Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Suasana ruang makan menjadi hangat saat Kyai Umar mempersilakan semua orang duduk mengelilingi meja besar yang penuh dengan hidangan.
Aroma rempah dari nasi kebuli buatan Humairah seolah mengundang selera siapa pun yang menghirupnya.
Umi Mamik tersenyum lebar, matanya berbinar menatap sajian di depannya.
"Aduh, sudah lama sekali Umi tidak mencicipi nasi kebuli buatanmu, Sayang. Ini masakan yang paling Umi rindukan," ucapnya sambil mengusap lengan Humairah.
Kyai Umar yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak, tawanya memenuhi ruangan dan membuat suasana tegang perlahan mencair.
"Masya Allah! Kejutan apa lagi yang kamu simpan, Humairah? Sudah lulusan S2 Mesir cumlaude, sekarang masakannya pun terlihat seperti hidangan restoran bintang lima!"
Humairah menunduk malu, jari-jarinya meremas ujung kain di pangkuannya.
"Kyai, saya hanya hobi memasak, tidak lebih. Masih banyak kekurangan di sana-sini," lirihnya rendah hati.
"Kekurangan?" Kyai Umar menyendok nasi kebuli itu ke piringnya, lalu menatap Nyai Latifah yang duduk kaku di ujung meja dengan wajah masam.
"Ini makanan enak, Humairah. Benar-benar hidangan terhormat. Ini makanan enak, bukan makanan sampah."
Sindiran itu meluncur begitu tajam. Kyai Umar sengaja menekankan kata "sampah" sambil melirik piring plastik kosong di sudut dapur yang sempat ia lihat tadi pagi—piring yang berisi tulang-tulang sisa yang diberikan istrinya kepada Humairah.
Abi Sasongko yang sedang memegang sendok seketika berhenti. Dahinya berkerut dalam.
"Sampah? Apa maksudnya, Kyai?" tanya Sasongko dengan nada menyelidik yang kental.
Sebagai seorang ayah, instingnya langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres di balik pilihan kata tersebut.
Nyai Latifah mendadak pucat pasi, ia tersedak air yang baru saja diminumnya.
Melihat situasi yang hampir meledak, Kyai Umar kembali tertawa terbahak-bahak, mencoba menutupi kecerobohan ucapannya demi menjaga perasaan tamu kehormatannya.
"Sumpah! Maksud saya tadi, demi Allah, sumpah ini enak sekali! Bukan sampah, aduh, lidah saya ini kalau sudah lapar suka terpeleset," ucap Kyai Umar sambil terus tertawa, meski matanya memberikan isyarat peringatan pada istrinya.
"Iya, Pak Sasongko. Maksud Kyai itu saking enaknya sampai bingung mau bilang apa," sahut Nyai Latifah dengan suara yang dipaksakan stabil, meski tangannya sedikit gemetar.
Kyai Umar segera mengalihkan pembicaraan sebelum Abi Sasongko bertanya lebih jauh.
"Oya, Pak Sasongko, bagaimana perkembangan perkebunan kopi di sana? Saya dengar tahun ini panennya luar biasa, ya?"
Perbincangan pun beralih ke urusan bisnis dan perkebunan, namun Fathan yang duduk di sebelah Humairah hanya bisa terdiam.
Ia menunduk menatap nasi kebulinya, merasa tenggorokannya sesak.
Kata "sampah" itu terngiang-ngiang di telinganya, mengingatkannya pada betapa rendahnya ia membiarkan istrinya diperlakukan selama ini.
Malam semakin larut ketika jam dinding di ruang tamu berdentang.
Abi Sasongko berdiri dari duduknya, diikuti oleh Umi Mamik.
Meskipun hatinya masih berat meninggalkan putri kesayangannya, ia merasa setidaknya malam ini kebenaran tentang jati diri Humairah mulai terungkap.
"Kyai, terima kasih atas jamuannya yang luar biasa. Kami harus pamit sekarang agar tidak terlalu malam sampai di rumah," ucap Abi Sasongko sambil bersalaman dengan Kyai Umar.
Ia kemudian beralih menatap Humairah dengan pandangan penuh rindu.
"Sayang, hari Minggu besok Abi akan mengadakan acara syukuran di rumah. Abi sangat berharap, lusa sebelum acara itu dimulai, kamu sudah bisa pulang ke rumah untuk membantu Umi."
