💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aulia menatap tajam Ningrum, Vanesha, dan Marsya, Mama nya sendiri. Lalu berkata, “Aulia dulu sudah berganti dengan Aulia yang tangguh. Semua demi kebaikan anak-anaknya. Kenapa aku lebih memilih tempat seperti ini? semua karena aku ingin mendidik anakku untuk tahu rasa bersyukur. Aku juga tidak akan melupakan siapa aku, dan Azka, Anna, mereka tetap akan menjadi penerus Perusahaanku,” melihat raut wajah Ningrum, Marsya, dan Vanesha, berubah menjadi pucat. Aulia menegakkan tubuhnya, merubah mimik wajahnya menjadi teduh, dan ceria, “Seperti itulah ceritanya kenapa aku memutuskan untuk mendidik Azka dan Anna dengan cara seperti ini!” sambung Aulia kembali.
“Apa Azka, dan Anna tahu jika mereka berdua adalah anak dan cucu paling kaya di seluruh Dunia ini? Dan siapa Mami, Papi, kakek, dan neneknya?” tanya Vanesha penasaran.
“Tentu saja tidak. Buat apa aku menjelaskan kepada anakku yang masih kecil-kecil siapa Mami, Papinya, dan siapa kakek, nenek mereka. Mereka masih sangat kecil, kalau aku kasih tahu jika Maminya adalah seorang Presdir Berlian di luar Negeri, Papinya juga seorang pengusaha Tekstil, sekaligus pemilik Brand baju kalangan kelas atas, dan Kakek mereka adalah seorang pengusaha tambang minyak paling nomor satu dengan total kekayaan tak terhingga. Azka dan Anna juga tidak akan memahaminya. Yang terpenting sekarang bukan mendidik Azka dan Anna, atau menunjukkan jika Azka dan Anna itu adalah seorang anak paling terkaya di seluruh Dunia ini. Bagiku yang terpenting sekarang adalah untuk mendidik Azka, dan Anna menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan aku juga ingin mental mereka di bentuk kuat, tahan banting dengan alami. Jika aku menampakkan mereka adalah seorang ahli waris dengan total kekayaan Kakek, Nenek, aku, dan Papinya, di depan publik, atau sebut saja di depan orang umum. Maka Azka, dan Anna akan diperlakukan ekslusif. Kelen tahu lah, kalau manusia ini selalu memandang seseorang dengan harta,” Aulia melambai, “Aku tidak ingin itu terjadi. Dan satu lagi, alasan besar ku sebenarnya ingin menjauhkan masa tumbuh-kembang Azka dan Anna terjauh dari musuh. Aku ingin mereka tumbuh dengan cara yang baik,” sambung Aulia, kedua matanya terlihat sendu saat di kalimat terakhir.
“Kamu benar juga,” gumam Vanesha.
“Nak, kamu memang benar-benar sudah berubah menjadi wanita dewasa, Mama salut. Salut banget sama kamu,” puji Marsya, bulir air mata kebahagian perlahan jatuh di kedua pipinya masih terlihat sangat awet muda.
Aulia jongkok di hadapan Marsya, ia mengambil punggung tangan Marsya, dan menciumnya, “Ma, seperti ini ternyata rasanya menjadi seorang Ibu. Sekarang aku merasakan apa yang Mama rasakan dulu saat membesarkan aku,” Aulia berdiri dengan kedua lututnya, memeluk Marsya, “Maafkan aku yang sudah lari dan membuat Mama sangat kuatir sampai 5 tahun ini. Maafkan aku, Ma,” sambung Aulia meminta maaf dengan sendu.
“Tidak masalah sayang. Selagi Mama sering mendengar kamu baik-baik saja di sini, Mama sudah merasa tenang,” sahut Marsya keceplosan.
Meski Aulia tidak memberi kabar atau menghubungi tuan Agung, dan Marsya, mengenai keberadaan nya di sini. Tetapi Venus, Sekertaris sekaligus tangan kanan Aulia, selalu memberi kabar kepada Marsya secara diam-diam, dengan satu syarat, merahasiakan semua aduan Venus kepada Aulia.
Aulia mengurai pelukannya, “Jangan bilang jika kabar itu selalu Mama dengar dari aduan Venus,” ucap Aulia, menatap serius wajah Marsya.
“He he he…” Marsya tertawa sumbang.
“Venus…” teriak Aulia. Merasa kesal Aulia pun segera berdiri, melanjutkan kembali sisa masakannya.
Marsya, Ningrum, dan Vanesha, hanya tertawa geli melihat wajah Aulia cemberut. Mengingat wajah manja Aulia sewaktu belum berubah 5 tahun lalu.
“Awas saja kamu, Venus. Aku akan potong gaji kamu sebesar 100 %,” gerutu Aulia kesal, kedua tangannya terus mengaduk rendang jengkol.
Menit selanjutnya terdengar suara Anna memasuki ruang dapur, sekaligus ruang makan.
“Mami…” panggil Anna sembari memasuki ruang dapur, kedua tangan mengucek kelopak matanya.
