'' Rani Marissa ''
Seorang gadis cantik, yang mandiri baik hati.
'' Leonardo Pratama ''
Pria tampan ,pewaris tunggal perusahaan Pratama . sekaligus pria yang menjadi kekasih Rani Marissa.
'' Disa Andini ''
Sahabat Rani yang menyukai Leon, sejak pertama kali bertemu. Ketika Leon diperkenalkan oleh Rani, sebagai kekasihnya. Tapi demi persahabatan mereka , dia menyimpan perasaan itu dalam htinyaa.
Ada sebuah kejadian yang menyebabkan Leon menikah dengan Dissa
Apa kejadian itu?
penasaran ?.
yuk!! bacaa😍😌
jangan lupa like, comen, vote nya yaahh
😍😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raquini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Leon sudah di kuasai oleh emosi tidak ada lagi kasihan di hatinya. Hatinya sudah hancur sehancur-hancurnya dia melihat Rani yang menangis tanpa suara. Itu artinya suara Rani sudah 'hilang'. Hati kecil Leon menangis melihat itu tapi apa yang sudah dia lihat membuatnya enggan untuk memeluk kekasihnya itu.
" Gue bayar lo, terserah lo mau brapa. Tapi gue mau lo bawa dia." sambil menunjuk Rani." Bawa dia ke tempat sepi dan sekap dia. Ingat jangan ngapa-ngapain dia." Ucap Leon penuh keyakinan.
Rani yang mendengar itu menggeleng kepalanya meminta Leon untuk tidak melakukan hal itu.
" Jangan Leoon " mungkin begitu arti kata yang di maksud Rani dari gerakan bibirnya membuat Leon iba. Air mata Leon tak kuasa di tahannya lagi dia ingin memeluk Rani. Sedangkan Disa yang sedari tadi diam, kaget dengan tindakan Leon. Namun setelah itu menarik napasnya lega.
Saat Leon mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Rani dia melihat pria yang tidur bersama Rani tadi. Alhasil dia langsung mendorong tubub Rani hingga Rani jatuh dari tempat tidur. Leon tidak memperdulikannya dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Sebelum membuka pintu dia berbalik dan mengatakan sesuatu pada Rani.
" Gue bakal buktiin ke lo, kalo gue bisa lebih dari yang lo lakuin." ucap Leon penuh tekanan sambil menunjuk dengan tatapan tajam ke arah Rani. Rani memeluk kaki Leon dengan erat memohon untuk tidak di tinggalkan. Disa yang melihat itu tidak merasa kasihan justru dia menuju mobilnya dan menyalakan mesin.
Leon berhenti dan tersenyum miring saat melihat ke arah Rani dan kemudian mengibaskan kakinya hingga Rani terjungkal. Leon menuju mobil Disa dan menyalakan mesinnya sedangkan Rani di bawah lagi ke suatu tempat untuk menyekapnya.
Di dalam mobil, tidak ada yang ingin memulai percakapan. Leon dan Disa seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak berselang lama jalanan yang tadi lancar mendadak macet. Klakson dari para pengemudi memenuhi jalanan itu seolah mengatakan jika mereka sudah terlalu lama menunggu tanpa tahu apa yang sedang terjadi di depan. Disa menggerutu sambil memukul setirnya.
" lo tunggu di sini yaa, gue liat dulu kedepan." ujar Leon yang langsung dijawab anggukan kepala dari Disa.
Leon berjalan menyusuri mobil-mobil yang sangat banyak itu. Saat beberapa meter lagi dia melihat kumpulan orang yang sedang mengelilingi sesuatu. Sepertinya kecelakaan.
Leon mendekati salah satu pria yang ada di dekatnya dan bertanya.
" Pak maaf, ini kenapa yaa pak. pada ngumpul. Jadinya macet kan.?"
Pria yang ditanya berbalik dan melihat putra dari Roni Pratama. Dia kemudia menunduk hormat dan menjawab pertanyaan Leon.
" anuu.. itu tu..an.." ujarnya terbata
" apa yang terjadi? katakan yang jelas tidak usah segan pak." ucap Leon dengan lembut.
" Ada kecelakaan tuan, dan saat ini mereka sedang menunggu ambulance datang untuk membawa orang tua itu." jawabnya
Leon mengucapkan terima kasih dan karena penasaran dia mencoba untuk melihat langsung.
Deg
Deg!
Jantung Leon berpacu dengan cepat saat melihat siapa yang tergeletak di jalan itu.
Dia ingin mendekat namun di tahan oleh seorang polisi yang sudah tiba di lokasi bersama ambulance.
"Pak Daniel, bu Maya.... "lirihnya. Untuk beberapa saat Leon terdiam di tempatnya kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Disa jika dia ingin ke rumah sakit.
Dia meminta bantuan kepada salah satu pengendara motor yang berada di depannya. Sebelum naik ke atas motor Leon melihat sebuah benda yang berlumuran darah di pinggir jalan, di luar garis polisi. Kemudian mendekat dan mengambil sebuah ponsel yang berlumuran darah, dia yakin jika itu pasti punya pak Daniel. Leon memasukannya ke kantongnya dan pergi ke rumah sakit.
Ditengah perjalanan.
