NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 003

Sebelum kita masuk lebih dalam ke alur cerita, mari kita bedah siapa saja penghuni dunia baru Zura.

Gadis yang baru saja menepis tangan Reygan itu adalah Zivanna Clarissa Winata, atau Jiwa Zura di dalam raga Ziva.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia sudah memegang gelar Ratu Bully. Namun, ada luka yang ia sembunyikan di balik bedak tebalnya dulu; mamanya meninggal tepat saat melahirkannya. Itulah alasan Papa Ziva, Pak Baskara, menjadi sangat dingin karena setiap melihat wajah Ziva, ia teringat akan kehilangan terbesarnya.

Ziva juga punya seorang kakak laki-laki bernama Abian Winata. Usianya 24 tahun, tampan, mapan, tapi punya hobi tunggal yang sangat menyebalkan: menjahili Ziva sampai menangis. Abian adalah satu-satunya orang yang tidak takut pada kemarahan Ziva, bahkan sering menyebut adiknya itu sebagai "Badut Ancol" jika dandanannya terlalu menor.

Lalu ada Aksa Erlangga, cowok berusia 18 tahun yang duduk di kelas XII-IPA 1.

Aksa bukan sekadar pemimpin geng Black Eagle; dia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Wajahnya? Jika Reygan adalah pangeran di negeri dongeng, maka Aksa adalah dewa yang turun langsung dari langit. Garis rahangnya tajam, matanya kelam, dan auranya sangat mendominasi. Teman-teman intinya—Kenan, Vino, Daren, dan Bram—adalah jajaran penguasa sekolah yang semuanya berusia 17-18 tahun.

Sementara Reygan Dirgantara (17 tahun) hanyalah sepupu Daren yang kebetulan populer karena wajah "baik-baik"-nya. Dan jangan lupakan Liana Putri (17 tahun), si protagonis asli novel yang hidupnya selalu tertindas namun tetap sabar bak malaikat.

Zura—yang kini di raga Ziva—akhirnya menemukan bangkunya di pojok kelas XI-IPA 1. Ia baru saja meletakkan tasnya ketika dua bayangan langsung menutupi meja.

"Ziva! Sumpah, lo kenapa?"

Itu adalah Manda (17 tahun) yang tadi menyapa di koridor, ditemani oleh Tika (17 tahun). Tika ini setipe dengan Manda: hobi pakai rok kependekan, kuku penuh kuteks warna-warni, dan mulut yang tidak bisa berhenti mengunyah permen karet. Mereka berdua adalah kaki tangan setia Ziva.

Ziva (Zura) mendongak malas. "Apa lagi sih?" Kan tadi udah bilang di depan, gue lagi pengen jadi manusia normal."

"Tapi Ziv, si cupu Liana tadi nggak lo siram pakai jus?" Tanya Tika heran. "Padahal dia tadi lewat depan kita dengan muka sok sucinya itu. Biasanya kan lo langsung sikat."

Ziva (Zura) memijat pelipisnya. "Siram menyiram itu tugas petugas kebersihan atau tukang taman, Tik. Gue ke sekolah mau belajar eh, mau tidur maksudnya. Capek kalau harus bikin drama tiap pagi. Mending lo berdua duduk deh, mumpung guru belum datang."

Manda dan Tika saling pandang. Mereka merasa ketua mereka sedang sakit jiwa.

"Oh, gue tahu!" Manda menjentikkan jari. "Ini taktik baru buat narik perhatian Reygan, kan?Pura-pura cuek supaya dia penasaran? Gila, lo pinter banget, Ziv!"

Ziva (Zura) memutar bola matanya. "Terserah kalian mau mikir apa. Pokoknya sekarang, gue mau istirahat. Jangan berisik."

Baru saja Ziva (Zura) mau memejamkan mata, ponselnya di saku bergetar. Sebuah pesan masuk dari kakaknya, Abian.

[Kak Abi Sableng]: Dek, bedak lo hari ini berapa senti? Jangan tebel-tebel, nanti semennya retak pas lo ketawa. Oh iya, jangan lupa pulang bawa martabak kalau nggak mau kamar lo gue isi kecoa.

Ziva (Zura) mendengus pelan. "Keluarga ini beneran ajaib," gumamnya. Ia membalas singkat: "Kamar gue lo isi kecoa, mobil lo gue isi kembang tujuh rupa."

Klik. Pesan terkirim.

Ziva (Zura) kembali menyimpan ponselnya. Ia menoleh ke arah jendela, menatap ke lapangan basket di mana anggota Black Eagle—termasuk Aksa—sedang berjalan menuju kantin.

