Shana bersedia menjadi pengganti bibi-nya untuk bertemu pria yang akan di jodohkan dengan beliau. Namun siapa yang menyangka kalau pria itu adalah guru matematika yang killer.
Bagaimana cara Shana bersembunyi dari kejaran guru itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Akhirnya ketemu
"Dia kehilangan kartu pelajarnya, padahal sebentar lagi butuh untuk kebutuhan pendaftaran pertandingan," jelas Pak Nanang sambil berjalan ke mejanya mengambil sesuatu.
Pandangan mata Shana tetap lurus ke lantai. Dia tidak berani mengangkatnya karena ia tahu bahwa dirinya sedang di amati.
"Pertandingan voli butuh kartu pelajar?" tanya Regas yang sepertinya kurang paham.
"Ya," sahut Pak Nanang tanpa menoleh. Ia masih berada di mejanya mencari sesuatu dengan memunggungi Shana dan Pak Regas "Nah ini dia." Ternyata sebuah kunci. Sepertinya kunci ruang penyimpanan alat olahraga.
"Karena takut ada pemain pro dari luar yang menyusup masuk ke sekolah, panitia kompetisi sekarang mewajibkan semua pemain membawa kartu identitas sebagai bukti kalau mereka adalah benar murid sekolah." Nanang menjelaskan sambil berjalan mendekat lagi ke meja Regas.
Kepala Regas mengangguk pelan membuktikan dia mengerti apa yang di katakan temannya.
"Lalu?" Kembali bola mata Regas melihat ke arah Shana.
"Shana sepertinya mau minta tolong untuk dibuatkan lagi kartu pelajar itu. Kamu kan wali kelasnya," ujar Pak Nanang asal.
Shana mendelik. Itu tidak sama dengan pembicaraan tadi. Kepala Shana sempat mendongak dan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan kalimat pelatih volinya ini.
Itu spontan. Bahkan ia lupa kalau Pak Regas masih mengamatinya.
"Jadi kamu mau meminta tolong untuk membuat kartu pelajar baru?" tanya Regas yang tahu kalau sebenarnya gadis itu tidak meminta bantuannya, tapi sengaja dia menanyakan itu untuk membuat gadis itu panik.
Shana menoleh dengan cepat ketika sadar bahwa pertanyaan itu untuknya. Raut wajahnya tegang.
"Oh bukan begitu, Pak." Shana menggeleng.
"Jangan takut sama Pak Regas, Shan. Dia baik kok. Hanya casing aja kelihatan galak." Pak Nanang menenangkan. Tentu dengan senyum meledek.
Meskipun begitu, Shana tetap takut. Bukan karena reputasi galak Pak Regas, tapi karena dia memang punya salah. Itu yang membuatnya selalu tegang jika harus berurusan dengan orang ini.
"Sudah. Aku serahkan kamu ke Pak Regas. Tolong di bantu murid andalanku ini ya." Pak Nanang menepuk pundak Shana seraya menitipkannya.
Shana meringis melihat tepukan itu. Ia juga ingin pergi, tapi tidak sopan rasanya jika dia tiba-tiba pergi. Jadi dia masih berdiri di depan meja pak Regas.
"Jadi kamu masih butuh kartu pelajar mu?" tanya Pak Regas mendongak melihat ke arah Shana.
"Ya Pak." Kepala Shana mengangguk kecil.
"Kenapa bisa di hilangkan kalau masih butuh?" Regas tidak membuat permintaan tolong ini menjadi mudah. Dia ingin menjebak gadis ini hingga akhirnya mengaku kalau dia adalah perempuan yang ada di cafe ketika kencan buta waktu itu.
"Mmm ... Bukan di hilangkan Pak, tapi hilang sendiri." Shana mencoba membela diri.
Aduh, keluh Shana. Dia merasa kali ini bakal sulit juga. Padahal Pak Regas sudah tahu kalau itu untuk keperluan sekolah, yaitu pertandingan voli. Kenapa malah ingin mempersulit?
Bahkan beliau bicara sambil menata buku yang di bawa dia dan Rangga tadi. Itu terlihat meremehkan perkara yang sedang terjadi pada dirinya. Shana menjadi makin tidak tenang.
"Bukannya kartu pelajar itu harus di simpan dengan baik." Pak Regas menoleh sekilas pada Shana. tanpa menghentikan tangannya yang terus merapikan buku-buku di depannya.
"Sudah saya simpan, Pak."
"Dimana?" tanya Pak Regas seraya berhenti merapikan buku-buku. Tatapannya menyoroti Shana.
"Di dalam tas."
"Lalu?" Masih dengan sabar dan kesengajaan yang kentara, Pak Regas membuat pertanyaannya menjadi lebih panjang dan lama.
