TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecepirit
Membangunkan Una sudah beres, dan kini bocah gembil itu sedang diurusi oleh Mbak Ijah. Tinggal satu orang yang harus dihampiri, yaitu suaminya.
Sebisa mungkin, Tari menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan baik. Usia tidak membuatnya merasa buta akan kehidupan berumah tangga.
Semua itu bisa ditanyakannya pada Mbah Gugel yang serba tahu akan semua jawaban. Seperti saat ini, dia akan mulai menjalankan apa yang ia pelajari semalam lewat internet.
Dan hari ini dia memulainya dari hal yang paling kecil.
Tari melangkah menuju kamar dirinya dan Tama, tak butuh waktu lama ia sudah tiba di depan pintu kamarnya, karna memang jarak antara kamar Una dengan kamarnya begitu dekat.
Mata Tari menyipit dengan dahi mengernyit, tampak tubuh bidang Tama yang sudah terbalut rapi dengan kemeja putih, dan kini pria itu sedang memasang jam di pergelangan tangannya.
Namun, kedatangan Tari membuat gerakan sang pria itu terhenti sebentar karna setelahnya Tama seakan tak perduli dengan kehadirannya.
Tari menarik napasnya dalam, baru saja mau memulai menjalankan misinya. Namun, hal itu urung karna Tama yang sudah rapi-- lengkap dengan pakaian di tubuhnya.
Ya sudahlah, toh masih ada rencana-rencana lain. Pikir gadis itu.
"Pak Tama, sarapan yuk! Yang lain udah nunggu di bawah." Ajak Tari pada Sang Suami yang sedang sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya.
Bukannya menjawab ajakan istrinya, Tama malah berjalan melewati Tari begitu saja tanpa bicara sedikit pun.
"Tunggu!!!" Buru-buru Tari menahan tangan suaminya.
Pria itu menunjukkan wajah sangarnya, seakan sentuhan Tari menyalakan tombol on pada emosi marah.
"Bisa tidak sehari saja kau tidak menggangguku?!" ketus Tama.
"Tidak...." Seringan angin Tari menjawab.
Tama menghela napasnya kasar, harusnya ia tak perlu bertanya pada gadis sableng ini. Percuma saja mengisi air di dalam wadah yang bocor.
Genggaman tangan Tari pada lengan suaminya terlepas sebab hentakkan kuat yang dilakukan pria itu.
Tari hanya dapat menatap punggung lebar suaminya yang semakin memberi jarak ketika langkah kaki panjang itu membawa raga Tama pergi.
Rasa kesal meliputi hati Tari, misi pertamanya belum sempat ia jalankan karna suaminya keburu pergi begitu saja.
Padahal, niat hati dirinya ingin membuat perhatian kecil seperti memasangkan kancing baju suaminya. Sesuai dengan saran Mbah Gugel.
"Huh.... Heran deh, Pak Tama ini hatinya bisa dicairin pakai apa sih? Keras amat!" Keluh Tari.
Tari teringat ada satu cara yang masih bisa dijalankannya. Segera Tari turun ke bawah.
"Ma, Pa. Pak Tama ke mana? Kok gak kelihatan?" Tari celingak-celinguk, tak melihat keberadaan suaminya di ruang makan.
"Loh, bukannya kata Tama dia mau pergi ke restoran karna ada menu baru yang mau launching. Katanya dia udah pamitan sama kamu, Pas Mama tanyai. Yakan, Pa." Wajah Mama Widi keheranan.
"Iya nak, tadi Tama sendiri yang bilang sama Mama dan Papa sebelum berangkat."
Tari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Oh iya, Tari lupa. Padahal suami Tari baru aja pamitan tadi." Terlihat deretan gigi putih Tari ketika dirinya cengengesan khas orang keliru.
Dirinya memutuskan bergabung, dan seperti biasa rutinitas barunya semenjak menjadi seorang ibu, yaitu menyuapi Una makan. Sebenarnya Mama Widi sudah menasehati Una untuk makan sendiri. Tapi bocah gembil itu enggan mendengar Oma nya, dan Tari pun tidak merasa keberatan akan hal itu karna ia senang melakukannya.
Sepanjang sarapan, Tari memikirkan bagaimana caranya mendapatkan hati sang suami yang sangat sulit di tempati. Boro-boro di tempati, masuk saja tidak bisa.
Rencananya kali ini pun juga gagal. Masakan yang ia masak hari ini adalah makanan kesukaan Tama. Dirinya mengetahui makanan favorit pria itu dari Bik Atik yang aktif di dapur.
Padahal menurut info yang di dapat tari dari Mbah Gugel, cinta itu bisa datang dari mulut turun ke perut.
