NovelToon NovelToon
AndaiKata

AndaiKata

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Elegi223

Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Berusaha untuk Normal

Sinar mentari pagi memasuki bumi hingga memasuki kamar bernuansa khas anak-anak usia belia, seorang gadis kecil terbangun dari tidur siangnya, keseharian gua terbilang membosankan, diam-diam mengambil buku kak Liam yang ada di rak lemari, gua bikin jadi rencana lewat buku tersebut, menulis beberapa rencana yang akan gua lakuin buat masa depan gua

terdengar aneh untuk bocah 2 tahun membuat rencana untuk masa depannya, tapi itulah yang gua lakuin, di dekat buku tersebut terdapat banyak sekali lukisan karya gua yang gua buat selama ini, ada yang di pajang  secara diam-diam di bawah kasur dikamar, ada juga yang di susun sedemikian rupa agar rapi, kadang kertas kosong sering berserakan di kamar Gua ,meski sering di marah bokap Gua karna terlalu berantakan, Gua mah bodoh amat, emang Gua peduli? karna aktifitas ngegambar gua yang ekstrim, terkadang hampir ketahuan ibu, berkat otak cerdik Gua ini nggak pernah sekalipun ketahuan.

saat tengah asik berkutat dengan alat lukis, gua mendengar suara derap kaki yang melangkah kearah gua, dengan sigap semua alat lukis yang Gua kumpulkan di taruh pada tempat tersudut agar sulit untuk di lihat, saat Gua menoleh untuk melihat siapa yang datang, gua melihat ibunda, terlihat ekspresi nya tersenyum menatapku, meskipun Gua tau kalau ekspresinya itu ada niat yang terselubung, Gua pura-pura nggak tau dengan lanjut aktifitas layaknya bayi normal, ia mendekat lalu berkata

"lana sayang ... tumbuh yang baik ya bunda harap kamu bisa jadi orang yang sukses"ucap Bunda tak lupa mengelus pucuk kepalaku dengan lembut, responku hanya cengir nggak berdosa.

Gua perpura pura berakting layaknya bayi normal, hal itu membuat Bunda terkekeh, ia menyapu pandangan sekitar, seketika keringat dingin membasahi pelipis Gua duh kalo ketahuan bisa gawat! karir Gua bisa lenyap, saat kepanikan membanjiri seluruh tubuhku suara raungan macan menggema, suara itu adalah suara perut Gua yang nampak rakus butuh asupan, Bundah terkekeh lalu keluar mengambil susu yang biasa Gua minum.

Sebelum ia melangkah keluar, ia berkata "Bunda bikinin kamu susu ya, kamu tunggu sini"ucapnya Gua cuma bisa mengangguk patuh, lagian kapan lagi Gua bisa minum susu kembali hehehe

"huh hapil aja bunda liat ini, kalo ketahuan bica kacau"ucapku, aku beranjak ke bawah kasur tempat biasaku menyimpan barang, namun khusus untuk buku ini aku simpat di lokasi yang cukup tersembunyi, sambil mengelap keringat yang menetes di pelupuk kening Gua, Gua berkata

"huh cemoga aja bunda cama cakak nggak, nemuin ini"ucap ku, saat Gua berbalik, Gua melihat Bunda membawa gelas berisi susu, yaps kalian nggak salah liat kalo Gua minum susu pakai gelas, hehehe ya Gua jujur malu kalo minum susu masih pakai dot, jadi Gua pakai susu deh, lagian Bundah juga nggak protes akan hal itu kok,

Bundah meletakan susu tersebut tepat di meja yang biasa aku pakai gambar, tempatnya tak jauh dari lemari buat nyimpenin barang,

"susunya di minum ya sayang, bundah mau pergi keluar dulu ya, kamu disini sama kakak kamu"ucap Bunda tak lupa mengelus pucuk kepalaku, mendengar kata keluar sontak membuat ku bersemangat, ya selama ini Gua cuma di rumah, bisa di bilang Gua bosan dirumah xixixi mau cari angin doang

Gua mengambil segelas susu tersebut dengan kedua telapak tangan lalu menenggaknya sampai habis tak tersisa, lalu meraih rok panjang ibu lalu menariknya dengan lembut tak lupa menatap ibu dengan mata yang berkaca-kaca memohon supaya bisa di ajak, Bunda nampak tak tega melihat ekspresiku yang memelas akhirnya ia berkata

"hmm tapi bunda, ada syarat..."ucap Bunda sengata menggantung kalimatnya, Gua nampak penasaran akhirnya berkata

Ekspresi Gua berubah seakan Penasaran dengan syarat yang akan di tentukan ibu, terlihat ia tersenyum lalu berkata

