Aku mencintai suami sahabatku
Nur bertekad menjadi noda dalam pernikahan Reza dan Tanti. Reza adalah mantan kekasihnya, sedangkan Tanti adalah sahabatnya.
Nur rela menceraikan suaminya atas perintah Reza. Namun, Reza mengingkari janjinya. Ia tak mau melepaskan Tanti dan tak ingin kehilangan Nur dua kali.
Apakah Nur akan tetap menjadi noda dalam perkawinan Reza dan Tanti? Atau justru menyerah dan melepaskan cinta pertamanya bersama wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pov Reza
Malam hari ketika aku membelikan makan malam untuk Tanti, aku sempat menelepon Nur. Aku mengatakan kepadanya jika aku bersedia menikahinya besok dengan syarat harus mengatakan pernikahan ini kepada ibunya.
Nur awalnya menolak. Tidak mungkin ia melakukan itu. Apalagi Ibu Nur sangat mengenal Tanti dan sudah menganggap Tanti seperti anaknya sendiri.
Nur tetap tidak ingin melakukannya dan tidak berani untuk mengatakan kepada ibunya. Akhirnya aku yang akan mengatakannya sendiri besok pagi ketika aku menjemputnya.
Sesampainya di rumah, Tanti sudah menungguku. Tak ada masalah berarti yang harus aku selesaikan dengan Tanti. Sepertinya istriku sama sekali tidak curiga. Bahkan dia yang menyuruhku untuk menerima tawaran pekerjaan palsu yang sudah ku katakan kepadanya.
Keesokan paginya ketika Tanti belum bangun, aku sudah menyiapkan barang-barangku. Aku membawa semua pakaian yang mungkin aku butuhkan dalam waktu seminggu ke depan. Aku melihat Tanti yang ternyata sangat nyenyak. Lantas aku segera membersihkan diri dan ketika aku keluar dari kamar mandi pun Tanti sepertinya masih belum ada tanda-tanda akan bangun.
Agar tidak merepotkannya ketika aku pergi, aku memutuskan untuk berbelanja kebutuhannya selama seminggu. Aku yakin dengan adanya kebutuhan dapur Tanti tidak akan membuang waktunya untuk pergi ke warung tetangga untuk berbelanja. Apalagi kondisinya masih sangat lemah setelah kuretase kemarin.
Maafkan aku, Tanti. Aku harus meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. Di luar sana ada cinta pertamaku yang membutuhkanku. Ada anak yang sedang dikandungnya yang harus aku beri tanggung jawab. Bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu dan menganggapmu sebagai istriku. Tapi sekali lagi ku katakan, aku tidak bisa meninggalkan Nur.
Rupanya saat aku kembali berbelanja, Tanti sudah menungguku di teras. Aku mengatakan apa tujuanku membelikan belanjaan untuknya. Aku juga sudah membawa semua barang-barang yang tadi ku beli dan meletakkannya di dapur. Biarkan Tanti sendiri yang menatanya atau mungkin Tanti akan membawanya ke rumah orang tuanya. Karena Tanti mengatakan kepada ku bahwa selama aku berada di luar kota nanti, ia akan menginap di rumah orang tuanya.
Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil koperku. Kemudian aku mengambil uang tabunganku yang selama ini aku simpan diam-diam. Tidak ada rencana jika uang tabungan ini akan ku gunakan untuk menikahi Nur. Tetapi untuk apa jika bukan untuk 2 wanita yang ada di hatiku? Aku memberikan seperempat tabunganku dan ku letakkan di atas meja rias Tanti. Jumlahnya mungkin sekitar 10 juta rupiah. Sedangkan sisanya aku bawa pergi untuk keperluan pernikahanku dengan Nur, dan juga untuk membiayai selama Nur hamil dan biaya persalinannya kelak.
Aku bergegas menuruni tangga dan berpamitan kepada Tanti tanpa memberitahukan kepadanya jika aku sudah memberinya uang. Tanti pasti akan sangat terkejut dan bahagia karena selama ini aku tidak pernah mengatakan jika aku memiliki simpanan uang yang cukup banyak. Tanti hanya tahu jika 80% gajiku, kuberikan untuknya.
Aku melihat Istriku dari spion mobil. Ia memandangku seperti takut kehilangan dan tak ingin berpisah lama-lama denganku. Maafkan aku, Tanti. Aku harus membagi waktuku sekarang karena sebentar lagi aku akan memiliki 2 istri.
Tujuan pertamaku adalah menuju kediaman Nur untuk memberitahukan masalah ini kepada ibu Nur.
Nur sudah menungguku di depan rumah. Aku melihat wajahnya yang gelisah. Pasti dia khawatir jika ibunya akan menolak dan tidak merestui pernikahan yang akan kami lakukan sebentar lagi.
Aku keluar dari mobil dan meyakinkan Nur jika dia pasti akan berhasil meyakinkan ibunya.
"Di mana ibumu, Nur? Kita harus mengatakannya sekarang. Aku sudah memberitahukan teman-temanku untuk membantu acara pernikahanku denganmu."
"Sebentar, Mas. Aku panggilkan dulu."
Tak berselang lama Ibu Nur datang menemuiku yang masih berada di teras.
"Ada apa, Nak Reza?"