" Maaf pak kita mau kemana." tanya pengendara motor yang dari tadi melajukan motornya tapi tidak tahu arah tujuan. Leon juga bingung tadi dia lupa melihat dari rumah sakit mana ambulance itu datang. Dia menghembuskan napasnya kasar dan meminta pengendara motor agar menurunkannya. Setelah memberikan beberapa lembar uang pada pengendara motor itu, Leon merogoh kantongnya untuk menghubungi Disa. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya saat Disa berhenti di depannya.
" Lo ngikutin gue?" tanya Leon
Disa gugup tapi kemudian menjawab
" gaak..kokk..ta... tadi gu.. gue mau jalan aja lewat sini."
" ooo... bisa gak kerumah gue sebentar nanti lo gue anterin pulang deh." tawar Leon.
Dengan senang hati Disa mengangguk.
***
Mobil yang di kendarai Disa memasuki pekarangan rumah Leon. Disa tidak terkejut karena bukan pertama kalinya dia datang ke sini.
Ketika hendak memarkirkan mobilnya dia mengernyit melihat mobil yang biasa di gunakan papanya ada di teras rumah Leon. Leon memandangi Disa dengan heran.
" Lo kenapa Dis,"
" itu mobil bokap gue kok ada di rumah lo" katanya sambil menunjuk mobil yang ada di teras.
Mata Leon mengikuti arah jari telunjuk Disa.
" yooo turuunn." ajak Disa
Sejenak Leon memandangi Disa dari jarak dekat.
'Ternyata selama ini orang yang menyukainya secantik ini' gumam Leon. Kemudian sebuah ide muncul di kepalanya dan dia senang dengan ide itu.
Leon mendekatkan bibirnya ke bibir Disa dan langsung m******nya. Disa terkejut tapi kemudian dalam hatinya berbunga-bunga. Rencananya berhasil?
Leon menghentikan aksinya ketika mereka sudah kekurangan oksigen.
" Leon apa yang lo lakuin ke gue?" tanya Disa dengan nada yang di buat tidak suka.
" nanti kalo nyokap ato bokap lo liat gimana? bisa-bisa kita di nikahin tau." cetusnya.
" Biarin aja. Emang sekarang gue mau nikahin lo." ujar Leon tegas
Disa tersentak mendengarnya. Mungkin Tuhan begitu baik hingga sangat cepat menjawab doanya.
" Lo ja... jangan ber..ca..canda Leon. Gu.. gue gak ma.. mauu." ucapnya terbata saking terkejut.
Leon kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Disa.
" Beneran gak mau?" tanyanya sambil mengusap bibir Disa. " Gue kira lo akan seneng karena akhirnya lo bisa nikah sama cowok yang lo suka." ujar Leon sambil menggi**t pelan bibir Disa.
Disa menunduk malu. Dia sangat ingin berteriak kegirangan saat ini tapi dia menahannya.
" Kalo itu orang tua lo yang dateng, gue bakal bilang besok gue mau nikahin lo."
Perkataan Leon sontak membuat Disa melebarkan matanya. Bagaimana Leon bisa cepat sekali melakukan itu tapi dia senang.
" Lo mau kan nikah sama gue?"
" gue mau Leon, tapi Ranii...." ucapan Disa sengaja di jeda
" ssstttt.... udah gak usah peduliin dia lagi. Gue udah benci banget sama dia." ujar Leon dan mereka kembali berciuman di dalam mobil.
Sedangkan orang tua Disa yang saat itu sudah selesai mengobrol bersiap untuk pulang ayah Disa dan Leon kebetulan berteman beberapa saat lalu. Jadi mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah pak Roni hari ini.
Mereka dikejutkan oleh mobil yang tidak asing. Mereka berempat saling pandang dan kemudian mendekat ke arah mobil itu bersama-sama. Pak Irwan ayah Disa membuka pintu mobil. Matanya dan istrinya terbelalak begitu juga dengan pak Roni dan bu Nani. Bagaimana tidak! Leon bercumbu dengan Disa di atas mobil. Dan baju Disa sudah lepas dari badannya. Saking asyiknya mereka bercumbu sampai tidak menyadari jika orang tua mereka ada di belakang.
" Leon...!!"
" Disa....!!"
Kedua nama itu di sebut secara bersamaan. Disa dan Leon sadar dan melihat ke belakang, orang tuanya sudah ada di sana.
Mereka masuk ke dalam rumah dan berbicara serius.
" Bagaimana pak Roni, kita memang berteman tapi putri semata wayang saya sudah di lecehkan oleh putra anda."
" Kita nikahkan saja mereka." ujar pak Roni tegas. Bu Nani terkejut dan langsung memegang kedua lengan suaminya kemudian berbisik.
" Rani pah..."
Leon yang melihat hal itu menjadi senang dia juga berkata
" Mah, pah.. Rani sudah tidur dengan laki-laki lain." ujarnya sambil menyodorkan ponsel miliknya. " Jadi Leon udah mutusin dia."
Bu Nani melihat foto itu dengan tatapan tidak percaya.
" Leon... apa kamu yakin Rani sperti ini? menurut mama kamu harus mendengar penjelasannya dulu." kata bu Nani sambil melirik ke arah Disa. Ingatannya tertuju pada pertemuan mereka beberapa hari lalu.
" Kamu teman Rani kan?"
" ii... iaa tan..te" katanya takut karena tatapan ibu Leon seolah menyelidik padanya.
Leon yang melihat akan ada banyak pertanyaan langsung mengatakan jika besok mereka akan menikah.
Hal itu pun di setujui kedua orang tua mereka. Namun bu Nani seperti bimbang....