Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mendengar teriakan kakaknya, Ivanna pun keluar dari dalam kamarnya dan ke kamar kakaknya.
BRAAK. Ivanna membuka kasar pintu kamar Kriss.
"Kakak!! Kakak kenapa?" Tanya Ivanna sambil berjalan mendekati sang Kakak.
"Delia selingkuhin Kakak, Van. Dia lebih milih lelaki itu daripada Kakak." Jawab Kriss sambil terisak.
Mendengar itu Ivanna pun turut bersedih, ia sangat tau seberapa besar rasa cinta Kakaknya itu pada Delia.
Ivanna pun berjalan mendekati Kriss, lalu memeluk Kakaknya itu untuk memberi kekuatan pada sang Kakak.
"Sabar yah Kak, mungkin Kak Delia memang bukan jodoh Kakak. Dan mungkin ini lah jalan yang terbaik untuk Kakak dan Kak Delia." Ucap Ivanna sambil mengelus punggung sang Kakak.
"Gimana kalau Kakak gak baik-baik aja tanpa Delia, Van? Gimana cara Kakak harus menjalani hidup tanpa Delia? Gimana Van? Gimana?"
"Pelan-pelan Kak. Sibukkan lah diri Kakak dengan bekerja, jangan biarkan waktu Kakak kosong biar Kakak gak sempat memikirkan Kak Delia. Ivanna yakin, lambat laut Kakak pasti bisa ngelupain Kak Delia dan semua akan kembali seperti semula." Ucap Ivanna.
Kriss pun melepaskan pelukan Ivanna.
"Apa kamu yakin Van?" Tanya Kriss.
"Yakin Kak, karena Ivanna juga pernah mengalami patah hati seperti Kakak." Jawab Ivanna.
"Baik lah, Kakak akan mencobanya." Balas Kriss.
Ivanna tersenyum melihat Kakaknya sudah mulai tenang.
"Sekarang Kakak istirahat yah. Sedih boleh, mau nangis semalaman juga boleh, tapi hanya untuk satu malam ini aja. Besok pagi Kakak harus kembali kuat." Ucap Ivanna.
"Makasih yah Van, Kakak gak nyangka kamu sekarang sudah dewasa. Bahkan untuk urusan seperti ini, kamu lebih bijak dari Kakak."
"Itu karena Ivanna udah sering ngerasain sakit hati Kak, kalau Kakak kan baru kali ini." Balas Ivanna.
"Ya udah, Kakak istirahat yah." Ucap Ivanna lagi.
Kriss pun menganggukkan kepalanya dan Ivanna pun keluar dari dalam kamar sang Kakak.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas waktu Singapura.
Kriss masih belum bisa tidur. Setiap ia menutup mata, bayangan Delia muncul dalam pikirannya, kenangan indah mereka, percintaan mereka, sangat jelas terekam dalam ingatan Kriss.
"Aargh..." teriak Kriss frustasi.
"Lupain Kriss, lupain!!! Delia udah khianatin loe!!! Udah gak pantes ada dalam hati dan pikiran loe!!!" Ucap Kriss.
Ting Tong Ting Tong. Suara bel pintu unit apartemen Kriss.
"Siapa yang datang tengah malam gini?" Lirih Kriss bertanya-tanya.
Ting Tong Ting Tong. Suara bel pintu berbunyi lagi.
Kriss yang awalnya malas membuka, mau tak mau harus beranjak dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamarnya. Bersamaan dengan Kriss membuka pintu, Ivanna juga membuka pintu kamarnya.
"Siapa itu Kak?" Tanya Ivanna.
Kriss menggedikkan bahunya. Lalu kakak-beradik itu berjalan bersamaan menuju pintu.
Kriss menekan tombol monitor yang ada di dekat pintu untuk melihat siapa yang menekan bel apartemennya.
"Elena. Kak Elen." Lirih Kriss dan Ivanna bersamaan.
Ivanna pun langsung membukakan pintu untuk Elena.
"Kak Elen." Ucap Ivanna.
"Ivanna." Balas Elena. Elena pun langsung memeluk Ivanna.
"Kok Kakak gak bilang-bilang mau kesini?" Tanya Ivanna.
"Loh aku pikir Tante Lastri udah bilang." Balas Elena pura-pura sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ivanna.
"Jangan ngobrol di depan pintu, ayo masuk." Potong Kriss lalu berjalan masuk ke dalam.
Sedangkan Ivanna membantu Elena membawakan koper yang Ivanna bawa.
"Kakak mu kenapa?" Tanya Elena saat melihat wajah Kriss yang ketus. Ia pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Baru putus cinta Kak." Bisik Ivanna.
Ivanna menghentikan langkah kakinya lalu menengok Ivanna dengan raut wajah kaget.
"Serius? Bukannya mereka mau nikah?" Tanya Elena.
"Serius Kak."
"Kenapa, kok bisa? Aku pikir mereka pasangan yang gak bisa terpisahkan." Tanya Elena lagi.
"Belum jodoh Kak." Balas Ivanna.
Elena hanya menganggukkan kepalanya menyetujui kata-kata Ivanna. Mereka pun kembali berjalan menuju ruang tengah, dimana Kriss sudah duduk disana.
Bersambung...