Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Undangan Untuk Mantan
Seperti yang sudah dijanjikan pada Papa semalam, hari ini Raihan dan Kirana datang ke mapolda untuk membagikan sendiri undangan pernikahan mereka sekaligus menyapa rekan kerja Papa. Semua yang mereka temui memberikan sambutan yang baik, bahkan beberapa ada juga yang menggoda Papa. Papa Bagus dan Papa Nandar memang bersahabat sejak di Akademi dan setelah berpisah cukup lama mereka disatukan kembali dengan cara yang semanis ini.
Raihan dan Kirana memang mendapatkan sambutan dan ucapan selamat dari banyak orang, tapi tidak sedikit juga yang bertanya kenapa tunangan Kirana yang dikenalkan setahun lalu berbeda dengan yang akan menikah dengannya sekarang. Kirana terdiam ketika ada yang menanyakan itu, namun dengan lapangnya Raihan membantu menjawab semua pertanyaan itu. Dia dengan senang hati menjelaskannya dengan cara yang tidak menyakiti Kirana juga Papanya.
“Setelah ini kalian akan kemana?” tanya Papa pada keduanya setelah selesai acara pagi itu.
“Mumpung sedang tidak shift, kami mau sekalian membagikan undangan ke teman-teman dan saudara yang dekat, Pa,” kata Raihan.
“Ya sudah kalau begitu hati-hati ya,” kata Papa.
“Pamit Pa, assalamualaikum,” kata Kirana sambil cium tangan pada Papanya.
“Waalaikumsalam,” jawab Papa.
Kirana kembali mengunjungi polres hari itu. Kirana jadi ingat ketika beberapa minggu lalu dia datang untuk melaksanakan sidang pernikahan. Padahal dia tidak pernah bercita-cita menikah dengan seorang abdi negara. Sejak kecil dia hidup dalam lingkungan itu, dan dia melihat sendiri bagaimana Mamanya selalu berusaha tegar mendampingi Papa. Apalagi Papa kan di brimob yang terkadang memaksa Papa bertaruh nyawa dan tugas di luar daerah selama berbulan-bulan lamanya.
“Aku beneran nikah nih sama Abang?” tanya Kirana.
“Dek…,” kata Raihan yang pura-pura merajuk. Dia tahu Kirana hanya menggodanya.
“Xixixi nggak Bang. Iya iya Kirana nikahnya sama Abang, tapi Bang Kirana antara siap nggak siap jadi seorang bhayangkari. Kirana mohon maklum ya kalau Kirana belum bisa bertindak sesuai sama pangkat Abang,” kata Kirana.
“Nggak papa. Abang pikir tidak ada wanita di dunia ini yang benar-benar siap menjadi pendamping seorang abdi negara. Mereka hanya menguatkan dirinya untuk bisa mengikuti gaya hidup yang dipilih oleh suaminya. Itulah kenapa ketika sidang nikah kita kemarin Abang benar-benar ditanya apakah Abang bisa bersikap baik padamu atau tidak. Karena selain cinta, kasih sayang dan perhatian apalagi yang bisa kami berikan. Harta kami tidak punya, pangkatpun bukanlah hal yang bisa dibanggakan karena semakin tinggi pangkat di bahu semakin berat pula beban yang ditanggung oleh keluarga.”
“Sudah begitu keluarga seorang abdi negara juga dituntut untuk bisa memberikan contoh yang baik pada masyarakat kan? Salah sedikit saja pasti langsung menjadi sorotan. Kamu pasti paham Dek, karena kamu sudah melihat langsung perjuangan Mama selama ini,” kata Bang Raihan.
“Paham Bang, lebih dari paham. Itulah kenapa aku takut,” kata Kirana.
“Nggak usah takut. Kan ada Abang. Abang pasti akan negur kamu kalau kamu keliru. Karena kamu akan jadi tanggung jawabnya Abang mulai sekarang,” kata Raihan.
Tok tok tok
Baru Kirana akan bicara lagi, ada seseorang yang mengetuk jendela mobil di sebelah kanan Bang Raihan. Kalau tidak salah kenal, dia adalah partner kerja Bang Raihan di TPP, Bang Deden.
“Bro, mau sampe kapan pacaran di dalem mobil?” tanyanya.
Kirana dan Raihan jadi sadar sejak tadi mereka masih ada di dalam mobil, mana sekarang jarak mereka cukup dekat ditambah tangan mereka sedang bergandengan. Raihan akhirnya mengajak Kirana untuk turun agar tidak dikira melakukan adegan yang iya-iya di dalam mobil.
“Iya gue paham lo mau nikah. Tapi nggak begini juga cara lo pamer bro,” katanya.
