NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Pernikahan Yang Megah

Pernikahan Alana Putri Adiguna dan Rendi Pratama digelar pada suatu sore yang cerah di salah satu hotel bintang lima paling prestisius di Jakarta, yaitu Hotel Grand Luxoria. Seluruh biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Adiguna sebagai hadiah pernikahan yang istimewa. Ayah Alana, Bapak Adiguna, meskipun kesehatannya mulai menurun dan sering sakit-sakitan, memberikan restu penuh. Ia melihat sendiri betapa gigih dan ambisiusnya Rendi dalam bekerja selama masa pendekatan dan lamaran. “Dia anak yang bertanggung jawab,” kata Bapak Adiguna suatu hari sambil memegang bahu Rendi dengan tangan yang sudah agak gemetar.

Persiapan pernikahan berlangsung selama tiga bulan penuh. Tim wedding organizer kelas dunia didatangkan dari Singapura dan Jakarta. Tema pernikahan adalah *Timeless Elegance* dengan sentuhan nuansa emas dan putih gading. Ribuan bunga mawar impor, lily, dan peony diimpor khusus untuk menghiasi ballroom utama hotel yang luasnya mencapai seribu meter persegi. Lampu kristal Swarovski bergantung indah di langit-langit, memantulkan cahaya seperti ribuan berlian.

Alana, putri tunggal keluarga Adiguna yang cantik jelita, menghabiskan berhari-hari untuk fitting gaun pengantin. Gaunnya adalah kreasi desainer ternama Indonesia yang dipadukan dengan sentuhan couture Paris. Kain sutra putih lembut dengan aksen bordir emas halus membentuk siluet A-line yang anggun, dengan ekor gaun sepanjang dua meter. Kerudung panjangnya dihiasi mutiara kecil yang berkilauan. Rambutnya disanggul tinggi dengan beberapa helai ikal yang sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajahnya, membuatnya tampak seperti putri dari dongeng.

Sementara itu, Rendi Pratama, mempelai pria yang gagah, memilih setelan tuksedo hitam klasik dari bahan wol terbaik. Jasnya pas di badan, menonjolkan postur atletisnya yang tinggi tegap. Dasinya berwarna emas senada dengan tema pernikahan. Ia berdiri di depan cermin suite pria, merapikan dasi sambil tersenyum tipis. Di balik senyum itu, mata Rendi menyimpan kilau ambisi yang tak terucapkan.

Hari H tiba. Pukul 14.00 WIB, akad nikah digelar di ruang VIP hotel yang telah diubah menjadi aula sakral. Karpet merah digelar dari pintu masuk hingga mimbar. Keluarga besar Adiguna dan Pratama sudah duduk rapi di kursi-kursi berlapis kain satin. Para tamu undangan, yang berjumlah hampir lima ratus orang, termasuk rekan bisnis Bapak Adiguna, pejabat daerah, dan sahabat-sahabat Alana dari kalangan sosialita Jakarta, memenuhi ruangan dengan penuh haru.

Suasana hening ketika Rendi masuk, diiringi kedua orang tuanya. Ia berjalan dengan langkah mantap, wajahnya tenang namun penuh wibawa. Teman-teman Alana yang duduk di barisan depan saling berbisik iri. “Alana dapat paket lengkap banget. Tampan, cerdas, lulusan luar negeri, dan sangat mencintainya,” kata salah satu temannya sambil menghela napas. Memang, Rendi dikenal sebagai pria yang gigih. Dari latar belakang keluarga sederhana, ia berhasil membangun karir di perusahaan multinasional sebelum akhirnya mendekati Alana.

Alana masuk beberapa menit kemudian, diantar oleh ayahnya yang berjalan pelan. Gaunnya menyapu lantai dengan anggun. Wajahnya tersembunyi di balik kerudung tipis, tapi senyum bahagianya terpancar jelas. Bapak Adiguna menyerahkan tangan putrinya kepada Rendi dengan mata berkaca-kaca. “Jaga anak saya baik-baik, Nak,” katanya dengan suara serak.

Prosesi akad nikah dimulai. Penghulu yang diundang khusus, seorang ustaz ternama, membacakan khutbah singkat tentang pernikahan dalam Islam. Kemudian saat yang paling ditunggu tiba. Rendi duduk tegak di depan penghulu, suaranya lantang dan tegas tanpa sedikit pun keraguan.

“Saya terima nikahnya Alana binti Adiguna dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Saksi-saksi yang duduk di samping langsung berteriak serempak, “Sah!”

Ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan meriah. Alana menunduk, air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia kemudian mencium punggung tangan Rendi dengan penuh hormat dan kasih sayang. Saat itu, ia merasa dunia ini benar-benar miliknya. Rendi adalah pelindung, pangeran, dan segalanya baginya. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menjadi suaminya itu baru saja mendapatkan kunci masuk menuju seluruh kekayaan dan pengaruh keluarga Adiguna.

