia tengah terbelenggu dalam dilema antara mencintai dan dikhianati oleh sang suami.

Meski telah berusaha berpikir positif tentang pria yang baru saja menjadi pasangan hidupnya, hatinya seolah teriris mendalam melihat kenyataan bahwa suaminya masih menyimpan bayang-bayang wanita lain di hatinya. Perasaan itu seolah menusuk jantung Kanaya, lebih tajam daripada belati paling tajam yang pernah ada.

Walaupun Kanaya tahu kebenaran ini sejak sebelum pernikahan mereka, namun sesungguhnya, realita tersebut tetap merupakan cambuk mematikan yang melukai hati Kanaya. Kini, setiap hembusan angin sepoi-sepoi berubah menjadi badai dalam hidup Kanaya. Setiap jengkal ruang di dalam hatinya terasa sesak oleh kepiluan dan ketidakpastian, akan status baru mereka. Mereka menang tercatat sebagai suami istri, tatapi faktanya, hanya Kanaya yang mencintai. 

Ia harus tegar menghadapi kenyataan yang menghancurkan batinnya tersebut, sanggupkah Kanaya menemukan kekuatan untuk bertahan dan menciptakan lentera harapan bagi rumah tangganya yang baru seumur jagung..? yang seakan-akan layu disaat benih itu baru tumbuh? mungkin hanya waktu yang akan menjawab dan menjadi saksi pertarungan hati Kanaya dalam meraih kebahagiaan dalam hidup bersama pria yang telah menjadi imamnya itu.

Lama menunggu, namun  Arka belum juga kembali, Kanaya memutuskan untuk membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang pengantin. Suasana malam semakin larut, seiring angka di jam dinding yang terus melaju. Tepat menjelang pukul sebelas malam, setelah keluarga dan sahabat Arka satu per satu mengucapkan selamat dan pamit pulang, pria berhidung mancung itu akhirnya kembali ke lantai atas menuju kamar pengantin. Saat itu, Kanaya merasa detak jantungnya semakin cepat dan peluh dingin mengalir di lehernya.

Ketika pintu terbuka perlahan, jantung Kanaya seketika berdegup kencang. Sebagai sebuah kilasan bayang hatinya bergumam 'Ya Tuhan, sanggupkah aku menyerahkannya, pada pria yang tak mencintaiku...?', batin Kanaya dengan pilu. Untuk mengelak malam pertama bersama sang dosen, Kanaya akhirnya berpura-pura tertidur pulas di atas ranjang pengantin, menyembunyikan kegundahan dalam benaknya. Arka mengintip dari balik pintu, menatap ke dalam kamar, mata hitamnya  menatap Kanaya yang tampak tertidur pulas, dengan tubuh meringkuk di atas ranjang pengantin.

Dalam diam, langkahnya mendekat menuju ranjang. Hatinya berdesir, gairahnya sebagai seorang pria mulai memuncak melihat tubuh molek sang istri yang menggoda. Namun entah kenapa, Arka ragu untuk merealisasikan hasratnya yang menggebu. Seolah ada kekuatan misterius yang menahan tangannya untuk meraih kenikmatan malam pertama mereka, yang di depan mata.

Tiba-tiba sebuah perenungan berkelebat dalam pikirannya, mungkin ini bukan saatnya. Ia tidak ingin melukai hati Kanaya, tidak ingin menidurinya tanpa cinta. Arka ingin menghormati Kanaya dengan melakukan sunah terindah itu dengan perasaan cinta, bukan hanya nafsu sesaat. Dilema itu menjalar di celah-celah kekhawatiran yang meresapi hatinya.

Arka terus memperhatikan wajah Ayu Kanaya dengan tatapan penuh kekaguman, atas karya Tuhan yang luar biasa indahnya. Pahatan wajah Kanaya begitu sempurna, hidung mancungnya, bibir merah mudanya dan bulu mata lentiknya semua terlihat indah. Tapi sayang Arka melihat semua itu dengan pandangan nafsu, bukan karena perasaan cinta. 

Dengan penuh kelembutan, tangannya perlahan menarik selimut dengan lembut dan menutupi separuh tubuh Kanaya agar tidur istrinya tidak terganggu. Arka tak langsung pergi, pria itu duduk di samping Kanaya, terus  memandangi wajah mahasiswinya, yang kini telah sah berstatus istri untuknya. Arka tersenyum tipis, seolah tak ingin melepaskannya dari pandangannya.

Sementara itu, hati Kanaya terasa semakin rumit dengan perasaan takut yang mendera dan kehangatan yang timbul saat Arka menutupi tubuhnya dengan selimut. Perasaan hangat itu seolah menjadi titik terang dalam kegelapan hatinya, saat ia menyadari betapa penting dan berharganya kehadiran pria tersebut dalam hidupnya. Kanaya merasa haru, saat ia tahu meski suaminya belum mencintainya, namun perlakuan Arka padanya sudah cukup membuat hati Kanaya berbunga-bunga. Napas Kanaya tercekat, air mata terasa menggenang di sudut mata.

