Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa kecewa Arga
"Kinara, apa yang sudah kau lakukan?" ucap Arga sambil menatap Kinara dengan rasa kecewa. bukankah tadi Kinara mengatakan jika mereka akan mencari kedai kopi atau sebuah penginapan? tapi apa ini? kenapa tiba-tiba disana ada orang yang sudah sejak lama Arga benci, Adrian, ayahnya.
Kinara hanya diam tidak bisa memberikan penjelasan apapun pada Arga, rasa bersalahnya semakin berlipat ganda. apalagi ketika melihat kekecewaan yang begitu besar dalam diri Arga.
"aku pikir kamu adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya dalam kegelapan hidupku,Kinara. tapi ternyata kamu sama saja" Arga berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Adrian. kebenciannya semakin besar ketika Adrian memberikan tamparan keras malam itu.
"Arga tunggu! ada yang perlu kita bicarakan" teriak Adrian, namun Arga sama sekali tidak menggubris ucapan dari ayahnya.
karna rasa kecewanya terhadap Kinara, Arga pergi meninggalkannya di tempat itu.
"Arggghhhhhh, kenapa semuanya sama saja. padahal gue sudah begitu yakin untuk mempercayai Kinara, tapi apa ini?"Arga melajukan mobilnya dengan begitu cepat. membelah jalan sore yang sepi dengan perasaan kacau.
sedangkan Kinara yang saat ini masih di tempat Adrian, gadis itu tidak tau harus berkata apa saat ini.
"Kinara, saya tau kamu bukan hanya guru di sekolah Galindra," ucap Adrian yang memecah keheningan diantara mereka. Kinara sedikit terkejut dengan kalimat itu. " apa maksud anda pak Adrian?" tanya Kinara yang masih pura-pura tidak mengerti.
Adrian mengambil nafas sejenak, berjalan perlahan mendekati Kinara" saya tau tentang hubungan kamu dengan Arga" Adrian berdiri di samping Kinara, menatap keluar arah jendela menatap hari yang semakin sore.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang membahayakan. Pikirannya dipenuhi gambaran Pengkhianatan Kinara. Setiap janji dan senyuman yang Kinara berikan kini terasa seperti kepalsuan yang menusuk. Arga menggenggam kemudi dengan kuku-kuku jari memutih, rasa panas menjalar dari dada hingga ke mata.
"Sama saja. Semuanya sama saja! ," desis Arga, suaranya parau karena menahan amarah yang menyakitkan. "Aku kira... aku kira Kinara berbeda. Aku sudah membuka diri, menceritakan semuanya, dan dia? Dia malah membawaku ke orang yang paling ingin aku hindari!"
Air mata penyesalan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Arga memukul dashboard mobilnya keras-keras. Bukan hanya kebenciannya pada Adrian yang memuncak, tetapi juga rasa bodoh karena telah memercayai seseorang lagi. kepercayaan bagi Arga adalah barang langka yang hanya ia berikan kepada Kinara, dan kini barang itu hancur berkeping-keping.
Arga ingat bagaimana Kinara dengan lembut mengatakan bahwa ia adalah orang yang bisa dipercaya, tempat Arga bisa bersandar. tapi apa ini? kenapa hari ini justru Kinara membawanya bertemu dengan Adrian.
Tiba-tiba, Arga membanting rem, membuat mobilnya berdecit kencang dan berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi, di bawah rindangnya pohon besar. Arga menyandarkan dahi di kemudi, mencoba mengatur napas yang tersengal.
"Kenapa, Kinara? Kenapa kamu melakukan ini?" bisiknya lemah, lelah kepada dirinya sendiri. "Apa yang Ayah janjikan padamu? Uang? Jabatan? Apakah segalanya harus selalu tentang keuntungan?"
Kinara bukan lagi sosok guru yang lembut dan istri yang suportif. Di mata Arga, Kinara sama seperti yang lain. seorang pengkhianat yang sengaja ditanam untuk memaksanya kembali ke kehidupan yang ia benci. Kekalahan ini terasa lebih pahit daripada melawan Adrian malam itu, karena kali ini, yang menghancurkannya adalah orang yang ia biarkan masuk ke dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kinara merasakan hawa dingin yang menusuk, bukan hanya dari sakit yang mulai gelap, tetapi juga dari pandangan mata Adrian yang penuh perhitungan.
