Shakira baru saja memulai lembaran baru di bangku kelas 2. Namun siapa sangka di halaman pertamanya ia bertemu dengan Aji, sosok pria yang notabene digandrungi banyak hawa karena image cool yang keterlaluan.
Pada kenyataannya lain untuk gadis temperamen semacam Shakira, di mana ia menemukan image sebenar dari Aji. Dari itu pula misteri tentang Aji mulai merangsang keingin tahuan Shakira. Satu per satu akan Shakira temukan dalam tiap lembaran kertas kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reirin Mitsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Last Page. Wo Ai Ni, Shakira
Tiga bulan kemudian ....
Seorang bapak berumur 40-an memantapkan diri untuk berdiri di depan peserta upacara—di sebuah pilar satu petak dengan tinggi sepinggang pelajar kelas 11. Beliau mengetuk-ngetuk ujung mikrofon sebelum akhirnya ia berdehem mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Dengan penuh wibawa, bapak bergelar kepala sekolah mengucapkan salam kepada seluruh rakyat sekolah yang turut hadir mengikuti upacara bendera.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" Mereka menyahut salam dengan antusias, lebih tepatnya penuh rasa malas. Apalagi Shakira dan Nami yang tak biasa menoleh ke belakang, mereka ada di barisan paling depan.
"Mi, pegel kaki gua berdiri terus," keluh Shakira mengerling malas.
"Lah, gue juga sama," timpal Nami membalas kontak mata Shakira, sama seperti yang Shakira lakukan. "Kenapa coba, kudu ada pengumuman kayak begini? Buang-buang tau."
"Kita pasrah aja, Mi." Lantas, mereka mendengarkan apa yang Bapak kepala sekolah sampaikan.
"Selanjutnya, ada kabar membanggakan untuk kita. Saat olimpiade Kimia tingkat provinsi, sekolah kita menuangkan prestasi sebagai juara 1. Nama siswa yang ikut serta dalam ajang menakjubkan di sana adalah saudara Aji, dari kelas 11 MIPA 4."
Suara lantang dari bapak berkumis tebal itu menuai banyak tepuk tangan dan sorak dari seluruh penjuru barisan, terlebih kelas 11 MIPA 4 yang berteriak terkejut akan pernyataan dari kepala sekolah. Mereka memang tak tahu, hanya Shakira dan Nami saja yang mengetahuinya.
Mereka tak mau menyebar kabar menggembirakan ini karena mereka punya alasan yang tak masuk akal.
"Namun sayang sekali, saudara Aji dikabarkan tak bisa masuk hari ini. Beliau kelelahan setelah berjuang mempertaruhkan kemampuan berpikirnya di sana," sambungnya yang membuat para peserta upacara mengeluh kecewa.
Shakira sama sekali tak berekspresi hari ini. Ia mematung, bahkan saat Nami bertanya pasal ketidakhadiran Aji ia abaikan.
Kenapa lu bohongin semua orang? Gadis pemilik iris emerald ini mengepal erat, ingin sekali ia menonjok wajah Aji sekarang juga.
Setelah pengumuman dari kepala sekolah, selebihnya berupa pengumuman kepada seluruh pengurus eskul rohis untuk berkumpul untuk rapat. Waktu itu rapat sempat tertunda oleh adanya sosialisasi yang berupa kedatangan kampus swasta bagi pelajar kelas 12.
Semuanya bubar, kecuali Shakira yang tetap mematung dan Nami yang berusaha menyadarkan sahabatnya. Berkali-kali Nami mengguncang tubuh kecil Shakira sambil menyerukan namanya, tapi ujung-ujungnya ditepis kasar. Shakira pergi ke masjid dan duduk di anak tangga pertama, memandangi pemandangan dengan tatapan kosong.
Ah, Nami tahu ini. Ia tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mendesah panjang sambil tersenyum tipis, berjalan menghampiri dan duduk di samping Shakira. Nami juga bertopang dagu sambil sesekali melambai dikala teman-temannya menyapa.
"Gua gak percaya Aji ngebohongin semua orang," ucapnya murka.
Nami membiarkannya, ia jadikan dirinya sendiri sebagai pendengar.
"Gua gak bakal setuju kalau Aji gak mau menonjol di depan orang banyak pakai cara yang gak baik. Argh!" Shakira menepuk pahanya sendiri saking geramnya. "Gua benar-benar kecewa sama tuh cowok!"
"Yah, mau bagaimana lagi, Kir." Nami berucap sambil mengangkat bahu, beralih melepas sepatu warrior warna hitam. Ia berdiri. "Gue masuk duluan."
Sekarang, sahabatnya tak punya sisi kompromi untuk saat ini! Bila perlu, Shakira tak keberatan menuliskan satu kalimat di sebuah prasasti yang akan menjadikan sejarah dalam hidup planet Bumi. Kalimatnya berupa ....