Kanaya tersenyum dalam hati, seakan dunia ini mengabulkan sebuah doa-doanya. Doa yang sederhana yang selalu Kanaya panjatkan dalam setiap sujudnya, agar mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain di tengah pergulatan takdir yang mungkin kadang akan terasa pahit.

"Hm, kamu terlihat polos jika sedang tidur," gumam Arka tersenyum simpul. Arka lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi, untuk mengguyur tubuhnya yang terasa lengket. Kanaya mengangkat sedikit kepalanya, mengawasi gerak gerik suaminya. Tampak Pak Dosennya itu membuka jam mewahnya, yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu ia  letakkan ke atas meja rias. Air pun mulai terdengar samar samar, gemericik yang jatuh ke lantai. Seketika pikiran kotor Kanaya melayang entah kemana, namun ia segera beristigfar agar dirinya tak berpikir yang aneh aneh tentang Pak Dosennya itu. Selesai  membersihkan tubuh, Arka keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih yang terlilit di atas pinggang. 

Kanaya yang pura-pura tertidur perlahan membuka matanya sejumput, seolah-olah dia tengah mengintai sesuatu dari balik celah kelopaknya. Arka lalu melepas handuknya setelah mengenakan celana dalam, membuat Kanaya menelan ludah dan cepat-cepat menutup matanya sambil mendekap guling dengan erat. "Astagfirullah, dia sedang apa, kenapa dia sembrono begitu?" gumam Kanaya dalam hati, tubuhnya merinding tak menentu, menahan keresahan di benaknya. Arka kemudian hanya mengenakan boxer dan kaus dalam saja untuk tidur. Pria itu lalu membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Kanaya. Hati Kanaya kian berdebar, mencari cara untuk mengatasi situasi yang terasa mencekam.

Arka tampak gelisah di atas ranjang, tak sekali dua kali pria itu bolak bali mengganti posisi tidurnya.

"Ah sial, perasaan macam apa ini. Kenapa aku sulit untuk memejamkan mataku," batin Arka mulai gelisah. Sepertinya ia sulit untuk mengendalikan pikirannya yang mulai tak waras. Arka pun lalu, duduk dan bersandar di ke pala ranjang, kepalanya merunduk mengintip pelan-pelan ke wajah istrinya. 

Kanaya, yang merasa hembusan nafas Pak Dosen di wajah ayunya, segera pura-pura menggeliat dengan dramatis. Ia mengibaskan tangannya ke udara, seolah-olah tak sengaja mengenai wajah tampan Arka. Arka mengerang kesakitan, tangannya menutupi bagian wajah yang tertampar. Mendengar suara Arka yang kesakitan, Kanaya beralih pura-pura terkejut seolah baru terbangun dari tidur.

"Pak Arka, kenapa...?" tanyanya dengan tatapan polos nan tak berdosa.

"Heh, tidurmu terlalu lasak!" seru Arka, mencoba menyembunyikan rasa kesal dan sakitnya. Kanaya meringis, seolah olah merasa bersalah yang amat sangat.

"Oh, maafkan aku, Pak. Aku tak sengaja. Harap maklum, kalau kelelahan biasanya tidurku memang sedikit tak terkontrol," ujarnya dengan ekspresi menenangkan Arka. Arka menghela napas panjang, seakan menerima kenyataan yang tak bisa diubah.

"Baiklah... Jika begitu, saya tidur di sofa saja," ucapnya sebelum turun dari atas ranjang dengan hati-hati. "Dasar menyebalkan..." batin Arka, merasa kalah oleh tingkah Kanaya yang cerdik.

Namun meski Arka sudah berpindah tempat, ke atas sofa, tetap saja matanya tak mau terpejam, aliran listrik di tubuhnya, semakin mengalirkan energi tegangan tinggi. Melihat Kanaya yang tertidur pulas Arka berdecak. Pria itu lalu masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan otaknya, karna adzan subuh telah berkumandang.

Kanaya yang terlelap dengan damai, terbangun mendadak ketika merasakan nyeri perut yang menusuk, tepat di bawah pusarnya. Ia langsung mengangkat selimutnya, namun alangkah terkejutnya saat melihat bercak darah merah kecoklatan yang menodai seprai putih di atas ranjang pengantin mereka.

"Ya Tuhan..." gumam Kanaya dengan suara gemetar, tangannya membekap mulut,"dia telah merenggutnya..." kesedihan dan kemarahan bergulat dalam pikirannya.

"Dasar pria mesum. Bisa bisanya dia menggagahiku dan merenggut mahkotaku, disaat aku tertidur lelap!" bentak Kanaya, matanya memandang nanar ke arah pintu  kamar mandi, dengan tatapan nanar. Ketika Arka keluar dari kamar mandi, Kanaya tak kuasa menahan amarahnya, ia langsung berlari menghampiri suaminya dan memukul dada bidang Arka yang masih basah dan bertelanjang dada.

