Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana rasanya?
Didalam mobilnya aku mengamati Arjuna yang tengah berkonsentrasi dengan kemudinya. Kapan dia ganti baju, padahal dia pulang hanya untuk menjemputku?
Betapa tampannya dia, Yaa Allah. Memakai baju batik lengan panjang kombinasi hitam dan abu - abu. Dengan jam tangan mahal yang melingkar di tangan kanannya. Model rambut yang bervolume diatas dan tipis disamping, perfect membuatku terpesona saja.
Aku refleks membuang muka, menatap keluar kaca mobil saat ia mendapatiku diam - diam memperhatikannya. Kulirik sekilas dia tersenyum tipis.
" Jemput Lisa dulu yaa. Dia bilang mau pergi tapi ban mobilnya pecah."
Astaga apa - apaan ini.? Kenapa perempuan itu lagi.?
Senyumku langsung memudar, hangat dipipi seketika turun kehati. Panas, api cemburu semakin bergejolak didada. Aku menggigit bibir kuat - kuat, menahan sakit, sedang mata kini sudah berembun. Aku gak bisa diginiin.
" Aku gak jadi pergi.?" tegasku.
" Lho kok gitu?"
" Pokoknya aku gak jadi pergi.!"
Arjuna membuang nafas kasar, " kenapa lagi sih?" tanyanya terdengar kesal.
" Kalau sudah sama Lisa ngapain ngajak aku.?"
" Bukannya masalah Lisa udah aku jelasin, kemaren.!"
" Tapi gak bilang kalau dia itu janda.? kataku kesal.
" Apa yang salah sama status janda, hm? Sejauh ini kami profesional, kalau aku punya hubungan sama Lisa. Nggak mungkin aku ngajak kamu.!"
Aku diam, percuma membahas hal ini lagi. Dia gak akan paham, gimana rasanya jadi aku.
" Drama lagi, shitt!" sentaknya memukul kemudi. Arjuna lalu meminggirkan dan menghentikan mobilnya.
" Lisa itu kerja sama aku udah lima tahun, sejak dia belum nikah. Kalau aku memang tertarik sama dia, mending hari itu aku nikahnya sama dia. Sekarang paham kan?" Arjuna berkata penuh penekanan, sorot matanya menatapku tajam.
" Terserah, Jun. Aku udah gak peduli lagi.!"
Arjuna menangkup kedua pipiku, menatapku dalam. " Aku gak mu mungkin macam - macam, aku tahu batasannya.!"
Aku mengerjab, kali ini dia nampak sangat serius. Ku turunkan tangannya dari wajahnya, lalu menatap nanar kedepan. " Aku hanya takut kehilangan, ah..... menyedihkan banget, kan?"
Aku mengusap air mata yang berlinangan dengan punggung tanganku. Sesak didada sudah gak bisa ditahan lagi.
" Akhirnya ngaku juga kan!" kata Arjuna sambil menyeringai. Apa saat ini perasaanku hanya dia anggap lelucon.
" Apa yang salah dengan status janda,? Aku gak suka dengan cara berfikir kamu itu."
Aku menghela nafas dalam, terserah aku gak mau peduli lagi dengan semua ini.
*****
Akhirnya kami pun gak jadi datang keacara resepsi salah satu stafnya Arjuna. Aku pun memilih untuk pulang kerumah ibu dan bapak. Aku turun dari mobil Arjuna tanpa memperdulikannya. Biarlah mau ikut masuk atau pulang kerumah mewahnys, aku gak peduli.
Rumah terasa sepi karena ibu dan bapak memang tak ada dirumah. Katanya kerumah saudara dikota J. Entah ada urusan apa aku tak diberi tahu.
Untung aku tahu tempat ibu sering kali menyembunyikan kunci rumah. Yaa, dibawah pot bunga anggrek dekat pintu.
Ku hela nafas dalam, menatap wajahku didepan cermin kamar mandi. Hancur, ayerliner dan maskara yang meluber gak karuhan. ku basuh wajah yang sudah belepotan. Pantas saja tadi Arjuna menertawaiku, hancur gini.
Udah nggak peka, nyebelin pula.! Rasa panas dan kesal menyeruak dalam dada. Astaqfirullah, Arjuna benar - benar membuatku kacau.
Setelah membasuh wajah, aku kekamar untuk berganti pakaian seperti waktu dulu masih tinggal disisni. Celana sebatas paha dan kaos oblong dengan rambut dicemol keatas.
Krucuukkk...
bunyi cacing diperut mulai berdemo minta diisi. Sengaja gak makan, biar nanti makan enak pas kondangan. Ehhh, taunya malah gini. Ekspetasi gak sesuai realita. Ku ayunkan kaki menuju dapur, mencari mie instans yang biasanya disimpan ibu.