Setelah akad, keduanya berganti pakaian untuk sesi foto pra-resepsi. Alana mengenakan kebaya modern berwarna broken white dengan kain songket emas, sementara Rendi memakai beskap hitam dengan keris di pinggang. Mereka berfoto di berbagai spot yang telah disiapkan: di taman hotel dengan latar air mancur, di depan dinding bunga yang menjulang tinggi, dan di balkon suite dengan latar kota Jakarta yang sibuk di bawah sana.

Pukul 19.00 WIB, resepsi pernikahan dimulai. Ballroom utama hotel berubah menjadi negeri dongeng. Meja-meja bundar ditata elegan dengan centerpiece bunga segar dan lilin-lilin kecil. Lampu-lampu temaram menciptakan suasana romantis. Band live memainkan musik lembut saat pasangan pengantin memasuki ruangan diiringi sorak-sorai tamu.

Rendi dan Alana berjalan bergandengan di atas panggung. Rendi tersenyum lebar, menyalami setiap tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Ia tampak sangat karismatik, berbincang santun dengan para pejabat dan pengusaha senior. Alana berdiri di sisinya dengan bangga, sesekali menyandarkan kepala di bahu suaminya. Mereka memotong kue pengantin setinggi lima tingkat, menuangkan air soda sebagai simbol, dan melakukan berbagai prosesi adat Betawi yang dimodernisasi, termasuk siraman air kembang dan penyerahan mas kawin berupa seperangkat perhiasan emas dan uang.

Hidangan makan malam mewah disajikan: steak wagyu, lobster segar, sushi premium, dan berbagai hidangan Nusantara seperti rendang dan sate. Para tamu berpesta hingga larut malam. Teman-teman Alana mendekat, memeluk sahabatnya sambil berbisik, “Kamu beruntung sekali, Lana. Rendi benar-benar cinta mati sama kamu.”

Malam semakin larut. Setelah resepsi resmi selesai, Rendi membawa Alana ke kamar pengantin suite paling mewah di lantai tertinggi hotel. Kamar itu dihias penuh dengan kelopak bunga mawar merah dan putih yang membentuk hati besar di atas tempat tidur king-size. Aroma lilin aromaterapi vanila dan mawar memenuhi ruangan. Lampu redup, musik instrumental lembut mengalun dari speaker tersembunyi.

Rendi memeluk Alana dari belakang, dagunya bertumpu di bahu istrinya. “Mulai hari ini, semua yang milikku adalah milikmu, Alana. Dan semua bebanmu, biarlah menjadi bebanku,” bisiknya lembut di telinga Alana, suaranya dalam dan penuh perasaan.

Alana memejamkan mata, merasa sangat aman dan dicintai. Tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang suaminya. Ia merasakan kehangatan pelukan itu sebagai benteng perlindungan. Namun, jika saja Alana membuka matanya sedikit lebih lebar dan menoleh ke arah cermin besar di depan mereka, ia akan melihat tatapan Rendi yang berbeda. Bukan tatapan penuh cinta suami baru, melainkan tatapan penuh kemenangan seorang penakluk yang baru saja berhasil menjajah sebuah kerajaan baru.

Rendi menatap bayangan dirinya di cermin dengan senyum kecil yang licik. Tangannya memeluk pinggang Alana lebih erat. Dalam hati, ia berkata pada diri sendiri, “Akhirnya. Semua ini milikku sekarang.” Kekayaan keluarga Adiguna, koneksi bisnis yang luas, aset-aset properti, dan posisi sosial yang tinggi semuanya kini berada dalam genggamannya melalui pernikahan ini. Rendi Pratama, pria dari kalangan biasa, telah berhasil naik ke puncak dengan satu langkah yang brilian.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan penuh kelembutan dan gairah pernikahan baru. Alana menyerahkan segalanya dengan penuh kepercayaan. Sementara Rendi, di balik sentuhan penuh kasih sayangnya, mulai merencanakan langkah-langkah selanjutnya untuk menguasai sepenuhnya imperium Adiguna.

Pagi harinya, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis. Alana terbangun dalam pelukan Rendi. Ia tersenyum bahagia, mencium kening suaminya. “Terima kasih telah menjadi milikku selamanya,” katanya polos.

Rendi membalas pelukan itu, tersenyum manis. “Selamanya, sayang.”

Di luar kamar, kota Jakarta sudah sibuk dengan rutinitasnya. Di dalam kamar pengantin yang mewah itu, sebuah babak baru telah dimulai sebuah pernikahan yang megah, penuh kemewahan, tapi juga menyimpan rahasia gelap di balik senyum sempurna sang mempelai pria.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!