NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:294.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03

Dimas menutup telepon dengan perasaan tidak enak.

Ia tidak langsung memasukkan ponsel ke saku. Selama beberapa detik, ia menatap layar yang sudah kembali ke daftar panggilan. Nama Naira masih ada di sana, tanpa foto, tanpa kata manis. Dulu ia menyimpan kontak istrinya dengan nama "Rumah".

Entah sejak kapan ia menggantinya menjadi Naira.

"Mas?"

Suara Clara membuat Dimas menoleh.

Perempuan itu duduk di kursi penumpang mobilnya. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangan memegang pergelangan kaki yang tidak terlihat luka. Wajahnya pucat, tapi matanya masih jernih.

"Dia marah?" tanya Clara pelan.

Dimas menyalakan mesin. "Tidak."

"Aku jadi tidak enak. Hari ini penting untuk Mbak Naira, kan?"

Dimas menarik napas. "Ayahnya baru pulang. Bisa diatur ulang."

Clara menunduk. "Tapi aku merasa merepotkan."

Kalimat itu seharusnya membuat Dimas lega. Clara tidak pernah meminta dengan kasar. Ia selalu seperti itu, lembut, tahu diri, seolah semua orang yang membantunya melakukannya atas kemauan sendiri.

Naira berbeda akhir-akhir ini.

Naira menatapnya dengan mata yang membuat Dimas merasa seperti terdakwa.

"Kamu yakin tidak perlu ke IGD?" tanya Dimas.

"Aku baik-baik saja. Hanya kaget. Tapi pasien di lantai tiga benar-benar butuh aku. Aku tidak bisa lambat."

"Aku antar."

Clara mengangguk. "Terima kasih, Mas."

Mobil melaju keluar dari parkiran rumah sakit. Dari kaca spion, Dimas sempat melihat sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Bentuknya familiar, terlalu mewah untuk parkiran rumah sakit biasa. Beberapa pria berjas berdiri di dekatnya.

Ia tidak memperhatikan lebih jauh.

Pikirannya masih terganggu oleh suara Naira.

Tidak perlu.

Dua kata itu pendek, tapi dinginnya bertahan di telinga.

Sementara itu, Naira masuk ke mobil hitam tanpa menoleh ke rumah keluarga Mahendra.

Seorang pria paruh baya dengan setelan gelap duduk di kursi depan. Namanya Bagas, orang kepercayaan ayahnya sejak Naira kecil. Ia menoleh, matanya memerah sedikit ketika melihat Naira.

"Non Naira."

Sebutan itu sudah lama tidak ia dengar.

"Pak Bagas," jawab Naira.

"Tuan Surya menunggu di rumah lama Menteng."

"Bukan bandara?"

"Beliau sudah mendarat subuh. Tidak ingin mengganggu keputusan Non."

Naira menatap keluar jendela. Pohon-pohon di pinggir jalan bergerak mundur. Jakarta sore itu padat, klakson terdengar di mana-mana, tetapi di dalam mobil, hening terasa sangat rapi.

Ayahnya sudah tiba sejak subuh.

Ayahnya bisa saja datang menjemputnya langsung, menunjukkan kepada Dimas siapa keluarga yang selama ini ia remehkan.

Tapi ayahnya menunggu.

Karena Naira meminta.

"Dia tidak datang?" tanya Bagas hati-hati.

Naira tersenyum tipis. "Dia datang ke tempat lain."

Bagas menunduk. Ia tidak bertanya lagi.

Mobil berbelok ke kawasan Menteng, lalu masuk ke halaman rumah tua berpagar tinggi. Tidak ada papan nama. Tidak ada simbol mencolok. Hanya rumah kolonial yang terawat, halaman luas, dan orang-orang yang berdiri tegak di kiri kanan jalan masuk.

Begitu Naira turun, semua menunduk.

"Selamat datang, Non Naira."

Suara itu serempak, rendah, dan penuh hormat.

Naira berhenti satu detik.

Lima tahun di rumah Mahendra, ia terbiasa dipanggil kalau air minum habis, kalau sambal kurang, kalau Bu Ratna perlu obat maag. Di sini, orang-orang yang bahkan lebih tua darinya menunduk bukan karena takut kepada suaminya, tapi karena tahu siapa dia.

Pintu utama terbuka.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sudah lebih banyak putih, tapi punggungnya tetap tegak. Wajahnya keras, wajah orang yang terlalu lama memerintah dan terlalu jarang dibiarkan terlihat lemah. Namun saat melihat Naira, semua kekerasan itu retak.

"Naira."

Satu kata.

Kaki Naira seperti kehilangan tenaga.

Ia berjalan cepat. Lalu lebih cepat. Saat berada di depan pria itu, ia tidak sempat menjaga wajahnya lagi.

"Papa."

Surya Atmadja memeluk putrinya.

Pelukan itu tidak lembut. Terlalu kuat, seperti ia takut Naira akan hilang lagi kalau dilepas. Naira menahan napas, lalu tubuhnya perlahan menyerah.

Ia tidak menangis saat Clara menjatuhkan undangannya.

Ia tidak menangis saat Dimas memilih pergi.

Tapi di dada ayahnya, matanya panas.

"Maaf," kata Surya dengan suara serak. "Papa pulang terlambat."

Naira menggeleng. "Papa pulang."

"Siapa yang menyakitimu?"

Pertanyaan itu pelan, tetapi orang-orang di halaman seperti ikut menahan napas.

Naira melepaskan pelukan. Ia menatap ayahnya. "Aku yang akan mengurusnya."

Surya menatapnya lama.

"Kamu masih membelanya?"

"Tidak."

"Lalu kenapa Papa tidak boleh bergerak?"