Haah, kelihatannya si Arjuna memang pulang kerumah mewahnya. Dasar gak ngerti banget perasaan istri sendiri.
Apa aku yang keterlaluan, mungkin gak seharusnya aku jatuh cinta sama dia. Sempat beranggapan jatuh cinta pada sahabat sendiro itu rasanya manis. Tapi, lebih berasa nyesek dihati.
Bertahan bikin nyesek, berhenti pun sulit. Aku gak mau jadi janda. Status yang selalu dianggap remeh dan direndakan. Meski gak semua kek gitu.
Selesai memasak mie, aku berbalik. Sempat aku kaget karena Arjuna sudah ada disana. Meliriknya sekilas, aku mengayunkan langkah menuju meja makan. Tapi, piring yang kupegang langsung disambar oleh Arjuna. Ia menatapku tajam, sepertinya sangat serius. Lalu meletakkan piring mie diatas kompor dengan kasar.
" Ini apa?" tanyabnya dengan tegas, mengangkat ponselku.
Kenapa bisa ada di Arjuna, apa tadi ketinggalan di mobilnya.?
Gurat wajahnya terlihat sangat marah. Debug jantung, terasa sangat kencang, menggedor dada. Seketika membuat gemetar. Arjuna tak pernah semarah ini. Tapi, apa kesalahan ku?
" Jadi kerjaan kamu, sudah punya suami. Masih suka kecentilan.?" sentaknya penuh penekanan.
" Nggak usah ngegas Jun. Ada apa sih? Tiba - tiba datang langsung marah. Aku kira kamu dah pulang!" tanya ku heran.
" Pesan siapa.?" tanyanya ketus. Kilat matanya menatapku tajam. Ia menganggat ponsel tepat didepan wajahku.
" Pesan." Aku mengrenyit menetap Arjuna. Ku ambil ponsel ku dari tangannya. Membaca riwayat chatt diaplikasi whatsapp milikku. Dilihat dari nomornya tak dikenal.
' Akh, hape ku mati. Telepon bentar yaa!' Ahh... ini pasti tadi Gina yang pinjam.
Lalu ada banyak pesan yang sepertinya baru dibaca.
' Sayang angkat telepon !'
' Sayang.!" ada empat pesan yang sama. Apa ini pacar baru Gina atau Aby - Aby anaknya Ummi Hajjah itu.?
" Siapa?" tanya Arjuna meningginkan suaranya. Membuatku mengerjab karena terkejut. Aku melihat wajahnya sangat merah saat ini. Tunggu.... jadi ceritanya dia cemburu.?
" Bukan punya ku Jun!" Aku menjawab seolah tak berdosa. Memang bukan punya ku kan.? Bahkan saat ini aku mengulum senyum.
" Halah, kamu memang jago banget ngeles."
Aku menghela nafas, " ini baru pesan lho, Jun. Udah marah - marah aja!" Aku menyeringai.
" Maksud kamu apa?"
" Lucu aja, Jun. Sedirinya jalan berdua, makan berdua, teleponan sama Lisa terus. Ditambah sama dia nyariin cincin buat aku. Rasanya aku gimana, kamu gak tahu kan Jun?"
" Oo.. Jadi maksud kamu, kamu balas dendam.?"
" Tadi Gina pinjam HPku. Pesan itu bukan punyaku. Kalau gak percaya tanya aja sendiri pada Gina.!"
Arjuna bungkam, meraup wajahnya kasar.
Aku mengambil piring mie tadi. " Gimana rasanya cemburu gak enak kan?"
Arjuna menarik lenganku hingga aku masuk dalam dekapannya. Membuatku tercengang, menahan nafas menghirup aroma maskulinnya.
" Waktu itu gimana rasanya?" tanyanya lembut.
" Iya... sakit. Iya, mau marah. Berhari - hari kamu, bikin aku tersiksa."
Hanya helaan nafasnya yang panjang, terdengar. Lalu melepas pelukannya. menatapku dalam. Mungkin merasa bersalah.
" Apalagi, Jun? Mau minta maaf? Aku tunggu.!"
Ia tersenyum, lalu meraih piring yang aku pegang. " Sana masak lagi, yang ini buat aku aja.!"
Aku mendengus kesal, apa sih susahnya minta maaf. Laki - laki memang tinggi gengsi, padahal harga diri gak akan jatuh kalau hanya sekedar minta maaf pada pasangan sendiri.
Terima kasih, sudah mampir.
Maaf, baru pulang dari Rumah sakit. Sibontot udah sembuh giliran mamanya yang gak enak badan. Hhh.
Sehat selalu semua.