NovelToon NovelToon
Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Sembilan Naga Penarik Kapal

​Tepat ketika durasi enam puluh detik dari Aura Kaisar Ilahi Kosmik berakhir, tekanan yang membuat seluruh makhluk di radius ribuan mil berhenti bernapas perlahan-lahan surut bagaikan air pasang yang kembali ke lautan.

​Di pelataran Puncak Awan Pusat, Kasim Tua itu masih terkapar di tanah, tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja disiksa di delapan belas tingkat neraka. Tulang-tulangnya remuk, dan Dantian-nya yang berada di tahap Setengah Langkah Transformasi Roh retak parah.

​Lin Chen berdiri dengan santai, jubahnya bahkan tidak terlipat sedikit pun. Ia menatap ke bawah dengan pandangan sedingin es abadi.

​"Waktu tenggangmu sudah habis. Mengapa kau masih mengotori pelataranku?" ucap Lin Chen datar.

​Kasim Tua itu tersentak sadar. Arogansinya sebagai utusan Kekaisaran telah hancur menjadi debu. Dengan sisa-sisa Qi di dalam tubuhnya yang rusak, ia merangkak mundur, menempelkan dahinya ke tanah berbatu berulang kali hingga darah menutupi wajahnya.

​"H-Hamba mengerti! Hamba akan menyampaikan pesan Yang Mulia kepada Kaisar! Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia karena tidak membunuh anjing cacat ini!"

​Dengan putus asa, Kasim Tua itu mengudara dengan tertatih-tatih. Seribu prajurit Zirah Sisik Naga yang sedari tadi berlutut memuntahkan darah juga buru-buru bangkit, melarikan diri mengikuti komandan mereka tanpa berani menoleh ke belakang.

​Namun, saat kesembilan Naga Banjir Emas (Golden Flood Dragon) hendak mengepakkan sayap mereka untuk kabur, suara Lin Chen kembali bergema.

​"Siapa yang mengizinkan kadal-kadal itu pergi?"

​BUM!

​Sebuah Niat Dao yang tak kasat mata langsung mengunci kesembilan monster tingkat Puncak Jiwa Baru Lahir itu di tempat. Sembilan naga emas raksasa tersebut langsung merengek ketakutan, menempelkan perut mereka ke tanah dan menyembunyikan wajah mereka di balik cakar, benar-benar tunduk layaknya cacing peliharaan.

​Mereka tahu, monster berbaju putih di depan mereka ini bisa meremas jiwa mereka hanya dengan satu jentikan jari!

​"Kereta perangku kebetulan butuh penarik yang sedikit lebih mewah," gumam Lin Chen tersenyum puas melihat barang rampasan barunya.

​Di dalam benaknya, layar sistem berdenting riang.

​[Ding!]

[Tuan Rumah berhasil mengintimidasi Utusan Kekaisaran Abadi Langit Naga dan menaklukkan Sembilan Naga Banjir Emas!]

[Poin Reputasi +30.000!]

[Gaya Penindasan: Kaisar Sejati Melampaui Langit (Skor: SSS).]

​Lin Chen mengangguk pelan. Investasi 10.000 Poin untuk meminjam aura ternyata mengembalikan hasil tiga kali lipat. Bisnis yang sangat menguntungkan.

​Tepat pada saat itu, sebuah fluktuasi energi purba dan dalam meledak dari arah timur pelataran.

​Pintu Kuil Kaca Bintang—Aula Pencerahan Surga—terbuka perlahan. Tiga sosok muda melangkah keluar, namun aura yang mereka pancarkan kini benar-benar berbeda dari sebelumnya.

​Ye Fan tidak lagi memancarkan Niat Pedang yang tajam dan meledak-ledak. Sebaliknya, auranya terasa sedalam samudra tanpa riak. Pedang Pemutus Surga di punggungnya bahkan tidak lagi berdengung. Namun, setiap langkah yang ia ambil membuat ruang di sekitarnya terbelah secara alami, seolah keberadaannya sendiri adalah sebuah pedang yang tak tertandingi.