***
Tama tiba di restoran pusat milik keluarga Batara. Hari ini dirinya pergi dengan perut keroncongan, karna saat di rumah ia melihat makanan yang tersaji adalah makanan favoritnya. Dan otak cerdasnya pun langsung mengakap bahwa itu salah satu usaha gadis sableng dalam mendapatkan perhatiannya. Maka dari itu ia sengaja pergi tanpa menyentuh sedikit pun makanan yang di masak istrinya, agar Tari dilanda oleh rasa kecewa.
Begitu masuk, Tama langsung disambut oleh para karyawannya. Memang restoran Batara belum buka di jam pagi, hanya saja perlu waktu untuk membereskan semua secara detail tanpa kekurangan satu hal pun. Maka dari itu semua karyawan selalu datang pagi hari.
Ditambah hari ini kepala koki akan men demokan menu barunya di depan anak pemilik restoran.
Sepiring makanan dengan platingan khas restoran mewah tersaji di hadapan Tama. Menu baru kali ini adalah makanan yang tercetus dari banyaknya minat orang belakangan. Yaitu, makanan dengan cita rasa pedas.
"Em, enak. Hanya saja ada kondimen yang perlu dikurangi sedikit." Tama mengandalkan indera pengecapnya, dahinya sedikit mengernyit ketika tenggorokannya sedikit panas karna merica bubuk yang cukup terasa.
"Makanan ini belum bisa masuk ke dalam daftar menu, dan lakukan perbaikan!"
Kepala koki itu mengangguk dan membungkukkan badannya sebelu kembali ke dapur.
Tama berdiri duduknya dan pergi ke ruangan khusus pemilik yang memang sengaja dibuat oleh Papa Adam dulu.
Hampir satu jam waktu yang ia habiskan untuk memeriksa pemasukan dan juga pengeluaran bahan baku.
Brr.... Brr....
Perut Tama terasa bergetar, mulai ada rasa tak nyaman. Ia memegangi perutnya yang tiba-tiba memberikan sinyal alam. Merasa tak nyaman, Tama segera pergi ke toilet.
Pret....
Begitu duduk di kloset, keluarlah apa yang ia tahan. "Sialaan! Perutku...."
Keringat Tama bercucuran, dirinya merasakan mulas yang datang dalam waktu singkat.
Hal itu dikarenakan dirinya yang menyantap makanan pedas di pagi hari dalam keadaan perut kosong. Apa lagi lambungnya tidak begitu friendly dengan makanan pedas.
Tama menahan rasa sakit di perutnya. Berulang kali dirinya keluar masuk toilet, mau kembali ke rumah. Namun masih ada yang harus di urusnya, apa lagi sebentar lagi ia mulai aktif mengajar. Jika tidak dikerjakan hari ini, maka pekerjaannya akan menumpuk. Walau pun dirinya tidak begitu sering pergi ke restoran Batara, namun wajib baginya sesekali memantau jalan kerja usaha yang sudah dirintis ayahnya.
Akhirnya, urusan Tama selesai ketika sore sudah menggantikan siang. Segera dirinya pulang ke rumah, karena tubuhnya sudah lemas akibat terus melakukan pembuangan.
Syukurnya jalanan sore ini lapang, hingga ia tidak perlu terjebak dalam ramainya kendaraan.
Begitu Tama sampai di rumah, dirinya langsung terburu-buru menaiki tangga, bahkan sapaan Mama nya pun tak lagi ia hiraukan.
Brak...
Tama membuka pintu kamarnya dengan buru-buru sehingga menghasilkan suara gubrakan. Ia ingin secepatnya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Namun, tiba-tiba Tari muncul dari dalam kamar mandi dengan kondisi tubuh yang sudah wangi. Melihat wajah sang suami yang pucat, membuatnya tak tahan untuk tidak bertanya.
"Pak Tama sakit? Kok mukaknya pucat sama keringatan gitu, kayak abis maraton aja."
"Minggir!!!" Tama menggeser tubuh Tari yang mengahalangi akses masuknya.
Bukannya bergeser, Tari malah menahan tubuhnya. "Ckckck. Pak Tama kasar banget sih jadi suami." Tari melipat wajahnya karna perasaan kesal.
"G-gehhser... Emh," Tama berusaha mendorong tubuh Tari dengan sisa-sisa kekuatannya.
Tiba-tiba rasa mendesak yang sedari tadi ditahan semakin mendorong ke bawah.
Ditambaj gerakannya, membuat sesuatu itu semakin berada di ujung tanduk.
Dan. Prettt tet...tet.....
Mata Tama membulat, sedangkan mulut Tari menganga lebar.
Suara barusan membuat kedua insan itu saling tatap.
"Pak Tama kecepirit?" Tari menanyakan hal itu dengan polosnya.
`
`
`
Ilang deh kegantengan lo Tama😂😂😂, uhh bauk eek🙊
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