Di saat suasana yang kurang baik akibat kena PHK, seorang gadis bernama Alena malah melihat orang yang hendak bunuh diri.
Namun, bukannya berhasil menyelamatkan malah Alena terjun bebas dari atas gedung tersebut. Alena pasrah saat merasakan dirinya yang sudah tidak berdaya, namun ternyata Alena malah masuk ke dalam sebuah Novel yang sangat dia sukai.
Meski dia tidak suka akhir dari novel itu, tapi dia sangat menyukai sosok antagonis yang berakhir mengenaskan itu. Yah mungkin karena namanya dan nama antagonis itu sama.
Tunggu! Alena kini tersadar dalam tubuh antagonis? Bagaimana bisa? Sedangkan akhir mengenaskan kini berada di hadapannya.
Bagiamana Alena bisa lolos dari maut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Duke dari Altair dan duckess memasuki ruangan." Teriak seorang penjaga, Alena dan Mattias tersenyum dan menatap sekeliling.
"Salam yang mulia." Seorang lady mendekati Alena, Alena tersenyum dan mengangguk pada sang suami.
"Lama tidak berjumpa lady Violet." Alena tersenyum lembut, tatapan Violet kini mengarah pada Altair. Wajah Violet nampak sangat memerah, Alena menatap sosok di belakang Violet.
Set!
Set!
Violet mengusap pipi kanannya dan bibirnya sekilas, sebelum menyentuh kipas di tangannya. Alena terkekeh, rupanya perkumpulan bangsawan ini lebih parah dari club. Bagaiamana bisa seorang lady menggunakan bahasa isyarat yang menginginkan suami orang?
Tuk!
Tuk!
Alena menyentuhkan kipasnya pada tangan Altair, dengan angkuhnya Alena menyentuhkan kembali kipas itu pada pundaknya. Itu artinya 'dia milik ku' Altair yang melihat itu terkikik dan merangkul pinggang sang istri dengan sikap arogan.
"Sayang, aku mencium bau karatan." Singgung Mattias tanpa menggunakan bahasa formal.
"Astaga suami ku ini lupa ya, anda seharusnya berbicara formal." Alena menekankan kipasnya pada bibir Mattias. Bila dalam istilahnya itu artinya 'aku ingin mencium mu' Mattias terkekeh dan mengambil kipas itu.
Mattias mengangkat dagu Alena yang artinya 'ayo kita lakukan' semua orang tertegun dengan kemesraan tak masuk akal itu. Alena hanya tersenyum dan menatap sosok di hadapannya yang sudah gerah.
"Oh ya lady, apa anda mencium bau rongsokan? Ataukah ada besi berkarat? Sayang sekali suami ku ini tak suka berbicara formal." Alena tersenyum meledek, Violet yang geram menghentakkan kakinya sebelum akhirnya meninggalkan Alena dan Mattias.
"Aku pikir anda tak belajar istilah." Alena berbisik di dekat Mattias.
"Semua yang menguntungkan harus aku pelajari, lagi pula meski tidak di pelajari aku sudah akan hafal semuanya." Alena menggelengkan kepalanya mendengar kesombongan sang suami yang tidak salah itu.
"Hoho, Duke Altair?" Seorang pria berperawakan tinggi besar dan pasangannya menyapa Mattias.
"Lama tak jumpa Duke Hunberg? Anda tidak banyak berubah." Ucap Mattias mengelus tangan sang istri seolah memamerkan Alena yang hari itu memang begitu cantik.
"Anda tidak memakai hasil disain dari perancang A sekarang? Apa anda kekurangan uang?" Wanita yang berada di samping duke Hunberg ikut berbicara.
"Hem, bagaimana ya? Aku sudah tidak suka pada barang bekas." Alena terkekeh di balik kipasnya, Mattias tersenyum simpul menimpali ucapan sang istri.
"Apa maksud anda?" Wanita di samping duke Hunberg nampak murka, Alena terkekeh dengan tatapan menghina.
"Anda mungkin tahu satu buah permata yang ada di tubuh ku bahkan dapat membayar seluruh penampilan mu malam ini," Alena tersenyum geli. "Bahkan satu anting ku bisa membeli 10 gaun yang anda pakai malam ini." Tegas lagi Alena, Mattias tertegun dengan ucapan Alena saat itu. Apa lagi duke Hunberg yang tiba-tiba pucat di buatnya.