"Karena kalau Papa yang bergerak, semua orang akan bilang aku menang karena nama Atmadja." Naira mengusap sisa basah di sudut matanya. "Aku ingin mereka tahu aku tidak perlu diselamatkan dari awal. Aku hanya terlalu lama memilih diam."

Surya menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, tatapannya kembali tajam.

"Baik. Tapi kalau mereka menyentuhmu sekali lagi..."

"Aku tahu."

"Tidak, kamu belum tahu." Surya mencondongkan tubuh sedikit. "Nama Atmadja tidak pernah meninggalkan anaknya dua kali."

Naira terdiam.

Di belakang mereka, Bagas berdiri dengan kepala tertunduk. Ia membawa sebuah map kulit hitam.

"Dokumen yang Non minta sudah siap," katanya.

Naira menerima map itu. Di dalamnya ada salinan sertifikat rumah yang selama ini ditempati keluarga Mahendra, dokumen kepemilikan saham awal Mahendra Health Group, dan perjanjian lisensi paten farmasi yang selama ini menjadi mesin uang perusahaan Dimas.

Semua nama pemilik aslinya mengarah pada satu garis.

Naira Salsabila Atmadja.

Ia menutup map.

"Besok aku pulang ke rumah Mahendra."

Surya langsung mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Mengambil yang tersisa."

"Orang-orang Papa bisa mengambilnya."

"Bukan barang." Naira menatap map di tangannya. "Harga diriku."

Surya tidak menjawab.

Ia mengenal tatapan itu. Tatapan yang dulu dimiliki Sari Anggraini ketika menghadapi komite etik yang berusaha memaksanya menarik laporan. Tatapan perempuan yang sudah memutuskan jalan dan tidak bisa digeser oleh siapa pun.

Di tempat lain, Dimas mengantar Clara sampai ruang dokter.

Clara berjalan normal begitu turun dari mobil, lalu baru sadar Dimas melihat. Ia cepat-cepat sedikit pincang.

Dimas tidak berkomentar.

"Mas, kamu sebaiknya susul Mbak Naira," kata Clara.

"Nanti."

"Aku takut dia salah paham."

Dimas memijat pelipis. Migrainnya mulai naik. Biasanya jam segini Naira sudah menyiapkan obat dan minuman hangat. Hari ini rantang obatnya tertinggal di kantor, undangannya rusak, dan ia pergi entah ke mana.

Untuk pertama kali, rumah terasa tidak otomatis menunggunya.

"Dia akan pulang," kata Dimas, entah kepada Clara atau dirinya sendiri.

Clara menatapnya. "Kamu yakin?"

Dimas terdiam.

Ia ingin menjawab ya.

Naira selalu pulang.

Setelah bertengkar dengan ibunya, setelah dihina Vina, setelah ia lupa ulang tahun pernikahan mereka, setelah ia membatalkan janji berkali-kali, Naira selalu kembali ke dapur, ke kamar, ke sisinya.

Tapi suara Naira tadi berbeda.

Tidak perlu.

Clara menyentuh lengan Dimas pelan. "Mas, maaf. Karena aku, kamu jadi..."

Dimas menarik tangannya perlahan. "Istirahat saja."

Clara menurunkan mata, tampak terluka.

Dimas melihatnya, lalu rasa bersalah yang lama kembali bekerja. Ia berkata lebih lembut, "Aku akan minta Rendi jemput kamu nanti."

"Terima kasih."

Malam itu, Dimas pulang lebih awal dari biasanya.

Ia berharap melihat Naira di ruang makan. Atau di dapur. Atau di kamar, duduk diam sambil menunggunya meminta maaf lebih dulu.

Tapi rumah sunyi.

Bu Ratna sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Naira mana?" tanya Dimas.

Bu Ratna tidak menoleh. "Belum pulang. Paling drama."

Vina yang duduk di karpet tertawa. "Biarin saja, Mas. Nanti juga balik kalau lapar."

Dimas berdiri di tengah ruang keluarga.

Untuk pertama kali, kalimat itu tidak terdengar lucu.

Ia naik ke kamar.

Lemari Naira masih tertutup. Meja riasnya rapi. Di atas bantal, tidak ada pesan.

Tapi di nakas, cincin pernikahan Naira tergeletak.

Dimas mengambilnya.

Dingin.

Sangat dingin.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Naira masuk.

Besok pukul sepuluh. Aku pulang untuk bicara.

Dimas mengetik cepat.

Kamu di mana?

Pesannya terkirim.

Tidak dibaca.

Dimas menggenggam cincin itu sampai telapak tangannya sakit.

Di rumah lama Menteng, Naira berdiri di depan jendela kamar. Di belakangnya, map dokumen terletak di meja. Cincin Dimas sudah tidak ada di jarinya.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, jari manisnya terasa ringan.

1
Priskha
ini knp sih kok diulang2 bikin bingung bacanya
Priskha
aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
SediaKala
Quotes lagi weh.. ini keren sih kata2nya
SediaKala
Mendadak jadi detektif klo baca cerita ini.. beh mantap sekali
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
SediaKala
Quotes hari ini
Mr T
👍
Anonim
Nani heri Upitarini
semakin membaca,semakin mumet....
Nani heri Upitarini
kaku sekali bahasax....
Nani heri Upitarini
terulang LG episode sebelumx
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Night Watcher
tau ah.. bingung di bab ini..
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.
Tangsah Jagad
diulang lagi ulang lagi
Tangsah Jagad
karakter tangguh keren Dokter naira👍👍👍👍
Tangsah Jagad
mantapppp👍👍👍
Tangsah Jagad
tbah seruuuuu👍👍👍👍👍
Tangsah Jagad
smart thor👍👍👍👍
Tangsah Jagad
Clara km gak punya malu banget
Tangsah Jagad
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!