​Su Yue melangkah dengan mata tertutup, namun sebuah pendaran rasi bintang kosmik terus berputar di belakang kepalanya membentuk sebuah mahkota halo keperakan. Seratus pedangnya kini telah menyatu dengan Hukum Bintang, menjadikannya tak kasat mata namun siap menghancurkan dunia dalam satu kedipan.

​Dan Lin Tian... tubuhnya tidak lagi memancarkan pusaran hitam yang liar. Kultivasinya terkendali sempurna, namun matanya menyimpan kedalaman jurang absolut. Jika ada yang berani menatap matanya terlalu lama, jiwa orang tersebut akan langsung tersedot dan terhapus dari siklus reinkarnasi.

​Hanya dalam waktu singkat di dunia luar, ketiganya telah bermeditasi selama berbulan-bulan dalam kondisi Epiphany di dalam aula waktu tersebut. Fondasi Pembentukan Inti mereka telah mencapai kesempurnaan mutlak, bahkan menyentuh Hukum Dao dari ranah Jiwa Baru Lahir!

​"Menyapa Guru!" Ketiganya berlutut di hadapan Lin Chen, suara mereka menggema penuh penghormatan yang fanatik.

​Lin Chen menatap ketiga murid monster itu dengan bangga. "Bagaimana pencerahan kalian?"

​"Hukum Langit dan Bumi hanyalah mainan di telapak tangan kami, Guru," jawab Lin Tian dengan senyum menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang memancarkan aura Devouring.

​"Bagus," Lin Chen melambaikan lengan jubahnya. "Kaisar fana dari tanah ini baru saja mengirimkan undangannya. Mereka mengancam akan meratakan tulang belulang kita dan menjadikan kalian budak."

​Mendengar hal itu, udara di Puncak Awan langsung anjlok ke titik beku. Niat membunuh dari ketiga murid itu meledak ke langit, membuat sembilan Naga Emas di sudut halaman menggigil ketakutan.

​"Kaisar fana berani menyinggung Guru?! Murid akan memenggal kepalanya dan menjadikan tengkoraknya sebagai cangkir arak Guru!" raung Ye Fan, Niat Pedangnya yang sebelumnya tenang kini merobek langit.

​"Tenanglah. Jangan merusak keanggunan sekte kita dengan bertindak seperti algojo jalanan," potong Lin Chen santai. Ia menunjuk ke arah Kapal Perang Pembelah Bintang yang melayang di udara, dan kemudian ke arah sembilan Naga Banjir Emas.

​"Ikat kesembilan kadal itu ke bagian depan kapal perang. Kita akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Ibukota Kekaisaran. Mari kita tunjukkan pada mereka, bagaimana dewa berjalan-jalan di taman belakangnya."

​"Murid laksanakan!"

​Hanya butuh waktu sesaat bagi Lin Tian untuk mengikat kesembilan naga raksasa itu menggunakan Rantai Emas Astral yang ia jarah dari makam kaisar. Sembilan Naga Banjir Emas tingkat Puncak Jiwa Baru Lahir, yang biasanya menjadi leluhur pelindung di sekte-sekte besar, kini hanya menjadi hewan penarik beban!

​Kapal Perang Pembelah Bintang, yang kini ditarik oleh sembilan naga mengaum, memancarkan aura kemegahan dan dominasi yang belum pernah terlihat dalam jutaan tahun sejarah Benua Tengah.

​WUSSHHHHHH!

​Raksasa besi dan naga itu melesat membelah langit menuju jantung Benua Tengah, meninggalkan jejak badai energi yang membuat faksi-faksi kecil di bawahnya bersujud ketakutan.

​Ibukota Kekaisaran Langit Naga.

​Terletak di pusat Benua Tengah, ibukota ini bukanlah sekadar kota biasa. Tempat ini adalah sebuah daratan raksasa yang melayang di atas Sembilan Urat Nadi Naga Bumi. Istana-istananya terbuat dari emas murni dan giok suci, memancarkan cahaya yang mengalahkan matahari. Ratusan formasi pertahanan tingkat Dewa Palsu menyelimuti udara kota.