Mendengar kata 'pulang', binar mata Humairah seketika menyala, sebuah harapan yang sudah lama ia pendam.
Fathan, yang sejak tadi lebih banyak diam, akhirnya melangkah maju.
Ia menganggukkan kepalanya dengan sopan di depan mertuanya.
"Insya Allah, Abi. Lusa saya sendiri yang akan mengantar Humairah pulang ke rumah Abi," ucap Fathan dengan suara rendah namun tegas.
Setelah mobil Abi Sasongko hilang dari pandangan, suasana di teras rumah kembali canggung.
Sarah masih berdiri di sana, berharap mendapatkan perhatian lebih dari Fathan atau Nyai Latifah. Namun, Kyai Umar segera berbalik dengan wajah tanpa ekspresi.
"Sarah, ini sudah hampir larut malam. Tidak baik seorang gadis masih bertamu di rumah orang hingga jam begini. Pulanglah, hati-hati di jalan," ucap Kyai Umar singkat, memberikan tanda bahwa kehadirannya sudah tidak diperlukan lagi.
Sarah hanya bisa tersenyum kaku dan berpamitan dengan perasaan dongkol karena rencana "pamer" yang disusunnya bersama Nyai Latifah gagal total.
Kyai Umar kemudian menghela napas panjang dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun kepada istrinya.
Ia langsung menuju kamarnya, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tengah.
Fathan menoleh ke arah Humairah. "Ayo masuk," ajaknya singkat.
Mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju lantai atas dalam keheningan.
Sesampainya di dalam kamar, pintu tertutup rapat. Humairah berdiri mematung di dekat tempat tidur, sementara Fathan berjalan menuju sofa tempat biasanya ia menghabiskan malam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana di dalam kamar itu tidak hanya terasa dingin, tapi dipenuhi oleh rasa bersalah yang mulai menghantui pikiran Fathan.
Fathan membanting jam tangannya ke atas meja kecil di samping sofa.
Suara benturannya bergema di kamar yang sunyi itu, memecah ketenangan malam yang baru saja Humairah rasakan.
Pria itu berbalik, menatap Humairah dengan mata yang memancarkan kemarahan dan harga diri yang terluka.
"Sudah puas kamu mempermalukan aku di depan semua orang?" tanya Fathan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Humairah tersentak, langkahnya terhenti di dekat lemari.
"Maksud Ustadz apa? Saya tidak melakukan apa-apa..."
"Jangan berlagak polos!" potong Fathan cepat. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
"Bergaya polos seperti itu, tapi ternyata kamu menyimpan rahasia besar. Kamu mengerikan, Humairah. Kamu membiarkan Abah menyindirku, membiarkan orang tuamu memojokkanku seolah-olah aku ini suami bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang istrinya sendiri."
Fathan tertawa hambar, tawa yang penuh dengan sinisme.
"Lulusan S2 Mesir? Cumlaude? Dan kamu diam saja selama dua bulan ini? Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja menunggu momen ini untuk membuatku dan Umi terlihat kecil di depan tamu-tamu tadi?"
Hati Humairah serasa diremas. Tuduhan itu jauh lebih menyakitkan daripada saat ia harus memakan sisa tulang ayam di dapur tadi pagi.
"Ustadz, saya tidak..." Humairah berusaha membela diri, suaranya bergetar menahan tangis yang kembali mendesak.
"Saya tidak pernah bermaksud mempermalukan siapa pun. Saya hanya tidak ingin menyombongkan apa yang saya punya jika itu tidak diperlukan."
"Tidak perlu?" Fathan mendengus.
"Kamu membuatku terlihat seperti orang dungu, Humairah! Kamu membiarkan Umi memperlakukanmu seperti pelayan, sementara kamu punya gelar itu di belakang namamu. Kamu sengaja memancing keributan ini agar semua orang menyalahkanku, bukan?"
Humairah menggeleng lemah, air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat.
"Demi Allah, tidak ada niat sedikit pun di hati saya untuk itu. Saya diam karena saya menghormati Ustadz, saya diam karena saya ingin menjadi istri yang patuh meskipun saya dianggap tidak ada."
Fathan membuang muka, dadanya naik turun karena emosi yang meluap.
