Dea dijebak oleh kakaknya yang berakhir dia harus ditiduri oleh suami kakaknya yang membuat dia harus mengandung anak dari suami kakaknya dan terpaksa menjadi Madu dari sang kakak hanya karena kebahagiaan sepihak.
Menceritakan Liku-Liku perjalanan kakak adik angkat, yang terjebak dalam hubungan rumit dimana mereka harus berbagi suami yang sama dengan keadaan saling mengikhlaskan.
Zara Aridda sesosok wanita tegar dengan rasa penuh perhatian harus menikahkan suaminya dengan adiknya dikarenakan adiknya telah hamil anak suaminya, namun dia menyimpan rahasia yang besar yang hanya dia yang tahu.
Dea Aninda sesosok wanita yang tak kala tegar nya terpaksa masuk kedalam hubungan pernikahan kakaknya dan menciptakan sebuah keadaan rumit dimana dia terjebak dalam keadaan terpaksa dan kenyataan bahwa dia mulai mencintai suami kakaknya yang kini menjadi suaminya
Siapakah yang akan dipilih Tirta dikala Kedua istrinya sama-sama ingin menyerah
Siapakah yang akan bertahan dalam pernikahan tersebut dan siapakah yang pada akhirnya menyerah
Dan jangan lupa sosok Danu yang selalu ada untuk Zara dan masih menanti cinta Zara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 19: Kepetahan Hati
KONDISI KESEHATAN AUTHOR SEDANG TIDAK SEHAT SEMOGA KALIAN MASIH SETIA SAMA NOVEL INI YAH :)
Tirta menjalankan mobilnya menuju Apartemen milik Bulan dengan kecepatan penuh, langit sudah berubah jingga sementara bunyi masjid sebelum azan terdengar bersautan, Tirta membelokkan mobilnya di pertigaan sebelum memasuki kawasan yang dipenuhi beberapa apartemen bertingkat.
Tidak perlu waktu lama bagi Tirta untuk menemukan Apartemen Bulan yang terletak paling ujung di jalan tersebut, saat sampai di depan Apartemen tersebut, Tirta segera turun dari mobilnya dan menemukan mobil milik Bulan terparkir disana yang kondisinya pada saat itu Tirta tidak tahu itu mobil siapa.
Tirta mengambil kertas yang diberikan Zara untuk mengecek lantai dan kamar berapakah letak ruang Apartemen Bulan, setelah merasa pasti Tirta kemudian masuk kedalam apartemen tersebut menggunakan tangga biasa menuju lantai kamar Bulan, karena lift di apartemen tersebut dengan dalam perbaikan yang membuat Tirta mempercepat langkahnya menaiki setiap anak tangga menuju lantai Apartemen Bulan.
Sesampainya di lantai tersebut, Tirta dihadirkan pemandangan koridor yang panjang bergaya hotel dengan deretan pintu Apartemen dengan nama masing-masing pemiliknya di atas pintu yang dimana pintu tersebut hanya bisa di akses dengan Go-Card milik si pemilik Apartemen.
Tirta berjalan dengan pasti melirik kanan dan kiri mencoba mencari nama "Bulan" diantara beberapa nama disana, sudah empat ruang dia lewati hingga akhirnya ia berdiri didepan kamar dengan nama "Bulan" diatas pintunya.
Wajah Tirta berubah sedikit sumringah menatap nama yang tercetak disana, senyum diwajahnya tergambar sempurna, ia memiliki satu titik harapan dan semoga takdir kini tidak mengecewakannya.
Tirta menekan bel pintu yang hanya bisa didengar dari dalam ruang si pemilik ruangan, sekali tekan, dua kali tekan sampai tiga kali tekan sampai seorang perempuan dengan senyum manisnya keluar dari ruangan tersebut.
"Cari siapa?" tanya Bulan yang belum mengenali Tirta.
Tirta mendongakkan kepalanya menatap wajah Bulan kemudian tersenyum dihadapan gadis itu. "Mbak Bulan yah?"
"Yah, saya sendiri,"
Tirta mengulurkan tangannya kepada Bulan. "Perkenalkan saya Tirta, kedatangan saya kesini ingin bertanya apakah Mbak Bulan mengetahui keberadaan Dea?"
Bulan terdiam, ia menatap Tirta sejenak membiarkan tangan itu tanpa sambutan sebelum ia sadar dan menyambut salaman tangan Tirta.
"Ma-maaf, tapi saya kurang tahu keberadaan Dea, mungkin Mas-nya bisa tanya sama temennya yang lain," jawab Bulan gugup.
Seketika wajah Tirta yang tadi cerah berubah kusam namun senyum tetap mengembang disana. "Oh begitu yah, terima kasih sebelumnya. Kalau Mbak bertemu dengan Dea bisa hubungi saya yah, saya khawatir sama dia, sudah dua hari ini saya cari dia tapi gak ketemu,"
Hati Bulan seketika dilema ia merasa bersalah telah membohongi Tirta namun dia juga masih terikat janji dengan Dea untuk tidak buka mulut.
