Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan dari Zan
"Wen, undang wanita itu datang ke rumah, katakan apa pun padanya agar dia bersedia, aku tidak ingin mendengar bahwa kau gagal membujuknya, mengerti?" titah Zan dengan tatapan serius.
"Baik, Tuan muda." Sekretaris Wen pun keluar dari ruang kerja Zan.
Tut... tut...
Terdengar suara getaran ponsel Zan di atas meja.
"Ada apa?"
"Pa, apa bisa pulang cepat hari ini? Ada sesuatu yang ingin kuberitahu." Terdengar suara Month dari seberang telepon.
"Papa pulang sekarang." Zan memutus sambungan dan beranjak dari kursinya.
~~
"Pa, guruku mengatakan bahwa aku berhasil lompat sekolah karena telah berhasil mengerjakan beberapa seleksi, berkat kepintaranku, sekarang aku telah bisa masuk ke sekolah dasar di umurku sekarang, bukankah aku hebat?" ujar Month setelah Zan pulang ke rumah.
"Bagus, tidak sia-sia Papa mendidikmu, dengan begini kau bisa lebih cepat menyelesaikan sekolahmu dan menggantikan Papa mengurus perusahaan, asah terus bakatmu hingga kau menjadi yang terpintar di sekolah, kau mengerti?" Zan mengelus rambut Month dengan lembut.
"Besok aku akan mengikuti sebuah lomba olimpiade tingkat nasional, acara ini akan ditayangkan di beberapa televisi, bisakah Papa menonton acaranya di televisi?" pinta Month memelas.
"Ya, jika tidak sibuk Papa akan menontonmu, tapi ingat, sebagai anak Papa, kau tidak boleh tampil mengecewakan, dalam kompitisi itu kau harus menang dan menjadi kebanggan, apa kau paham?"
"Iya-iya, Pa. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku cukup percaya diri dengan diriku sendiri, jadi tidak perlu khawatir."
"Kepercayaan dirimu itu tidak boleh sampai meremehkan kemampuan lawan-"
"Iya, Pa, iya. Aku mengerti. Sekarang aku mau belajar ke kamar dulu, bye." Month langsung memotong ucapan Zan yang belum selesai.
"Papa belum selesai bicara, kembali," titah Zan. Membuat Month menghentikan langkahnya seketika.
"Ganti pakaianmu, kita akan makan malam bersama dengan seorang tamu."
"Tamu? Siapa? Tidak biasanya Papa memperbolehkan orang lain datang ke rumah ini?" tanya Month curiga.
"Jangan banyak bicara, lakukan sekarang." Zan tak mau tahu apa pun yang ingin dikatakan oleh Month, ia hanya ingin anaknya menurut tanpa banyak bertanya.
"Oke, baiklah." Month mengalihkan pandangan dan berlalu pergi.
"Pak Gun, siapkan beberapa masakan, malam ini akan ada tamu yang datang, tata sebaik mungkin, saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun apalagi ada masakan yang tidak sesuai dengan seleranya, apa Anda mengerti?" Zan kembali memberi perintah.
"Apa Anda tahu selera tamu yang akan datang nanti seperti apa, Tuan muda?" tanya Pak Gun.
Zan mengerutkan alis. "Kenapa bertanya? Mana saya tahu selera dia seperti apa, Anda seorang koki handal yang saya pekerjakan di rumah ini, seharusnya Anda tahu selera mayoritas manusia seperti apa, kenapa masih bertanya? Anda pikir saya di perusahaan bekerja sebagai juru masak?"
"M-maaf, Tuan muda, saya tidak bermaksud seperti itu, kalau begitu saya pamit ke dapur dulu, permisi." Pak Gun membungkukkan badan memberi hormat lantas bergegas pergi dari hadapan Zan.
"Saya tidak mau, beritahu majikanmu yang terhormat itu, saya tidak akan datang," tolak Sania mentah-mentah.
"Tapi, Nona. Tuan muda dengan begitu hormat mengundang Anda untuk datang ke rumahnya, memangnya Anda tidak ingin bertemu dengan anak Anda? Anak yang Anda lahirkan lima tahun lalu, Anda kandung selama 9 bulan, sudah lima tahun Anda tidak bertemu dengannya, memangnya Anda tidak ingin memeluk beliau?" bujuk Sekretaris Wen.
Sania terdiam sejenak. "Katakan padanya, saya tidak akan bertemu sebelum dia mengatakan pada Month bahwa saya adalah ibu kandungnya, jika masih tidak bersedia, lebih baik jangan berharap saya menerima undangan ini."
"Tapi, Nona."
"Tidak ada tapi, sekarang silahkan pergi dari sini, jika para tetangga merasa terusik, maka kamu akan dimakan hidup-hidup oleh mereka, kamu mau?"
"Nona Sania, saya serius mengajak Anda untuk datang ke rumah Tuan muda, tolong hargai kedatangan saya."
"Ck, memangnya kamu siapa ingin saya menghargai kedatanganmu? Kamu dengar baik-baik, majikanmu saja saya tidak sudi menghargainya, apalagi kamu, pergi sana, saya tidak ada waktu." Sania membanting pintu dengan keras meninggalkan Sekretaris Wen di luar.