"Begini, Bu. Saya tidak bisa basa-basi lagi. Aku dan Nur sudah saling mencintai sejak kami masih sekolah dan sampai saat ini kami masih saling mencintai. Meski pun aku sudah memiliki Tanti."
"Maksudmu?"
"Mungkin aku salah di mata Ibu. Selama ini aku menjalin hubungan rahasia dengan Nur di belakang Tanti. Dan Nur sekarang hamil."
"Apa? Tega-teganya kau melakukan itu kepada putriku, Reza! Kau ini memiliki istri! Apa yang akan terjadi dengan putriku?" Ibu Nur langsung menangis tak percaya mendengar apa yang aku katakan.
"Aku akan bertanggung jawab. Hari ini aku akan menikahinya. Aku datang ke sini untuk meminta Restumu dan restu Bapak Nur."
"Nur! Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuat malu Ibu dan Bapak? Setelah kau bercerai dengan Wisnu, dan sekarang kau hamil dengan suami sahabat sendiri? Di mana akal sehatmu, Nur! Bapak sakit-sakitan. Dia masih tetap bekerja demi kita. Tapi apa yang kau lakukan ini?"
"Maafkan aku, Bu. Tapi aku juga mencintai Mas Reza. Itulah sebabnya aku memilih bercerai dengan Mas Wisnu. Tolong restui kami, Bu. Ibu dan Bapak akan lebih malu jika aku melahirkan anak tanpa seorang ayah kan? Kita tidak usah memberitahu Bapak masalah ini. Nur takut Bapak akan sakit memikirkan ini. Bapak sudah berangkat kan?"
Aku tahu Ibu Nur terpaksa merestui hubungan kami. Tapi apa yang dikatakan Nur memang benar. Ibu dan Bapaknya akan lebih malu jika anaknya melahirkan bayi tanpa seorang ayah. Akhirnya Ibu Nur pun bersedia menerimaku menjadi seorang menantu. Tetapi pernikahan ini untuk sementara akan dirahasiakan dari Bapak Nur.
"Ibu bersiap-siaplah. Nanti temanku akan ada yang menjemput Ibu ke sebuah rumah di mana aku dan Nur akan menjalani ijab qobul. Tapi Maafkan aku, Bu. Aku hanya bisa menikahi Nur secara siri saat ini, karena pernikahan ini aku lakukan secara diam-diam tanpa diketahui Tanti."
"Terserah kalian saja. Sebenarnya ibu sangat kecewa. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ibu tidak bisa membiarkan putriku melahirkan seorang anak tanpa suami dan asalkan kau tahu Reza! Ibu sama sekali tidak membenarkan perbuatanmu. Tapi Ibu pun bingung jika ibu tidak merestui kalian, putriku yang akan sangat menderita."
"Sudahlah, Ibu. Sebaiknya ibu masuk ke dalam dan bersiap-siaplah. Aku dan Mas Reza akan pergi duluan untuk membeli cincin pernikahan," kata Nur kepada ibunya.
Aku melihat raut kesedihan di wajah Ibu Nur. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang penting aku sudah mendapatkan restu jika aku dan Nur akan menikah secara siri. Urusan Bapak Nur akan aku pikirkan nanti. Yang pasti, aku terpaksa mencari wali hakim agar pernikahan ini bisa terjadi. Bapak Nur memiliki riwayat sakit jantung. Aku tak mau terburu-buru mengatakan kepadanya. Tapi aku dan Nur pasti akan jujur setelah kami resmi menikah nanti.
Aku segera menuju pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota tetangga. Aku membelikan beberapa perhiasan untuk Nur dan juga cincin yang dipilih langsung olehnya. Setelah itu, aku langsung menuju rumah temanku, karena ijab qobul akan dilangsungkan di sana.
Aku sengaja mengundang beberapa teman dekatku yang tahu masalah perselingkuhanku dengan Nur. Awalnya mereka semua menentang dan tidak mendukungku, tapi ketika mengetahui Nur hamil, mereka pun akhirnya sependapat denganku jika aku harus bertanggung jawab.
Penghulu yang sudah menunggu cukup lama akhirnya langsung menikahkanku dengan Nur di hadapan Ibunya.
Para saksi baru mengatakan sah. Akhirnya Nur resmi menjadi istriku. Meski sebagai istri siri. Aku sangat bahagia karena cinta pertamaku akhirnya benar-benar ku miliki. Walau dia hanya menjadi yang kedua.
"Mas Reza, Nur, apa yang kalian lakukan di belakangku?" Aku langsung menoleh ketika mendengar suara Tanti di belakangku.
"Ibu! Tega-teganya Ibu merestui pernikahan anakmu dengan suamiku?"
Tanti? Bagaimana bisa dia datang ke mari? Bahkan bersama Fadli? Siapa yang memberitahunya? Apa mungkin salah satu temanku ada yang berkhianat dan memberitahukan segalanya kepada istriku?
"Reza, siapa dia?" Penghulu yang masih duduk di depanku bertanya.
"Aku tidak mengenalnya," jawabku dengan terpaksa. Aku tidak mungkin mengatakan kepada penghulu jika aku sudah memiliki istri.
"Jadi begini maumu, Mas? Aku akan ikuti permainanmu!" bentak Tanti dengan mata yang membulat.
Bersambung ....
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu