"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bayam Transendental dan Standarisasi Alam
Keesokan harinya, matahari belum juga mencapai puncak kepala ketika Ye Xuan sudah berdiri di depan ladang bayamnya. Ia memegang cangkul dengan penuh tekad, meskipun matanya masih sedikit mengantuk. Namun, ketenangannya kembali terusik saat ia melihat barisan orang berjubah putih bersih sedang berdiri rapi di sepanjang jalan setapak menuju rumahnya.
Kali ini bukan tentara, bukan pula akuntan, melainkan sekelompok pemuda dan pemudi yang membawa buku catatan kecil dan kuas. Di barisan paling depan, seorang wanita dengan raut wajah sangat serius—seperti orang yang sedang menahan buang air besar—menghampiri Ye Xuan dengan langkah yang sangat terukur.
"Salam, Master Ye Xuan," ucap wanita itu sambil membungkuk tepat sembilan puluh derajat. "Kami dari Akademi Litigasi dan Standarisasi Alam. Kami di sini untuk memberikan sertifikasi terhadap bayam yang akan Anda tanam."
Ye Xuan mematung, cangkulnya hampir terlepas dari genggaman. "Sertifikasi? Bayam? Nona, ini cuma bayam cabut. Kenapa harus pakai sertifikat segala? Apa bayamnya mau melamar kerja di kantor pemerintahan?"
Wanita itu, yang memperkenalkan diri sebagai Instruktur Hwa, mengeluarkan sebuah penggaris kristal. "Menurut peraturan baru yang terbit setelah insiden 'Kangkung Raksasa' kemarin, setiap tanaman yang memiliki potensi menggoncang ekonomi nasional harus melalui uji kelayakan. Kami harus mengukur kadar klorofil, tingkat keasaman tanah, dan yang paling penting... memastikan tidak ada 'pupuk kadal' ilegal yang digunakan."
Ye Xuan melirik Ao Guang yang sedang asyik mencuci kaki di kolam. Sang Naga Langit itu langsung pura-pura tidak dengar dan sibuk bersiul konyol.
"Dengar, Nona Hwa," Ye Xuan bicara dengan nada tegas yang dibalut kebingungan luar biasa. "Bayam ini ditanam untuk dimakan, bukan untuk diuji laboratorium. Kalau kalian mau mengukur-ukur, ukur saja rumput di lapangan sana. Jangan ganggu bayamku, nanti dia stres dan rasanya jadi pahit!"
Instruktur Hwa tidak bergeming. "Kami harus melakukan prosedur ini demi keamanan konsumen. Jika bayam ini tumbuh menjadi pohon raksasa lagi, kami harus memastikan strukturnya cukup kuat untuk tidak menimpa pemukiman penduduk."
Ye Xuan menghela napas panjang, wajahnya berubah menjadi konyol karena frustrasi. "Baik! Kalau kalian mau menguji, silakan! Tapi syaratnya, kalian harus ikut mencangkul! Tidak ada data yang akurat tanpa merasakan kerasnya tanah ini!"
Secara mengejutkan, para peneliti muda itu langsung menyingkap jubah mereka, memperlihatkan pakaian olahraga ketat di dalamnya, dan masing-masing mengeluarkan cangkul perak yang berkilauan. Mereka mulai bekerja dengan presisi matematis, mencangkul tanah dengan sudut kemiringan yang sama persis.
"Satu... dua... dorong! Sudut kemiringan tiga puluh derajat!" teriak Instruktur Hwa memberikan komando.
Ye Xuan hanya bisa melongo melihat ladangnya berubah menjadi tempat senam massal para peneliti. "Aneh... benar-benar aneh. Kenapa semua orang yang datang ke sini ujung-ujungnya malah jadi kuli bangunan?"
Namun, saat benih bayam itu mulai disebar, sebuah fenomena kembali terjadi. Karena tanah tersebut sudah terlalu jenuh dengan energi dari sisa-sisa "pupuk" Ao Guang dan air sumur spiritual, benih bayam itu bukannya tumbuh normal, melainkan mengeluarkan cahaya neon berwarna ungu kebiruan.
"Master! Lihat! Bayamnya memancarkan radiasi Dao!" teriak salah satu peneliti dengan histeris sambil mencatat di bukunya.
"Radiasi matamu!" Ye Xuan berlari mendekat, wajahnya panik. "Itu pasti karena aku kebanyakan kasih abu kayu bakar semalam! Aduh, kalau bayamnya glowing begini, bagaimana cara makannya? Bisa-bisa perutku jadi lampu taman!"
Instruktur Hwa memeriksa cahaya itu dengan penggaris kristalnya, dan tiba-tiba kristal itu pecah berkeping-keping. Wajahnya yang kaku mendadak berubah menjadi penuh ketakutan yang konyol.
"Ini... ini bukan bayam biasa. Ini adalah 'Bayam Transendental Penghancur Logika'. Jika dimakan oleh orang biasa, mereka mungkin akan bisa melihat masa depan... atau setidaknya melihat apa yang akan mereka makan minggu depan!"
Ye Xuan duduk lemas di tanah, menutup wajahnya dengan caping. "Masa depan? Aku cuma mau makan sayur bening, kenapa urusannya jadi ramalan cuaca semesta? Pak Tua! Cepat ambil sapu! Kita harus menutupi bayam ini dengan tanah sebelum seluruh dunia tahu kalau kebun kita bisa menyala di malam hari!"
Ao Guang segera berlari membawa sapu lidi, sementara para peneliti itu malah sibuk bersujud di depan benih yang bersinar, menganggapnya sebagai keajaiban suci. Ye Xuan hanya bisa bergumam dalam hati, meratapi nasibnya sebagai petani yang sepertinya tidak akan pernah bisa panen tanpa memicu kiamat kecil di dunianya.