NovelToon NovelToon
K.U.N

K.U.N

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-detektif / Komedi / Hantu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:13.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Gerimis Senja

WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..

Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.

Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.

Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.

Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maxim Beraksi

*Author Pov

Maxim mengernyitkan dahi hingga kedua matanya menyipit. Ia mendekat dan menjauhkan kertas di tangannya beberapa kali. Berusaha kembali menilik tulisan kacau bak cakar ayam tersebut.

"Apa-apan kertas ini??" Ia mengerutkan dahinya lagi.

"Apa punya Gino?? Tapi.. kok cakar ayam banget sih tulisannya?" Keluh Max yang menggerutu sendiri.

"Tapi kalau di liat-liat lagi..." Ia kembali fokus pada kertas, membuat matanya menyipit.

"...."

"...Tulisannya mirip A... G... A... M...?"

"Agam?" Sentak Maxim setelah selesai mengejanya. Ia mengernyit bingung beberapa kali dengan mulut yang ternganga. Melemparkan pandangannya ke atas, lalu kembali menatap segumpal kertas yang kusut tersebut.

"Agam???" Ulangnya. Ia menelengkan kepalanya sesaat, menatap lurus ke arah pintu dan berpikir keras. Maxim pun meringis meski tak merasakan sakit.

"Kenapa Gino ngantongin tulisan dengan nama Agam?"

"Dan lagi, tulisannya jelek banget.."

"Ini sih bukan tulisan anak SMA.. lebih ke tulisan bocah atau..." Maxim kembali menatap ke atas kertas yang berada di tangannya tersebut.

"Kenapa gue mikir ini Agam ya?? Kalau di liat-liat lagi, di atas huruf G, ada tangkai panjang.."

"...Apa, huruf D??"

"Jadi, bisa juga di baca Adam?" Ia termenung sesaat. Menyerna spekulasinya sendiri.

"Aargh!! Kok gue sibuk mikirin ini sih?" Keluh Maxim pada dirinya sendiri. Ia mengepalkan kertas itu hingga berbentuk bola dan memasukkan ke dalam saku celananya.

Kini perhatian Maxim terarah pada Agam yang sedang tak sadarkan diri. Lantas ia mengangkat tubuh Agam dari atas lantai kotor dan meletakkan lengan Agam mengalungi leher dan pundaknya.

Ia mulai berdiri seraya menyeimbangkan tubuhnya yang kini harus menanggung berat badan Agam. Ia berjalan perlahan memapah Agam, membiarkan kaki Agam terseret di atas lantai.

"Sial*n!! Harusnya si Gino bantuin juga! Tapi apa yang gue harepin sih.. Dia kan babak belur juga di bantai Agam!" Gumam Maxim sambil menyeret tubuh Agam dan membawanya keluar toilet.

"Coba aja kalau ada Ciko, pasti dia bisa bantuin gue bawa Agam kayak kemarin." Gerutunya lagi.

"Nih orang berat juga ya?!" Keluh Max seolah tak ada habis-habisnya sambil menyelis sekelabat ke arah Agam yang sedang memejamkan matanya. Max nampak kesulitan, namun dari kejauhan, ada seseorang yang menatapnya tak berkedip. Ia berjalan gontai menghampiri Maxim.

"Mau gue bantu Max?" Tanya seseorang yang membuat Maxim menengadah, menatap asal suara yang benar-benar ia kenal.

"Ciko?!" Serunya tak percaya.

"Elu udah sadar?" Ciko mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.

"Iya hehee, gue gak nyangka bakal kesurupan juga." Maxim mendengus mendengar ucapannya. Jelas saja dia kesurupan, dia kan sasaran empuk para setan. Dia benar-benar menanamkan sikap penakut pada dirinya.

"Kok lu bisa sadar? Padahal tadi kayaknya lu susah banget di sadarin?"

"Iya Max, gue juga gak inget sih.. tapi pas gue bangun, gue liat ada pak ustad. Dia juga udah ngeluarin beberapa setan di badan temen-temen kita yang lain." Maxim menghela napas lega. Bak sudah terlepas dari jerat yang membelenggunya.

"Syukurlah!! Gue dari tadi nungguin pak ustad dateng, tapi lama banget sampenya. Alhamdulillah sih kalau dia udah dateng."

"Ngomong-ngomong..." Ciko mengalihkan pandangannya pada tubuh tak berdaya yang sedang di papah Maxim.

"Itu.. Agam?" Tunjuknya. Maxim menyelis sesaat ke arah Agam, lalu mengangguk.