Mendengar suara manja, dan lembut dari cucu perempuannya, Marsya langsung beranjak dari kursi, berjalan mendekati Anna, “Kenapa sayang?” tanya Marsya menghentikan langkah Anna.
“Adek balu ingat kalau Mami tadi katanya mau ajak abang dan adek pelgi ke alun-alun. Apa Mami melupakan janji Mami?” tanya Anna dengan raut wajah cemberut.
Aulia langsung mematikan api kompor gas, tangan kotornya terkena kuah rendang ia bersihkan di serbet, setelah itu berjalan mendekati Anna, “Tapi tadi Kakek, Nenek, tante, dan Om, datang. Jadi kita tunda minggu depan saja, ya…sayang?” bujuk Aulia berdiri di samping Anna.
“Ndak mau, adek mau sekalang. Adek mau lihat ail mancul (air mancur),” rengek Anna.
“Kalau nenek boleh tahu tempatnya itu dimana?” tanya Marsya.
“Di sana nek,” tunjuk Anna ke arah pintu depan rumah.
Marsya melihat Aulia, “Emang dimana itu nak?” tanya Marsya karena tak tahu dimana tempat alun-alun kota Lubuk Pakam.
“Daerah jalan Medan, Ma. Berdekatan dengan Kantor Bupati lubuk Pakam. Di bilang juga Mama pasti tidak tahu, ‘kan?”
“Iya, Mama tidak tahu karena Mama ‘kan bukan orang sini,” sahut Marsya.
“Kalau gitu pergi saja, biar masakannya tante saja yang melanjutkannya,” sambung Ningrum, beranjak dari duduknya, mengambil celemek baru, dan memakainya.
“Tapi..aku…”
“Sekalian bawa Zahida juga. Zahida pasti senang di ajak main-main,” sela Ningrum meminta Aulia membawa putrinya, Zahida.
“Aku juga ikutan. Aku ingin mengetahui dimana kota alun-alun,” sambung Vanesha.
“Kalau gitu mari kita bangunkan anak-anak,” ajak Aulia.
“Abang, dan lainnya sudah bangun. Meleka sekalang sedang belantem di kamal,” ucap Anna buru-buru dengan hurup ‘R’ di setiap kalimat menghilang.
“Apa?! Berantem?” histeris Aulia, dan Vanesha.
Aulia dan Vanesha langsung berlari menuju kamar tamu di lantai atas. Sedangkan Ningrum tenang saja, tak mencemaskan Zahida. Karena Ningrum sangat yakin jika Zahida tidak senakal Baldwin.
Sesampainya di kamar tamu, Aulia, dan Vanesha, terdiam di depan pintu kamar. Dalam kamar terlihat berantakan, rambut, dan kancing kemeja Baldwin, Azka, sebagian terlepas. Dan terlihat di tepian ranjang Zahida duduk santai, menikmati cemilan di dalam toples.
“Mami... bukan abang yang melakukannya,” Azka membela diri, berlari mendekati Aulia.
“Mama…buka aku juga yang melakukannya,” Baldwin juga membela diri, ikut berlari mendekati Vanesha.
Vanesha, dan Aulia serentak jongkok, memegang kedua lengan anak lelaki mereka, dan menatap wajah rasa bersalah dari putra kecil mereka. Detik selanjutnya memandang Zahida masih duduk santai di tepian ranjang.
“Kak Zahida, dari mereka berdua siapa yang salah?” tanya Vanesha, dan Aulia serentak.
Zahida turun dari ranjang sembari menutup tutup toples, dan berhenti di belakang Azka, dan Baldwin.
“Aku juga tidak tahu,” sahut Zahida mengangkat kedua bahunya, telunjuknya mengarah ke Baldwin, “Tapi saat kami tadi semuanya bangun. Baldwin ketahuan peluk Anna dari belakang. Jadi Azka salah paham dan marah kepada Baldwin,” sambung Zahida jujur.
“Baldwin…kenapa kamu melakukan hal seperti itu?” tanya Vanesha lembut, menatap wajah Baldwin tertunduk.
“Tadi aku pikir guling Ma. Aku juga tidak sadar kok, aku 'kan lagi bobok,” sahut Baldwin sendu, kepala tertunduk sedikit.
“Sudah..sudah jangan di marahi. Namanya anak-anak, mereka juga sedang tidur, jadi tidak sadar,” bela Aulia.
“Lain kali jangan seperti itu, ya?” nasehat Vanesha, diangguki Baldwin.
“Karena semua sudah bangun. Mari mandi agar kita pergi jalan-jalan,” ajak Aulia memutuskan kesedihan terlihat di raut wajah Azka dan Baldwin.
Baldwin, Azka, dan Zahida langsung bersorak kesenangan.
“Yeee….jalan-jalan!” teriak Azka kesenangan, tanpa sadar ia merangkul Baldwin, “Mami pasti akan mengajak kita jalan-jalan ke alun-alun. Di sana seru, ada air mancurnya di halaman Masjid,” sambung Azka memberitahu.
“Kalau gitu seru dong!”
“Hem..” angguk Azka.