"Jangan menghina harta suami ku, dia memiliki banyak hal yang tidak kau sangka. Bahkan lebih dari apapun yang anda punya tidak akan setara dengan ujung jarinya." Mattias kembali tertegun mendengar ucapan pedas Alena yang sangat menggelitik itu, Alena memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
'Sial!' Gertak Alena dalam batin saat dirinya dan Pierta saling bersitatap, wajah Pierta nampak pucat dan sangat kurus bola mata keemasannya nampak sayu seolah tak memiliki kehidupan.
"Salam kepada matahari kecil kerajaan." Alena dan beberapa orang di sana menunduk memberikan salam.
"Apa kabar Alena?" Tanya Pierta, sontak saja mata Mattias melotot saat tangan Pierta hendak mengecup punggung tanan sang istri. Itu memang sudah lumrah sebagai tatak rama para bangsawan, tapi bagi Mattias itu adalah penghinaan.
"Aduh suami ku, aku haus sekali." Alena langsung menarik tangannya saat merasakan hawa dingin terasa sangat merasuk dari tubuh Mattias.
"Aku juga, aku bahkan sangat ingin meminum satu tong anggur sekarang." Alena terkekeh dan menatap raja dan ratu yang sudah tiba seraya mengambil segelas anggur.
Mata raja dan ratu nampak sayu, kulit keduanya nampak pucat dan tatapannya nampak kosong. Mattias sudah menyadari itu sedari awal, di tambah lagi saat ini Evelin tak ada di istana.
"Itu adalah sihir boneka." Bisik Mattias, Alena tertegun dan menggelengkan kepalanya.
"Inti dari sihir boneka berada di tulang leher, raja dan ratu tengah di kendalikan." Bisik lagi Mattias, Alena sadar saat ini tengah berada dalam posisi seperti apa.
"Salam kepada matahari dan bulan kerajaan." Mattias menunduk di ikuti Alena.
"Saya terima salam kalian, saya akan menghadiahkan sesuatu atas kemenangan kalian." Seorang wanita berparas cantik dengan tubuh yang aduhai keluar dari balik tirai di samping Alena dan Mattias. Alena menggertakkan giginya, dia sudah tahu maksud semua ini.
"Aku menghadiahkannya bersama dengan uang di baliknya." Mattias tersenyum sinis mendengar ucapan raja, para bangsawan yang berpihak pada Mattias mulai memasang gerak waspada.
"Apa anda meminta saya berkhianat pada istri saya sendiri?" Tanya Mattias dengan sudut bibir yang terangkat.
"Bukankah hal wajar bila seorang lelaki memilki banyak istri?" Raja menekankan bila Altair tidak dapat menolak apa yang dia perintahkan.
"Anda jauh lebih tahu dari saya, dari pada saya mengkhianati istri saya, saya lebih baik memilih menghianati anda yang mulia." Mattias menatapkan matanya yang tajam ke berbagai arah istana itu.
"L*anc*ang!" Bentak sang raja, Mattias mengibaskan jubah besarnya dan menggandeng tangan sang istri.
"Saya pamit, saya menunggu anda di medan perang." Mattias akhirnya mengucapkan hal itu dengan lantang, jalan untuk berperang akhirnya terbuka lebar.
Beberapa penyihir keluar dan membuat seisi aula pesta itu riuh, beberapa orang di bawa pergi oleh para penyihir. Mereka adalah para bangsawan yang berpihak pada Mattias.
"Selamat menikmati pesta terakhir anda!" Alena menyiramkan anggur di tangannya ke atas kepala Pierta, semua orang syok dengan pemandangan tersebut. Terlebih lagi Pierta yang nampak murka dengan wajah yang seakan hendak menerkam orang.
Prang!
Alena melemparkan gelas itu dengan sangat keras dan sebuah sihir tiba-tiba keluar dari bawah kaki Alena dan Mattias. Mereka berpindah tempat dan kini berada di sebuah gunung besar di tanah Altair.
Gunung itu bernama gunung Udon, gunung tertinggi di tanah Altair sekaligus gunung tertinggi di seluruh daratan benua tersebut. Tempat di mana para monster sering menggila dan tempat tinggal para naga.
"Hancurkan!" Ucap Mattias menggertakkan tangannya, para penyihir dan orang suci bergerak sesuai rencana yang sudah di persiapkan. Alena menatap bagaimana medan perang di mulai.
Dua naga sebelumnya akhirnya keluar dari sarang mereka, Mattias tersenyum sinis. Seluruh penyihir merasa sangat tertindas dengan aura kehadiran binatang tersebut. Perang yang sesungguhnya akhirnya akan segera di mulai.