IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Albert
Untuk sejenak, Fatimah bisa bernafas lega. Dia menatap nanar kepergian Rudi dengan Audy, tak lama pandangan matanya tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri di depan pagar rumahnya.
Fatimah pun jadi bertanya-tanya, siapakah pria yang datang ke kediamannya saat malam-malam seperti ini?
Fatimah memicingkan matanya, tak lama dia pun langsung membulatkan matanya saat security membukakan pintu gerbang untuk pria tersebut.
"Tuan Albert? Untuk apa dia kemari? Apa ada barangku yang tertinggal di dalam mobilnya?" tanya Fatimah pada dirinya sendiri.
Fatimah kembali menatap pria yang kini sedang berbicara dengan security yang bekerja di rumahnya, tak lama Fatimah melihat Albert mengangkat dua buah paper bag di tangan kanannya.
Bahkan dia terlihat tersenyum dengan sangat manis ke arah Fatimah, sebenarnya Fatimah merasa bingung kenapa Tuan Albert tiba-tiba datang ke rumahnya malam-malam seperti ini.
Apalagi Tuan Albert sangat tahu, jika dia sudah mempunyai seorang suami. Fatimah yang merasa penasaran pun langsung melangkahkan kakinya menuju halaman rumahnya, saat dia menghampiri Tuan Albert, Albert terlihat tersenyum dengan sangat manis ke arah Fatimah.
"Maaf, Tuan. Untuk apa anda datang malam-malam seperti ini?" tanya Fatimah.
"Aku hanya ingin memberikan kamu ini," Tuan Albert memberikan dia buah paper bag pada Fatimah.
Fatimah terlihat mengernyit heran, pasalnya logo dari kedua paper bag tersebut sangat dia kenal.
"Ini?" tunjuk Fatimah pada kedua paper bag tersebut.
"Hem, kue dari toko Callista sama Sea Food dari Resto milik Tuan Aksa." Albert menyodorkan dua paper bag tersebut pada Fatimah.
"Tapi--"
"Kamu belum makan, dan aku yakin kamu akan suka dengan apa yang aku bawa." Albert kembali menyodorkan dua paper bag tersebut ke arah Fatimah.
Mau tak mau Fatimah pun mengambil dua paper bag tersebut dari tangan Albert, kemudian dia melihat isi dari dia paper bag tersebut. Isinya kepiting saus padang kesukaan dia, dan juga cupcake buatan Bundanya yang sangat dia suka.
"Bagaimana anda tahu makanan kesukaannya saya?" tanya Fatimah.
"Nggak usah banyak nanya, mendingan sekarang kamu masuk, makan, terus tidur. Jangan memikirkan apapun yang membuat hatimu sakit," kata Albert.
Tanpa menunggu jawaban dari Fatimah, dia langsung pergi meninggalkan Fatimah. Dia merasa lega, karena tidak melihat bekas air mata di pipinya.
Fatimah memang wanita yang sangat tegar, kesedihan memang selalu datang menghampiri dirinya. Namun, dia bukan perempuan yang dengan mudah menumpahkan air matanya.
Fatimah benar-benar merasa sangat bingung dengan apa yang diucapkan oleh Albert, dia pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah dia tahu jika Fatimah dinikahi oleh Rudi hanya karena saham20%? Apakah dia tahu jika Rudi menikah kembali dengan kekasihnya? Apakah Albert tahu jika Fatimah merasa tertekan dengan rumah tangganya? Apakah Albert tahu jika dia kini sedang memperjuangkan nama besar keluarganya?
Fatimah bukan tidak ingin bercerai dengan Rudi, dia sangat ingin bercerai dengan Rudi saat ini juga. Namun dia masih memikirkan nama baik keluarga besarnya, banyak nama baik yang harus dipertaruhkan disini.
Baik dari keluarga Pramudiya ataupun keluarga Orlin, bahkan nama baik keluarga Giandra, besan dari Aksa'pun pasti akan menjadi taruhannya.
"Tuan Albert, tunggu!" kata Fatimah.