"Dasar Dosen, mesum...! Bisa bisanya kamu merenggut keperawananku saat aku tertidur  dan tidak sadar!" teriak Kanaya sambil menahan air matanya yang mulai membasahi pipi yang tampak merah karena kemarahan dan penderitaan batinnya.

Arka yang tak mengetahui apa-apa, tiba-tiba mendapat amukan dari istrinya, hanya mampu mengernyitkan dahi dengan bingung.

"Kamu bicara apa...? Kenapa kamu seperti orang kesurupan?" tanya Arka dengan ekspresi bingung yang jelas tergambar di wajahnya. "Pak Arka, jangan berlagak bodoh, ya..! Lihat itu, buktinya—ada bercak darah di seprai putih itu! Dasar dosen mesum!" Kanaya dengan geram menghujani Arka dengan pukulannya, sementara rasa amarah yang membara tampak nyata dari sorot matanya yang tajam. Tak hanya marah, Kanaya merasa hancur. Hatinya serasa remuk, dan tangisnya pecah tak terbendung.

"Tidak bisakah Bapak, menunggu hingga saya benar-benar siap untuk melakukannya...?" tanya Kanaya dengan suara parau yang memilukan, seakan hatinya telah teriris oleh belati tajam.

"Kanaya...saya..." Arka tergagap, matanya terasa berkabut.

"Cukup, Pak! Aku benci pria sepertimu...!" jerit Kanaya, sebelum berlari ke dalam kamar mandi. Arka tertegun menatap punggung Kanaya yang menghilang di balik pintu, dengan tangan yang masih mengambang di udara, seakan hendak menangkap tangan Kanaya. Sementara Kanaya menangis jumpalitan di dalam Kamar mandi, sambil mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.

 "Ah, sial... apa lagi ini...!" gumam Arka, dengan wajah kesalnya

1
Melia Gusnetty
jgn luluh lg naya...ksh pelajaran pd suami mu itu...dgn bersikap sprt dia ke kamu..biar sadar tuu si arka
Melia Gusnetty
si arka taik....percuma kau tau agama..yg ada d otak dn hati kau wanita lain bukan istri mu...dn naya jgn bodoh dn luluh dgn suami yg tak mencintai mu...
Melia Gusnetty
knp gk d tinggalin aj tuu si arka....biar tau rasa dia...
jgn lemah dong jd cewek nay...
Melia Gusnetty
iihh..jengkel skl sm arka..dia yg bilang mau mulai dr awal...dia pl yg bertingkah..gitu mulu..bentar masalah bentar damai...gk jelas ujung nya
Melia Gusnetty
si.mandar kt nya wanita muslimah yg berpakain sar'ii..kok perangai nya gk sesui dgn casing luar nya...murahan..pelakor..
si naya jgn tolol2 amat deeh...mdh luluh aj sm arja..tegas dikit woyy...😏😜😏
Melia Gusnetty
dasar bodoh bin tolol kau naya...bikin greget aja...😏😏😏
Melia Gusnetty
harus nya si naya ini bersikap dingin sj sm arka...apa lg dia udh mergokin si arka sm buk dosen itu....bodoh dn ceroboh km naya ..menjengkel kn...ksh pelajaran kek si arka dgn cuek dn dingin sj..klu per😏lu panas2in tuu sm si panji
Melia Gusnetty
si kanaya begok yaa...itu darah mensturasi mu naya...🤦‍♀️

si arka cuma bafsu aj yg gedek ke naya bukan cinta...
Melia Gusnetty
kanata terlalu polos ap terlau bodoh...mau aj sm lelaki yg mencintai wanita lain...punya harga diri dong sbg perempuan...
Deeva Sha
benci aku ke kanaya , ngapain ngemis cinta taik
Maya 26
ko bisa sih Kanaya mau nikah please bodoh bgt sumpah , mau sakit hati sampe kapan woy
Maya 26
kenapa sii Kanaya mau nikah sama tuh dosen padahal dosenya gak cinta.
kalau gak cinta aja sih mending ya, tapi tuh dosen cinta sama orang lain.
kalau dianya gak cinta juga masih ada mendingnya minimal gak makan hati, Lah ini nikah bertepuk sebelah tangan mau lagi ampun
Maya 26
heran bgt, udah tau tuh dosen gak cinta kenapa mau bikin emosi aja ah.
harusnya tegas dong jangan mau di nikahi dengan alasan apapun
Maya 26
kalau gue gak bakal mau nay, nikah sama laki2 yg cintanya buat perempuannya lain. makan hati terus
Widya Sari SE
Ending nya Mengecewakan😔
Andri Haryono
yach... penonton kecewa. endingnya cuman segitu aja....
Andri Haryono
Luar biasa
Andri Haryono
woow.. dalam banget kata2 Arka
Andri Haryono
nasibmu Nay...
Qaisaa Nazarudin
Kalo udah tau kebenarannya,Kenapa masih mau meneruskan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!