Jika kau menyebut rasa sepi merupakan suatu hal yang harus kaubunuh, lalu membuangnya di riang tawa yang paling dalam, berarti itu tidaklah berarti bagiku.
Aku memeluk rasa sepi seakan rasa itu diciptakan Tuhan hanya untukku sendiri. Separuh hatiku mati oleh sunyi yang bersiul dengan irama yang lambat.
Semuanya berubah ketika aku menemukan wanita tergila yang pernah aku temui di dalam hidup.
Wanita dengan impian gila untuk memberi makan pinguin di Antartika, melihat naga di Laut Cina Selatan, lalu mencari kodok sebesar kucing di daratan Afrika.
Wanita yang berani menyelam di laut lepas
Wanita yang membawaku bersampan di danau, serta mengarungi lautan luas.
wanita yang berani menemuiku dengan cara memanjat gedung fakultas.
Aku tidak tahu momen gila apa lagi yang akan menyeretku.
Tunggu saja, wahai kawanku. Kau akan melihatnya nanti.
"Hei, kau yang sedang berdiri! Sikat kapal ini, pemalas!!!" Ia berteriak memerintah padaku
Ia adalah Reira.
Oh ... bukan.
Ia adalah Captain Reira.
"Gue mau merasakan betapa indahnya menunggu pagi dari ketinggian segitu. Di saat itu, lo bakal sadar jika dunia itu terlalu sempit jika lo hanya berjalan di satu titik. Dunia bisa lebih dari itu."
Beberapa jam sebelum kami bertemu di puncak Bromo.
*Mari taburkan komentar dan like teman-teman :)
UPDATE SETIAP HARI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang_JAI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Sungguh menyenangkan berbincang-bincang dengan anak-anak yang Reira anggap sebagai awak kapalnya. Mereka menghormatiku seperti hormat kepada bendera sembari menyebutkan jabatanku sebagai wakil kapten. Baru kali ini aku mendapat jabatan, walaupun jabatan itu hanya berada di dalam imajinasi kami masing-masing.
Nasi bungkus yang aku bagikan tidak bersisa sedikit pun. Mereka memakannya bersama-sama, bahkan ada yang ingin membawa pulang bagian yang tidak termakan. Mereka masih bertahan untuk bermain di keliling api yang mereka hidupkan di dalam tong besi. Nyanyian nyaring anak-anak itu terdengar hingga rooftop gedung tempat diriku memerhatikan tawa Reira di bawah senyuman rembulan. Baru aku sadari jika Reira mempunyai lesung pipi yang bersembunyi di balik senyum pipi kanannya, serta sebuah tahi lalat yang bersembunyi di balik telinga.
"Gue senang banget hari ini. Terima kasih udah mengajak gue ke sini," ucapku sembari menghidupkan tembakau malam.
"Tidak, harusnya gue yang berterima kasih karena lo udah mau jadi cahaya baru bagi mereka." Ia bergerak selangkah untuk melihat ke bawah gedung.
"Sejak kapan lo jadi kapten mereka?" tanyaku.
"Sewaktu pertama kali gue ngelihat mereka ngamen di depan mobil gue. Trus, gue ngajakin mereka semua makan di restoran ayam goreng dengan pakaian kumuh mereka. Satpamnya aja sampai ngehadang gue buat masuk."
"Hah, beneran? Lo gila banget." Aku tertawa.
"Enggak semua orang yang bisa makan di restoran. Mereka rata-rata pengamen dan anak-anak dari perkampungan kumuh di dekat sini," balasnya. Matanya menatapku sejenak. "By the way, Fasha bagaimana?"
Pertanyaannya membuatku tersenyum kecil. Ia mengingatkanku hal yang sempat aku lupakan. "Begitulah, gue enggak ada komunikasi. Padahal, dulu akrab banget. Gue sama dia udah sahabatan dari SMA."
Bibir Reira menarik senyum, walaupun hanya setengah. "Pria dan wanita itu enggak bisa berteman begitu lama. Salah satu dari mereka pasti akan bisa menyimpan sebuah rasa."
"Itulah yang terjadi sama gue. Fasha membuat gue jatuh hati, hingga semua yang udah bangun selama ini berakhir dengan sia-sia."
Ia terdiam sesaat, lalu menatapku dalam. "Lo mau tahu satu rahasia?"
"Apa itu?" tanyaku balik.
"Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan sebuah magnet di hati mereka, sehingga sangat sulit untuk tidak jatuh cinta."
"Teori bodoh dari mana itu?" tanyaku sembari tertawa.
"Entahlah, tapi itulah kenyataannya." Reira mengangguk. Matanya menyipit menatapku. "Itu bisa aja terjadi sama kita berdua."
"Hahaha ... gue kadang lupa kalau lo juga wanita." Aku berhenti sejenak. Kembali aku telaah kalimatnya tadi. "Maksud lo?"
"Kita bisa jadi saling jatuh cinta," ulangnya kembali. "Lo mau tahu rahasia yang kedua?" Reira berhenti menatapku.
Aku menggeleng. Reira kembali berceloteh mengenai hal-hal yang kadang terdengar gila. "Rahasia yang kedua?"
Aku mendengarkan helaan napasnya dalam sunyi yang tercipta. Kuperhatikan detail wajahnya dalam jarak sedekat ini. Hidungnya tepat membentuk garis mancung sempurna. Bibirnya tipis dengan sedikit lekukan di bagian bawahnya. Tidak ada yang lebih menarik dari matanya yang bening itu, menarikku dalam bayang-bayang yang terbentuk saat ia menatapku.
"Hati gue berada di kutub yang sama dengan yang lo punya," jawab Reria.
Detik itu menjadi titik di mana aku menyimpulkan bahwa ia tetap akan menjadi kaptenku yang akan membawaku kepada semua momen yang tidak bisa aku duga sebelumnya. Kurasa, pikiran yang awalnya menganggap Reira sebagai serangga pengganggu, kini berubah menjadi wanita yang selalu kutunggu kehadirannya. Momen demi momen yang kuanggap sangat membuatku kesal, pada akhirnya menjadi spesial. Aku ingin selalu merasakan itu, mengarungi kapal kecilnya menuju imajinasinya yang tidak berujung.
"Tapi, Tuhan selalu punya rencana yang enggak pernah lo duga. Who knows? Mungkin lo duluan yang jatuh cinta ke gue." Ia menepuk pundakku dengan tawa liciknya.
***