Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Perjalanan menuju Shadowspire tidak dilakukan melalui jalan darat biasa. Vorgas menggunakan sebuah teknik yang disebut Abyssal Transit, di mana realitas seolah-olah dilipat seperti kertas, membawa mereka melintasi ribuan mil hanya dalam beberapa jam melalui dimensi antara yang disebut The In-Between.
Bagi Kael, perjalanan itu adalah siksaan. Di dalam dimensi tersebut, tidak ada udara, hanya ada mana murni yang liar dan tidak stabil. Namun, bagi Sigil Void-nya, tempat itu adalah pesta pora. Sepanjang perjalanan, tubuh Kael terus-menerus menyedot partikel mana dari dinding dimensi, menyebabkan kulitnya retak dan mengeluarkan cahaya merah redup.
"Tahan dirimu, Bocah," geram Vorgas sambil menahan bahu Kael agar tidak terhisap ke dalam pusaran dimensi yang ia buat sendiri. "Jika kau meledak di sini, bahkan jiwamu pun tidak akan tersisa untuk neraka."
Saat mereka akhirnya keluar dari portal, Kael jatuh tersungkur di atas lantai batu yang dingin dan keras. Ia terbatuk, memuntahkan cairan hitam.
"Selamat datang di rumah barumu," kata Vorgas dingin.
Kael mengangkat kepalanya. Di hadapannya berdiri Shadowspire.
Itu bukanlah kastil biasa. Bangunan itu tampak seperti duri raksasa yang mencuat dari jantung gunung berapi purba yang sudah mati. Dindingnya terbuat dari Obsidian Cair yang telah membeku, berkilat tajam di bawah langit yang selalu tertutup awan petir abadi. Tidak ada pohon, tidak ada rumput. Hanya ada batu, api, dan bau kematian yang menyengat.
Di gerbang utama, belasan prajurit berbaju zirah hitam berdiri tegak. Mereka bukan manusia biasa, mata mereka bersinar dengan cahaya ungu, menandakan bahwa mereka telah menyerahkan sebagian kemanusiaan mereka untuk kekuatan Abyssal.
"Jenderal!" Para prajurit itu memberi hormat dengan menghantamkan tinju ke dada. Pandangan mereka kemudian beralih ke Kael, penuh dengan penghinaan dan rasa ingin tahu.
"Siapa tikus kecil ini, Jenderal? Apakah ini budak baru untuk dikorbankan ke Pit?" tanya seorang prajurit bertubuh besar dengan kapak raksasa di punggungnya.
Vorgas menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Hati-hati dengan mulutmu, Draken. Bocah ini adalah alasan kenapa kita semua masih memiliki tujuan di dunia ini. Dia adalah pemegang Sigil Void."
Seketika, suasana menjadi sunyi total. Para prajurit yang tadinya meremehkan, kini mundur selangkah secara serentak. Rasa takut yang murni terpancar dari mata mereka. Legenda tentang Void adalah sesuatu yang diceritakan untuk menakuti para ksatria paling berani sekalipun.
"Void?" bisik Draken, tangannya gemetar di gagang kapaknya. "Tapi... ramalan mengatakan dia akan melahap segalanya, termasuk kita."
"Maka dari itu," Vorgas menarik kerah jubah Kael dan menyeretnya masuk ke dalam kastil, "kita akan memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas rasa lapar itu, bukan sebaliknya."
Kael dibawa ke sebuah aula besar yang diterangi oleh obor api hitam—api yang tidak mengeluarkan panas, melainkan menyerap suhu ruangan hingga terasa membeku. Di ujung aula, duduk seorang wanita di atas kursi tulang yang tinggi.
Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah tua. Kulitnya pucat seperti rembulan, dan rambutnya yang putih panjang menjuntai hingga ke lantai. Namanya adalah Lady Malice, sang Oracle dari Shadowspire.
"Jadi, ini dia," suara Lady Malice lembut namun memiliki kekuatan yang mampu menggetarkan Inti Mana Kael. "Wadah yang telah lama hilang."
Ia berdiri dan mendekati Kael. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara. Saat ia sampai di depan Kael, ia memegang wajah pemuda itu dengan tangannya yang dingin.
"Matamu sudah mulai berubah, Kael Ravenhart," bisiknya. "Merah untuk kemarahan, hitam untuk kekosongan. Tapi Inti Manamu... oh, betapa berantakannya itu. Seperti badai di dalam botol kaca kecil."
"Aku ingin tahu cara mengendalikannya," kata Kael, mencoba tetap tegak meski ia merasa ingin pingsan. "Aku tidak ingin menjadi monster yang menghancurkan tanpa tujuan."
Lady Malice tersenyum tipis. "Di Shadowspire, tidak ada perbedaan antara manusia dan monster. Yang ada hanyalah yang kuat dan yang mati. Jika kau ingin kontrol, kau harus melewati neraka."
Ia menoleh ke arah Vorgas. "Bawa dia ke The Pit of Devouring. Mulailah pelatihan dasar."
The Pit of Devouring adalah sebuah arena melingkar di bawah tanah yang dipenuhi dengan ribuan makhluk yang disebut Mana-Leech—parasit sihir yang mampu menghisap energi dari tubuh manusia hingga kering dalam hitungan menit.
Kael dilemparkan ke dalam lubang itu tanpa senjata. Tubuhnya yang kurus segera dikerumuni oleh ribuan makhluk kecil berbentuk seperti lintah dengan taring kristal.
"Dengarkan aku, Bocah!" teriak Vorgas dari atas pinggiran lubang. "Biasanya, orang dengan Sigil elemen akan mencoba membakar atau menghancurkan mereka. Tapi kau berbeda! Kau adalah Void! Jangan tolak rasa lapar mereka! Jadilah predator yang lebih lapar dari mereka!"
Kael menjerit saat ribuan lintah itu mulai menggigit kulitnya, menghisap sisa-sisa mana yang ia miliki. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah jiwanya sedang ditarik keluar melalui pori-pori kulitnya.
"Terima itu, Kael..." suara Umbra bergema lagi, kali ini dengan nada mendesak. "Jangan melawan. Buka gerbangnya. Biarkan kekosongan di dalam dirimu menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih kecil yang mencoba memakannya."
Kael berhenti berteriak. Ia mencoba memejamkan mata dan fokus pada rasa sakit itu. Ia membayangkan dirinya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah lubang tanpa dasar di tengah samudera.
Gulp.
Sesuatu di dalam dada Kael berdenyut. Sigil di tangannya mulai mengeluarkan kabut hitam yang pekat.
Tiba-tiba, arah aliran energi berbalik.
Mana-Leech yang tadinya menghisap energi Kael mendadak membelalak (jika mereka punya mata). Energi mereka justru tertarik masuk ke dalam tubuh Kael dengan kecepatan yang mengerikan. Satu per satu, lintah-lintah itu mengering, berubah menjadi debu putih, dan meledak.
"Ya! Begitu!" teriak Vorgas dengan tawa gila.
Kael merasa seperti sedang meminum air dingin di tengah padang pasir yang sangat panas. Setiap lintah yang ia "makan" memberinya kekuatan baru. Namun, semakin banyak ia makan, semakin ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Perasaan empati, ketakutan, dan keraguan mulai tertutup oleh kabut hitam yang dingin.
Selama tiga puluh hari berikutnya, Kael tidak diizinkan keluar dari lubang itu. Ia tidak diberi makan atau minum secara normal. Nutrisinya berasal dari mana yang ia serap dari makhluk-makhluk yang dilemparkan ke dalam lubang tersebut.
Awalnya hanya lintah. Kemudian serigala bayangan. Lalu, pada minggu ketiga, Vorgas melemparkan tiga narapidana dari kerajaan musuh yang memiliki Sigil tingkat menengah.
