NovelToon NovelToon
A Husband's Regret

A Husband's Regret

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Poligami / Berondong / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ismi Kawai

Lamanya waktu bersama tidak menjamin sebuah ikatan langgeng dan bahagia. Bahkan meski hampir 20 tahun Elara Nasution menghabiskan hidupnya bersama sang suami Ares Dawson Atmaja. Semua terasa tidak berarti untuk pria itu. Ditambah dengan belum adanya buah hati di antara mereka membuat hubungan suami istri itu menjadi semakin renggang.
Kehadiran orang ketiga yang dibawa secara sadar oleh Ares menjadi awal dari keruntuhan rumah tangga yang telah susah payah Elara bangun. Elara pun menyerah, melepaskan cintanya yang telah mati dan tergantikan oleh sosok baru yang mengasihinya lebih dari siapa pun. Penyesalan selalu datang terlambat, dan itu semua dirasakan Ares saat Elara bukan lagi miliknya.

Apa yang akan dilakukan Ares untuk mendapatkan kembali cinta Elara?
Apakah Elara akan menerima Ares atau menjalin kasih dengan pria idaman lain ?

follow my ig @ismi_kawai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 03

Author POV

Sepanjang perjalanan Elara menatap kosong pada jendela mobil. Memandang pohon yang tampak seperti sedang berlari berlomba-lomba mengejarnya. Ucapan Ares tentang kesuburan membuat Elara mengeryit bingung. Pasalnya hasil lab miliknya menunjukkan kesuburan yang baik.

"Mengapa Ares mengatakan aku tidak subur? Dan kehamilan wanita itu... apakah ada kesalahan pada hasil lab itu?

Romi, dia orang kepercayaan Ares. Ada apa sebenarnya? Elara berniat menanyakan hal ini langsung padanya.

30 menit kemudian hingga Toyota Alphard terhenti di depan gedung Gloomy Corp. Elara di sambut oleh Sebastian selaku asistennya.

"Selamat pagi, Nyonya Elara."

"Pagi, apa Romi sudah datang?" tanya Elara sambil membalas salam dari semua karyawan yang menyapanya.

"Kebetulan Pak Romi sedang dinas luar selama 2 minggu di Bali, Nyonya."

Langkah Elara terhenti dengan dahi mengkerut. "Kapan dia pergi?"

"Pagi ini Nyonya, beliau langsung ke bandara."

Wanita itu mendesah lelah. Bagaimana bisa kebetulan, disaat ia membutuhkan kejelasan pria itu tidak ada di sini. Elara pun menunda acara interogasi, ia memilih menyiapkan bahan untuk rapat nanti.

"Tuan tidak bersama Nyonya?" tanya Sebastian seraya melihat sekitar.

"Tidak, seterusnya kami akan berjalan masing-masing kecuali saat ada pertemuan yang mengharuskan aku bersamanya," jawab Elara cepat.

Sebastian mengerti, kabar angin tentang Tuannya yang membawa simpanan ke rumah pasti yang memicu Nyonya Elara untuk menjaga jarak. Tidak ingin membuat majikannya berubah suasana hati menjadi buruk, Sebastian memilih menawarkan sesuatu.

"Anda ingin dibuatkan teh, Nyonya?"

Elara tersenyum tulus pada orang yang selalu mengerti suasana hatinya melebihi suaminya sendiri. "Kau memang yang terbaik, Sebastian. Tolong dengan sedikit gula batu. Jangan terlalu panas, aku ingin segera meminumnya," pinta wanita itu.

"Segera tiba, Nyonya," Sebastian pergi untuk membuatkan teh.

Sepanjang proses pembuatan, Sebastian tidak habis pikir dengan Tuannya yang menyia-nyiakan wanita sesempurna Nyonya Elara.

"Jika aku seorang sultan, aku akan membawa Nyonya Elara pergi jauh bersamaku," gumamnya. Pria itu tidak menyadari air panas yang mengenai tangannya.

