Luna seorang gadis remaja yang baru lulus SMA harus bekerja menjadi sorang boysitter yang mengurus tiga cowok super tampan dan harus merasakan jatuh cinta pertamanya pada cowok tampan yang super dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
bab 20
Luna POV
hari ini adalah hari ke lima setelah keberangkatan Danu ke luar kota, tapi Luna masih belum mendapatkan kabar apapun darinya. Karena Danu tidak pernah sekalipun mengirim pesan pada Luna ataupun menelfonnya.
"Sebenernya gimana perasaan kamu sama aku mas? kenapa kamu enggak sekalipun nanyain kabar aku, apa kamu enggak kangen sama aku kaya aku yang kangen sama kamu? atau memang kamu enggak pernah ada perasaan apa-apa sama aku atau kamu cuma mau mainin aku?" aku menghembuskan nafasnya kasar.
Ring ring ring
Terdengar ponselku berbunyi aku pun segera berlari mengambilnya. Aku melihat siapa yang menelfonnya ternyata Winda, padahal aku berharap Danu mau menelfon nya walau hanya sebentar saja.
Aku segera mengangkat telfonya dan menghembuskan nafas lelah nya
"iya Wind kenapa?"
"kamu kenapa Lun? enggak semangat banget dapet telfon dari aku, kamu lagi ngarep dapet telfon dari siapa sii Lun?" tanya Winda.
"Apaan sii Wind, enggak ngarepin dari siapa-siapa kok... Aku cuman agak capek ajah" kilah ku.
"Ya udah kita jalan-jalan ajah ya, temenin aku cari kado buat kak Nathan." ajak Winda padaku.
Nathan adalah kakak Winda, dia dulu pernah nembak aku, tapi aku tolak halus. Soal nya aku memang enggak ada rasa apa-apa sama dia, aku cuman nganggep dia sebagai kakak aja dan sekarang aku dan dia masih deket tapi sebagai teman.
"Oh iya besok kan ya ulangtahunnya kak Nathan, aku juga belum punya kadonya. Kita cari bareng-bareng ya..."
"Ya udah aku jemput kamu ya, sekalian aku minta izin sama Boss kamu buat bawa kamu kerumah aku, soalnya ulangtahun kak nathan diadain besok malem di club x " kata Winda.
"Oke." jawab ku.
Setelah itu, aku menutup telfonya dan segera keluar kamar mencari Dimas.
"Mas Dimas, Luna hari ini izin ya. Mau keluar sama Winda boleh?" tanyaku pada Dimas yang sedang bermain PS bersama Dika.
"Oh ya udah si pergi aja boleh kok, yang penting hati-hati jaga diri sama debay juga" ucap Dimas yang sontak membuat Luna mendelik pasalnya Dika juga ikut bertanya-tanya apa maksud Dimas.
"Maskud kak Dimas debay apaan siih kok gue enggak tau, pasti terjadi sesuatu niih pas gue enggak dirumah?" tanya Dika penasaran.
"Enggak ada apa-apa kok mas Dika, enggak usah dengerin omongannya mas Dimas yang ngawur" jawab ku cepat sebelum Dimas ngomong yang aneh-aneh.
Dimas terkekeh geli dengan apa yang Luna katakan, Luna pun manyun kesal pada sikap Dimas yang benar-benar kekanakan.
ting tong ting tong
Suara bel terdengar luna pun berlalu meninggalkan Dimas dan Dika untuk membukakan pintu, terlihat Winda berdiri didepan pintu itu.
"Masuk Wind..." ucapku.
Winda berjalan masuk mengekori ku dan kupersiahkan duduk diruang tamu.
"Mau minum apa Wind?" tanyaku.
"Enggak usah Lun, kita langsung aja yuuk... biar enggak kemaleman pulangnya." pinta Winda.
"Ya udah aku ganti baju bentar ya..." jawab ku. Aku segera berjalan menuju kamarku untuk mengganti baju.
Setelah selesai aku berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Winda, namun kulihat Dimas sedang mengobrol dengan Winda. Mereka seperti sangat menikmati percakapan mereka sampai-sampai tersenyum dan kadang tertawa.
"Winda..." aku memangggilnya. sontak Dimas pun ikut menoleh.
"Ayook berangkat sekarang" jawab Winda, aku mengangguk padanya.
"Mas Dimas Luna berangkat dulu ya" pamitku pada Dimas.
"iya, hati - hati ya jangan Lupa iaga keponakan mmm...." belum sempet Dimas menyelesaikan kata-katanya segera ku bungkam mulutnya dengan tangan ku.
"Udah ya Luna pamit." ucapku segera menarik tangan winda untuk segera keluar.
Aku segera masuk ke dalam mobil Winda dan kami pun segera berangkt menjuju pusat perbelanjaan.
"Luna kamu enggak mau cerita apa-apa gitu sama aku?" tanya Winda.
"hmmm....nanti kalau aku udah siap aku ceritain semuanya sama kamu, aku cuman belum siap aja Wind, aku JANJI." jawabku menekan kan kata janji.
"Ya udah si... kalau kamu maunya gitu, tapi beneran janji ya?" tanya Winda memastikan.
"iya aku janji " jawabku meyakinkan.
Sesampainya di pusat perbelanjaan kami mulai menelusuri setiap outlet untuk menemukan yang kami cari, aku sempet bingung akan memberikan kado apa buat kak Nathan dan akhirnya aku memilih memberikan sebuah topi padanya. Mengingat kaka Nathan suka banget pake topi, aku memilih topi berwana hitam dengan sedikit garis putih di depanya.
"Waah itu kalau dipakai kakak pasti tambah keliatan ganteng banget Lun" ucap Winda.
"Iya semoga kak Nathan suka." jawabku.
"itu siii udah pasti, apaun yang kamu kasih dia selalu suka Lun" kata Winda.
"Sok tau kamu Wind." ledek ku pada Winda.
"Terserah." jawab Winda malas.
"Ya udah aku mau ke mbak-mbak itu dulu ya... Biar topinya dibungkus yang cantik "kataku kemudian berjalan ke arah pelayan toko yang sedang merapikan beberapa barang ditoko itu
Winda pun mengikuti Luna untuk membungkuskan kadonya ,Winda membeli sepatu sneakers untuk kakaknya
setelah selesai Winda pun mengantar Luna kembali ke rumah keluarga Darma.
"besok sore aku jemput ya ,tadi aku udah ijin sama Dimas juga, jadi besok kita tinggal berangkat aja." kata Winda.
"Hmmm..." jawabku.
Winda melajukan mobilnya keluar dari kediaman keluarga Darma dan aku segera masuk kerumah dan menuju kamarku.
...
terimakasih shayy
semoga sehat selalu
ditunggu kenakalan Dimas dan bikin Winda panas dingin,hehe
makasih cerita'y menghibur👍💝
Saya suka sama alur ceritanya
Semoga makin sukses mengeluarkan novel yang bagus
Tetap semangat 💪
Love to you ♥️😍😘