"Simpan air matamu. Besok lusa aku akan mengantarmu pulang. Silakan mengadu sepuasnya pada orang tuamu di sana. Aku sudah muak dengan sandiwara ini."
Pria itu kemudian melempar tubuhnya ke sofa dan menyelimuti seluruh tubuhnya, membelakangi Humairah yang masih berdiri mematung di tengah kamar.
Di bawah remang lampu, Humairah hanya bisa mendekap dadanya yang sesak.
Ternyata, memiliki ilmu dan gelar pun tidak cukup untuk mendapatkan tempat di hati suaminya jika kebencian sudah lebih dulu bertahta di sana.
Humairah terdiam, bibirnya kelu untuk membalas rentetan tuduhan tajam dari suaminya.
Dengan langkah gontai dan pandangan yang buram oleh air mata, ia berjalan menuju lemari kayu di sudut kamar untuk mengambil pakaian ganti. Ia hanya ingin malam ini segera berakhir.
Namun, saat tangannya meraih tumpukan kain, ujung gamisnya tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak kayu berukir yang tersimpan agak menjorok ke luar di rak bagian bawah.
BRAK!
Kotak itu terjatuh, tutupnya ternganga, dan isinya berhamburan di atas lantai marmer.
Foto-foto usang, beberapa pucuk surat berwarna merah muda, dan sebuah gelang perak berserakan.
Di salah satu foto yang mendarat tepat di depan kaki Humairah, tampak wajah Fathan yang tersenyum sangat lepas—senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada Humairah—sambil merangkul seorang wanita cantik yang tampak sangat dicintainya. Wanita yang dulu mengkhianatinya.
Fathan yang mendengar suara gaduh itu langsung bangkit dari sofa seperti singa yang terusik.
Matanya membelalak saat melihat barang-barang rahasianya berserakan di bawah kaki Humairah.
"Jangan sentuh!" bentak Fathan menggelegar.
Sebelum Humairah sempat berjongkok untuk memungutnya, Fathan sudah menerjang maju.
Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, ia mendorong tubuh Humairah dengan sangat keras.
DUAK!
Tubuh kecil Humairah terjerembap ke belakang. Kepalanya menghantam pinggiran tajam meja rias sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai.
Rasa sakit yang berdenyut hebat seketika menyerang keningnya, namun Fathan seolah buta.
Pria itu justru sibuk memunguti foto-fotonya dengan tangan gemetar.
"Sudah kubilang, jangan pernah lancang menyentuh barang-barangku!" bentak Fathan lagi, suaranya naik satu oktav.
Ia berdiri dan menatap Humairah dengan pandangan penuh kebencian.
"Dengar, Humairah! Kamu itu jangan merasa tinggi karena gelar S2-mu itu! Di mataku, kamu tetap wanita murahan yang hanya aku tolong karena adikku kabur dan meninggalkan malu pada keluargaku! Kamu hanya pengganti cadangan!"
Humairah memegangi keningnya yang mulai terasa basah.
Cairan hangat berwarna merah kental mengalir di sela-sela jarinya, menetes ke atas mukena putih yang masih ia kenakan.
"Ustadz, maaf, saya tidak sengaja..." rintih Humairah, suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis.
Fathan menunjuk tepat di depan wajah Humairah, mengabaikan darah yang mulai membanjiri pelipis istrinya.
"Jangan pernah bermimpi bisa masuk ke hidupku. Ruang hatiku adalah area terlarang bagimu! Kamu punya kamar ini, tapi kamu tidak akan pernah punya tempat di sini!" Fathan memukul dadanya sendiri dengan keras.
Setelah meluapkan amarahnya, Fathan kembali ke sofa, mengumpulkan barang-barang kenangannya ke dalam dekapan seolah itu adalah harta paling berharga, meninggalkan Humairah yang terduduk lemas di lantai.
Humairah menatap telapak tangannya yang penuh darah.
Rasa perih di keningnya tak sebanding dengan hancurnya jantungnya saat mendengar kata 'wanita murahan' keluar dari mulut pria yang ia sebut sebagai suami dalam setiap sujudnya.
Malam itu, di bawah lampu kamar yang temaram, Humairah menyadari bahwa bagi Fathan, ia benar-benar bukan siapa-siapa.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