"Makan atau dimakan, Kael!" perintah Vorgas.
Kael menatap ketiga orang itu. Mereka ketakutan, memegang senjata mereka dengan tangan gemetar. Kael tidak lagi merasa kasihan. Ia hanya melihat mereka sebagai tumpukan mana yang berjalan.
Dalam sekejap, Kael bergerak. Ia tidak lagi menggunakan kaki untuk berlari, ia meluncur di atas bayangan. Tangannya bergerak seperti cakar kegelapan.
"VOID BURIAL!"
Tanah di bawah para narapidana itu runtuh ke dalam dimensi kegelapan. Mereka bahkan tidak sempat berteriak sebelum keberadaan mereka lenyap sepenuhnya, diserap oleh Sigil Kael.
Garis ketiga pada Sigil Void Kael mulai terbentuk. Merah dan menyala.
Setelah sebulan berada di kegelapan, Kael akhirnya diizinkan keluar. Tubuhnya kini tidak lagi kurus lemah. Ia tampak lebih tegap, dengan otot-otot yang efisien dan gerakan yang tenang namun mematikan. Rambut hitamnya dibiarkan panjang, memberikan kesan liar.
Saat ia sedang membersihkan sisa-sisa debu mana di koridor kastil, seorang pemuda seumurannya menghalangi jalannya. Pemuda itu memiliki rambut merah menyala dan mengenakan zirah ringan yang elegan. Namanya adalah Xerxes, murid berbakat yang telah dilatih Vorgas selama tiga tahun.
"Jadi, kau adalah 'Bocah Ajaib' yang dibicarakan semua orang?" Xerxes mencibir, tangannya diselimuti oleh api hitam yang berbeda dari api celestial Liora. "Aku tidak melihat sesuatu yang spesial. Kau hanya tampak seperti pengemis yang baru saja merayap keluar dari selokan."
Kael menatapnya dengan mata merahnya yang tenang. "Minggir."
"Oh? Berani juga kau," Xerxes mengangkat tangannya. Api hitamnya membentuk pedang panjang yang memancarkan aura kehancuran. "Mari kita lihat apakah Void-mu bisa memakan api Abyssal Flame-ku. Api ini tidak memiliki mana biasa, ia tercipta dari kebencian murni!"
Xerxes menerjang dengan kecepatan luar biasa. Pedang apinya mengayun, membelah udara dengan suara yang mengerikan.
Kael tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya, membiarkan pedang api itu menebas telapak tangannya.
SZZZT—
Lantai di bawah mereka retak. Api hitam milik Xerxes membungkus tangan Kael, mencoba membakarnya hingga menjadi abu. Namun, pemandangan berikutnya membuat Xerxes membeku.
Api hitam itu tidak membakar tangan Kael. Api itu justru mengalir masuk ke dalam lubang di tengah Sigil Void Kael, seolah-olah api itu adalah makanan yang sangat lezat.
"Kebencian murni?" bisik Kael. Suaranya terdengar ganda, bercampur dengan tawa samar Umbra. "Terima kasih. Aku butuh makanan penutup."
Kael mengepalkan tangannya yang berselimut api itu, lalu memukul dada Xerxes.
"VOID COLLAPSE."
Ledakan energi hitam melemparkan Xerxes menabrak dinding obsidian kastil hingga hancur. Xerxes tergeletak pingsan, zirah mahalnya hancur, dan yang lebih mengerikan, api abadi yang biasanya membara di dalam dirinya telah padam sepenuhnya. Kael telah memakan sumber kekuatannya.
Vorgas muncul dari balik pilar, bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Dalam satu bulan, kau sudah bisa mengalahkan murid terbaikku. Tapi jangan sombong, Kael. Xerxes hanyalah ikan kecil di kolam yang dangkal."
Kael mengatur napasnya, mencoba menekan kembali haus mana yang tiba-tiba melonjak setelah merasakan kekuatan Xerxes. "Kapan kita menyerang Eldravale?"