"Iya.. Dia kesurupan juga pas izin ke toilet." Ciko langsung meringis.

"Ngapain dia ke toilet sendiri?"

"Jadii.. maksud lu, dia harus minta temenin gue gitu?"

"Yakali cowok nemenin cowok ke wc! Udah gila lu!!" Pekik Maxim kesal.

"Ya seenggaknya kan ada yang jagain walaupun dari luar."

"Terus temen-temen yang kesurupan di kelas gimana? Gue tinggalin demi nemenin Agam ke toilet? Gila aja!"

"Agam ini orangnya berani banget sih! Gak takut hantu dan gak percaya cerita mistis juga. Dia juga satu-satunya murid yang berani masuk gudang tengah malem. Maknya ngidam apa yaa pas bunting dia." Gumam Ciko asal, sementara Maxim hanya mendengus kesal.

"Mak lu juga ngidam apa pas bunting lu? Penakut banget jadi manusia!!"

"Minggir lah, kalau lu gak mau bantuin bawa Agam! Malah ngajak gue ngobrol!! Ni bocah berat tau!!" Keluh Maxim hingga membuat Ciko tersentak dan gelagapan. Buru-buru ia berlari ke sisi Agam dan mengalungkan lengan Agam ke lehernya.

"Ya maap!!" Balas Ciko sambil ikut memapah tubuh Agam bersama Maxim.

"Bawa Agam ke mana? Masjid?"

"Ke kelas kita aja. Ustadnya ada banyak kok. Gak cuma di masjid doang."

"Yaudah."

....

Maxim dan Ciko mulai memapah Agam menuju kelas. Di sepanjang jalan, di teras maupun di lapangan, sudah tak nampak para siswa yang bergelempangan lagi.

"Kemana perginya siswa yang udah sadar?" Tanya Maxim bingung.

"Oh, langsung di suruh pulang sama guru. Orang tua mereka di telpon buat jemput. Guru-guru yang perempuan juga pulang, soalnya guru juga ada yang kesurupan." Jawab Ciko sambil ikut mengedarkan pandangannya.

"Tapi siswa laki-laki dan osis tidak boleh pulang. Harus bantu-bantu yang lainnya disini!" Terangnya lagi.

Dari kejauhan, Maxim dapat mendengar suara doa yang di bacakan oleh ustad. Tubuh yang tadinya bergelimpangan, lambat laun sudah bangun dan tersadar dari makhluk yang merasuki.

Pak ustad dan beberapa teman kelas Maxim menatap kedatangan mereka. Maxim membalas tatap, ia melihat pak ustad duduk bersila di atas tikar segiempat mini dari anyaman daun kering dengan satu orang korban yang di baringkan sedikit berjarak di hadapannya.

Mulutnya komat-kamit tiada henti. Membuat janggut empat cm nya bergerak-gerak. Wajahnya berseri, senada dengan sorban putih yang ia lilitkan di atas dahi. Dahinya ada tanda hitam, biasanya orang-orang alim dan rajin shalat punya tanda itu. Tangannya terangkat bak sedang berdoa, dengan untaian tasbih yang terus ia pilah biji perbiji.

"Korban baru pak." Ucap Maxim seraya menyandarkan tubuh Agam ke dekat papan tulis. Tak jauh dari tempat duduk pak ustad.

Pak ustad terhenti. Ia menatap diam pada Agam. Secercah senyum merekah dari wajahnya. Tipis namun kentara.

"Anak sholeh.." Singkatnya. Ciko tersentak.

"Pak ustad kenal bapaknya?" Sambar Ciko hingga membuat Maxim terkaget mendengar ucapannya. Pak ustad hanya tersenyum lembut.

"Bukan bapaknya," Singkatnya menggantung.

"Dia udah bersih kok, udah keluar."

"Setannya pak?" Sambung Ciko lagi.

"Iya, dia lagi kena efeknya. Setannya kuat, jadi raganya kaget. Bentar lagi bangun.. Biarin aja disitu." Sambungnya seraya kembali berdoa dan mengalihkan pandangannya dari Maxim cs.

"Hebat banget ustadnya! Sakti!!" Bisik Ciko. Bagaimana pun juga tentu Maxim menyetujuinya. Dia bisa tau kalau setan di badan Agam memang sudah keluar hanya dengan sekali lihat.

"Dia bisa tau nama bapaknya." Sambung Ciko, berbanding terbalik dengan pemikiran Maxim. Maxim langsung mengernyit dan memasamkan wajahnya.