"Ini adalah halaman paling buruk yang pernah gua alami, yang paling pengen gua hapus dalam memori gua!" —Shakira
Keputusan Aji sungguh bikin Shakira bete! Beteee, bete! Ia bertopang dagu dan menggembungkan pipinya. Sengaja ia tak masuk ke masjid, lebih baik ia redam semua kekesalannya.
"Assalamualaikum." Suara derap sepatu warrior terdengar jelas di telinga kiri Shakira. Ah, kedatangan sang pemilik bariton sedikit nyaring itu kembali mendatangkan kekesalan Shakira.
Shakira melirik kesal. Ia menyahut dengan nada ketus, "Waalaikumsalam."
"Kenapa? Kamu marah sama aku?" tanyanya bermimik sedih, ikut duduk di samping kiri Shakira.
"Yang lu liat ples rasain tuh apaan?!" Shakira memutar bola. Bibir bawahnya maju berhembus karbon dioksida.
Pemuda bersurai cepak hitam itu tak menggubris, malah perasaannya makin sedih.
"Lu sudah kecewain gua, Ji," sambungnya memulai perdebatan. "Kenapa lu gak kasih tau gua secara jujur? Kalau caranya kayak begini, dari dulu gua sudah gak setuju sama keputusan lu!"
"Kamu marah sama aku?" Disaat seperti ini, Aji bertanya dengan santai? Yang benar saja! Bahkan dia memamerkan senyum jahilnya.
"Sekali lagi lu nanya dapat kentut Didin dah!" Shakira memicing menahan amarah.
Aji mendesah panjang, merogoh sesuatu di dalam saku celana kelabu. Ujung celana Aji sedikit kepanjangan, sebab itu ia memilin ujung celananya sebanyak dua kali. Hm, lagi-lagi authornya menghitung. Jemari besarnya menari-nari di atas benda pipih bernama ponsel android, lalu menyodorkannya pada Shakira.
"Nih, baca." Begitulah intruksi Aji. Awalnya Shakira mengerling tajam pada barang milik Aji, hingga ia mau menerima sodoran Aji. Iris emerald Shakira terpampang sebuah chat dari seseorang, ia tak kenal. Di sana tertulis nama kontaknya Mbak Lina.
Aji: Assalamualaikum, Mbak. Ini Aji, mau tanya.
Mbak Lina: Maaf, saya gak bisa jawab salam kamu. Saya non-muslim. Mau tanya apa?
Aji: Kalau gak salah, hadiah juara 1 itu beasiswa ke UGM yaa??
Mbak Lina: Iya, Dek. Kenapa?
Aji: Buat hadiah beasiswa itu, bisa gak Mbak tulis nama penerima beasiswa pakai nama teman saya?
Mbak Lina: Lho? Kok pake nama teman Adek? Kan, pemenangnya Adek.
Aji: Iya, Mbak. Tapi, temen saya jauh lebih butuh beasiswa itu.
Aji: Saya punya alasan tersendiri kenapa saya pengen nama penerima beasiswanya tertulis nama temen saya.
Mbak Lina: Pesan suara
Aji: Pesan suara
Mbak Lina: Pesan suara
Aji: Pesan suara
Shakira mengernyit, ia penasaran dengan isi pesan suara. Segera, jari telunjuknya menekan tombol paling atas di bagian kiri guna menambah volume suara dan menekan ikon segitiga ke samping kanan. Speakernya pun ia dekatkan ke daun telinga kiri Shakira.
"*Apa alasan Adek minta tulisin nama temen Adek di nama penerima beasiswa?"
"Karena temen saya lah yang rela pakai waktu kosongnya mau ngajarin saya materi kimia sampai saya juara. Bisa, kan, Mbak?"
"Hmm, ya sudah. Nama temen Adek siapa?"
"Shakira*."
Pesan suara pun terhenti. Shakira mau mengulanginya lagi, sungguh tak percaya dengan percakapan tadi. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, dada pun terasa sesak.
"Be-benaran—lu mau k-kasih beasiswa ke gua?" Gelagapan Shakira menoleh haru.
Aji mengangguk memaksimalkan manisnya senyum di bibir oranye. "Aku benaran kasih beasiswa ke kamu. Toh, alasannya sudah jelas di situ. Kamu pengen kuliah di sana, kan?"
"I-iya tapi, lu yang menang, bukan gua." Shakira menunduk mengerjap matanya yang pedih, membiarkan tetesan air mata menetes dan meresap di sarung tangan hitam berbahan kain karet. "M-malah, gua gak ikut olimpiade yang lu ikut."
