Pertengkaran hebat dengan keluarganya membuat Kimora Rahardian melampiaskan kekecewaannya di sebuah club malam.
Berniat hanya mabuk seorang diri namun ia telah dijebak oleh orang tidak dikenal hingga menghabiskan satu malam panas bersama seorang pria asing di sana.
Kimora terbangun dipagi hari mendapati dirinya tengah berada di atas ranjang bersama pria dewasa.
Siapa sangka satu bulan kemudian Kimora hamil, meminta pertanggung jawaban sang pria hingga harus menyerahkan sang putri setelah lahir dan hidup seorang diri dalam pembuangan keluarga.
Lima tahun Kimora menahan kerinduan dan berakhir sebagai pengasuh putri kandungnya sendiri.
Disanalah kisah mereka dimulai Kimora dan Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wheena the pooh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Plak.
Hera tertunduk saat mendapat sebuah tamparan keras di pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa perempuan yang hanya ia anggap sebagai pengasuh biasa itu berani menamparnya di tempat umum.
Kim menemuinya di sebuah butik, Hera sedang bersama seorang teman. Karena hal ini tentu membuatnya merasa dipermalukan oleh Kim yang mulai berani pikirnya.
Plak. Hera berbalik membalas tanpa takut. Kim tidak bisa menghindar, ia mengangkat wajahnya lalu menatap Hera dengan tajam.
"Kau pikir kita bisa impas karena kau sudah membalas ku?" kata Kim dengan suara lantang.
Hera berdecih.
"Apa karena Aiden akan menikahi mu kau bisa menyombongkan diri dengan menampar ku?" balas Hera tak kalah garang.
"Aku akan membuat perhitungan pada siapa pun yang mempengaruhi pikiran putriku!!!" sahut Kim tanpa takut.
Hera terkekeh dengan senyum mengejek.
"Putrimu? Hah, aku baru tahu ada wanita rendahan yang begitu angkuh dan percaya diri padahal hanya seorang pengasuh, kau bahkan belum menjadi istri Aiden Kim!!" ucap Hera sambil menertawakan Kim bersama temannya.
Hera meraih bahu Kim lalu mendorongnya menghadap sebuah cermin besar yang berada di sisi kanan dinding butik itu.
"Kau lihat baik-baik wanita sialan, berkaca lah dengan benar, walau penampilan mu kini berubah layak seorang nyonya tapi tidak untuk ku, kau hanya seorang pengasuh rendahan yang berani merebut Aiden dariku!!!"
Kim tersenyum lebar dengan raut menakutkan, ia menatap wajahnya di cermin lalu menatap wajah Hera di cermin yang sama, mereka tampak berdiri berdampingan.
"Aku memang seorang pengasuh, tapi lihatlah bahkan Aiden tidak bisa berpaling dariku sekarang, aku wanita rendahan tapi lihatlah berkat diriku kau bahkan tidak ada harganya lagi di mata Aiden."
Mendengar sindiran itu membuat Hera memanas, ia menatap Kim seperti ingin menelan Kim hidup-hidup.
"Kenapa? Kau tersinggung? Ha ha ha, Hera Hera .... Kau hanya seorang wanita menyedihkan yang cinta sendirian, Aiden tidak melirik mu sedikit pun, jadi kau hanya bisa menjadi licik dengan mempengaruhi pikiran anak kecil yang masih polos dengan niat kotor mu menyingkirkan aku menggunakan Alexa!"
Kim berbalik menertawakan Hera, ia puas melihat wajah pias Hera yang tersinggung atas ucapannya.
Hera masih diam, ia hanya menggertakkan giginya menahan kesal.
"Untuk itulah aku kemari! Alexa adalah putriku, aku tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhi pikirannya apalagi tentang hal yang negatif yang tidak seharusnya ia dengar dari mulut wanita yang ia anggap sebagai keluarganya sendiri."
Menarik napas Kim menghadap ke Hera lagi dengan tangan bersilang ke dada.
"Lain kali jika kau masih bernyali untuk menyingkirkan ku dari Aiden, sebaiknya cari jalan yang lebih terhormat daripada meracuni pikiran Alexa yang tidak tahu apa-apa urusan orang dewasa, kita bisa satu lawan satu. Aku tidak takut padamu Nona Hera, sama sekali tidak takut."
"Ku ulangi, jangan pernah kau meracuni pikiran Alexa lagi setelah ini, jika ini masih terjadi kau akan habis di tanganku!!! Ingat itu!!!!!" kata Kim sambil meremas tangannya di depan wajah Hera.
Hera menepis tangan Kim.
"Kau sedang mengancam ku?" tepis Hera.
"Tidak sayang, ini bukan sekedar ancaman. Tapi lebih ke mengingatkan bahwa tidak semua orang rendahan bisa kau abaikan, jangan anggap remeh seorang pembantu, aku pengasuh rendahan, wanita yang katamu tidak pantas untuk Aiden."
"Iya mungkin kau benar, orang rendahan ini mungkin lebih pantas untuk menjadi seorang penjahit, menjahit mulutmu agar kau tidak bicara sembarangan pada Alexa."
Kim memainkan alisnya seraya menyentuh bibir Hera dengan senyum mengejek.
Lagi Hera dengan segera menepis tangan Kim. Ia terdiam menahan marah menatap Kim yang pergi begitu saja setelah menceramahi nya, semula Hera ingin membalas lagi namun urung saat temannya menegur bahwa mereka sedang diperhatikan semua pengunjung butik.
Hera hanya bisa menghela napas kasar sambil mengepalkan tangannya.
"Awas kau Kim! Aku tidak terima tentang hari ini!!!!" terdengar Hera menggeram dengan suara yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.