Vorgas berhenti tertawa. Matanya menatap Kael dengan serius. "Eldravale? Kau masih memikirkan desa sampah itu? Ambisimu terlalu kecil, Bocah."
Vorgas berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah benua Archeon. "Dunia ini sedang dalam ambang peperangan besar. Tujuh Kerajaan Cahaya telah membentuk aliansi untuk memburu kita. Dan mereka memiliki sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar penyihir api atau petir."
"Apa itu?" tanya Kael.
"The Holy Wardens. Tujuh pahlawan terpilih yang memiliki Sigil God-Slayer. Dan salah satu dari mereka baru saja bangkit di Kerajaan Solaria."
Vorgas menoleh ke arah Kael dengan seringai haus darah. "Gadis yang kau biarkan hidup itu, Liora Ashveil... kau tahu ke mana dia pergi?"
Jantung Kael berdegup kencang. "Ke mana?"
"Dia dibawa oleh Katedral Cahaya. Mereka melihat potensi dalam Sigil Api Celestial-nya. Mereka akan menjadikannya senjata untuk membunuhmu. Dia bukan lagi teman masa kecilmu, Kael. Dia adalah eksekutor yang akan dikirim untuk memenggal kepalamu."
Kael terdiam. Bayangan wajah Liora yang menangis di bawah hujan muncul sesaat, sebelum akhirnya ditelan oleh kabut hitam di dalam pikirannya.
"Kalau begitu," kata Kael, suaranya kini benar-benar dingin, tanpa sisa kemanusiaan, "aku harus memastikan bahwa saat kami bertemu lagi, apinya tidak akan cukup panas untuk menyentuh kegelapanku."
Malam itu, Kael berdiri di puncak menara Shadowspire sendirian. Ia menatap telapak tangannya. Sigil Void-nya kini memiliki tiga retakan merah yang berdenyut kuat.
"Kau mendengarku, Umbra?" tanya Kael pada bayangannya.
"Aku selalu bersamamu," bayangan itu muncul, duduk di pinggiran menara dengan santai. "Kau telah belajar cara makan. Sekarang, kau harus belajar cara 'mencipta'."
"Mencipta? Bukankah Void hanya untuk menghancurkan?"
"Kehancuran hanyalah satu sisi koin. Sisi lainnya adalah ketiadaan yang bisa dibentuk. Kau bisa menciptakan senjata dari kegelapan yang tidak bisa dipatahkan oleh baja mana pun. Kau bisa memanggil entitas dari dimensi Void untuk melayani kehendakmu."
Umbra menunjuk ke arah jantung Kael. "Tapi peringatan untukmu... semakin besar kekuatan yang kau ambil, semakin sedikit 'Kael Ravenhart' yang tersisa. Suatu hari nanti, kau mungkin akan melahap dirimu sendiri."
Kael mengepalkan tangannya. "Jika itu harga yang harus kubayar untuk tidak lagi menjadi mangsa, aku akan membayarnya sepuluh kali lipat."
Tiba-tiba, jauh di ufuk timur, sebuah cahaya keemasan yang sangat terang membelah langit malam. Cahaya itu begitu murni hingga membuat mata Kael terasa perih. Itu adalah tanda pemanggilan para Holy Wardens.
Kael tahu, waktu damainya untuk berlatih telah habis. Dunia telah mengetahui keberadaannya, dan mereka tidak akan membiarkan sang pembawa kiamat tumbuh lebih kuat lagi.
"Biarkan mereka datang," bisik Kael.
Ia melompat dari puncak menara, terjun ke dalam kawah gunung berapi yang membara. Namun, sebelum ia menyentuh lava, tubuhnya lenyap menjadi kabut hitam, menyatu dengan kegelapan abadi Shadowspire.
Babak baru peperangan Archeon telah dimulai. Dan kali ini, sang kegelapan tidak akan lagi bersembunyi.