Albert yang hendak masuk ke dalam mobilnya pun langsung menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya lalu memandang Fatimah dengan lekat.
Senyum di bibirnya pun tak pernah terurai, terlihat sangat manis sekali di mata Fatimah.
"Ada apa, Nona?" tanya Albert.
Fatimah segera menghampiri Tuan Albert, lalu tersenyum tulus padanya.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, untuk apa yang sudah anda berikan kepada saya," kata Fatimah.
Albert pun tersenyum senang saat Fatimah mengucapkan kata terima kasih, dia tahu pasti jika Fatimah tidak berselera makan.
Tentu semua karena perbuatan dari suaminya, apalagi tadi Albert melihat jika suaminya malah pergi dengan wanita lain. Pasti Fatimah sekarang sedang terpuruk, pikirnya.
"Sama-sama," hanya itu kata-kata yang Albert ucapkan, kemudian Albert pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Fatimah hanya berdiri dan diam termangu di pinggir jalan, dia merasa jika dunia ini seakan terbalik. Di mana suaminya seakan mempunyai dua sisi yang berlainan, terkadang dia baik namun dia juga terkadang seperti orang yang sangat jahat yang bisa menyakiti hatinya kapan pun juga.
Tentunya bukan secara fisik, tapi secara psikis dan juga mental. Sedangkan Albert, dia hanya pria asing tetapi dia sangat baik dan perhatian kepada Fatimah.
Akan tetapi, menurutnya Tuan Albert terlalu berlebihan. Fatimah bukan siapa-siapanya, namun dia begitu perhatian seolah-olah dia adalah kekasih dari tuan Albert.
Fatimah langsung masuk dan segera menyantap makanan kesukaannya, Bibi sampai melongo dibuatnya. Padahal Fatimah tadi terlihat tak berselera, tapi sekarang dia makan dengan sangat lahapnya.
Sedangkan di Jalan....
Rudi terlihat sangat kesal, karena Audy sedari tadi hanya mengajaknya untuk berputar-putar saja mengelilingi jalanan.
Jika Rudi bertanya Audy ingin apa, dia bilang ingin makan makanan Jepang. Akan tetapi, saat sudah tiba di Resto Jepang, Audy langsung mengajak Rudi untuk pergi dari sana.
Katanya perutnya tiba-tiba terasa kenyang dan tak ingin memakan makanan tersebut, Rudi pun menurut. Rudi pun mengajak Audy untuk pergi dan berniat untuk mengantarkannya ke apartemen milik Audy.
Namun Audy menolak, dia berkata Jika dia ingin makanan yang lain. Namun, setiap berhenti di tempat tujuan Audy selalu saja berkilah. Hal itu membuat Rudi Jengah dan juga sangat lelah.
Lama-lama dia merasa sangat muak dengan kelakuan Audy, kalau saja di tak sedang mengandung benihnya, sudah dia pastikan akan menendang Audy saat itu juga.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya kesal Rudi.
"Aku ingin bersama kamu, simpel, kan?" tanya balik Audy.
"Ya ampun, Audy! Sadar ngga sih, kalau kamu udah ngabisin waktu istirahat aku. Aku cape, besok harus kerja. Masa malam-malam seperti ini masih harus kelayapan?!" ucap geram Rudi.
"Alah, bilang saja kamu mau nidurin wanita itu, kan? Ngga usah pura-pura bilang mau istirahat!" ucap Sinis Audy.
Melihat mulut Audy yang terlihat mencebik kesal, rasanya Rudi ingin memelintir bibir itu dan mengikatnya dengan karet.
"Jangan menatapku seperti itu, Rudi! Walau bagaimanapun, aku lah yang selalu memuaskan kamu. Istri kamu yang kaya itu bahkan belum tentu tahu bagaimana cara bergoyang yang bisa bikin kamu menjerit kenikmatan." Setelah berkata seperti itu, Audy membuang muka ke arah samping, dia begitu kesal melihat perubahan pada diri Rudi.
+
+
+
Met siang semuanya, jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan koment'nya, vote dan juga Hadiahnya. 🙏🙏🙏⚡