Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Udara di teras rumah mendadak terasa pengap, padahal angin sore masih berembus. Sarah masih berdiri dengan satu tangan memegang tas kecil, tangan yang lain menempel di perut. Di depannya, ibu mertua menahan pintu setengah terbuka, alisnya terangkat tinggi, menunggu jawaban yang ia anggap sudah seharusnya ia dengar.
Leo berdiri di samping, kemeja kerjanya sudah lepas dari dasi, keringat tipis membasahi pelipisnya. Napasnya masih sedikit memburu, entah karena berlari dari garasi atau karena kalimat yang baru saja ia lontarkan.
"...syaratnya, aku harus pindah ke Singapura. Bulan depan. Sendiri."
Kata terakhir itu jatuh seperti batu ke dalam sumur. Gema nya memantul di kepala Sarah. Sendiri.
Ibu mertua langsung memotong, suaranya meninggi, "Maksud kamu apa, Leo? Sendiri? Terus istri kamu sama cucu saya gimana? Apalagi kalau..." Matanya melirik tajam ke perut Sarah, "...kalau ternyata nanti repot."
Sarah mengepalkan ujung bajunya. Ia bisa merasakan bayinya menendang pelan, seakan ikut protes. Ia angkat dagu, mencoba menahan getar di suaranya.
"Dokter bilang anak kita perempuan, Bu. Mas Leo juga sudah tahu tadi di telepon."
Senyap.
Untuk tiga detik, hanya suara detik jam dinding dari ruang tamu yang terdengar. Wajah ibu mertua berubah. Bukan marah, tapi dingin. Ia mendengus pelan, lalu melangkah mundur, memberi jalan tapi tidak mengundang.
"Masuk dulu," katanya datar. "Kalian perlu bicara. Saya tidak mau ikut campur urusan anak muda." Meski nadanya berkata sebaliknya.
Di Ruang Keluarga yang Dingin
Ruang keluarga yang biasanya hangat dengan suara televisi kini terasa seperti ruang sidang. Sarah duduk di sofa single, punggung tegak meski perutnya terasa berat. Leo mondar-mandir di depan meja kaca, ponselnya ia letakkan, layarnya masih menyala menampilkan email dari HR kantor pusat.
"Ini promosi yang aku tunggu sejak kita baru nikah, Sarah," Leo akhirnya buka suara. Tangannya meremas rambut sendiri. "Senior Manager untuk regional. Gaji tiga kali lipat. Fasilitas apartemen, sekolah anak... untuk nanti."
"Untuk tiga bulan pertama aku nggak bisa bawa kalian," lanjutnya, lebih pelan. "Policy perusahaan. Adaptasi, training intensif. Setelah stabil, baru bisa urus dependent pass."
"Tiga bulan," ulang Sarah lirih. "Usia kandungan aku delapan bulan bulan depan, Mas. Kamu mau aku lahiran di sini, sendiri, sambil nunggu kamu stabil di negara orang?"
Leo mengusap wajahnya kasar. "Aku juga tidak mau ninggalin kamu, Sarah. Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Kalau aku tolak, lima tahun lagi belum tentu ada lagi. Kita bisa nabung buat masa depan dia." Ia menunjuk perut Sarah, tapi matanya tidak berani menatap lama.
Dari dapur, terdengar suara piring disengaja dibanting pelan. Ibu mertua. Selalu ada.
Sarah menunduk, mengelus perutnya dengan pola memutar yang selalu menenangkan bayinya. "Mas, waktu kita kehilangan anak pertama dulu, kamu janji. Kamu bilang, kalau Tuhan kasih kita lagi, kamu tidak akan biarin aku ngelewatin apa-apa sendirian. Ingat?"
Leo terdiam. Janji itu ia buat di rumah sakit, saat Sarah pucat di ranjang, menggenggam tangannya erat setelah kuretase. Janji yang diucapkan di antara isak dan rasa bersalah.
"Aku ingat," bisiknya akhirnya. Suaranya pecah. "Tapi Sarah, ini beda. Ini masa depan kita."
"Masa depan yang mana, Mas?" Sarah mengangkat wajah, air mata akhirnya jatuh satu. "Masa depan yang kamu bangun di Singapura, sementara anak kita lahir tanpa ayahnya? Atau masa depan yang kita jalani bareng, meski gajinya tidak tiga kali lipat?"
Leo tidak menjawab. Ia meraih ponselnya lagi. Saat itulah ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar: Dion - Kantor Pusat.
Leo mengangkatnya dengan kasar. "Halo?"
Suaranya lalu mengecil. Keningnya berkerut. Matanya membesar.
