Blurb
Setiap Perdamaian memiliki harga yang harus dibayar.
Sebagai Ketua dan Pendiri Sekte Jalan Surgawi, benteng terdepan sekaligus pertahanan terakhir yang dimiliki oleh umat manusia, Li Yao membawa seluruh murid terkuatnya untuk berperang habis-habisan melawan Suku Iblis.
Darah tumpah, daging tersayat dan terpotong bersama tulang. Tanpa harapan, kematian terlihat dimana-mana.
Kemenangan baru muncul setelah Li Yao membunuh Raja Jurang Maut Chenyu, akan tetapi harga yang harus dibayar untuk kemenangan itu adalah kematian Li Yao dan seluruh murid-muridnya.
Seratus tahun berlalu, Li Yao hidup kembali sebagai pelayan saudagar kaya. Dunia tidak banyak berubah, namun tidak ada yang mengetahui pengorbanan Sekte Jalan Surgawi.
Nama Sekte Jalan Surgawi hilang, bangunannya hancur, dan seni beladiri-nya telah dicuri. Sekte yang pernah berada di puncak kini jatuh ke jurang.
Dapatkah Li Yao mengembalikan kejayaan Sekte Jalan Surgawi? Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Ikuti perjalanan Li Yao membalas perbuatan Aliansi Surgawi sembari memecahkan misteri dunia!
***
Jangan lupa klik tombol like, favorit, dan comment agar Author semakin semangat menulisnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lora Orphee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 ~ Memulai Latihan yang Sebenarnya
Kekalahan Song Chao sangat tidak terduga, Chang Fen tidak pernah mengantisipasinya. Di antara semua murid tingkat ketiga memang Song Chao lah yang paling kuat, meskipun Chang Fen murid yang paling tua.
Chang Fen menatap tubuh Song Chao yang tergeletak di atas lantai. Alasan Song Chao kalah mungkin karena ia tidak waspada dan sangat meremehkan lawannya. Jika tidak, Song Chao tidak mungkin kalah melawan anak kecil seperti Li Yao.
Bila dilihat-lihat, Li Yao memang tidak tampak seperti anak kecil biasa. Sekte Jalan Pegunungan sudah tidak menerima murid, tetapi para tetua dan ketua sekte menerimanya.
Chang Fen harus berhati-hati atau nasibnya akan sama seperti Song Chao, dipermalukan di hadapan anak-anak lain.
"Kenapa kakak menatap tubuhku seperti itu?" ujar Li Yao tiba-tiba, ada nada menghina di dalam suaranya.
Mendadak Chang Fen naik pitam, ia sedang menahan diri untuk maju lalu meninju bibir Li Yao. Di tengah kekesalannya, Chang Fen telah selesai mengalisis keadaan lalu membuat rencana untuk mengalahkan Li Yao.
"Adik, apa kamu pernah di lecehkan oleh pria? Pantas saja kamu selalu curiga seperti itu," balas Chang Fen.
Rasanya seperti sebuah panah sedang menusuk perut Li Yao. Balasan dari Chang Fen sungguh menohok, Li Yao tercengang karena pada saat itu ia tidak bisa membalas ucapan Chang Fen.
"Kalian semua, ayo kita serang bocah tak tahu diri itu!" seru Chang Fen, ia memerintahkan semua murid di tempat itu untuk menyerang Li Yao.
Mereka awalnya ragu. Ketika salah satu dari mereka menerjang melawan Li Yao - murid yang sebelumnya di pukul oleh Li Yao. Mereka semua lantas mengikuti murid tersebut.
"Jadi dia adalah tipe orang yang pintar menganalisis keadaan dan memerintah orang lain," ucap Li Yao di dalam hati, itulah Chang Fen menurut penilaiannya.
Senyum Li Yao semakin lebar. Tidak buruk! Andai bocah tak tahu diri itu bukan Li Yao, Chang Fen pasti bisa menundukkannya. Li Yao memang berniat untuk melawan semua murid setelah mengalahkan Chang Fen, tetapi menghajar mereka sekarang tampaknya lebih menarik.
Sepuluh menit kemudian.
Di dalam kamarnya, Li Yao duduk di atas kasur ditemani oleh Chang Fen yang sedang memijat bahunya. Wajah dan tubuh Chang Fen kelihatan sangat babak belur. Mata Li Yao menutup, kelihatan sangat menikmati pijatan Chang Fen.