"Bodo amaaat!!" Balas Maxim kesal.

Maxim pun beranjak dari tempatnya, membuat Ciko terperangah menatapnya sambil mendongak.

"Lu mau ke mana Max?"

"Ada perlu bentar di luar. Lu jagain temen-temen yang lain ya!" Sahut Maxim seraya meninggalkan Ciko bersama Agam.

Maxim berjalan keluar sambil mengedarkan pandangan. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, dan tiba-tiba ia dapat merasakan tangannya menjangkau sesuatu.

Sebuah kertas yang ia dapatkan di toilet tadi.

"Bener juga.. gue harus tetep cari bukti, kalau pelaku dari peristiwa ini adalah Gino!" Gumam Maxim sambil melangkahkan kakinya melewati batas teras dan menginjakkan telapak sepatunya ke tanah.

Sementara itu, ada sesosok bayangan yang sudah menantikannya dari jauh. Ia takut masuk kelas, takut mendengar suara lantunan doa pada Allah SWT.

Ia menatap datar ke arah Maxim sambil melayang dan duduk bersila di dekat pohon beringin.

"Oke!! Saatnya Maxim Beraaaaaaaaaak!!!!!! Si!!" Ucap setan itu semangat sambil melayang mengikuti Maxim.

Beraksinya gak usah pake spasi juga Kun. nanti artinya jadi lain... - Author

"Sepertinya Maxim itu ingin menguak pelakunya! Meskipun dia tak bermaksud untuk menolong tuan saya, tapi setidaknya ini akan membebaskan tuduhan Gino pada Agam. Kalau Maxim memang bisa menemukan buktinya." Gumam Kun sambil mengekori Maxim.

.

.

.

Maxim berjalan sepanjang gedung sekolahannya. Kalau dari kata hantu yang merasuki Agam tadi, mereka telah terpanggil. Yang artinya, mereka pasti menggunakan suatu ritual untuk melakukan hal tersebut.

"Ya! Pikiran kamu benar Maximus!!" Ucap Kun yang mampu mendengarkan suara hati Maxim. Tapi setidaknya jangan mengubah nama anak orang Kun, karena manusia butuh kambing untuk melakukannya.

"Ritual pemanggilan hantu yang gue tau sih.."

"... Jailangkung." Gumam Maxim seraya berjalan dan mengedarkan pandangannya. Ia melewati ruang demi ruang, mencari di mana tempat yang tepat untuk melakukan hal tersebut.

"Kalau gue di posisi mereka, untuk melakukan ritual itu, gue gak mungkin ngelakuinnya di tempat terbuka, atau di dalam kelas. Terlebih kepalan kertas Gino bau tembakau, dengan kata lain, pasti dia juga sambil merokok."

"Jelas di lingkungan sekolah di larang keras merokok, jadi mereka gak mungkin ngelakuinya di tempet tertutup. Karena di setiap gedung sekolah, ada CCTV. Tapi, tempat terbuka yang sepi di sekolah ini...

emangnya ada ya??"

"Apa mereka ngelakuinnya di luar sekolah?? tapi itu gak mungkin, secara mereka gak datang terlambat tadi. Tapi, mereka gak ikut upacara. Intinya sih, mereka ngelakuin ritual itu di ruang lingkup sekolah saat jam upacara di mulai." Maxim mendengus sambil menggigit jari jempolnya.

"Tempat sekolah yang terbuka tapi sepi.. itu di mana ya??" gumam Maxim sambil terus menilik sekeliling.

"Aduuh, mikir yang cepet dong seperti Agam!" Gerutu Kun kesal.

"Tempat yang terbuka tapi sepi.. terus tidak ada CCTV.." Maxim kembali mengernyit.

"Cuma gudang lantai tiga yang tidak punya CCTV." Gumam Maxim sambil mendongakkan kepalanya ke atas, melihat gedung lantai tiga dari bawah.

"Kamu mau ke rumah saya?" Sambung Kun.

"Tapi, gudang kan udah di kunci. Terus gak mungkin juga ngerokok di dalam ruangan tertutup. Bisa-bisa bau rokoknya bakal kecium kan di badan dan baju. Malah bikin dia bakal ketahuan guru."

"Jadi gudang gak mungkin.."

"Tempat terbuka yang sepi... tidak ada CCTV.."

Maxim tersentak. Kedua matanya terbelalak. Ia mengerjap dengan ragu begitu melewati tempat yang benar-benar jarang di lewati para siswa.

