>Ini novel pertama autor yang bertema religi maaf kalau masih banyak kekurangannya.
Aleena Humairoh seorang guru sekolah dasar disebuah sekolah swasta dikota A memutuskan menutup auratnya dan bangkit dari traumanya setelah mengalami sebuah peristiwa pahit dimasalalu yang membuatnya harus kehilangan mahkota berharganya sebagai seorang perempuan.
Bertemu dengan seorang Abimanyu duda muda ayah dari murid Aleena yang juga pernah mengalami hal menyakitkan dengan perempuan dimasalalu.
Dua orang yang sama sama punya masalalu pahit akankah mereka bisa berjodoh dengan putri kecil Abimanyu sebagai perantara.
Ataukah malah saling membenci karena sebuah hubungan luka dimasalalu mereka yang diakibatkan oleh orang yang sama.
Penasaran silahkan baca kelanjutannya 😊😊.
Budayakan meninggalkan like dan komen sebagai dukungannya reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Ungkapan Perasaan.
Sepanjang perjalanan pulang dari taman hiburan Abimanyu dan Aleena sama sekali tidak berbicara sedikitpun mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
Sementara itu Aliyah karena terlalu lelah setelah seharian bermain di taman hiburan sepanjang parjalanan pulang dia langsung tertidur dipangkuan Aleena.
"Saya turun disini saja pak Abimanyu",ucap Aleena membuat Abimanyu segera menghentikan mobilnya didepan gerbang asrama Aleena.
Saat Aleena bermaksud langsung tutun setelah membetulkan posisi tidur Aliyah tiba tiba Abimanyu mencegahnya.
"Tunggu bu Aleena bisa kita bicara sebentar",pinta Abimanyu sebelum Aleena keluar dari mobil.
"Ada apa pak? ",tanya Aleena dengan menatap Abimanyu dari balik kaca spion mobil dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil.
"Apa yang sudah dikatakan Aliyah sangat mengganggu perasaan saya",ucap Abimanyu dengan melirik sebentar kearah Alena dari kaca spion lalu segera mengalihkan pandangannya keluar mobil setelah tatapan mereka sempat bertemu dari kaca itu.
"Maksud Bapak? ",tanya Aleena mencoba untuk memahami arah pembicaraan mereka sekarang.
"Bisakah bu Ena berhenti memanggil saya Bapak",pinta Abimanyu yang membuat Aleena sedikit terkejut dan langsung menundukan wajahnya.
"Maaf saya hanya merasa kita sudah sering bertemu dan bicara banyak hal tapi ibu e... boleh saya memanggil kamu Ena saja supaya lebih mudah kita bicara",pinta Abimanyu lagi.
Lama Aleena terdiam mendengar permintaan Abimanyu itu sebelum menjawab"iya".
"Kalau kamu masih keberatan kupanggil seakrab itu aku bisa tetap memanggilmu bu Ena".
"Tidak papa itu hanya sebuah panggilan dan benar kata mas Abi bahwa kita sudah sering bicara panjang lebar tapi sampai tadi kita masih terlalu formal saat bicara".
Wajah Abimanyu langsung memerah saat Aleena meanggilnya Mas Abi,panggilan biasa yang ternyata berdampak besar pada perasaannya yang tiba tiba jadi berdebar debar saat akan mulai berbicara lagi dengan Aleena.
"Iya kamu benar", jawab Abimanyu pelan tapi masih bisa didengar Aleena.
"Jadi tadi apa yang akan Mas Abi bicarakan dengan Ena",ucap Aleena dengan wajah tertunduk karena dia merasa wajahnya langsung memerah setelah mengatakan hal itu.
"E... itu... soal... ucapan Aliyah tadi saat ditaman hiburan yang memintamu untuk menjadi Bundanya kuharap kamu jangan memasukkan itu dalam hati",ucap Abimanyu lirih khawatir apa yang dikatakannya nanti disalah artikan oleh Aleena dqn membuqtnya tersinggung.
"Oh... Masalah itu Mas tidak perlu khawatir aku tipe perempuan yang tidak mudah terbawa perasaan apa lagi ini hanya ucapan seorang anak kecil tentu saja aku tidak. memasukkannya kedalam hati".
"Syukurlah... ",ucap Abimanyu dengan menghela nafas lega yang membuat Aleena sedikit kecewa mendengar jawaban itu tapi tidak ingin diperlihatkannya.
Cukup lama mereka berdua terdiam sebelum Abimanyu tiba tiba melanjutkan lagi pembicaraan mereka saat itu, bahkan beberapa saat sebelum Abimanyu bicara Aleena sudah bermaksud ingin keluar dari dalam mobil tapi terhenti saat mendengar Abimanyu kembali bersuara.