"Ssshhh..."

Elara menoleh pada Bastian yang meniup tangannya. "Ada apa?" Elara berjalan mendekati pantry yang sengaja disediakan di ruangan tersebut.

Sebastian tampak kikuk dengan wajah yang merah karena malu. Ini karena kepalanya yang lancang membayangkan dirinya membawa lari sang majikan.

"Saya tidak apa-apa, Nyonya." Sebastian menutupi tangannya yang terkena air panas dengan serbet.

Elara menengadahkan tangan seperti sedang meminta sesuatu. "Sini biar aku lihat," Sebastian malah terpaku dengan wajah bingung.

Elara yang gemas langsung meraih tangannya yang ditutupi serbet. Terlihat kulit Sebastian yang putih menjadi memerah.

"Harus segera diberi obat, jangan dibiarkan saja. Nanti kulitmu akan bengkak dan meninggalkan bekas luka."

Elara tidak menyadari jika sikapnya membuat Sebastian tidak berkutik, jantung pria itu berdetak kencang. Untuk pertama kalinya ia merasakan kelembutan tangan sang majikan. Dengan panik Sebastian menarik tangannya, ia memalingkan muka.

"Sa-saya akan mengobatinya, Nyonya... Nyonya tunggu saja di sini. Biar nanti saya buatkan tehnya di pantry karyawan, permisi!" Sebastian segera melesak pergi.

Pria itu berjalan dengan cepat. "Apa yang kau pikirkan? Bodoh!" gerutunya pelan. Langkahnya terhenti kala melihat tangannya yang terkena air panas. "Kulitnya lembut melebihi sutra," Sebastian kembali terbayang saat Elara memegang tangannya. Lalu menggeleng, menepis pikiran tidak pada tempatnya.

🍁🍁🍁

Ares sampai 20 menit sebelum rapat dimulai, ia berpapasan dengan Elara saat menuju ruang meeting.

"Hari ini kita akan kedatangan investor yang sangat berpengaruh di Eropa, namun CEOnya sedang berhalangan jadi akan diwakilkan oleh managernya. Aku harap kamu bisa memenangkan tender ini, kita masih punya banyak PR yang tertunda karena kepergianmu minggu lalu, mengunjungi simpananmu," sarkas Elara.

Ares menatap tajam Elara yang sepertinya berhasil menyindirnya. Ia mengepalkan tangan hingga semburat uratnya menyembul di balik kulit.

"Kau ingin membahas itu di sini?"

"Tidak, tentu saja tidak. Reputasimu adalah yang utama Ares, kau sudah tau itu kan. Kewajibanku untuk melindungimu dari semua skandal yang ternyata benar adanya," Ares tampak gusar. "Aku tekankan sekarang padamu, Ares Dawson Atmaja. Anggap aku sebatas rekan kerja mulai hari ini, karena status istri sudah ada yang mengambil alih."

"Elara... apa maksudmu?" Ares mendesis, ia terhenyak dengan perkataan Elara.

"Jangan pernah menggangguku, ingatkan padanya akan statusku. Aku harap kau mengerti seperti aku yang selalu mengerti dirimu," tambah Elara tenang berkebalikan dengan Ares yang siap meledak kapan saja.

"Mengerti? Apa yang kau mengerti selain dengan bisnis?" ejeknya.

"Setidaknya aku tau makanan kesukaanmu, tidak seperti dirimu yang bahkan tidak mengingat tanggal pernikahan kita. Tidak masalah... karena sudah tidak penting lagi. I'm done, kita bertemu di ruang meeting," Elara pergi meninggalkan Ares.

Mereka berdua terlahir dengan watak yang sama, keras kepala namun Elara selau berusaha mengimbanginya. Hingga Ares lupa diri, lupa jika dirinya pun punya kelemahan. Egonya yang setinggi gunung menjadikan gengsi sebagai pedoman hidupnya.

🍁🍁🍁

Meeting dimulai, semua berjalan lancar. Elara dan Ares bersikap selayaknya tidak pernah terjadi perseteruan di antara mereka.

