Kakak laki-lakinya disandera oleh bos gangster karena tidak bisa membayar hutang setelah kalah dalam pemainan judi. Adik perempuannya dijual untuk dinikahkan dengan pria yang sedang koma.
Seperti sebuah kutukan, dia menyebrang dan menjadi adik perempuan itu.
Dan di dalam kisah ini dia bukan protagonisnya. Setelah terbangun dari koma, suaminya mengajukan cerai.
Ketika dia melihat nominal tiga ratus juta yang menjadi harta gono-gini bagiannya. Tanpa nostalgia, dia menandatangani surat perceraian itu dalam satu tarikan nafas.
Saat dia hendak berbalik badan, suaminya yang akan segera menjadi mantan suami itu merobek surat cerai yang baru dia tandatangani dan berkata. "Tiga ratus juta setiap bulan selama kau masih menjadi istriku."
Dengan spontan dia berbalik badan, senyum ribuan watt di wajahnya. "Suamiku~~"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chu Seldom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Menyesal dan Kebal
Orang-orang muda selalu berpikir masih ada hari esok.
Berbeda dengan Lun Li yang masih santai memotong ranting, Jiang Ran bertingkah seolah kebakaran jenggot. Dia berkali-kali mengeluhkan jika sebentar lagi kakaknya akan dicuri oleh siluman ular.
"Jangan menangis saat wanita itu berhasil. Salahmu sendiri tidak berbuat apa-apa." dia sudah mengucapkan kalimat yang mirip-mirip dengan itu lebih dari enam kali.
Lun Li memutar bola matanya acuh. Tapi walaupun sebal mendengarkan ocehan Jiang Ran yang terus menghimbau untuk mempertahankan rumah tangganya dan melindungi suaminya dari godaan pelakor, Lun Li tidak berani berkata jujur jika dia dengan senang hati memberikan kesempatan kepada pelakor untuk mencuri suaminya. Bisa-bisa bocah itu mencabut bunga kesayangannya.
Dia tidak mengerti kenapa Jiang Ran tiba-tiba menjadi tidak ramah kepada Yu Jin, padahal pada awal-awal dia masih menyanyikan pujian. Aneh, tapi karena akhir-akhir ini Jiang Ran bersikap baik dan bersedia untuk disuruh-suruh, Lun Li merekrutnya sebagai tenaga gratis. Jiang Ran adalah adik dari tokoh utama laki-laki, jadi sekalipun dia mangkir dari karakter setting-nya, dia tidak akan mengubah banyak hal dan tidak akan memiliki akhir yang buruk.
"Jiang Ran sebar pupuknya yang rata, tanamannya bisa mati kalau kau melakukannya begitu." Lun Li berseru ketika melihat Jiang Ran tidak menabur pupuk seperti instruksi yang tertera pada kemasannya.
"Apa gunanya bunga-bunga ini saat kau diceraikan nanti!" Jiang Ran menyahut dengan galak.
"Hadiah untukmu." Lun Li memotong sebuah ranting yang daunnya menguning. Dia merawat rumah kaca ini hanya sebagai latihan, setelah bercerai dia akan membangun tamannya sendiri.
Tapi Jiang Ran tidak mengerti. "Terima kasih, tapi kau tidak bisa memberiku hadiah dengan sesuatu yang diambil dari rumahku." dia mencibir, merasa genting dengan sikap Lun Li yang terlalu santai dan tidak peka.
"He Jun juga menyebalkan." Jiang Ran melanjutkan menggerutu. Dia benar-benar merasa marah dengan pria itu. Kalau sampai wanita itu berhasil menggoda kakaknya, itu semua adalah salah He Jun. Dan dia tidak segan-segan akan membotaki kepalanya. Jiang Ran berjanji, tapi dia tidak tahu jika saat ini He Jun sedang menyesal.
"Jun... maaf. Aku mengacaukan semuanya." Yu Jin berbisik lirih, matanya basah dan kemudian isakan kecil terdengar.
He Jun tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya, tidak mau melihat wajah wanita itu dan menatap keluar jendela. Mereka diusir oleh Jiang Yi.
Yu Jin melirik He Jun dari sudut matanya, kenapa pria itu tidak membujuknya. Bukankah dia adalah orang yang paling tidak bisa melihatnya menangis, biasanya pria itu akan panik begitu melihat air matanya. Lalu dia akan melalukan berbagai cara untuk membuatnya senang kembali. Dia juga menggunakan cara tersebut untuk membuat pria itu setuju dan membawanya ikut serta ke kediaman Jiang.
