NovelToon NovelToon
Asmaradhana Putri Ningrat

Asmaradhana Putri Ningrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:328.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kirana Pramudya

Dua tahun Sitha dan Danu berpacaran sebelum akhirnya pertunangan itu berlangsung. Banyak yang berkata status mereka lah yang menghubungkan dua sejoli itu, tapi Sitha tidak masalah karena Danu mencintainya.

Namun, apakah cinta dan status cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?

Mungkin dari awal Sitha sudah salah karena malam itu, pengkhianatan sang tunangan berlangsung di depan matanya. Saat itu, Sitha paham cinta dan status tidak cukup.

Komitmen dan ketulusan adalah fondasi terkuat dari sebuah hubungan dan Dharma, seorang pria biasalah yang mengajarkannya.

Akankah takdir akhirnya menyatukan sepasang pria dan wanita berbeda kasta ini? Antara harkat martabat dan kebahagiaan, bolehkah Sitha bebas memilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Langkah Lebih Berani

Akhir pekan tiba. Dharma terlihat sedang mempersiapkan dirinya. Pemuda itu memilah-milah kemeja di lemari, setidaknya akan mengajak Sitha menonton Wayang Orang, dia harus tampil rapi pastinya.

"Mau kemana, Mas?" tanya Bu Tanti. Tak seperti biasanya putranya itu tampak memilah kemeja flanel kotak-kotak. Bahkan Dharma mengambil setrika ingin menyetrika kemejanya terlebih dahulu.

"Nanti Dharma mau ke Mangkunegaran sebentar yah, Bu?"

"Boleh saja. Tumben, sampai mau setrika baju. Sini, biar Ibu yang setrikain," balas ibunya.

"Gak usah, Bu. Dharma bisa sendiri kok."

Bu Tanti tersenyum mengamati putranya itu. Perangai Dharma kali ini terlihat aneh. "Kalau sudah ada yang sreg di hati segera menikah tow Mas. Adekmu aja sudah memiliki anak, sudah waktunya untuk berumahtangga."

"Didoakan saja, Ibu."

"Bapak dan Ibu ya pasti mendoakan kamu. Kalau memang sudah ada tidak usah lama-lama."

Pemuda itu tersenyum saja. Dharma memilih menyelesaikan menyetrika kemejanya. Setelah itu, Dharma bersiap untuk menjemput Sitha. Tidak lupa Dharma berpamitan dengan Ibunya.

"Dharma pamit dulu ya, Ibu," pamitnya.

"Iya, Mas. Hati-hati yah."

Sebenarnya kalau dipikir-pikir jarak tempuh dari rumah Dharma ke kediaman Sitha terbilang jauh. Lalu, nanti balik lagi ke arah Mangkunegaran. Namun, semua akan Dharma tempuh demi Sitha. Saat membawa sepeda motornya, Dharma berpikir apakah mau Sitha naik sepeda motor dengannya. Bukannya tidak punya mobil, keluarga Dharma hanya memiliki satu mobil dan sering dipakai Bapaknya yang adalah Guru Kesenian di SMK Kesenian di kota Solo. Sedangkan ibunya adalah pengusaha Katering yang sering mendapatkan orderan sewaktu orang menikah. Adik dan adik iparnya juga sering membantu setiap kali ibunya mendapatkan pesanan katering pernikahan.

Lebih dari setengah jam, Dharma baru tiba di kediaman Negara. Pemuda itu sebenarnya bimbang, tapi dia sudah berjanji akan berani untuk meminta izin kepada Bapak Bima dan Bu Galuh.

"Assalamualaikum, kula nuwun," sapa Dharma dengan menekan bel pintu rumah kediaman besar keluarga Negara.

"Waalaikumsalam, sinten?"

Bu Galuh yang keluar, dia melihat sendiri siapa yang datang sore hari begini. Rupanya yang datang adalah Dharma. Pemuda itu memberikan salam takzimnya. Ini kali pertama Dharma datang sendiri ke kediaman Negara.

"Oh, Mas Dharma tow ... masuk, Mas. Mari pinarak," balas Bu Galuh. Dharma dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah.