"kamu nggak boleh lepas dari tangan bunda paham?"ucap Bunda dengan nada lembutnya, Gua cuma bisa mengagguk, Gua pikir itu syarat yang mudah untukku yang notabennya introvert akut hihihi

setelah itu Bunda pergi, entah kedapur atau bersiap untuk pergi, yang jelasnya pasti kedapur dulu untuk meletakan gelas bekas Gua minum, melihat lemari Gua putusin buat bersiap-siap mengenakan baju yang pas, Gua akui di kehidupan kedua Gua kali ini Bunda sangat memperhatikan penampilanku, terutama rambutku, ia sering merawatnya meskipun kadang Gua suka usil tapi ia menghadapi Gua dengan sabar.

singkat cerita Gua udah sampe di pasar palimo kota palembang, sepanjang perjalanan Gua kadang kelelahan, tapi ibu nggak pernah berhenti menggendongku sampai tujuan, di pasar ini ya gak ada yang berubah, sama seperti kehiduapan Gua sebelumnya, hiruk pikuk terdengar di seluru penjuru pasar, penjual saling meneriakan dagangan mereka masing-masing, telihat pedagang sayur, meneriakan "dibeli.. dibeli... dibeli!" sungguh sangat meriah sekali, diriku di bawa Bunda kemana-mana, terombang ambing selayaknya Bundah adalah nakoda kapal, dan Gua adalah kapalnya, disitu Gua melihat ilmu Bunda soal tawar menawar, terutama soal kualitas, Bundah adalah orang yang sangat ahli soal hal tersebut sampai-sampai Gua kembali lelah merengek minta di gendong kembali, jujur aja Gua merasa malu sekaligus bahagia.

singkatnya Gua bersama Bunda akhirnya selesai dari pasar, terlihat belanjaan Bunda yang begitu banyak di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jari jemariku, ia kemudian menoleh kearah ku lalu berkata

"sayang mama udah selesai belanja, kamu mau kemana?"ucap Bunda dengan nafas terengah- engah, dengan nafas yang masih memburu dan mata Gua berbinar setelah mendengar perkataan Bunda, dengan semangat empat lima Gua berseru kecil menunjut toko buku yang tak jauh dari tempat kami istirahat

"oh kamu mau kesana?"tanya Bunda, Gua mengangguk cepat melihat itu Bunda tersenyum lalu berkata

"kalo begitu kita pulang dulu, setelah itu kita ke toko buku"ucap Bunda

singat cerita aku dan Bunda pulang kerumah terlihat ayah, tengah ngopi di depan teras rumah, Gua sudah biasa liat ayah ngopi tak lupa kaca mata bertengger di pangkal hidungnya, kaca mata yang Gua pakai saat Gua baca di kehidupan sebelumnya, hadiah terakhir ayah Gua sebelum ia wafat pas Gua masuk kuliah, ia memberikan kacamata tersebut sebelum terjadi kejadian yang menjijikan itu.

Meski terpaksa Gua dengan semangat menghampiri ayah, lalu memeluknya dengan lembut, meski gua semangat empat lima meski dalam hati berkata "berdebah kau makhluk jahanam" menepikan koran yang tengah ia baca, ayah menoleh melihat diriku melompat ia dengan sigap mengambil diriku dalam pelukannya, sambil berkata

"lana! kamu ini ya ayah udah bilang ke kamu jangan lompat-lompat entar kamu jatuh"ucapnya dengan suara lembut layaknya seorang ayah, Gua cuma bisa cengir aja, jujur kalo ada kayu gelam bakal Gua tampol pakai kayu itu muka bedebah ini, Bunda mendekat sambil meletakan belanjaannya tak jauh dari kami berpelukan, ia menatap ayah kemudian berkata

"sayang... aku sama lana pergi ke gramedia ya, tolong belanjaan ini kamu susun di kulkas"ucapnya dengan nada yang sangat lembut, membuat ayah terdiam sesaat kemudian ia dengan sigap mengambil belanjaan yang diletakan Bunda lalu berkata

"ya ya nih uang tambahan buat lana sapa tau dia mau beli buku disana"ucap ayah, sebenarnya Gua bingung ama kehidupan Gua sebelumnya tapi Gua tau kalo ayah Gua ini sangat brengsek, tapi Gua liat aja kedepannya kayak gimana, tapi boong, kalo dia di masa mendatang selingkuh, siap-siap aja Gua potong itu punya buwung.

