NovelToon NovelToon
PENGANTIN TANPA PENGANTIN

PENGANTIN TANPA PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Opie

Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.

Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.

Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.

Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.

Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.

Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH (KEMATIAN BU TEJO)

Rumah Bu Tejo sudah ramai saat Bima dan Hanum tiba disana, rumahnya seperti gula yang dikerumuni semut. Keduanya bertukar pandang saat melihat bendera kuning berkibar di depan rumah Bu Tejo.

Mereka masih menerka siapa yang meninggal di rumah itu. Keluarga Bu Tejo terdiri dari enam orang, Mbah Raminten, Pak Tejo, Bu Tejo, Kania, Nila, dan Rangga. Dan seperti saling membaca pikiran, Bima dan Hanum mengucapkan satu nama yang sama.

“Mbah Raminten.” Mereka berdua saling menatap.

Langkah Bima dan Hanum kini lebih panjang dan berjalan lebih cepat untuk memastikan tebakan mereka. Namun mereka salah besar saat Mbah Raminten terisak dan memanggil-manggil nama anaknya.

“May! Jangan mati May!” Kata Mbah Raminten diiringi tangis yang tak henti.

“May! Ibu nanti sama siapa May.”

Kata-kata itu berulang keluar dari mulut Mbah Raminten yang membuat dirinya pingsan pada akhirnya. Beberapa warga membantu menggotong Mbah Raminten untuk dibaringkan di dalam kamar.

Terlihat Pak Tejo yang juga terus menangis di sisi jenazah istrinya. Kania yang seusia dengan Bima dan Hanum ada disana, sementara Nila dan Rangga tak terlihat karena mereka masih sekolah.

Jenazah Bu Tejo baru saja diturunkan dari ambulan yang sudah pergi, kini waktunya untuk dimandikan di solatkan. Terlihat Marni dan Marini juga ada di sudut ruang tamu rumah Bu Tejo. Mata mereka bertemu dengan mata kedua anaknya dan segera keluar.

“Ibu…. Bu Tejo kenapa?” Tanya Hanum.

“Sakit. Kita pulang yuk, nanti kita ikut solatin Bu Tejo.” Jawab Marini yang menggiring Hanum menjauh dari kerumunan warga.

“Kita juga pulang yuk Bim.” Ajak Marini yang juga menggandeng anaknya menjauh.

Keduanya tak jadi belanja karena memang tak ada yang bisa dibeli, warung sayur Bu Tejo tak menyediakan apapun karena tak ada yang pergi ke pasar. Kania dan Pak Tejo harus bergantian berjaga di rumah sakit.

Namun mereka tetap buka karena khawatir warga akan perlu kebutuhan lain selain sayur mayur. Marini dan Marini yang biasa menyimpan stock makanan di kulkas tak perlu berbelanja setiap hari. Nanum hari ini mereka kehabisan bahan makanan.

Padahal baru tempo hari Marni menitipkan uang belanja bulanannya pada Bu Tejo, ia masih tak mempercayai bahwa kini Bu Tejo sudah berpulang.

“Hanum kira yang meninggal Mbah Raminten.” Kata Hanum saat ibunya memasak ayam goreng yang di bekukan di pendingin.

“Umur nggak ada yang tau nduk” sahut Marni “ibu juga sebenernya takut meninggal.” Sambung Marni.

“Ibu jangan kayak gitu ah.” Protes Hanum yang enggan membicarakan kematian.

“Habis makan kita ke musholla ya.”

Hanum mengangguk mengiyakan ajakan ibunya. Jadi saat Hanum dan Bima pulang ke rumah, ibu mereka mampir ke rumah Bu Tejo. Tak lama setelah mereka ada disana, datanglah ambulan yang membawa jenazah Bu Tejo untuk dimakamkan.

Tempo hari memang Bu Tejo dibawa ke rumah sakit karena sakit, namun sampai sekarang belum ada yang tahu penyakit dari Bu Tejo. Ia hanya ditemukan dalam keadaan kejang-kejang setelah keluar dari kamar mandi.

Siang ini ambulan itu kembali bersama Bu Tejo, namun dengan keadaan yang berbeda. Bu Tejo sudah tak bernyawa dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

“Tapi ada yang aneh tau bu waktu Bu Tejo sakit.” Kata Bima yang merasakan kejanggalan.

“Kamu liat apa?” Tanya Marini tanpa basa-basi yang sedang memasak setengah papan tempe sisa tadi pagi dan tumis daun labu muda yang ia petik dari samping rumah.

“Nggak liat yang aneh-aneh sih.” Jawab Bima tak yakin harus bercerita atau tidak. Mengingat yang sedang mereka bicarakan baru saja berpulang.

“Ceritanya gimana? Ini kan bukan bicara kejelekkannya.” Tambah Marini yang mulai menata masakannya di atas dipan.

“Kemarin kan Bima pulang solat tuh terus jajan di warung Bu Tejo, ketemu sama diladenin sama Bu Tejonya. Pulanglah ke rumah Hanum kan... tapi disuruh pulang sama Bude Marni, nah pas lewat lagi kerumah Bu Tejo rumahnya udah rame” jeda “Bima datengin lah rumahnya. Terus nanya ke Bi Isti, dan bilang bu Tejo sakit. Udah pada nengokin dari setengah jam yang lalu. Tapi kan Bima jajan baru 20 menitan bu.” Jelas Bima.