​Di dalam Aula Tahta Tertinggi, Kaisar Langit Naga duduk di atas singgasananya yang diukir dari tulang naga sejati. Ia mengenakan jubah emas yang memancarkan aura seorang penguasa absolut di tahap Transformasi Roh Lapis Menengah (Mid Spirit Transformation)!

​Di Benua Tengah, ranah Transformasi Roh adalah batas tertinggi yang berani disentuh oleh manusia fana sebelum mereka mencari jalan menuju Keabadian.

​"BRAKK!"

​Pintu aula tahta terbuka paksa. Kasim Tua yang tubuhnya hancur lebur merangkak masuk, meninggalkan jejak darah di karpet naga kekaisaran. Puluhan jenderal dan menteri di tahap Jiwa Baru Lahir ternganga melihat pemandangan itu.

​"Yang Mulia! Yang Mulia!" ratap Kasim Tua itu dengan suara putus asa. "Sekte Puncak Awan... Pemuda itu adalah iblis! Dia adalah reinkarnasi dari dewa kuno! Dia menyandera sembilan naga kita, membunuh prajurit kita dengan auranya, dan... dan dia mengatakan..."

​"Katakan apa yang dia ucapkan, anjing tak berguna!" raung Sang Kaisar, amarahnya membuat seluruh aula bergetar dan pilar-pilar giok retak.

​"Dia mengatakan... a-agar Yang Mulia bersihkan leher Anda... karena dia akan datang untuk mengambil tahta ini!"

​Hening. Kesunyian mutlak melanda Aula Tahta.

​Lalu, tawa murka Sang Kaisar meledak, menghancurkan kaca-kaca istana.

​"HAHAHAHA! SEBUAH SEKTE DARI ANTARA BERANTAH BERANI MENGINGINKAN TAHTA NAGA-KU?!" Sang Kaisar berdiri. Fluktuasi Hukum Transformasi Roh menyapu keluar, menekan puluhan jenderalnya hingga mereka berlutut.

​"Sombong! Terlalu sombong! Bahkan Tanah Suci Tertinggi di Benua Bintang pun tidak berani berbicara seperti itu padaku!"

​Sang Kaisar menunjuk ke arah luar istana. "Jenderal Perang! Bunyikan Lonceng Pemusnah Langit! Bangunkan tiga Leluhur Transformasi Roh yang sedang tertidur di makam suci! Aktifkan Formasi Pembantai Dewa Delapan Belas Naga!"

​"Yang Mulia, apakah kita benar-benar perlu mengaktifkan Formasi Pembantai Dewa hanya untuk satu sekte?" seorang menteri bertanya dengan gemetar.

​"Aku tidak akan mengambil risiko. Dia berani meremehkan Kekaisaran, maka aku akan memastikan dia mati tanpa tempat penguburan! Aku akan membantai setiap orang yang berhubungan dengannya, mengekstrak jiwa mereka, dan membakarnya di tungku alkimia selama seribu tahun!"

​DENG! DENG! DENG!

​Lonceng raksasa di puncak ibukota berdentang. Suaranya bergema menembus jutaan mil. Langit di atas Ibukota Kekaisaran berubah menjadi merah darah. Delapan belas pilar cahaya naga melesat dari dasar bumi, membentuk sebuah kubah pembunuh yang diklaim mampu membunuh bahkan dewa abadi sekalipun.

​Jutaan penduduk Ibukota menatap ke langit dengan ngeri. Perang berskala epik yang tidak pernah terjadi selama puluhan ribu tahun, akhirnya pecah kembali.

​Sang Kaisar berdiri di atas balkon istana tertingginya, menatap ke arah timur dengan pedang emas di tangannya.

​"Datanglah, Sekte Puncak Awan. Biarkan Ibukota ini menjadi kuburan untuk keangkuhanmu!"

​Namun, tanpa disadari oleh Sang Kaisar, apa yang akan datang bukanlah musuh yang bisa dikalahkan dengan pasukan atau formasi.

1
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Ress
Kurang ajar memang🤣/Sob/
Deevy Tresiyana
💪Thor karya mu sangat kereeen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!