"Mami, ada apa? Kenapa marah-marah dengan Paman itu?" tanya Star yang dari tadi menunggu di balik pintu agar tidak ketahuan.
"Dia datang ingin mengundang Mami, Mami tidak mau lantas Mami tolak saja."
"Kenapa Mami tolak? Kan tidak baik menolak niat baik orang." Star kembali bertanya.
"Sayang, kamu tidak tahu, dia itu penjahat wanita, memangnya kamu mau Mami dijahati oleh pria itu?" jawab Sania berbohong.
~~
"Tuan muda, saya sudah bertemu dan bicara pada Nona Sania, saya sudah membujuknya dengan segala cara, tapi Nona Sania tetap tidak ingin ikut, apa yang harus saya lakukan sekarang? Apa saya pulang saja?" Sekretaris Wen menghubungi Zan ketika ia berada di dalam mobil.
"Kau lupa apa yang kukatakan tadi? Jangan kembali jika kau tak berhasil membujuknya, katakan apa saja yang bisa membuatnya takut, awas saja jika kau tak berhasil, gajimu akan kupotong," ancam Zan dari seberang telepon.
Sekretaris Wen terus berpikir, berpikir betapa malang nasibnya kali ini, ia yang tak mengerti akan wanita, kini diminta untuk membujuk, membujuk dengan apa?
Akhirnya setelah sekian lama berpikir, Sekretaris Wen pun keluar dari mobil dan kembali naik ke atas di mana kamar Sania berada.
Tok... tok... tok...
"Ada apa lagi, Sekretaris Wen? Anda masih belum puas dengan jawaban saya? Saya bilang tidak mau, Anda tuli?" bentak Sania tepat ketika ia membuka pintu, terlihat wajah Sekretaris Wen yang datar tanpa ekspresi, lalu memperlihatkan ponselnya, di mana saat itu sebuah panggilan video sedang berlangsung.
"P-Pak Robert?" Sania terkejut dengan mata yang terbelalak.
"Sania, benar kamu menolak untuk undangan perayaan kerjasama kita dengan presdir Eternal Group?"
"Hah? S-saya tidak menolaknya dengan sengaja, Pak. Namun, saya benar-benar tidak ada waktu untuk hadir." Sania berdalih.
"Kamu tidak ada waktu memangnya kamu sibuk apa?" tanya Pak Robert.
"Saya ingin menyelesaikan desain saya secepat mungkin, Pak."
"Nah, karena kamu juga sibuk dengan pekerjaanmu, kamu bisa konsultasi dengan Tuan Zan, Tuan Zan juga mengundang kamu agar dia bisa melakukan rapat untuk desain kamu itu, atau jika kamu memang tidak sanggup menyelesaikan desainnya, saya bisa gantikan kamu dengan orang lain, kamu bisa lepas tanggung jawab dan pulang ke Amerika sekarang," tukas Pak Robert.
Sania terdiam beberapa detik merenungkan sesuatu. "Jika saya lepas tanggung jawab dengan kerjasama ini, apakah saya bisa mendapatkan setengah dari bonus yang sudah Anda janjikan?"
"Tentu saja tidak, saya hanya menjanjikan jika kamu berhasil menyelesaikannya hingga tuntas, maka saya akan memberikan bonus yang sudah saya katakan, jika kamu berhenti di tengah jalan, maka bonus itu juga tidak akan pernah kamu dapatkan."
Senia menghela napas berat. "Baiklah, Pak. Beri saya satu kali kesempatan, saya akan menyelesaikan proyek kerjasama ini hingga tuntas, saya akan mengikuti arahan Anda." Mau tak mau Sania akhirnya menyerah pada egonya, semua itu demi uang, jika tidak seperti itu, bagaimana ia bisa membiayai sekolah Star, sementara saat ini ia tidak bisa menyekolahkan Star di Amerika karena terbatas dengan biaya pendidikan yang tidak murah.
Setelah panggilan video terputus, Sekretaris Wen kembali menyimpan ponselnya dan tersenyum datar pada Sania. "Baiklah, Nona Sania. Tuan muda menunggu kedatangan Anda malam ini, datanglah tepat waktu agar posisi Anda sekarang bisa tetap aman dalam kerjasama." Tak lupa ia menampilkan seulas senyum kecil merasa puas sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu, sementara Sania masih membeku di tempat.
~~
"Selamat datang, Nona. Silahkan ikuti saya." Pak Gun yang diutus oleh Zan untuk menjemput Sania, mengarahkan jalan menuju ke meja makan, sementara Star masih mengekor di belakang Sania dengan topeng mainannya.
Rumah Zan yang mewah, baru pertama kali itu dinaiki oleh Sania, bahkan saat ia masih menjadi istri Zan dan mengandung sang bayi kembar, ia hanya diasingkan di tempat lain.
Zan dan Month telah menunggu di meja makan, saat Month ingin menghampiri Sania, tiba-tiba saja Zan melarangnya.
Kini pandangan Zan dan Sania saling beradu, terhanyut pada pikiran dan perasaan masing-masing, tenggelam dalam kebisuan, entah apa rangkaian kata pertama yang akan diucapkan oleh Zan setelah itu.
demi bonus sania ck ck ck