"Sumur belakang sekolah?" Gumam Maxim sambil menatap lurus ke arah sumur.

Ia menenggak ludahnya sendiri. Sumur itu di kenal angker di kalangan pelajar. Tak ada yang berani datang atau sekedar lewat sana. Apa mungkin Gino melakukan ritual itu di sana? Apa dia berani???

Jelas ia tak melakukan ritual ini seorang diri, kalau ia melakukannya sendiri pun, pasti ada beberapa orang yang menemani di sekitarnya. Geng motornya mungkin? Teman-teman sekelasnya yang berandalan juga.

Maxim melangkahkan kakinya perlahan. Dengan gemetaran dan penuh keraguan. Siapa yang tidak gemetaran, sendirian melewati tempat angker meskipun bukan di waktu malam.

Selain gudang, dan toilet yang habis di masuki Agam, sumur ini juga salah satu tempat angker di sekolah. Gosipnya, banyak di buang mayat di dalam sana. Tapi seperti cerita yang ada di gudang, katanya itu hanya cerita mistis belaka dan tak ada kebenarannya meskipun telah terbukti memakan korban. Tapi Maxim tak pernah mendengar tentang korban baru di sumur, selain OB yang meninggal di dalam gudang.

Tiba-tiba angin dingin menghembus, membuat Maxim menghentikan langkahnya yang sejurus.

Ia kembali merasa bergidik, sama seperti saat berada di dalam toilet tadi. Tengkuknya merambat dingin. Pori-pori tangannya mengembang lagi, bahkan sampai ke tengkuk dan kaki.

Ia mulai merasa berat pada bagian leher dan punggungnya. Di tambah lagi, pada bagian itu terasa dingin. Seolah ditiupi angin yang meresap ke kulit ari. Terkadang perasaan itu berganti panas seketika, seiring dengan jantungnya yang berdenyit. Dasar perutnya panas, seperti sedang stress atau gugup. Membuat kerongkongannya ingin mengeluarkan sarapan pagi yang ia makan tadi.

Belum terlalu lama ia merasakan sensasi yang membuat tubuhnya merasa demam, Seketika perasaannya normal kembali. Tak tahu apa yang terjadi, mungkin saja barusan setannya cuma numpang lewat.

Namun bukan itu yang sebenarnya terjadi. Di belakangnya, hidung Kun kembali mimisan. Ia menekan aura yang hampir masuk dan menyambangi tubuh Maxim. Ia melindungi Maxim, seperti ia melindungi Agam pada saat upacara tadi.

"Saya akan lindungi kamu dari teman-teman saya. Asal kamu bisa membantu Agam. Karena cuma kamu yang bisa membuktikan kalau Agam tak bersalah."

"Kalau kamu tak lakukan itu, posisi Agam dalam bahaya, karena tujuan Gino memang memfitnah Agam sejak awal." Ucap Kun sambil menyeka darah di hidungnya, menatap Maxim tak berkedip.

Maxim menggelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan rasa takut dalam dirinya. Meski ia sudah merasa normal, tapi rasa merinding ditengkuknya tetap tak menghilang. Dan lagi, ia merasa seolah sedang di awasi seseorang. Ya tentu saja, yang sedang mengawasinya adalah Kun. Kini ia melangkah mantap. Menuju sumur belakang sekolah yang terletak tepat di belakang gudang.

Samar-samar ia merasa hembusan angin menggoyangkan pohon kelor yang tumbuh lebat dan menjulang tinggi. Daunnya gugur dan berserakan. Tempat ini benar-benar tak terjamah, pun tak pernah di bersihkan.

Pohon-pohon kelor yang tumbuh tinggi melindung cahaya matahari, membuat sumur belakang sekolah kian gelap dengan sedikit pencahayaan.

Maxim berjalan perlahan sambil terus mengawasi. Ia bukan hanya takut di rasuki, tapi ia juga takut kalau ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Ia menilik ke atas dengan lirikkannya, melihat ke pepohonan, ia takut akan ada yang menggelantung di atas sana tanpa ia ketahui, dan tiba-tiba jatuh menimpanya. Itu lebih mengerikan lagi.

Tanpa sadar kakinya menginjak sesuatu hingga ia melompat kaget dan tubuhnya jatuh tepat ke lingkaran pembatas sumur dari semen. Ia menatap ke dalam sumur. Sumur yang selalu ia dengar dari cerita orang-orang tua mereka dulu. Kini telah ia datangi langsung. Bahkan sensasi ini lebih menyeramkan dari pada ceritanya.