"Shakira." Tangan Aji terulur mulus, menggenggam kedua tangan Shakira penuh erat, sempat menarik perhatian Shakira sebelum gadis itu berpaling darinya. "Kalau bukan kamu yang ngajarin aku, aku bukan apa-apa di sana. Bahkan aku gak ada di sana, gak ikut olimpiade yang Nami usulin ke kamu."
Ragu-ragu Shakira tersenyum miring, menatap ke atas seperti mengisyaratkan Aji bahwa pemuda itu mengada-ada. "Ji, lu jangan ngelebih-lebihin gua."
"Makasih buat pertemuan tak terduga ini, Shakira." Aji menjeda sejenak. "Terlebih berterima kasih sama Allah soal kehadiran kamu buat aku. Tanpa kehadiranmu, tanpa sifatmu, tanpa segala tentang kamu, aku cuma seorang Aji yang pemalu. Aku cuma seorang Aji yang tak mau maju selangkah lebih jauh berhijrah demi hidupku sendiri.
"Aku sempat ngimpiin pasal kamu sih. Dari orang yang gak aku kenal, dia bilang ke aku, menjawab pertanyaan yang sepanjang hari pengen aku temui jawabannya," kata dia bercerita.
Shakira hanya mengerling sayu, mengisyaratkan sesuai rangkaian kalimat yang ia susun di kepala. Sebuah pertanyaan yang tersirat Emang pertanyaan apa yang pengen lu tanyain?
Aji menatap sekilas. "Siapa cewek sholehah yang menyadarkanku waktu aku dipenjara gara-gara kasus kakak perempuan kamu? Dan dia jawab ... bahwa itu kamu, Kir."
Shakira mendelik. Ia kembali ingat waktu dirinya diajak kedua kakak untuk ke kantor polisi, itupun karena mereka tahu bahwa Shakira takut sendirian bila ditinggal di rumah. "Jadi selama ini gua datang buat bebasin lu?"
"Bisa jadi." Aji terkekeh sumbang memamerkan eye smile, yang palsu.
"D-dasar cowok!" Sungguh, Shakira tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis dengan air mata yang semakin deras menetes di ujung dagu. Ia menunduk menggenggam erat tangan yang Aji genggam.
"Kamu baper, ya?" kata Aji masih terkekeh sumbang. "Sebenarnya, ada sesuatu yang pengen aku ungkapkan, setelah memahami perasaan yang aku rasakan ketika ketemu kamu."
Shakira tak bergeming, masih menangis haru.
"Kalau aku sudah punya pekerjaan yang layak dan juga mumpuni dengan ilmu luas, aku mau meminang kamu jadi istri aku. Kamu mau, nunggu aku?"
"Ecieee!" Serempak mereka keluar berteriak demikian, termasuk Nami yang sedari tadi mengetahui perihal tadi. Kehadiran mereka secara tiba-tiba cukup mengagetkan kedua insan beda gender itu.
"Jiah, Aji langsung ngelamar nih!"
"Cieee, yang terharu!"
"Tadi-tadi tuh di video dari awal lah!"
"Hadeh, lo pada romantisan! Penyakit buat jomblo kayak gue nih!"
"Sudah, sikat aja lamarannya, Kir!"
Aji hanya gelagapan, tak tahu dengan ekspresi apa ia membalas kedatangan mereka. Lain dengan Shakira, yang tersenyum manis menatap ke seluruh pengurus eskul rohis ....
Terutama pada Aji, sosok pemalu yang berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.
TAMAT
**Ah, akhirnya tamat juga!
Gak sia-sia aku nulis cerita di sini. Yah, hanya sekedar menuangkan cerita yang aku pikirkan dalam kegabutan hakiki. 😂😂
Inspirasi aku nulis ini??
Waktu itu aku sekedar baca-baca aja yaa, cuma sebatas baca cerpen di internet. Dan waktu aku baca salah satu cerpen islami yaa....
Aku dapet ide!
Seolah-olah kepala aku ngomong gini: "Gimana yaa kalau cowok sifatnya pemalu-pemalu gitu? Mungkin rada greget di hati aku. 🤔🤔"
Dan emang bener, itu greget banget pas aku bayanginnya! Dan kebetulan JUGA, aku ikutan lomba nulis esai di sekolah dengan tema hijrah. /menang kalah, RHS lah😂😂/
Jadi deh cerita ini, walau sempat aku tanya-tanya ke temen aku soal cowok pemalu di pandangan mereka. 😂😂😅
Maunya sih adain extra page, kira-kira kalian mau gak nih di kasih extra page biar lebih greget lagi?? Komen BIKININ EXTRA PART DONG, REI!
Mampir juga ke ceritaku yang satunya, gak kalah seru kok dari yang ini!
See you in HIC!
Reirin Mitsu**
semangat thorr nexttt❤️❤️❤️
Next thorr