"Terima kasih Tuan dan Nyonya Atmaja, saya akan menyampaikan hasil rapat ini pada Tuan Charles selaku CEO The Charles Schwab Corporation. Saya undur diri," pria muda itu memberi salam sebelum pergi meninggalkan ruangan meeting.

Elara tersenyum simpul melepas kepergian pria itu. Setelah itu senyumannya memudar. Elara mengambil tas lalu hendak kembali ke ruangannya. Ares berdiri menjulang menghalangi jalan.

Elara menatap datar pria yang berstatus suami beristri dua itu.

"Ada apa lagi, Tuan Ares?"

"Sekarang menyindir menjadi keahlianmu, hah?"

Elara berdecak. Kenapa semakin hari pria ini semakin menyebalkan, lebih tepatnya memuakkan. "Aku tidak perduli, bisa tolong biarkan aku pergi?"

"Kita harus selesaikan ini, Elara!"

"Semua sudah selesai, Ares. Sejak kau membawa wanita itu ke dalam rumah," Elara mendorong dada Ares dengan telunjukku. "Apa lagi yang kau inginkan dari wanita cacat ini?"

Ares mengusap wajah kasar. "Baik, aku salah... aku sudah mengatakan hal buruk padamu."

"Lupakan, aku tidak ingin mendengar apapun."

"Elara, semua terjadi begitu saja ...."

"Ya... semua sudah terjadi... bagai gelas yang sudah pecah, tidak akan bisa diperbaiki lagi." Elara merangsek maju melewati tubuh Ares yang terdiam terpaku.

Brengsek! Mengapa rasa sakit ini tidak kunjung hilang? Rasanya begitu nyeri hingga membuatku ingin mati.

🍁🍁🍁

Kediaman Ares Dawson Atmaja

Sophie menikmati segala kemewahan yang ada di dalam rumah. Ia bertingkah bagai Nyonya karena Ares memberinya kekuasaan dengan berpesan pada semua pelayan untuk mematuhinya. Tentu saja Martha tidak mau menurutinya, baginya Majikannya hanya Nyonya Elara.

"Martha! Aku bilang buatkan jus melon!" hardik wanita itu sambil berkacak pinggang.

"Saya hanya melayani Nyonya Elara."

"Aku istri Tuanmu, aku juga Nyonya di sini. Kau mau aku adukan pada suamiku agar kamu di pecat?" ancam Sophie.

Martha bergeming, melihat hal itu membuat Sophie gemas. Ia menarik Martha dan mendorongnya hingga terjerebab.

"Aakkhh..." pekik Martha. Kepalanya terantuk sudut meja hingga mengeluarkan darah.

"Siapa suruh kau melawanku?" teriak Sophie.

Namun kemudian wajah wanita itu pias saat medengar suara dingin Elara di belakang tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Eh, Kakak Elara..." ucapnya lirih.

Wanita itu menguji kesabaran Elara dengan panggilan menjijikkan. Elara melihat Martha yang terduduk di lantai. Tangannya memegang kening.

"Martha, kenapa kau duduk di lantai?"

Martha mendongak, mata Elara melebar saat melihat luka dikening pelayannya. Elara menatap tajam pada simpanan Ares itu.

"Kau apakan Martha?"

"I... itu, Martha jatuh sendiri. Bukan-"

PLAK!!!

Sebuah tamparan menghentikan ucapan Sophie. Ia terperangah sambil memegang pipinya yang nyeri dan merah. Mulutnya menganga karena terkejut. Ares datang bak pahlawan, wanita itu segera menghambur memeluknya sambil terisak.

"Elara! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar Sophie?" Ares menggeram.

Elara melihat Ares memeluk simpanannya dengan penuh kasih. Mengusap pipi wanita itu dengan lembut. Apakah ia marah? Ya, jika bisa, Elara ingin menjambak rambut wanita itu. Menyeretnya hingga keluar pintu rumah. "Ah... rasanya mungkin menyenangkan sekali," batinnya.