"Kakak senior, kenapa kamu ahli sekali dalam memijat?" tanya Li Yao penasaran, matanya masih menutup. Beberapa saat yang lalu, Chang Fen sudah mengenalkan dirinya kepada Li Yao.
"Itu karena... Ayahku adalah tukang pijat," jawab Chang Fen jujur, ia menunggu Li Yao menertawakannya.
"Oh, benarkah? Pantas saja. Bagaimana cara kakak bergabung dengan Sekte ini?"
Suara Li Yao terdengar biasa saja, Chang Fen tidak menemukan nada menghina di dalam suara itu. Agak terkejut, Chang Fen menjawab pertanyaan Li Yao.
"Saat ayahku mati, dia memberikan semua harta yang dimilikinya kepadaku lalu menyuruhku untuk menjadi pendekar yang kuat. Tidak ada sekte besar atau menengah yang mau menerimaku, jadi aku berakhir di sekte ini," jelas Chang Fen panjang lebar, entah kenapa ia menceritakan masa lalunya.
"Apa kakak menyesal masuk ke sekte ini?" Li Yao membuka mata lalu menoleh ke arah belakang.
"Tentu saja tidak," jawab Chang Fen tanpa ragu.
Senyum Li Yao timbul, ia tiba-tiba mengatakan sebuah kalimat yang membuat Chang Fen agak bingung.
"Kakak beruntung."
"Apa maksudmu, Tuan Adik?" Chang Fen bertanya karena tidak mengerti.
"Lihat saja nanti," ucap Li Yao, mencoba menjadi misterius.
Chang Fen mendesah lalu melanjutkan penjelasannya.
"Semua anak-anak di sini juga berasal dari keluarga biasa atau rakyat jelata. Ada juga yang tidak punya tempat untuk pulang, sama sepertiku. Bagi kami sekte ini adalah rumah."
"Tuan Adik, lupakan saja kata-kataku barusan!" Chang Fen baru saja menyadari, bila ia sedang mengeluarkan unek-uneknya kepada Li Yao.
"Jangan panggil aku begitu, biasa saja!" ucap Li Yao, agak terganggu dengan panggilan 'Tuan Adik' yang diberikan oleh Chang Fen.
"Baiklah, Tuan Ad.. Maksudku adik!"
Tubuh Li Yao bangkit, ia berdiri memandang semua murid tingkat ketiga yang sedang bersujud di hadapannya. Tubuh mereka semua kelihatan sangat babak belur, sepertinya Li Yao menyiksa mereka dengan sangat keras.
"Sekarang kakak-kakak boleh berdiri," ucap Li Yao santai, semua murid di tempat itu mendadak langsung berdiri.
"Besok subuh, kalian semua harus berkumpul di depan asrama! Ajak murid-murid lain. Kalau kalian terlambat, aku akan memberikan pelajaran ekstra kepada kalian!" ancam Li Yao, menyeringai jahat.
Bulu kuduk semua murid yang ada di tempat itu langsung berdiri. Ingatan saat Li Yao menghajar mereka dengan sangat mengerikan muncul kembali. Mereka semua sudah kapok mencari masalah dengan Li Yao.
"Sekarang kakak-kakak boleh keluar, junior ini ingin segera tidur. Oh, aku hampir lupa. jangan lupa bawa tubuh kakak yang pingsan itu," sambung Li Yao.
***
Keesokan harinya, semua murid tingkat ketiga sudah bangun sebelum ayam jago mulai berkokok. Chang Fen pergi ke kamar Song Chao lalu berusaha membangunkannya.
Waktu Song Chao bangun, anak berandalan itu langsung menoleh ke segala arah, mencari keberadaan Li Yao. Menyadari bila dirinya sedang berada di dalam kamarnya sendiri, Song Chao bertanya kepada Chang Fen tentang apa yang telah terjadi.
Chang Fen menceritakan semua kejadian semalam, sesaat setelah Song Chao pingsan. Mendengar cerita Chang Fen, Song Chao langsung dipenuhi dengan ketidakpercayaan.
Bagaimana bisa bocah kurang ajar seperti Li Yao bisa mengalahkan mereka semua?
