Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.
Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.
Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stefanie
Sorot cahaya lampu menyilaukan mata Bertus, sehingga membuat ia menyipitkan mata saat melihat seorang perempuan sedang duduk disampingnya. Gadis itu adalah Stefanie.
Ia menutup mata, lalu menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya dengan cepat. Mencoba menenangkan diri dari rasa perih pada bagian perutnya. Kemudian lelaki itu membuka matanya kembali.
Bertus melihat Stefanie sedang mengambil jarum dan seutas benang, lalu ketika kedua benda itu menyatu, gadis itu menjahitkan kulit perut yang menganga terbuka. Berusaha menyatukannya kembali. Stefanie dengan ekspresi sangat tenang, memasukkan lalu mengeluarkan ujung jarum dari daging bewarna kemerahan itu.
Gadis itu melirik kearahnya sebentar, lalu fokus kembali pada pekerjaannya. Memastikan kedua sisi kulit menyatu. Setelah selesai, Stefanie bangkit berdiri, mendekat kearah wajah Bertus, menunduk, kemudian mencium pipi pria itu.
"Kamu akan baik-baik saja," sambil mencelupkan kedua tangannya yang berlumuran darah kedalam sebuah baskom berisi air, mengipas-ngipaskan tangannya di udara. Lalu meraih selembar handuk yang terlipat diatas meja dan mengelap tangannya sampai kering.
"Bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Bertus.
Wanita asal Serbia itu membuka segulung perban kain kasa dari plastik bening yang membungkusnya, menggunting kira-kira 30 cm panjangnya dan melipatnya menjadi suatu bentuk persegi. Menempelkannya di atas jahitan dan merekatkannya dengan empat plester hingga membentuk tanda tagar, "This is my boarding house. Oliver yang membawamu kesini,"
"Sekarang dimana Oliver?"
"Entahlah. Katanya ia harus ke kantor polisi. Setelah Gideon yang dipanggil, kini giliran Oliver," gadis itu menarik kursinya lebih dekat kepada Hubertus, kemudian duduk sambil menatap lekat-lekat kedua bola mata pria yang sedang terbaring lemah dihadapannya, "Aku merindukanmu," kata Stefanie.
"Stefanie, ak-," gadis itu menggeleng. Ia tahu kearah mana Bertus akan membawa percakapan itu. Lantas gadis itu membelai kepala Bertus, sementara tangannya yang lain menggenggam tangan pria itu.
"Aku tahu. Tak perlu banyak berpikir. Kau hanya butuh istirahat yang banyak," kata Stefanie. Bertus menganggukkan kepala pertanda paham. Ya.
Beberapa detik berselang kemudian, Bertus tertawa. Membuat gadis itu mengernyitkan dahi penasaran dengan alasan dia tertawa. Stefanie sampai mengecek jika ada yang salah pada pakaiannya, yang membuat pria itu tertawa. Namun, ia tak kunjung menemukannya, "Apa ada yang aneh?" tanya gadis itu.
"Haha, ada Stefanie. Ini seperti dejavu, kamu ingat?" memberi waktu pada gadis itu untuk mengingat sesaat. Gadis itu tersenyum setelah paham dengan apa yang dimaksud oleh Bertus, "Hanya saja, sekarang giliran saya yang terbaring lemah," kemudian Bertus meringis setalah merasa ngilu pada bagian tubuh yang dioperasi.
"Udah, jangan banyak tertawa. You're still recovering,"
"Aye.. aye.. captain," Bertus mengiyakan saran Stefanie untuk beristirahat.
Bertus menutup matanya. Tidak sedang tidur, tetapi berpikir tentang kejadian tadi malam. Apakah saya salah lihat? Menduga Oliver yang menusuk? Sementara Stefanie menyatakan jika sahabatnya itu yang justru menyelamatkannya. Hingga akhirnya karena berpikir terlalu banyak, membuatnya terlelap dalam tidur.
Cahaya keemasan matahari telah terbit dari ufuk timur. Bertus membuka matanya. Kemarin malam terasa begitu ganjil dan asing baginya. Ia berdiri di sebuah ruangan gelap, lalu berjalan menyusuri tak tentu arah sampai ia mendapati satu pintu dengan cahaya yang sangat menyilaukan dibaliknya. Kaki Bertus melangkah pelan mendekati pintu tersebut.
