Dendam dan Cinta gila yang membuatnya buta.
Arya Bimo Lee, seorang CEO blasteran Indonesia-Korea, kembali dari perjalanan bisnisnya dan menemukan calon istrinya sudah menikah dengan pria lain.
Ia tidak terima dan berniat merebut kembali perempuan yang sudah bersuami itu.
Memutuskan menikahi Miyu Kara Santana, adik perempuan dari pria yang telah memperistri kekasihnya. Niatnya tak lain dan tak bukan adalah untuk bisa lebih dekat dengan sang mantan dan merebutnya.
Akankah usahanya berhasil membuat pernikahannya sendiri dan kakak iparnya hancur?
Dan bagaimana reaksi Miyu Kara Santana ketika tahu bahwa pernikahannya hanyalah pernikahan dusta?
Mampukah ia bertahan atau malah meninggalkan hubungan yang tidak sehat itu?
Pantengin kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Perasaan Khawatir
Hari pun berganti hari. Hingga tak terasa sudah lebih sebulan Miyu dan Arya tinggal jauh dari keluarga Kara Santana. Hubungan dua orang suami istri itu belum mengalami kemajuan yang berarti.
Miyu masih tetap memelihara sakit hatinya sedangkan Arya terus berusaha menarik perhatian dari istrinya itu. Ia melakukan kewajibannya sebagai suami yang baik. Menyediakan semua kebutuhan Miyu Kara Santana dalam hal apa saja.
Memberikannya Mobil sendiri untuk digunakan ketika akan pergi belajar di Universitas. Memberinya uang bulanan dan kebutuhan lainnya meskipun perempuan itu belum juga melunak kepadanya
Kesibukan Arya di Perusahaan dan juga kesibukan Miyu Di kampus membuat mereka berdua hanya bertemu di setiap waktu makan saja. Mereka berdua seperti sedang menyepakati satu aturan yang tak tertulis. Yaitu harus makan bersama di Rumah.
Meskipun begitu hubungan dua orang suami istri itu belum mengalami kemajuan yang berarti. Seberapa besar Arya berusaha menunjukkan kalau ia sudah berubah, perasaan kecewa dan sakit hati yang Miyu rasakan belum juga berkurang.
Miyu belum juga mengizinkan suaminya untuk masuk ke kamarnya. Tetapi itu tidak menjadi soal yang berarti bagi seorang Arya Bimo Lee. Ia mempunyai akses untuk memasuki kamar itu kapanpun ia inginkan.
Setiap malam, Arya pasti akan datang saat Miyu sudah tertidur. Dengan mengendap-endap sembunyi-sembunyi ia ikut berbaring disamping istrinya karena sudah tidak bisa tidur jika sendirian tanpa aroma Miyu.
Ia akan memeluk dan mencium tubuh cantik itu dengan berusaha menahan hasratnya sekuat tenaga. Dan yang membuat Arya senang adalah karena perempuan itu sepertinya juga membutuhkan dirinya meskipun tak ia sadari.
Miyu pasti akan datang meringkuk dibawah pelukannya setiap malam dingin semakin menggigit. Hanya saja Arya takut melakukan lebih karena tidak ingin kebiasaan ini akan merusak lagi hubungan mereka berdua.
Pagi ini Arya ingin segera bangun untuk berpindah tempat seperti biasa tetapi Miyu sepertinya sedang tidak ingin melepaskan pelukan tangannya di tubuhnya. Perempuan itu semakin mengeratkan tangannya seolah-olah ia adalah sebuah bantal guling.
Arya gelisah karena tidak bisa bergerak. Sungguh ia sebenarnya sangat senang jika saja semua ini adalah kenyataan yang diinginkannya. Tetapi sayangnya tidak samasekali. Miyu pasti akan meneriakinya jika tahu apa yang terjadi.
Aku harus turun dari ranjang ini sebelum Miyu bangun. Ujarnya membatin. Dengan pelan, ia menyingkirkan tangan istrinya dan bersiap untuk turun dari ranjang itu, tetapi Miyu langsung terbangun dan membuka matanya.
Perempuan cantik itu menatap suaminya dengan tatapan membunuh. Satu bantal guling ia raih dan pukulkan pada pria itu.
"Jadi begini kelakuanmu pak Arya?!" teriaknya dengan suara melengking di subuh hari itu. Arya tidak menjawab dan langsung melompat turun dari ranjang. Ia sungguh tidak ingin berdebat dengan istrinya di pagi buta ini.
Pria itu menuju pintu dan segera kabur dari sana seperti seorang pencuri yang sudah kedapatan mengambil barang milik orang lain. Ia tidak ingin mendengar umpatan dan teriakan Miyu yang mungkin akan merusak perasaannya.