Dharma sesungguhnya sangat grogi, seumur hidup baru sekarang dia datang ke rumah seorang gadis dan berniat untuk mengajak keluar. Bukan hanya Bu Galuh, rupanya ada pula Rama Bima yang baru saja masuk ke dalam rumah. Rama Bima juga kaget melihat Dharma di rumahnya.

"Loh, Mas Dharma. Tumben, Mas?"

"Nggih, Bapak."

Rama Bima kemudian tersenyum. "Bu, minta tolong dibuatkan minum dulu. Kasihan rumahnya Mas Dharma ini jauh," katanya.

"Gak keburu-buru kan, Mas? Minum dulu yah?"

"Ampun repot, Ibu."

Dharma meminta supaya Bu Galuh tidak repot. Dharma sendiri malahan yang merasa sungkan sendiri. Kemudian Rama Bima bertanya kepada Dharma.

"Kalau masalah pekerjaan kelihatannya tidak mungkin kan, Mas? Atau ada yang lainnya?"

Dharma tersenyum. Lalu, dia berusaha sepenuh hati untuk berbicara dengan Rama Bima.

"Nyuwun pangapunten sak derengipun. Bapak, kepareng mboten menawi kula badhe ngajak Bu Sitha ningali Wayang wonten ing Pamedhan Mangkunegaran?"

Dharma menuturkannya dengan menggunakan bahasa Jawa krama halus. Terlihat jelas bahwa Dharma begitu sopan, memahami unggah-ungguh, dan juga menghormati orang tua Sitha karena menggunakan bahasa krama yang halus.

"Ada Wayang yah di sana?" tanya Rama Bima.

"Iya, ada Bapak."

"Lakonnya apa, Mas?"

"Srikandhi Meguru Manah, Bapak."

Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Boleh saja. Bapak itu tidak apa-apa. Kalau yang mengajak kamu, harus tanggung jawab. Sewaktu berangkat minta izin, nanti waktu pulang ya pamit dengan baik. Itu baru namanya pemuda yang baik," kata Rama Bima.

"Nggih, Bapak."

Bu Galuh datang dengan membawakan secangkir teh hangat. Sang ibu sudah tersenyum, karena dari dapur sudah mendengar samar-samar perbincangan Rama Bima dan Dharma.

"Diminum dulu, Mas. Biar Ibu panggilkan Sitha," kata Bu Galuh.

"Matur nuwun nggih Ibu."

"Kalau sama Sitha tidak usah dipanggil Bu, panggil namanya saja. Wong Sitha itu sebenarnya masih kecil. Lebih dewasa Mas Dharma," kata Rama Bima.

"Harus menghormati, Bapak."

"Tidak masalah kalau di luar kantor manggilnya Sitha aja. Rama yakin kalau Sitha enggak keberatan."

Izin dari Rama Bima sudah Dharma kantongi. Sitha juga sudah turun dari lantai dua kamarnya. Gadis ayu itu mengenakan celana panjang dan juga kemeja kotak-kotak pula. Seakan selera keduanya sama.

"Rama, Sitha ke Mangkunegaran dengan Mas Dharma nggih?" tanya Sitha.

"Iya, hati-hati. Ya sudah, sana segera berangkat. Hati-hati ya Mas Dharma. Dijaga baik-baik."

Kemudian Dharma dan Sitha berpamitan. Ketika di luar rumah, Dharma mengatakan kepada Sitha. "Naik sepeda motor tidak apa-apa kan, Bu?"

"Gak apa-apa. Aman kok, Mas. Aku juga sering kok naik sepeda motor, tapi ada syaratnya ...."

"Syaratnya apa?"

"Jangan manggil Bu, panggil Sitha aja, Mas."

"Duh, mana bisa."

"Pasti bisa. Kalau enggak bisa, aku enggak mau mbonceng loh."

Dharma tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ayo, Si ..., hm, ayo Dek."

"Loh, kok jadi Dek."

"Apa Mbak?"

"Sshhs, Mas ini. Malahan kayak Mas Satria yang manggil aku adek loh."

Dharma tersenyum. "Ayo, Dek Sitha. Nanti keburu malam. Aku sungkan kalau memulangkan putrinya Bapak malam-malam."