Tetapi langkahnya terhenti. Satu suara menggema di seluruh ruangan, memanggil-manggil namanya. Sentuhan lembut ujung-ujung jari kemudian terasa di pipinya. Perhatiannya teralihkan dari pintu itu, sehingga menutup perlahan dengan sendirinya karena Bertus orang yang ditunggu, tak kunjung melewatinya. Rasa hangat kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan pintu yang tertutup sepenuhnya, Bertus terjaga dari tidurnya.
Aroma may rose dan jasmine tercium dari bawah dagunya. Terasa ada sesuatu yang menindih dadanya. Bertus mengangkat tangan kanannya, mencoba meraba sensasi kenyal di dadanya. Ukurannya sekepalan tangan orang dewasa ketika ia mencoba menggenggamnya. Basah.
Kemudian jari-jari tangannya semakin naik keatas benda itu, hingga tiba ia pada suatu benda tipis, terurai panjang, dan dalam jumlah tak terhingga. Ia menariknya dan mencoba membauinya. Aroma yang diciumnya tadi berasal dari sana.
Bertus mengangkat benda itu tinggi hingga bisa terlihat oleh matanya, melihat warnanya yang pirang. Itu rambut Stefanie. Gadis itu tertidur lelap disisinya. Jika luka ada pada perut bagian kiri Bertus, gadis itu terbaring disisi yang satunya, sebelah kanan. Tangan gadis itu melintang diatas dada Bertus. Dibalut oleh selimut, keduanya terlelap tanpa sehelai pakaian pun melekat di tubuh masing-masing.
"Ini gila. Ini sudah tidak benar," pikir Bertus. Hari ini adalah tanggal pernikahannya dengan Lydia. Tetapi bisa-bisanya ia justru berbaring di tempat ini dengan wanita lain bersanding disisinya.
Bertus menggeser tubuh Stefanie, dengan sangat lembut dan hati-hati, agar jangan sampai membangunkan gadis itu dari tidurnya.
Sambil menahan rasa nyeri, ia menggeser kakinya turun dari atas ranjang. Semua dilakukannya secara perlahan-lahan, hingga akhirnya ia berhasil duduk di ranjang tidur dengan kedua kaki menggantung di permukaan lantai.
Bertus bergeser hingga ke tepian ranjang, menginjakkan kedua kakinya dilantai. Dan saat ia menginjakkan kaki di lantai, mencoba untuk berdiri, bertumpu pada kekuatan otot-otot kakinya, Bertus justru jatuh tersungkur dengan kedua lutut yang terlebih dahulu menghantam lantai yang terbuat dari keramik.
"Arghhhh... Arghhhh," Bertus merintih kesakitan, membuat Stefanie terbangun dari tidurnya dan beranjak kaget dari pembaringan, bergegas turun dari ranjang menghampiri Bertus.
"Apa-apaan yang kau lakukan ini Stefanie? Kau tahu aku akan segera menikah, kenapa kau bertindak sejauh ini?" Bertus merengek, merasa bersalah karena telah mengkhianati Lydia, "Huh, jawab aku," pria itu kecewa dengan tindakan Stefanie.
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Hanya air mata yang mengucur deras di pipinya. Itu cukup mewakili seluruh curahan hatinya. Ia mencoba mengangkat tubuh bertus, mengembalikan pria itu ke posisi semula. Berbaring di atas ranjang. Tetapi Bertus menolaknya.
Pria itu mencoba berdiri sendiri dengan kemampuan yang dimilikinya. Bertus melakukan berbagai upaya untuk kembali ke atas ranjang, tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Untuk kesekian kalinya Stefanie mengulurkan tangan namun mengalami penolakan.
Hingga akhirnya Bertus lemas, dan pasrah membiarkan gadis itu melingkarkan tangan Bertus di pundaknya, dan dengan beberapa hitungan napas gadis itu mencoba bangkit berdiri sambil mengangkat Bertus bersamanya.
Pertama-tama Stefanie membuat pria itu terduduk di tepi ranjang. Kedua mengangkat kaki Bertus lalu menggesernya ke atas tempat tidur. Ketiga ia membuka perban yang telah dibasahi banyak darah, menggantikannya dengan perban yang baru. Kelima ia mengelap tubuh Bertus dengan air hangat dan memasangkan pakaian pria itu, sebuah celana boxer dan kaos ketek.
"Stefanie, maaf. Aku tidak bermaksud ---," dan yang keenam gadis itu pergi meninggalkan Bertus sendirian.
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
aku udh mampir
mampir jg kekisah cinta cucu manja oma