"Sebenarnya bukan karena aku tidak ingin lebih dekat denganmu tapi.. ini sangat sulit...",ucapnya lirih seolah berbicara sendiri tapi masih bisa didengar oleh Aleena.
"Aku mengerti Mas,tidak mudah bagi Mas Abi untuk mengganti posisi seseorang yang pernah kita nikahi dengan orang yang baru meski anak kita menginginkan itu",jawab Aleena dengan menatap keluar jendela mobil tidak sanggup menatap atau melirik kearah Abimanyu yang diyakininya saat ini pasti sedang melihat kearahnya dari kaca spion.
"Bukan seperti itu Ena ",ucap Abimanyu lirih dengan menatap Aleena dari balik kaca spion mobil yang saat itu sedang membuang pandangannya keluar jendela.
"Maaf apa maksud mas Abi?".
"Alasan utamaku sulit untuk membuka hatiku lagi pada perempuan lain memang karena ibu Aliyah tapi bukan karena aku masih mencintainya tapi.... karena ada kejadian dimasalalu yang membuat hatiku saat itu sangat terluka dan itu alasanku terlalu takut untuk memulai lagi suatu hubungan dengan seorang perempuan selama ini ".
Aleena hanya diam mendengar apa yang dikatakan Abimanyu itu dia tidak tau apa yang harus dikatakannya, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama dan itu yang menjadi alasan utama kenapa sampai detik ini dia tidak berani dekat dengan pria manapun.
" Sebenarnya dari lubuk hatiku yang terdalam Aku ingin mengabulkan keinginan Aliyah untuk menjadikanmu Bundanya tapi jujur saja aku terlalu malu kalau ingin meminangmu sebagai istriku".
"Maksud mas Abi?",tanya Aleena yang sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Abimanyu barusan.
"Kamu terlalu istimewa untuk pria seperti aku Ena,meski sejak pertama kali melihatmu aku punya perasaan mendalam padamu tapi.... aku merasa sangat tidak pantas untukmu karena aku sadar,aku bukan calon imam yang baik untukmu,masalaluku statusku kehidupanku semua hal dalam hidupku sangat memalukan,jadi...".
Tiba tiba saja Abimanyu terdiam tidak meneruskan lagi apa yang dikatanya itu membuat Aleena tidak tau apa yang harus dikatakannya untuk menjawab ungkapan perasaan dari pria yang duduk didepan mobil dengan menatapnya dari kaca spion depan lalu segera mengalihkan tatapannya keluar jendela membuat udara didalam mobil saat itu menjadi berubah pengab.
"Aku...maaf mas Abi... ". Aleena ingin menjawab kata kata Abimanyu tapi tiba tiba saja lidahnya terasa kelu tidak bisa mengeluarkan kata kata.
" Ini sudah malam, Ena pasti sudah lelah sekarang karena sudah menemani Aliyah dan aku sepanjang hari tadi",ucap Abimanyu mencoba menghilangkan suasana canggung diantara mereka akibat pembicaraan barusan.
"Iya",jawab Aleena singkat merasa sedih karena ternyata Abimanyu tidak meneruskan membahas masalah tadi.
"Terimakasih hari ini sudah membuat ulang tahun Aliyah sangat berkesan ",ucap Abimanyu saat Aleena keluar dari dalam mobilnya.
Aleena hanya mengangguk pada pria itu yang sudah bersiap untuk melajukan mobilnya meninggalkan Aleena didepan Asrama.
"Terimakasih banyak sudah mengantar Ena sampai depan Asrama",ucap Aleena lirih lalu berjalan pergi meninggalkan Abimanyu yang masih menatap perempuan itu sampai bayangan Aleena menghilang masuk kedalam Asrama.
Setelah Aleena tidak terlihat lagi Abimanyu baru melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Sebelum masuk kedalam Asrama Aleena sempat menoleh kearah mobil Abimanyu yang dilihatnya masih belum juga pergi dari tempat itu.
Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya mengingat tentang pembicaraan mereka tadi dimobil.
Sementara itu Abimanyu setelah meletakkan Aliyah dikamarnya segera pergi keruang kerjanya dan menatap sekeliling ruangan itu yang terlihat suram sesuram hidupnya selama ini.
"Aku harus berubah menjadi lebih baik agar pantas meminang perempuan seperti Aleena",gumamnya pada dirinya sendiri lalu dia segera memanggil Boby dan memerintahkannya untuk membuang semua minuman beralkohol yang ada diruang kerjanya itu.
"Anda baik baik saja pak tanpa benda benda ini?",tanya Boby pada Abimanyu karena dia tau selama ini hidup Abimanyu tidak lepas dari semua hal itu.
"Aku harus bisa Boby karena aku seorang ayah yang harus menjadi contoh yang baik bagi putriku, sekarang dan nanti".