Bunda mengambil uang pemberian ayah, kemudian pamit pergi menuju toko buku Gramedia kota palembang, ya jujur ini bangunan besar banget, belom lagi ada tempat buat baca bukunya, ini yang Gua demen, mana Bunda juga suka baca, jadi sering deh ngajakin Gua kesini, ya Gua cuma keluar buat kesini doang tapi itu tidak membuat Gua bosan,

Dengan jarak yang tak jauh untuk yang biasa jalan kaki dari rumah, kalo dari pengamatan Gua 4 km kalo jalan kaki mungkin sekitar 20-30 menitan, namanya juga indonesia, negara panas dingin begini ngarep kulit putih mah mustahil, tapi yang anehnya Bunda Gua ini putih bener wkwk, ampe noleh tuh beberapa orang liat Bunda Gua, sangking cantiknya, ya sama sih kayak Gua, Gua sedikit terengah-engah tapi merasa bersemangat sebab di perjalanan juga Gua melihat hiruk pikuk orang tengah sibuk dengan diri mereka masing-masing, gua suka liat interaksi antar mereka, terkadang sesuatu hal gua pelajarin dari mereka.

singkatnya gua udah sampai di Gramedia, cabang terdekat yang terletak tak jauh dari tempat tinggal gua, bangunan menjulang tinggi, tak lupa dengan suasana keramaiannya, ya gua kagum namun justru sedih, soalnya di tahun 2025 Gramedia sepi, bahkan untuk sekedar beli buku aja orang pada demen di onlen karna lebih mudah tanpa perlu dateng langsung,

di lantai pertama, gua melihat deretan buku, mulai dari novel, sampai ke buku anak-anak, Bunda membawa gua buat ke tempat buku anak-anak disitu gua disuguhin banyak buku tentang dongeng legenda, ataupun buku bergambar, Bunda mengambil salah satu buku yang gua liat sampul nya berjudul kisah-kisah dongeng rakyat, gua menikmati sekali cerita yang Bunda bawakan dari buku tersebut, mulai dari kisah bawang putih dan bawang merah, malin kundang, timun emas, dal seterusnya, hampir 2 jam di habiskan Bunda untuk membaca seluruh buku tersebut, karna emang buku tersebut tebalnya minta ampun.

Saat gua melihat sekeliling, gua melihat orang yang tidak asing, setelah gua perhatiin ternyata itu Mella??, kenapa bisa dia ada disini, katanya di bukan asli kota palembang?. pikir ku, aku memperhatikannya hingga jarak kami tak jauh darinya, saat gua ingin menghampirinya dia malah pergi, pas juga Bunda mengajak ku ke tempat buku pelajaran sekolah, dalam benak ku menyimpang pertanyaan kenapa dia bisa disini? apa dia tengah berkunjung di kota palembang? tapi ya sudah lah mau gimana lagi.

sesampainya gua di tempat buku pelajaran sekolah, mulai dari SD sampai SMA, disitu bukunya terbilang lengkap, di tahun tersebut kurikulum masih 2006, tentu tidak asing dimataku, di sana Bunda membawaku di tempat deretan buku matematika, yaps musuh besar gua, tapi karna gua dari masa depan alhasil semua pertanyaan Bunda bisa terjawab tentu dengan gerakan isyarat jari, kalau nggak bisa ketahuan gua ini jenius, tapi ada beberapa yang sengaja gua salahin biar nggak keliatan jenius, gua takut masa depan gua bakal berakhir di meja labolatorium.

entah sengaja atau nggak gua terpisah sama Bunda, terlihat di jendela ada kakek-kakek yang tengah mengemis meminta makan, gua merasa iba, melangkah kan kaki menuju keluar, saat itu gua liat kakek tersebut berpakaian lusuh tengah menadakan tangannya meminta- minta ke sekeliling meskipun tidak di tanggapi.

Gua mendekat kemudian memberikan uang 4000, yang pada jaman itu sangat lah besar, kakek tersebut tersenyum kemudian ia memberikan sebuah cincin emas, awalnya gua menolak, karna perbuatan gua murni tanpa imbalan, tapi dia terus memaksa gua buat nerima itu, alhasil gua terpaksa menerima cincin tersebu, telihat cincin tersebut sangatlah cantik, tanpa sadar gua pakai tuh cincin di jari manis gua, saat mau lepasin tuh cincin, susahnya minta ampun, saat gua mau berterima kasih ke kakek tersebut, menghilang entah kemana, tentu gua berpikir kalau kakek itu mungkin pergi saat gua tengah asik dengan cincin emas ini.

Saat gua ingin berbalik hendak kembali, gua melihat Bunda berjalan tergesa-gesa, hasinya... gua di marahin habis-habisan, meskipun begitu gua sempat tunjukin kalo gua bantuin kakek-kakek itu, sembari nunjukin cincin emas itu, namun Bunda tidak melihat cincin emas yang tersemat di jari manis ku, hah? kok bisa!

Nyahoo ges maaf ya kalo author nggak upload, author lagi sibuk baru ada waktu buat ngetik sekarang, nantikan terus bab selanjunya ya makasih MUAACHH

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!