Melihat He Jun terus diam, Yu Jin menjadi takut. Sekarang dia hanya bisa mengandalkan He Jun untuk mendapatkan kembali Jiang Yi. Dia tidak tahu kenapa Jiang Ran yang awalnya adalah promotor terbesarnya sekarang berbalik membencinya. Dia tentu tidak bisa membiarkan He Jun berubah menjadi seperti Jiang Ran.
Ketika dia sudah merangkai kalimat untuk memenangkan kembali hati He Jun, tapi sebelum dia sempat mengatakannya, mobil berhenti di sebuah halte dan He Jun turun. "Aku masih ada urusan. Paman Li akan mengantarmu." ucapnya kemudian buru-buru pergi.
Yu Jin menatap He Jun yang berdesak-desakan masuk ke dalam bus. Dia tidak mengerti kenapa He Jun melakukan itu. Apakah pria itu benar-benar marah kepadanya sampai-sampai tidak mau satu mobil dengannya?
Yu Jin menjadi semakin panik. Dia melihat bus itu mulai berjalan, dia ingin tahu kemana He Jun pergi. Tapi paman Li pasti juga tidak tahu dan dia juga tidak mungkin meminta paman Li untuk mengikuti bus itu. Paman Li bukan supir keluarganya tapi supir keluarga He, bagaimana bisa dia memintanya untuk membuntuti He Jun yang merupakan majikannya.
"Paman Li, turunkan aku di mall di depan, aku ada janji dengan Yiru untuk berbelanja." kemudian dia hanya bisa menyampaikan kebohongan itu. Dia akan menyewa taxi dari sana dan menyusul bus yang dinaiki oleh He Jun.
"Baik nona Yu."
Tapi pengejaran yang dilakukan oleh Yu Jin ditakdirkan untuk gagal, tiba-tiba jalanan di depan macet dan taxi yang dia tumpangi terjebak.
Saat itu He Jun turun di halte selanjutnya, dia kemudian menyebrang jalan dan berganti bus tiga kali lalu dia turun pada halte terdekat dari komplek kediaman Jiang. Dari sana dia berjalan kaki selama dua puluh menit sebelum dia sampai di depan pintu kediaman Jiang.
Dia pikir Jiang Yi hanya masih marah pada Yu Jun, makanya dia berani ikut campur untuk mendamaikan mereka berdua. Tapi siapa tahu jika dia bersungguh-sungguh. Bersyukur Jiang Yi hanya mengusirnya dan tidak memutuskan persahabatan mereka.
Dia menekan bel dan menunggu. Tidak lama kemudian pintu di buka dan dia melihat paman Wang yang menatapnya heran.
"Dokter He?" paman Wang bertanya-tanya kenapa dokter He kembali lagi.
Dia tidak mengindahkannya dan bertanya dimana Jiang Yi lalu terburu-buru menemuinya.
"Hei dokter He... Aiya, kenapa tidak membiarkanku berbicara sampai selesai. Tuan muda sedang bersama dengan nona Lun." paman Wang berseru, dia dengan tergopoh-gopoh menyusul He Jun untuk menghentikannya.
Ketika He Jun sampai di rumah kaca, dagunya hampir saja jatuh ke lantai. Dia melihat tuan muda Jiang yang selalu tinggi dan berkuasa sedang mengaduk-aduk tanah. Tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah tuan muda Jiang terlihat senang.
"Dokter He lebih baik kita menunggu mereka selesai." kata paman Wang yang telah berhasil mengejar.
He Jun mengangguk seperti robot kemudian mengikuti paman Wang. Tanpa di beri tahu sekalipun dia juga tahu tidak baik untuk merusak suasana.
Saat ini Jiang Ran sudah tahu jika He Jun dan Yu Jin telah diusir oleh kakaknya, diam-diam berbisik pada telinga Lun Li. "Eh, apa kakak benar-benar amnesia?" dia jadi curiga. Seingatnya kakaknya punya sedikit germofobia, tapi sekarang dia bermain tanah, bahkan tidak berkedip ketika menemukan cacing. Jangan-jangan dia benar-benar amnesia.
"Mhm." Lun Li malas membalas, dia sedang sibuk meracik pupuk cair dan keberadaan Jiang Ran mengganggu konsentrasinya. Kalau salah takaran bisa-bisa tanaman menjadi layu.
Melihat Lun Li yang mengabaikannya, Jiang Ran tidak mengganggunya lagi. Dia mendekati kakaknya dan bersama-sama mengaduk tanah.
"Bisakah kakak meminta Lun Li untuk mengganti nama panggilan itu, kalau didengar oleh orang luar apa tidak malu."
Jiang Yi yang sudah dibuat malu di depan umum, hanya menatap adiknya sebentar kemudian lanjut mengaduk tanah.
Dia sudah kebal.