Ketidakpercayaan Song Chao memang wajar. Chang Fen mendesah lalu mengajak Song Chao berkumpul dengan anak-anak lainnya. Di depan asrama yang luas, Li Yao akhirnya menunjukkan batang hidungnya.
"Hmm, apa semua murid tingkat ketiga sudah berada di tempat ini?" tanya Li Yao.
"Hey, junior s*****! Apa kamu tak punya rasa hormat kepada para seniormu? Kenapa kamu memaksa kami untuk bangun pagi-pagi buta begini?" tanya seorang murid, lalu diikuti oleh murid lainnya.
"Benar! Kenapa kamu mengumpulkan kami ke tempat ini? Apa kamu tidak takut bila kami melaporkanmu kepada para tetua?"
"Hey, jangan pikir kamu sudah menang melawanku hanya karena aku lengah." Song Chao ikut menimpal.
Chang Fen menghela napas, padahal ia sudah memperingatkan mereka semua. Semua murid yang tengah protes adalah murid yang belum melihat kemampuan Li Yao.
Mereka semua akan segera merasakannya.
"Bagi siapa yang tidak terima di perintah oleh anak kecil sepertiku, bisa mengikutiku masuk ke dalam asrama!" ucap Li Yao lalu masuk kembali ke dalam asrama, Song Chao dan beberapa murid mengikutinya.
Bangunan itu bergetar, semua murid yang berada di luar asrama menelan ludah. Belum lewat dua menit, Song Chao diikuti oleh beberapa murid lainnya sudah babak belur lalu keluar dari dalam asrama.
"Mulai hari ini, setiap pagi kita akan bangun untuk latihan. Sekarang ayo kita mulai latihan yang sebenarnya!" seru Li Yao seraya menepuk-nepuk tangannya, seolah sedang membersihkan debu.
***
*Pengingat
Tingkat Kultivasi :
Menempa Tubuh, Membuka Meridian, Mengumpulkan Qi, Membentuk Inti Qi, Membangun Pondasi, Menghancurkan Kehidupan, Menyatu dengan Langit, dan Mengoyak Langit.
Tingkat Pendekar :
Pendekar Kelas 3, Pendekar Kelas 2, Pendekar Kelas 1, Pendekar Ahli, Pendekar Langit, Raja Pendekar, dan Penguasa Surga.
Tingkat Pusaka :
Senjata Biasa, Harta Pusaka, Pusaka Bumi, Pusaka Surga, dan Pusaka Dewa.
Jangan lupa like dan comment, ya!
padahal aku dah siap siap bayangin Li Yao menggembleng para murid tingkat kedua biar dgn pelatihan yg eksentrik tapi dgn hasil luar biasa. Seperti Ye Qingtang yg mengubah kumpulan murid2 nakal dan bebal jadi luar biasa, seperti Guru Zhang yg mengubah murid2nya yg absurd menjadi pemimpin2 legendaris dieranya, seperti Jun Wu Xie yg membantu pasukan Rui dan temen2nya menjadi lebih kuat dan bikin rencana supaya bisa ngalahin orang alam atas, dan banyak lagi.
Udah bayangin para murid sekte Cahaya Surgawi yg diremehin, bakal buat kehebohan satu persatu, mau liat Deng Xue yg serem tapi baik jadi pemimpin kaum botak biar gk makin rese, pengen liat Huli jadi rubah ekor sembilan, pengen liat Tao Yuhan nemu jalannya sendiri kearah yg lebih baik, pengen liat kemampuan Si Ren Shu yg misterius, gimana nasib musuh utama Li Yao di Chapter pertama yg sebenernya, karena kayaknya masih banyak konspirasi yg belum terkuak, dan jati diri Li Yao sebenernya,,,
padahal seru dan lucu ceritanya,, mungkinkah Authornya kehabisan ide,,???
nasib di php in Authornya,, 😭😭😭
ibarat makan rendang, pas udah selesai dgn atribut sampingannya dan mau makan ikan utamanya yg paling lezat eh,, dicolong kucing, udah deh cuman bisa meratapi,,😢😢
ya udah makasih Thor, dikasih cerita yg menarik, semoga sehat selalu dan lancar rezekinya,, 😇😇
Jadi penasaran masa lalu Lin Yao sama Tao Yuhan, bisa sadis gitu ye,, 😎