“Cerewet. Bantuin gue tuh bawain kuenya terus taruh aja di meja gue,” kata Raihan.
“Punya gue dulu mana?”
“Ini punya Abang aman sama Kirana. Jangan lupa datang ya Bang,” kata Kirana.
“Oh jelas. Ngomong-ngomong selamat ya. Selamat bergabung dalam dunia penuh pengabdian,” katanya lagi.
“Makasih Bang,” jawab Kirana yang kemudian mengikuti langkah Bang Raihan masuk ke dalam mapolres.
Selesai membagikan undangan di mapolres, sekarang giliran kepada kerabat yang masih terjangkau. Mereka mengunjungi rumah om dan tante Kirana di Bantul, juga rumah kakek Bang Raihan di Pakem dan terakhir mereka mampir ke cafe untuk memberikan undangan kepada teman-teman Kirana di cafe.
“Hahhh capek banget aku,” kata Kirana.
Raihan tertawa. Pasalnya begitu sampai di cafe Kirana langsung merebahkan dirinya duduk di sofa ruang karyawan. Raihan ikut duduk di sofa yang lainnya tapi masih berhadapan dengan sofa dimana Kirana duduk. Raihan menyandarkan punggungnya dan langsung memejamkan mata. Mereka sudah memutari Jogja seharian ini, ditambah akhir-akhir ini mereka sibuk menyiapkan ini itu.
Tak lama berselang, Kirana menyadari Raihan sudah tidur dengan posisi yang sebenarnya tidak begitu nyaman. Kirana perlahan menyelimutinya kemudian melangkah keluar memberikan privasi pada calon suaminya itu untuk istirahat.
Beberapa saat kemudian, Raihan terbangun. Dia kaget karena menemukan dirinya duduk di ruangan yang asing. Beberapa saat mengerjap baru dia ingat dia berada di mana. Raihan bangkit berdiri, meregangkan tubuhnya kemudian melangkah keluar mencari Kirana yang dia temukan sedang mencuci piring di dapur.
“Maaf ya Abang ketiduran,” kata Raihan.
“Nggak papa sih Bang,” jawab Kirana yang tetap fokus pada pekerjaannya.
“Tapi kan kamu jadi nggak bisa istirahat, Dek. Padahal kalau tadi kita langsung pulang kamu jadi bisa istirahat di rumah. Toh kegiatan kita hari ini sudah selesai kan,” kata Raihan.
“Hmm, kata Mama yang di luar Jogja mau dikirim saja. Terus Nenek di Purbalingga Papa yang mau jemput lusa sama Mama karena kan Abang belum libur,” kata Kirana menjelaskan.
“Ya sudah pulang yuk Dek,” ajak Raihan.
“Abang…, sebenarnya ada satu undangan yang belum aku kasihkan. Tapi aku bingung apakah undangan itu harus kukirimkan atau nggak.”
“Undangan untuk Keenan?” tanya Raihan yang sudah menyangka.
“Bagaimana Abang tahu?”
“Memangnya untuk siapa lagi. Kalau sampai kamu sebingung ini kemungkinannya hanya satu.”
“Maaf ya Bang. Aku sudah menyakiti Abang berkali-kali,” kata Kirana menyesalinya. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak menyebutkan nama itu lagi dihadapan Raihan.
“Kamu dan Keenan memang sudah usai, tapi tali silaturahmi antara keluargamu dengan keluarga Keenan belum usai. Tidak baik memutuskan hubungan persaudaraan. Kirimkan saja, Abang nggak papa kok,” kata Raihan.
“Tapi Kirana tidak tahu harus mengirimkannya kepada siapa. Kedua orang tua Keenan sudah pindah dan dia sendiri bagaimana kabarnya aku tidak tahu. Dia bukan hanya menjauh dariku, tapi Lucy dan Ningrum juga. Tidak ada satupun yang tahu dimana dia,” kata Kirana.
“Coba kamu tanya Abangmu. Barangkali dia tahu kabarnya,” kata Raihan.
Ketika sampai di rumah, Kirana langsung mendekati Adnan dan menanyakan padanya soal kabar Keenan. Begitu mendengar pertanyaan sang adik, Adnan memucat, sekujur tubuhnya tiba-tiba jadi dingin tapi dia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Abang, aku tidak akan menuntut Abang memberi kabar tentang keenan. Toh hubunganku dengannya sudah usai Bang. Aku hanya ingin minta tolong pada Abang untuk menyerahkan undangan ini pada Ayah dan Bunda. Aku sudah tidak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan Ayah dan Bunda. Abang nggak perlu ragu, kalau Abang tahu Abang boleh serahkan undangan ini, Bang Raihan juga yang menyarankan padaku untuk mengirimkannya,” jelas Kirana.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor