Tidak update harian 🙏🙏🙏
Adrian, seorang pria tampan yang mampu membuat siapapun terpesona saat memandangnya. Namun sikapnya yang dingin dan arogan membuat siapapun takut jika harus berhadapan dengannya. penolakan dari wanita yang dia cintai membuatnya menutup hatinya rapat-rapat.
Anindya, wanita muda yang ceria, penuh semangat dan selalu mampu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Namun kepergian orang-orang yang di cintainya, membuatnya kesepian. Apakah ia mampu bertahan?
Mereka awalnya tidak saling mengenal. Namun karena suatu hal, mereka berdua terpaksa harus saling mengenal dan menikah....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mengizinkan
Natasha
Begitu nama yang tertera di ponselnya. Ia jadi teringat tentang kejadian dini hari tadi. Pertemuan tak terduga dengan wanita itu yang membuatnya gelisah sepanjang malam hingga akhirnya tidak bisa tidur dan terlambat ke kantor pagi ini.
Flashback on
"Adrian!" wanita itu tampak terkejut bercampur senang saat melihatnya.
Pria itu hanya diam setelah menyebut namanya. Rasanya ia begitu enggan untuk bertemu dengan wanita itu kembali. Ia membalikkan tubuhnya, hendak pergi secepatnya dari sana.
Namun langkahnya terhenti saat wanita cantik itu kembali memanggilnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya sinis.
"Aku hanya ingin menyapamu. Bukankah sudah lama sekali kita tidak bertemu? Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah.
"Sepertinya kau bisa menilai bagaimana kondisi ku saat ini." jawabnya sinis.
"Baiklah! Sepertinya kau sedang terburu-buru. Kita bisa bicara lagi lain waktu." ucapnya.
Adrian tersenyum sinis. "Apa kau pikir akan ada lain waktu lagi. Bermimpilah!" ucapnya lalu segera pergi dari hadapan wanita itu.
Entah apa yang ada dibenak wanita itu. Sungguh tak tahu malu.
Flashback off
Sekarang mau apa lagi dia? Masih merasa dibutuhkan?
Adrian meletakkan ponselnya di sembarang tempat. Ia seharusnya memblokir nomor ponselnya sejak lama. Tapi rasanya ia begitu berat untuk melakukannya. Bagaimanapun juga wanita itu adalah cinta pertamanya.
Sekarang harus bagaimana. Ada baiknya jika ia tidak pernah bertemu kembali dengannya. Setidaknya ia tidak akan mengingat kekecewaannya lagi.
_______________________ My dearest wife
Anindya merasa heran saat pria baya itu membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Di samping karena ini adalah kali pertama untuknya, ia juga tidak mengerti kenapa pria itu membawanya ke Mall ini. Ia ingin sekali bertanya, tapi hal itu sepertinya percuma karena sebelum ia sempat bertanya, ia kemungkinan besar sudah bisa menebak jawabannya.
Mereka bertiga memasuki sebuah butik mewah yang berada di lantai tiga Mall ini. Sepertinya semua pakaian yang ada dibutik itu adalah pakaian yang mahal jika dinilai dari tempatnya.
"Kakek! Kenapa kakek membawaku kemari?" Akhirnya Anindya bertanya juga pada pria itu.
"Tentu saja untuk membeli pakaian. Memangnya kau pikir kita mau melakukan apa di sini?"
"Iya. Tapi.... " ucapannya terhenti saat seorang wanita menghampiri mereka.
"Tuan! Apa kabar? Sudah lama sekali anda tidak berkunjung kemari?" tanyanya sopan.
Sepertinya jika dilihat dari sikap wanita itu pada Zein, sudah bisa dipastikan jika pria baya itu sering datang ke butik ini.
"Iya. Aku sedang kurang sehat akhir-akhir ini. Sehingga aku tidak bisa pergi kemanapun dengan leluasa."
"Jadi seperti itu. Baiklah! Ehm... apa tuan memerlukan sesuatu?"
"Iya! Aku perlu bantuanmu untuk wanita ini." jelas Zein sambil merangkul pundak Anindya. Ingin menunjukkan jika dialah yang sedang dibicarakan.
"Saya mengerti tuan." angguknya sopan. "Nona! Ayo ikut dengan saya." wanita itu mengajak Anindya untuk mengikutinya.
Anindya tampak ragu. Lalu menatap kearah Zein. Pria itu menyuruhnya untuk ikut dengan wanita itu.
Wanita itu memilihkan beberapa setel pakaian untuk Anindya. Ia mencobanya di fitting room. Lalu keluar untuk menunjukkannya pada Zein dan Sofia yang sedang duduk menunggunya di sofa.
"Bagaimana tuan?" tanya wanita itu pada Zein saat Anindya keluar dari fitting room.
"Bagus. Cocok untukmu. Cobalah yang lainnya." jawabnya.
Anindya masuk kembali ke fitting room dan mencoba pakaian lainnya beberapa kali. Hingga ia merasa kelelahan karena terlalu banyak mencoba pakaian. Sebenarnya pria baya itu sedang melakukan apa kepadanya. Apa dia akan membuka butik sendiri dirumah nya.
Setelah selesai mencoba semuanya, Zein meminta wanita itu untuk membungkus semua pakaian yang di coba oleh Anindya. Dan meminta Sofia untuk membayarnya di kasir.
"Kakek! Kenapa kakek membeli semua pakaian itu? Aku tidak membutuhkan pakaian sebanyak itu." tanyanya heran.
"Kau akan memerlukannya nanti. Bahkan ini masih kurang." jelasnya santai sambil tersenyum.
"Maksud kakek apa?" tanyanya penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu. Ayo! Masih banyak tempat yang akan kita kunjungi." ajaknya.
"Tapi kakek.... " Anindya ingin sekali membantahnya, namun sepertinya pria baya itu tidak ingin dibantah saat ini.
Akhirnya ia ikut kemanapun Zein membawanya. Sofia juga sepertinya berpihak pada Zein. Karena ia meminta Anindya untuk tidak banyak bertanya kali ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Setelah membeli beberapa pasang sepatu, tas dan aksesoris lainnya serta peralatan kosmetik untuk Anindya, mereka kembali kerumah. Hingga tiba dirumah pun Anindya belum tahu apa tujuan Zein membelikan begitu banyak barang untuknya.
"Kakek! Anin rasa kakek tidak perlu berlebihan seperti ini. Anin bukanlah siapa-siapa dirumah ini. Jadi rasanya tidak pantas jika mendapatkan perlakuan istimewa dari kakek." ucap Anindya.
"Siapa yang mengatakan jika kau bukan siapa-siapa dirumah ini. Kau adalah cucu perempuan kakek. Jadi sudah sepatutnya kakek membelikan pakaian untuk mu, bukan?" bantahnya.
"Tapi kakek, Anin rasa ini terlalu berlebihan. Harganya pasti juga ma..... "
"Sudah! Jangan pikirkan itu. Semua ini milikmu. Mulai saat ini kau adalah cucu perempuan kakek. Yang artinya kau adalah nona muda dirumah ini. Jadi bersikaplah selayaknya nona muda. Kau mengerti, kan?" ucap Zein.
"Tapi kakek...... " tampaknya Anindya tidak bisa membantah pria baya itu lagi.
Sekarang semuanya menjadi semakin sulit. Dia semakin terikat dengan keluarga ini. Zein terlalu memandang tinggi dirinya. Bahkan kini pria baya itu menganggap dirinya sebagai cucu perempuannya. Kini ia hanya mematung disana. Apa tak ada yang bisa membantunya?
Namun tiba-tiba kemunculan seseorang dihadapannya, memberinya sebuah harapan baru. Bisakah ia membantuku? Bukankah ia tidak menyukai kehadirannya dirumah ini? Dia pasti dengan senang hati membantuku, bukan? Tanpa ia sadari dirinya tersenyum menatap pria dingin itu. Dan memberanikan diri untuk memanggil namanya.
"Tu... tuan Adrian!" panggilnya.
Pria itu berhenti ditempatnya setelah ia mendengar namanya dipanggil. Namun ia tidak menoleh.
"Aku ingin bicara denganmu." lanjutnya.
Adrian menoleh kearahnya. Menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.
_________________________ My dearest wife