"Ba-Baik, Mas,"
"Ini Kartu Nama saya, kalau ada apa-apa, Mbak bisa hubungi saya, Terima kasih kembali, selamat melanjutkan aktivitasnya Mbak," ujar Tirta berjalan meninggalkan Bulan.
Bulan masih berdiri di ambang pintu menatap kepergian Tirta dengan perasaan bersalah sampai Tirta benar-benar hilang dari pandangannya dan ia kembali masuk ke kamarnya.
Tirta meninggalkan Apartemen tersebut dengan langkah gontai, arlojinya sudah menunjukkan pukul enam sore, suara azan dari masjid terdengar bersahutan, membuat Tirta memijat pangkal hidungnya dan memilih menenangkan diri kepada tuhannya.
Tirta membasuh wajah dan tangannya dengan air wudhu yang mengalir dari keran masjid membiarkan sejuknya udara menyatu dengan tubuhnya dengan satu tujuan untuk bermunajat.
Setelah selesai Tirta segera masuk kedalam masjid tersebut untuk melaksanakan shalat berjamaah, hanya ada beberapa shaf terisi, setelah selesai dengan shalat dan doa para jamaah lain mulai meninggalkan tempat tersebut kecuali Tirta yang hanya menunduk dalam doanya.
Seorang pria paruh baya yang melihatnya menghanpirinya dan menepuk pundaknya, Tirta menengok ke arah pria yang kini tersenyum padanya.
"Tampak begitu besar masalahmu? Apa yang Allah lakukan sampai kau patah begini?" tanya pria tersebut.
Tirta tersenyum. "Saya hanya ada masalah dengan istri saya,".
"Istri atau Istri-Istrimu?" tanya pria tersebut menatap dalam sepasang bola mata coklat milik Tirta.
"Bagaimana bapak tahu?" tanya Tirta bingung.
"Dengarkan saya nak, poligami tidak dilarang dalam agama tapi poligami berbicara tentang kesanggupan kita dalam adil kepada istri-istri kita, jika memang kita sudah tidak mampu maka lepaskan mereka untuk memilih jalan kebahagiaannya, setidaknya karena kau masih mencintainya,"
"Saya sudah berada difase itu pak, tetapi ada masalah pada apa yang saya pilih,"
"Sudah kau talak yang tidak kau pilih?"
Tirta menggeleng.
"Talak dia, jangan kau gantung dia disaat kau masih berusaha memperbaiki hubunganmu dengan pilihanmu,"
Serasa ditampar dengan kalimat pria tersebut Tirta semakin menunduk.
"Jika kau hanya ingin memastikan pilihan mu baik-baik saja lantas kau biarkan yang tidak menjadi pilihanmu tergantung, itu sama saja kau menjadikan dia cadangan, sebenarnya seorang istri itu bukan pilihan tapi takdir, tapi percaya pada Allah keadaan dan takdir yang menjadikannya pilihan," ujar Pria tersebut berdiri dari duduknya. "Berdoalah nak, Allah tidak pernah mengkhianati doa yang berusaha,"
°°°°°
"Ngapain kamu Dan?" tanya Zara pada Danu yang kini tengah duduk diruang tamu rumahnya.
"Pengen kenalan sama calon mertua," jawab Danu.
"Tapi ini Maghrib Danu, lagian orang tua aku gaada," jawab Zara pada Danu. "Lagian kalau dilihat tetangga gak enak, aku ini masih istri sahnya Mas Tirta,"
"Yang tidak ditalak-talak juga," sambung Danu.
"Aku tahu itu Dan, tapi gak seharusnya kamu ngomong kayak gitu sama aku," ujar Zara duduk didepan Danu.
Danu tersenyum dan meraih tangan Zara. "Maaf Za, aku gak maksud,"
"Gapapa," jawab Zara.
Danu mengambil sesuatu dari dalam saku jas-nya sebuah kotak cincin yang didalamnya terdapat cincin dengan kepala berlian serta lingkar putih, Danu kini berlutut dihadapan Zara yang membuat Zara tidak mengerti.
"Masih dengan semua pertanyaan ku, buka hatimu Zara, aku mau menerima kamu apa adanya, menerima semua kekuranganmu dan ku pasti kan kau akan bahagia, perlu sepuluh tahun lamanya persahabatan kita untuk aku mengungkapkan perasaan ini, terjebak dalam Friendzone itu menyakitkan apalagi melihat kau berada di altar pernikahan bersama Tirta tujuh tahun lalu, jadi bisakah kau berikan aku satu kesempatan?"
Zara memandang iba Danu, dari wajah pria yang sudah tidak muda itu terpancar ketulusan dan keikhlasan.
"Maaf Danu, tapi aku belum bisa untuk menerima semua ini, aku juga belum siap menghadapi hidup baru dengan pria lain, aku tidak ingin kau kecewa, berikan aku waktu sebelum aku menentukan jawabanku,"
Danu berdiri dari posisinya, ia menutup kotak cincin tersebut. "Selama yang kamu mau, aku akan tetap menunggu,"
Zara tersenyum dan tak menolak saat Danu meraih kepalanya untuk masuk kedalam dekapan hangat Danu.
- TBC
Kubu Zara dan Danu mana suaranya!
mubeng2 wae..ra uwis2...😃😃😃