“Itu memedi yang nyerupain Bu Tejo. Kamu juga kayaknya kena sihir jadi nggak sadar kalau disana banyak orang.” Marini menjelaskan sambil menatap lekat anaknya.

“Ibu kok bisa tau?” Tanya Bima heran.

“Yah…. Bisa lah dikit-dikit” jawabnya asal “makan yuk. Habis ini kan kita harus ke musholla.” Ajak Marini.

Tak lama berselang setelah obrolan mereka selesai dan acara makan berjalan setengah jalan, Pak Mahmud datang. Ia segera membersihkan dirinya dan mengenakan baju bersih untuk sama-sama pergi ke musholla.

Mereka membahas sedikit tentang pemakaman Bu Tejo meski Pak Mahmud sudah mengetahuinya di jalan saat ia akan pulang.

Semua warga yang bisa berkumpul sudah ada di musholla. Setelah dimandikan, jenazah Bu Tejo dibawa ke musholla untuk di solatkan. Pak Ustadz Karim yang memimpin solat jenazah siang itu. Pak Tejo dan ketiga anaknya tampak sangat berduka, mereka masih tersedu-sedu. Mbah Raminten tak terlihat, ia tinggal di rumah agar tak kembali pingsan.

Pemakaman akan dilakukan sore itu juga. Para penggali kuburan sudah terlihat saat jenazah digotong ke area pekuburan. Beberapa warga membatu pekuburan jenazah Bu Tejo termasuk suaminya.

Mbah Raminten yang tadi tinggal di rumah ikut ke pekuburan, ia ingin melihat anaknya untuk terakhir kali. Kania, Nila dan Rangga masih terisak. Beberapa warga terlihat di pekuburan, termasuk Hanum, Bima, Marni, Marini dan Pak Mahmud. Cakra juga ada disana.

“Yang sabar ya anak-anak.”

Kata-kata itu terus berulang dari para warga untuk ketiga anak malang itu. Mereka masih membutuhkan seorang ibu, namun takdir berkata lain. Mungkin memang mereka harus tumbuh mandiri tanpa seorang ibu.

Bima dan Hanum yang merupakan teman satu sekolah Kania mendekatinya, mereka berdua memberikan dukungan verbal untuk temannya itu. Meski tak dapat menghapus kesedihannya, setidaknya mereka meyakinkan bahwa mereka akan membantu saat Kani membutuhkannya.

Pemakaman selesai pada pukul 3, tepat sebelum adzan ashar berkumandang. Para warga sudah meninggalkan area pekuburan. Kecuali keluarga inti dan beberapa kerabat dari Pak Tejo dan Bu Tejo. Mereka masih meratap di sisi kuburan Bu Tejo.

“Aku ke rumah kamu ya Mar.” Kata Marini setelah mereka keluar dari komplek makam.

“Boleh mbak, ayuk aja.”

Kini mereka berempat beriringan menuju ke rumah Marni karena Pak Mahmud harus kembali ke rumah. Pak Gondo mengabarinya kalau ia sudah ada di rumah mereka saat penguburan berlangsung.

Bima pamit ke musholla sebelum menyusul ibunya dan Hanum, mereka berpisah di saat iqomah terdengar dari dalam musholla.

1
Saya Sayekti
maaf Thor aku g kuat bacanya .aku mundu.aku kucur jantung ku udah dingin
Saya Sayekti
udah mulai serem nya.td msh penasaran
Saitama Fans
ngeri ceritanya
Saitama Fans
??????
Siti Arbainah
Itu cara bu Ambar ya biar bu Marni mau nerima twarannya
Nur Hasanah
Luar biasa,aku suka sama ceritanya
Shefia Tamara
bagus
Elvisuke
tamat kah ??
aoleng marang alloh
lama bgt g up
Yeyet Suryati
wah gimana kelanjutannya thorrr GK up nich dah lama bangetss
Yumna Faida
kapan lanjut thor, penisirin aq x. ceritanya bagus. moga sukses dan sehat sll
Nenden Solehah
lanjut lagi thor semangat up nya
Santhy Liem
kapall oleng,komandan....
Santhy Liem
lanjut thorr
Yeyet Suryati
up donk authorr
opie evani aprilia: Hallo. Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
aoleng marang alloh
d tggu up x
opie evani aprilia: Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
Yeyet Suryati
ikh kirain lanjut eh malah pengumuman kpn lanjut ..tamatin AZ biar yg baca GK bete nunggu
opie evani aprilia: Dimohon kesabarannya ya kak. Terimakasih sudah support terus 🤍🤍🤍❤️❤️❤️
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
sabar menanti tante Hanum kembali 😌😌😌 aku ga ada pengalaman kyk km thor..mo resign ya resign ajah dulu mah hehehe ..
opie evani aprilia: Iya kak. Maunya gitu. Hehehe
Tapi malah numpuk tugasnya ...
Semoga segera berlalu
Terimakasih sudah support terus ❤️❤️❤️🤍🤍🤍
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
betul itu..yg lalu biarlah berlalu ..hidup hrus brrjln terus...
Yeyet Suryati
up donkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!