Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Tuan Muda ketahuan mengintip
Setelah perjalanan memakan waktu hampir satu jam, mobil mewah yang di kendarai Arjuna akhirnya sampai di tujuan. Arjuna memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari bengkel, di pinggir jalan beraspal yang mulai rusak. Di hadapannya terbentang jalan tanah yang berdebu, dan di ujung sana, di bawah naungan pohon besar, terlihat sebuah bangunan kayu tua bertuliskan cat putih yang sudah memudar 'BENGKEL PASIR'.
Suara bising terdengar dari sana. Suara ketukan besi, suara mesin berputar, suara orang tertawa, dan aroma bau oli serta karet terbakar menguar ke udara.
Arjuna turun dari mobil, menutup pintu dengan pelan. Dia merapikan jasnya yang bersih tanpa cela sedikit pun, memastikan penampilannya tetap sempurna, berwibawa, dan ... sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berdebu dan kotor.
Dia berjalan perlahan mendekati bengkel itu. Sepatu kulit mahalnya menginjak tanah berpasir. Hati-hati dia mengintip dari balik tumpukan ban bekas di depan bengkel.
Dan di sana ... dia melihatnya.
Kirana.
Gadis itu sedang duduk bersila di atas kap sebuah truk tua yang besar dan kotor. Dia tidak memakai jaket kemarin malam, hanya kaos putih ketat yang sedikit kusam dan penuh noda hitam, memamerkan lengan dan bahu yang halus namun kokoh. Rambut hitamnya diikat tinggi asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang menjuntai membingkai wajah cantiknya. Di tangannya ada kunci inggris besar yang dia ayunkan santai.
Di bawah sana, ada dua orang pria bertubuh besar, berwajah sangar dan terlihat kasar, sedang berdiri menatap ke atas ke arah Kirana dengan ragu-ragu.
"Ini maasalahnya bukan di mesinnya, tapi di otak kalian berdua nih!" terdengar suara renyah Kirana memecah suasana, suaranya keras dan tegas.
Arjuna mengerutkan kening, mendekat sedikit lagi agar bisa mendengar jelas.
"No ... Nona Kirana ... kami sudah cek berkali-kali, mesinnya bagus kok ... tapi kenapa mogok terus ya?" tanya salah satu pria besar itu dengan nada gugup.
Kirana tertawa kecil, lalu menunjuk dada pria itu dengan ujung kunci inggrisnya.
"Itu karena kalian ngasih makan minyak tanah ke mesinnya, bodoh! Hahaha ... masak motor besar dikasih minyak tanah sih? Dikasih bensin, Dong! Bensin! Dasar otak keranjang sampah. Biar apa? Biar bisa terbang?!" seru Kirana sambil tertawa lepas, matanya menyipit indah saat tertawa.
Kedua pria berbadan besar itu hanya bisa garuk kepala mereka yang tidak gatal, wajah mereka merah padam karena malu dimarahi gadis kecil itu, tapi mereka juga tak berani membantahnya.
"Maaf, Nona ... kami nggak tahu ... kirain sama saja cairan bakarnya ..."
Kirana menghela napas panjang, melompat turun dari atas kap truk itu dengan lincah dan indah, persis seperti kucing putih yang lincah. Tanpa peduli tanah dan oli di lantai, dia mendarat dengan tegak. Dia menepuk bahu kedua pria besar itu bergantian.
"Sudah, sudah. Nanti aku benerin. Tapi ingat ya, bayarannya dua kali lipat! Buat bayar obat pusing aku karena harus ngajarin orang yang otaknya kosong kayak kalian. Kalau nggak mau, ya sudah biar truk kalian jadi rumah tikus saja di sini!" ancam Kirana santai, sambil menyeringai jahil.
"Siap, Nona! Beres Nona Kirana! Berapapun kami bayar!" jawab mereka serempak, lalu gegas berbalik sambil melangkah menjauh dari hadapan sang montir.
Arjuna yang melihat semua itu dari balik tumpukan ban, sampai ternganga tak percaya. Dia melihat dua orang bergaya seperti preman bisa tunduk patuh dan takut setengah mati pada gadis mungil berwajah malaikat itu.
Gadis itu bukan hanya montir. Dia adalah penguasa di tempat ini.
Kirana berdiri sendiri di tengah bengkel itu, memutar badannya santai, lalu menghela napas panjang sambil merenggangkan otot tangannya yang lelah. Dia menatap langit yang mulai menggelap, wajahnya lelah tapi damai.
"Ah ... capek juga ngurusin manusia-manusia kurang akal gini ... padahal aku berencana pulang lebih cepat hari ini, makan gorengan, terus rebahan ... sambil cuci mata nonton Oppa-Oppa tampan!" gumamnya sendiri, lalu menggaruk hidungnya yang sedikit kotor terkena debu.
Saat itulah, matanya yang tajam tak sengaja melirik ke arah tumpukan ban bekas tempat Arjuna sedang bersembunyi.
Mata keduanya bertemu.
Wajah Kirana yang tadinya santai itu berubah kaget sesaat, lalu perlahan menyunggingkan senyum miring yang sangat dia kenal. Senyum yang mengejek, senyum yang penuh teka-teki.
Dia tidak terkejut, tidak kaget, dan sama sekali tidak terpesona. Dia malah terlihat ... geli.
Kirana berjalan santai mendekati Arjuna yang masih diam terpaku di balik tumpukan ban itu. Dia berhenti tepat di hadapan Tuan Muda itu, menatapnya dari atas ke bawah, lalu tertawa kecil.
"Wah-wah-wah ...lihat siapa yang datang berkunjung jauh-jauh ke tempat kumuh ini ..." ucap Kirana dengan nada berlagak kaget, sambil menekan ujung kunci inggrisnya ke dagu sendiri seolah berpikir keras.
Dia mendekatkan wajahnya, menatap mata Arjuna tepat ke dalam, bau campuran oli dan aroma tubuh alami gadis itu menusuk hidung Arjuna.
"Selamat sore, Tuan Dingin. Ada masalah apa nih sampai Tuan Dingin rela masuk ketempat kumuh ini? Mobilnya mogok lagi, atau jangan-jangan, hati Tuan Dingin yang mogok dan mau dibenerin sama aku ya?" tebak Kirana dengan senyum jahilnya.
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️