"Saya tidak perlu pura-pura lagi, Kinara. Waktu mendesak. anak saya semakin jauh," ucap Adrian, raut wajahnya tampak lebih dingin karena masalah. "saya tahu kamu bekerja untuk saya. Sejak awal, saya meminta kamu mengajar ke sekolah Galindra bukan hanya untuk mengurus nilai siswa SMA Galindra, tapi untuk mendekati Arga. Jadi, jangan buang waktu dengan berpura-pura."
Kinara menelan ludah. Rencananya terbongkar. Memang benar, awalnya Kinara diminta Adrian untuk mendekati Arga dengan iming-iming gaji besar. Kinara mengumpulkan dana untuk beasiswa bagi murid tidak mampu di yayasan kecilnya, asalkan Kinara bisa mendekati dan membawa Arga kembali. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaannya pada Arga menjadi tulus. Ia jatuh hati pada kerapuhan dan kejujuran Arga.
"B-bukan begitu, Pak Adrian," Kinara berusaha membela diri, meski dia tahu Adrian tidak akan percaya. "Memang benar saya awalnya ingin menjalankan tugas saya dari anda... tapi, saya sungguh ingin membantu Arga karena saya peduli padanya. Saya tidak bermaksud menyakiti dia. Saya hanya ingin dia mendengarkan Anda."
Adrian sini tersenyum. "Menyakiti? Tentu saja kamu menyakitinya, Kinara. Kamu baru saja menusuknya dari belakang. Tidak peduli apa niatmu setelahnya, yang Arga lihat sekarang hanyalah seorang pengkhianat yang bersekongkol dengan ayahnya. Sebuah jebakan."ucap Adrian
"Saya memang meminta kamu untuk mendekati Arga, tapi kamu harus tau batasan. kamu tidak pantas untuk anak saya, kita beda level, Kinara. saya harap kamu mengerti apa maksud perkataan saya"
Kinara menutup mata, air matanya mulai menetes. Adrian benar. Arga tidak akan pernah memercayainya lagi. Bahkan kalimat Adrian terasa begitu menyakitkan. padahal Kinara sadar kalau dirinya memang tidak pantas untuk Arga.
"Saya melakukan kesalahan besar," lirih Kinara.
"Ya, dan sekarang, pergilah. Tugasmu sudah selesai, meski dengan hasil yang kacau. Arga tidak akan pernah kembali ke sini. saya ingin kamu segera mengurus pengunduran diri dari sekolah Alindra. Urusanku dan Arga, biarkan aku yang menyelesaikannya," perintah Adrian dingin.
Kinara mendongak, menatap Adrian dengan sorot mata terluka.
“Kalau begitu, tolong beri saya waktu satu minggu, pak Adrian. setelah itu saya akan benar-benar pergi dari hidup Arga” ucap Kinara lirih.
Kinara berbalik, meninggalkan Adrian dan tempat yang kini terasa seperti markas pengkhianatan. Saat berjalan menjauh, dia hanya memikirkan satu hal, menemui Arga. Namun, dia tidak tahu harus mulai dari mana, dan yang paling dia takuti, apakah Arga masih mau memaafkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arga tiba di sebuah gudang tua di pinggiran kota, tempat yang selalu ia jadikan tempat menyendiri saat pikiran kacau. Gudang itu gelap, kotor, namun terasa aman dari intaian ayahnya dan... Kinara.
Arga mengambil ponselnya, mengklik ragu-ragu di atas nama Kinara. Arga ingin menelepon, berteriak, menuntut penjelasan, namun harga dirinya menahannya. Saat itulah, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, berisi sebuah foto screenshot yang membekukan darahnya. bukti transfer uang dalam jumlah besar dari rekening Adrian ke Rekening Kinara. Tanggal transfer. seminggu yang lalu. Tepat setelah Arga mulai curhat terbuka tentang masa lalunya.
Arga merasakan sakit yang jauh lebih dalam, menembus semua emosinya. Ini bukan hanya salah paham.