Tapi yang membuatnya berbeda, ternyata sumur itu tidaklah serupa sumur. Karena yang memenuhi lubangnya bukanlah air, melainkan lubang yang telah terbumbun pasir.

Maxim mengernyit, merasa begitu bergidik berada di dekat sana. Ia menarik diri dan menjauh. Dan untuk kedua kalinya, ia kembali menginjak sesuatu yang membuatnya terkejut tadi.

Ia menundukkan pandangannya, menatap sebuah pena yang dililitkan dengan kertas, menyerupai sebuah boneka jailangkung. Maxim pun merunduk, berjongkok di atas tanah. Ia mengambil pena tersebut dan mengeluarkan kepalan kertas di saku celananya.

Ia menyoret pena tersebut ke kertas itu. Menatap fokus warna, tekstur, dan bentuk tinta yang di hasilkan.

"Warna, tekstur dan bentu gel dari tinta penanya, sama kayak tulisan nama Agam di kertas yang di bawa Gino tadi."

"Brengs*k emang dia!! Jadi beneran dia kan?!" Keluh Maxim sambil masih tertunduk.

Tak jauh dari sana, ia kembali melihat sebuah tampah berbentuk lingkaran dari anyaman daun kering. Maxim menghampirinya. Kun pun mengikuti sambil terus melindungi Maxim. Kalau tak ada Kun, mungkin sekarang Maxim sudah jatuh tersungkur dan kesurupan. Karena semua hantu yang ada di sekolah keluar dan terpanggil untuk menyerang seseorang. Terlebih lagi Maxim sengaja datang menemui sarang mereka.

"Apa nih? Amis!" Keluh Max sambil menutup hidungnya seusai mengendus.

"Wangi darah." Sambung Kun ikut mengendus.

Maxim mengernyit, menatap isi dari tampah tersebut. Di dalamnya, ada setampah macam-macam bunga. Sebuah lilin merah. Percikkan darah kental, yang sepertinya berbau amis tadi,

dan yang membuatnya begitu terkejut adalah..

Ada sebuah foto yang telah tersundut api. Seperti tersundut api rokok. Maxim mengambil foto yang menampakkan kertas polos putih.

Ketika ia membaliknya, Maxim langsung tersentak dan kedua matanya terbelalak. Bibirnya bergetar hebat. Ia tercekat dan tak dapat mengeluarkan kata-kata sesaat. Napasnya tertahan, melihat gambar seseorang yang ada di foto tersebut adalah...

"Foto Agam?"

.

.

.

Bersambung....

Note

ini adalah tulisan di kertas yang kata Maxim kayak cakar ayam..

Jadi menurut kalian, itu bacaannya Agam atau...????

1
Joe Lingga
kapan lanjut Thor atau kelanjutan cerita ini di jadikan buku
eka wati
itu mah kiko
eka wati
jadi ingat film death note yg shinigami gak dikasih makan apel sampai kebalik2 itu
Rohendah Endah
y ampun🤭
myPuspa
uhuyyy neng dara...
myPuspa
udah baca entah yg keberapa kali...tp ttep aja mewek...
myPuspa
achieee...sweat wet...
myPuspa
uluh2 sweatnyaaa
myPuspa
🤣🤣🤣
myPuspa
uluh uluhhh
myPuspa
ah elah padahal udah baca part agam dara berulang kali, tapi tetep aja baper...
coba kk Rima lanjutin novel kun lg ya...smpe agam nikah sm dara...khihihi...pasti seruuu
Selfi Azna
si kun emang jahil ya🤭
Winata
gen Z klo kelhiran 99 ...
Winata
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yuri Saputri
sejak kapan agam tau kalau arsya udah punya anak tor? kan pas reunian akbar agam masih menduga duga siapa arsya??
Dita Andryani
thor, dimana beli bukunya pliss ingin baca
fezfitz
thorr udah 2026 lohh🥹🥹 aku baca novel ini pertama kali pas masih smp, trus sekarang udh mau masuk kuliah ternyata blm ada s2 nya🥹🥹🥀🥀
Winata: seriusan???
total 3 replies
fezfitz
wajib baca💀💀
Dita Andryani
kpann lanjutin lagii ni thorrr.. sungguh penasarann sekalii endingnyaa. pliss lanjutinn🥹
Dita Andryani: belinya dimana thorr. asli pengen bacaaa
total 2 replies
Riel Diah
sangat baguss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!