"Apa? Jadi bukan tiga bulan... setahun? Full satu tahun nggak boleh bawa keluarga? Tapi Pak... Iya, saya paham. Policy baru dari regional. Baik, Pak."
Telepon mati. Leo menatap Sarah, lalu ke ibunya. Napasnya memburu.
"Perubahannya mendadak," kata Leo. Suaranya kosong. "Bukan tiga bulan. Training satu tahun penuh di Singapura. Nggak ada opsi pulang tiap bulan. Nggak boleh bawa keluarga selama tahun pertama. Kalau aku ambil, aku baru bisa ketemu kalian tahun depan."
Bu Anisa yang dari tadi diam di ambang pintu dapur tiba-tiba melangkah maju. Kerutan di dahinya hilang, berganti binar yang Sarah kenal betul. Binar yang muncul tiap kali nama keluarga dibicarakan di arisan.
"Bagus," kata Bu Anisa, tegas. "Itu rezeki besar, Leo. Satu tahun nggak lama. Pejam mata juga lewat. Kamu berangkat saja."
Sarah reflek memegang perutnya lebih erat. "Satu tahun, Bu? Saya lahiran bulan depan. Anak pertama kami. Sendiri?"
Bu Anisa melirik Sarah, dagunya terangkat. "Makanya Ibu bilang dari awal. Kamu di sini aja sama Ibu. Biar Ibu yang urus kamu sama cucunya Ibu nanti. Nggak usah manja. Zaman Ibu dulu, Bapak kamu dinas dua tahun ke Kalimantan, Ibu juga baik-baik aja ngelahirin Leo. Nggak ada yang bantuin."
Nada “mengurus” itu bukan tawaran bantuan. Itu pengumuman. Sarah hafal betul. Artinya: kamu di bawah pengawasan Ibu, 24 jam.
Leo meremas ponselnya. "Sarah... aku..."
"Mas," potong Sarah pelan. Matanya lurus ke Leo, melewati ibunya. "Janji kamu di rumah sakit dulu gimana? Masih berlaku?"
Leo bungkam. Janji itu masih nggantung di udara, berat dan nyata.
Bu Anisa mendengus. "Laki-laki itu tiangnya keluarga, Sarah. Kalau tiangnya nggak kuat, roboh semua. Kamu mau Leo nolak rezeki cuma karena kamu nggak bisa nahan kangen setahun? Nanti orang-orang bilang anak Ibu nggak becus ambil kesempatan."
Sarah menatap mertuanya lama. Lalu senyum tipis, pahit, tapi matanya tidak lagi berkaca.
"Ibu bener. Tiangnya harus kuat." Ia menepuk perutnya pelan. "Makanya saya juga harus kuat. Anak ini juga harus kuat. Tapi kuat versi saya, Bu. Bukan versi Ibu."
Ia berdiri. Punggungnya terasa sakit, tapi ia tegakkan. Ia tidak menoleh ke Leo. Ia menoleh ke Bu Anisa.
"Bu, saya hargai Ibu mau 'mengurus' saya. Tapi saya ini istrinya Mas Leo, bukan anak Ibu yang perlu diawasi. Saya dan bayi ini punya hidup yang harus kami jalanin juga. Saya tidak bisa janji kasih Ibu cucu laki-laki. Saya juga nggak bisa janji diem aja nurut selama setahun. Tapi saya janji, anak ini akan lahir dari ibu yang waras dan berdaya. Mau Ibu terima atau tidak."
"Kurang ajar kamu ya," desis Bu Anisa. "Ibu ngomong gini demi kalian! Biar nama Leo nggak jelek di kantor!"
"Beda, Bu," jawab Sarah tenang. "Dulu Ibu nungguin Bapak dua tahun karena Ibu yang milih. Sekarang Ibu maksa saya nungguin Leo setahun karena Ibu yang mau. Itu bedanya."
Untuk pertama kali, Sarah berjalan melewati mereka. bukan menghindar, tapi berpegang teguh pada prinsip.
Leo masih berdiri di ruang keluarga, menatap punggung Sarah yang menghilang di balik pintu. Di tangannya, ponsel kembali menyala. Email dari HR: Please confirm your acceptance by tomorrow 5 PM.
Di tangannya yang lain, janji tiga tahun lalu di rumah sakit, terasa lebih berat dari kontrak setahun di Singapura.
Bu Anisa bersedekap. "Urus istrimu, Leo. Jangan sampai dia bikin malu keluarga. Kamu berangkat aja. Urusan Sarah biar Ibu yang handle."
Leo menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia sadar: apapun yang ia pilih detik ini, akan ada yang ia tinggalkan.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...