Sitha akhirnya mulai membonceng ke Dharma. Pemuda itu tersenyum sembari mengamati dari kaca spion sepeda motornya. Rasanya seperti mimpi bisa memboncengkan Sitha seperti ini, apalagi baru pertama kali Dharma memanggil Sitha dengan panggilan Adek seperti sekarang.

Sedangkan Sitha juga tersenyum. Dia juga sungkan diboncengkan lawan jenisnya, tapi setidaknya Dharma berani mengambil tantangan darinya.

"Rama tidak menakutkan kan, Mas?"

"Tetap deg-degan. Takut salah dan takut enggak dibolehin."

Sitha tersenyum mendengarnya. "Ramaku baik kok. Kamu jarak tempuhnya bolak-balik dong, Mas?"

"Lumayan sih, tapi tidak apa-apa."

"Oh, makasih yah sebelumnya."

"Sama-sama, Dek."

Begitu hati-hati Dharma membawa sepeda motornya, sedangkan Sitha sendiri berusaha biasa, walau tetap ada rasa sungkan.

"Semoga tidak hujan yah? soalnya open stage," kata Dharma.

"Iya, semoga saja. Soalnya sekarang cuaca tidak bisa diprediksi juga sih, Mas. Tiba-tiba bisa hujan."

Sembari melintas sepanjang perjalanan di kota Bengawan, suara mereka terkadang tersapu angin, tapi bagi Dharma ini adalah malam minggu yang indah. Dia berani mengambil satu langkah. Dharma berjanji, dia akan lebih berani dan nanti akan berusaha mengutarakan isi hatinya kepada Sitha. Semoga saja perasaan itu juga bersambut nantinya.

1
Yuni Martopo
Luar biasa
tina vio
kak aplikasi oranye nya apa nyari ga ktm2😣
Kirana Pramudya: Halo Kak..
Nama penanya sama, Kak.
Kirana Pramudya🙏🏻
total 1 replies
jhon teyeng
memang banyak penulis yg kesaldan kecewa sama nT bahkan mgkn sdh banyak yg tdk selesai karyanya sebab nT bikin aturan yg membingungkan. kalau memang nT sdh tdk sanggup ya sdh tutup saja kasihan pemula yg semangat hrs down hanya karena aturan yg tdk jelas standartnya.
Lisa
koq g ada kelanjutannya ?
Afternoon Honey
jadi ini dianggap tamat ya author Kirana 🤔
WaTea Sp
semangat danu....
WaTea Sp
astagfirulloh.....
WaTea Sp
bener tuh si ambar kurang bersyukur......nyesel baru rass lo mbar
WaTea Sp
ambar ambar sadar sedikit knapa, wong asalmu jg bukan orkay kok
WaTea Sp
ambar maaih aja sombong gak ada berubahnya....twpok jidat
Windy Veriyanti
semoga Author berkenan meneruskan cerita yang apik dan indah ini 🙏🌹
tetap semangat ✊
Gusti Allah tansah mberkahi 🍀🌸❤🌸🍀
Windy Veriyanti
si Ambar uni kudu dipentokkin tiang dulu kayaknya, biar pikirannya jadi lempeng...
Windy Veriyanti
senang sekali jika ada seseorang yang memahami sejarah dan budaya daerahnya, serta mampu menceriterakan dengan begitu baik...seperti Shita
Windy Veriyanti
step by step, Mas Dharma...
disyukuri walaupun hanya ada selintas ingatan yang masih samar di benak Shita
Windy Veriyanti
si Ambar ini berasa nyaman banget jadi manusia antogonis 😆😁
jhon teyeng
aku sdh tahu ternyata itu ya orange juice nya aku smpt lht tp ragu dg nama yg takutnya sama
jhon teyeng
orange bisa disebutkan nggak
Windy Veriyanti
Kisah hidup seseorang dari kalangan ningrat atau bangsawan, selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk disimak.
Terlebih didalamnya banyak terdapat sentuhan wawasan Budaya Jawa yang tentunya akan memperkaya pengetahuan si pembaca.
Saestu...sae sanget 👍
Roma Pasaribu
Tasya apa Sitha, Thor 😁
Enisensi Klara
Kirain mas Dharma mau susu yg lain 🤣🤣🤣🤣🤣🤣ntar lain cerita itu mah 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!