"Ya ... Saya simpan dalam tas, di dalam dompet." Shana buru-buru mengoreksi kata-katanya. "Dengan rapi," imbuhnya.
"Itu sudah ada di tempat yang baik, lalu di mana dompetmu? Apakah hilang?"
"Tidak. Dompet saya ada."
"Lalu kenapa kartu pelajar itu hilang? Bukankah sudah kamu simpan dengan baik?"
Kenapa itu terus yang di tanyakan? keluh Shana dalam hati. Pasti Pak Regas enggak mau bantuin aku buat kartu pelajar nih. Jadi sengaja mengulang pertanyaan itu saja. Padahal kan hilang juga tidak sengaja.
"Kenapa? Kamu berpikir saya keterlaluan karena terus menanyakan kenapa kamu bisa kehilangan kartu pelajar kamu?" Rupanya Pak Regas bisa menebak isi kepala Shana. Itu membuat gadis ini melebarkan bola matanya karena panik.
"Oh, enggak Pak." Shana menggelengkan kepalanya kuat-kuat demi meyakinkan Pak Regas. "Saya memang menyimpannya dengan baik ke dalam dompet. Mungkin ketika saya pergi ke suatu tempat dan membawa dompet itu saya lalai, jadi kemungkinan kartu pelajar saya terjatuh disana, Pak." Akhirnya Shana mencoba mengatakan hal yang lumrah. Menjelaskan keteledoran dirinya adalah sebuah pengakuan kalau dia salah.
Ya, ia harus mengaku menjatuhkannya karena dengan begitu ini akan selesai. Dia bisa pergi dan mengatakan lagi soal itu pada Pak Nanang. Bukannya yang lebih tahu soal voli dan peraturan pertandingannya adalah beliau? Pasti orang itu punya solusi di bandingkan dengan wali kelasnya ini.
Pak Regas menatap Shana lurus-lurus. Dia paham kalau muridnya ini ingin cepat selesai dengan pertanyaannya.
"Benar. Lebih nyata jika kamu mengaku lalai dan menjatuhkannya," ujar Pak Regas.
Shana merasa kesal sekaligus lega karena intonasi bicara Pak Regas juga terdengar seperti ingin menyelesaikan pembicaraan ini.
Kenapa enggak dari tadi aja aku mengaku seperti itu.
Buku-buku di atas meja Pak Regas sudah rapi. Kemudian Beliau duduk di kursinya. Kini fokus melihat ke arah Shana. Sepertinya beliau sudah mulai memutuskan. Shana menunggu dengan tidak sabar. Dia ingin pergi secepatnya dari sini.
"Jadi kamu kemana-mana membawa kartu pelajar mu?"
Lagi? Masih pertanyaan itu? Shana tidak percaya dia harus mengulang lagi jawaban ketika ia di tanya soal dompet dan sebagainya itu.
"Benar Pak." Shana menganggukkan kepala. "Karena saya letakkan dalam dompet."
Pak Regas tampak mengeluarkan dompetnya. Shana mengerjapkan mata tidak mengerti.
"Jadi saya bisa mendapatkan kartu pelajar yang baru Pak?" Shana abaikan hal itu. Dia harus memastikan juga bahwa dengan banyaknya pertanyaan soal kartu pelajar itu, membuka pintu mudahnya ia mendapat kartu pelajar yang baru.
"Tidak perlu," jawab Pak Regas seraya mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. "Kamu tidak perlu membuat kartu pelajar yang baru."
Tidak perlu? Maksudnya apa? Shana bingung.
Beliau mengeluarkan sebuah kartu dan meletakkannya di atas meja. "Kartu pelajar mu sudah jadi. Tidak, lebih tepatnya kartu pelajar mu sudah kembali."
Shana yang tadinya tidak bisa memahami maksud perkataan itu, kini mencoba melihat ke arah kartu yang di letakkan di atas meja.
Ajaib. Itu sebuah kartu pelajar, dan ... terasa tidak asing di matanya. Shana mencoba memfokuskan matanya untuk lebih teliti melihat kartu pelajar itu.
Kini, setelah ia berhasil fokus, bola matanya justru melebar. Jantungnya berdegup kencang. Matanya bergetar. Itu adalah kartu pelajar miliknya. Di sana ada nama Shana Sudarto. Nama belakang itu milik bapaknya, Anton Sudarto.
"Ambillah. Itu kartu pelajar milikmu, bukan?" pinta Pak Regas dengan nada bicara begitu tenang.
Glek. Shana menelan ludah. Ia yakin itu bukan sebuah kalimat sederhana. Pasti Pak Regas menyimpan banyak arti disana.
.
.
.
Ig @lady_ve.01
keep fighting 💪