"Katanya gak ada hasrat sama tubuhku, tapi kok malah kesini sih?!" kesal Miyu seraya memperbaiki letak gaunnya yang sepertinya sedang tidak tertutup dengan baik.
"Dasar pria gila!" lanjutnya dengan emosi diwajahnya. Ia pun bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah itu ke dapur untuk melihat-lihat para Asisten Rumah Tangga yang sedang bekerja. Kadang ia ikut membantu atau hanya duduk saja menunggu masakan terhidang.
Hari ini ia ingin membawa bekal makan siang karena kemungkinan tidak akan pulang ke Rumah untuk makan siang. Ia ada janji dengan teman-temannya untuk mengerjakan tugas saat istirahat tiba.
"Nyonya, mau bawa apa untuk makan siang ini?" tanya Mbak Rina seraya menunjukkan jejeran menu di atas meja.
"Duh kenapa aku malah mau makanan yang gak ada di sini ya mbak?" Miyu tersenyum meringis karena tiba-tiba seleranya berubah.
Ia jadi ingin makanan yang segar dan asam. Dan itu berarti menu makanan yang ada di atas meja tidak ada yang sesuai dengan yang ia inginkan.
Arya yang baru tiba di meja makan itu hanya diam dan menyimak pembicaraan dua perempuan itu.
"Kenapa Nyonya, apa tidak ada menu disini yang anda inginkan?" tanya Mbak Rina dengan dahi mengernyit. Pasalnya tadi istri dari majikannya ini sangat antusias ingin dibuatkan ini dan itu tetapi setelah masak malah nampak tidak bersemangat lagi.
"Duh maaf ya Mbak. Kayaknya ini gak cocok kalo dijadikan bekal pasti kurang enak lagi kan ya," jawab Miyu dengan wajah tak nyaman.
"Jadi Nyonya maunya apa, nanti saya buatkan." Mbak Rina dengan sabar menunggu perintah berikutnya. Miyu tersenyum lebar kemudian menjawab,
"Biarkan Aku sarapan dulu ya Mbak. Setelah itu akan aku pikirkan mau bawa bekal apa untuk makan siang."
"Ah iya Nyonya. Silahkan nikmati sarapannya kalau begitu." Mbak Rina segera mundur dari sana dan membiarkan dua orang suami istri itu untuk sarapan dengan tenang.
Miyu pun memulai sarapan dengan tenang. Begitupun Arya yang berseberangan meja dengannya. Mereka berdua tidak ada yang saling bertegur sapa sampai selesai.
"Ueeeekkk," Miyu tiba-tiba merasakan mual pada perutnya. Perempuan itu langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua makanan yang baru masuk kedalam perutnya.
"Ueeeekkk."
Arya yang sudah siap berangkat bekerja langsung berdiri dari duduknya dan bersiap meninggalkan meja makan itu segera mengikuti istrinya ke kamar mandi dan khawatir.
"Ueeeekkk." Arya memijit tengkuk istrinya agar bisa merasa lebih baik.
"Ueeeekkk."
"Hmmmpt."
"Kenapa kamu?" tanyanya setelah Miyu selesai mengeluarkan semua isi perutnya. Perempuan itu tidak menjawab. Tubuhnya langsung gemetar lemas tak bertenaga hingga Arya langsung menggendongnya ke kamar utama.
"Miyu, kamu tidak apa-apa?" tanya Arya lagi saat meletakkan tubuh istrinya itu di atas ranjang. Wajah Miyu yang pucat membuatnya sangat khawatir.
"Kepalaku pusing," jawab perempuan itu dengan lemas seraya menutup matanya. Ia merasakan seluruh ruangan terasa berputar.
"Aku panggilkan dokter ya," ujar Arya dan segera menghubungi seorang dokter langganannya. Setelah itu ia memanggil Mbak Rina untuk menjaga Miyu karena ada meeting penting yang harus ia hadiri pagi ini.
"Dokter akan segera datang, jadi kamu istirahat dulu ya." Arya mengecup kening istrinya dengan lembut kemudian berucap, "Aku ada meeting penting hari ini. Mbak Rina yang akan menemanimu."
Miyu tidak menjawab karena tidak punya tenaga. Ia cuma merasakan kalau suaminya itu sangat khawatir padanya. Sedangkan Arya pergi dari sana dengan perasaan tak rela. Ia sangat khawatir dengan keadaan Miyu yang tiba-tiba saja sakit seperti itu.
Tetapi ia tidak mungkin tinggal karena ia yang akan menjadi salah satu pembicara pada Meeting antar pengusaha muda di negara ini. Ia harus berada di sebuah hotel pagi itu juga.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
dia,