"Bilang pada simpananmu itu, agar jangan mengusikku. Martha adalah orangku, jika dia mengganggunya maka dia menggangguku! Ingatkan juga untuk berhenti memanggilku kakak, aku jijik mendengarnya," ucap Elara penuh penekanan.

"Kau begitu arogan, bagaimanapun juga Sophie sedang hamil," desis Ares.

"Anak itu bukan anakku, untuk apa aku peduli?"

"Dia penerus Atmaja, yang tidak bisa kau berikan padaku!" Ares seperti menancapkan belati tepat di jantung Elara.

Sampai kapan aku bisa mengemban janji ini? Rasanya aku ingin berhenti saja. Ibu... bolehkah aku menyerah?

Tbc.

Please rate, vote dan likenya yach!

Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

Hm... mulai gemes gak? aku seh klo jadi Elara mending minggat adja... siapa yang setujuu???

1
rdnrzf
😭😭😭😭😭
Taty Hartaty
apakah kebakaran itu disengaja Ares, supaya Charles keluar kota,hmmm
Ismi Kawai: bisa jadiii
total 1 replies
Taty Hartaty
pada akhir nya memperjuangkan sampah ,hmmm tes DNA ketahuan tuh
Ismi Kawai: akhirnya ketauan kak
total 1 replies
Taty Hartaty
jgn kasih kesempatan Thor si Ares klu perlu cerai aja
Ismi Kawai: iya kak... siapppp
total 1 replies
desi
mantap charles harus kasih pelajaran ara biar gak bodoh👍👍
Wisnu Mahendra
kenapa sih di hampir setiap novel tokoh ceweknya dibuat bodoh, apakah para pengarang tidak mempunyai ide lain?
Wisnu Mahendra
kayaknya authornya seneng dan bangga liat elara yg bertahan, mungkin authornya berharap hal itu terjadi dengan dirinya di dunia nyata
Wisnu Mahendra
kok tau kalo itu charles? kan pov alara? dan dia lagi balik basan, inilah yg membingungkan
Wisnu Mahendra
terlalu banyak pov bolak balik, menurut author mungkin bagus, tapi dari sudut pandang pembaca malah membingungkan, kalo gak mau disebut menjengkelkan
Anonim
bodoh si januar jdi kesel sendiri
Ismi Kawai: hahahah, sabar ya kak...
total 1 replies
Ruzita Ismail
Luar biasa
Ismi Kawai: terima kasih banyak untuk reviewnya kk. 💗
total 1 replies
christina paya wan
romi pengkhianat..
Ismi Kawai: iya kak... dia serigala berbulu domba
total 1 replies
Saya Sayekti
kecepatan buka diri.g seru..
Har Tati
ini penulisnya terlalu tinggi berhayalnya, menulis tdk memakai logika sama sekali dan membuat cerita asal membuat sj tlong menulis sebuah cerita pakelah sdikit logika bukan skedar hayalan yg tdk jelas
Ismi Kawai: maaf ya kak sudah merusak ekspektasi Kakak, sayangnya karya saya memang banyak yang tidak masuk akal. mksh sudah mampir... 🤗
total 1 replies
Adnia Vivo
Luar biasa
Ismi Kawai: makasih kak untuk supportnyaaa
total 1 replies
pipin bagendra
setelah kehilangan baru sadar klo sangat berarti
Ismi Kawai: emang suka gitu kak
total 1 replies
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍
Ismi Kawai: mksh sayang untuk jempolnyaaa
total 1 replies
pipin bagendra
Charles lucu
Ismi Kawai: disini emang lucu kak...
total 1 replies
alung thea
waw badurihkc
Ismi Kawai: mksh sudah mampir
total 1 replies
DN
sabar ya thor..... Inshaallah akan indah pada waktunya....🤲🙏
Ismi Kawai: mksh ya kk sayang. support aku terus yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!