Dalam hati, Zura membandingkan. "Dulu Ziva asli sangat terobsesi pada Reygan. Tapi kalau dilihat-lihat sekarang, Reygan itu 'biasa' saja. Justru cowok bernama Aksa itu yang punya level ketampanan di luar nalar. Gila, matanya Ziva dulu beneran katarak kali ya? batin Zura.

"Aksa yang kayak model begini dianggurin, malah ngejar Reygan yang sifatnya kayak kulkas dua pintu tapi nggak dingin-dingin amat."

Tapi sedetik kemudian, Zura menggelengkan kepalanya. "Nggak, Zura. Inget tujuan utama rebahan. Cowok ganteng itu sumber masalah.

Fokus tidur."

Di saat Ziva (Zura) mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur di atas meja kayu yang keras, di kelas XII, Aksa sedang duduk diam di bangkunya. Pikirannya entah kenapa terlempar kembali ke parkiran tadi. Ke arah seorang gadis yang menggerutu soal berisik motornya.

"Zivanna", gumam Aksa sangat pelan.

"Hah? Lo bilang apa, Aks?" Kenan menoleh.

"Nggak", jawab Aksa singkat, padat, dan jelas.

Ia kembali menatap layar ponselnya, namun sudut matanya menangkap sosok Liana yang lewat di depan kelasnya dengan wajah bingung mungkin masih memikirkan kenapa Ziva tidak merundungnya hari ini.

Ziva (Zura) baru saja akan menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan, mencari posisi ternyaman untuk mengarungi alam mimpi, ketika suara cempreng Manda kembali merusak suasana.

"Eh, Ziv! Lo lihat deh di grup angkatan. Foto lo pas turun dari mobil tadi pagi udah kesebar. Semua orang ngira lo murid pindahan dari Korea!" Manda menyodorkan ponselnya tepat ke depan hidung Ziva (Zura).

Ziva (Zura) hanya melirik malas dengan satu mata yang terbuka setengah. Di layar itu, ada fotonya yang sedang menyampirkan tas dengan wajah polos tanpa riasan—terlihat sangat kontral dengan profil Ziva yang biasanya penuh "cat dinding".

"Bagus dong, daripada dikira pindahan dari sirkuit," sahut Ziva (Zura) cuek, lalu benar-benar memejamkan mata.

"Tapi Ziv," Tika menyenggol bahu Ziva (Zura). "Liana tadi lihatin lo terus pas lo kasih tahu soal tali sepatu. Dia kayak ketakutan gitu. Apa nggak sebaiknya kita kasih 'pelajaran' kecil pas istirahat nanti? Biar dia tahu kalau lo cuma lagi cosplay jadi orang baik?

Ziva (Zura) menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat lelah padahal hari baru dimulai. Ia menegakkan punggungnya sedikit, menatap Manda dan Tika secara bergantian dengan tatapan yang tidak lagi penuh amarah, tapi penuh kebosanan.

"Denger ya, Nda,Tik. Nge-bully orang itu butuh strategi. Butuh tenaga buat teriak. Butuh mental buat denger tangisan. Dan yang paling penting, butuh waktu yang harusnya bisa gue pake buat tidur," ucap Ziva (Zura) dengan nada bicara yang sangat pelan. "Gue lagi diet."

"Diet?" Manda dan Tika kompak bertanya.

"Iya! Diet emosi. Gue mau hidup tenang, makan mie instan tanpa rasa bersalah, dan nggak mau berurusan sama protagonis maksud gue, sama si Liana itu."

"Jadi, kalau kalian berdua masih mau temenan sama gue, syaratnya cuma satu: Jangan bikin gue capek. Paham?"

Manda dan Tika hanya bisa mengangguk kaku. Karisma Ziva memang tidak hilang, tapi arahnya saja yang berbelok 180 derajat. Dari yang tadinya agresif, sekarang menjadi dominan dalam hal kemalasan.

Di sisi lain koridor, Aksa yang baru saja melewati ruang kelas XI-IPA 1, sempat melirik sekilas melalui jendela kaca yang sedikit terbuka. Ia melihat gadis itu—Ziva—yang sedang duduk malas sambil menopang dagu. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin dari AC kelas justru membuatnya terlihat jauh lebih hidup daripada Ziva yang dulu ia kenal dari cerita-cerita miring di sekolah.

Aksa tidak berhenti, tapi langkah kakinya sedikit melambat.

"Woi! Aks! Malah bengong," tegur Bram sambil merangkul bahu Aksa. "Tadi Kenan bilang ada cewek bening di kelas sebelah, lo udah lihat belum?"

"Udah," jawab Aksa singkat.

"Gimana menurut lo?" Ucap Kenan.

Aksa terdiam sejenak, membayangkan wajah polos Ziva yang tampak sangat tidak peduli dengan dunia sekitarnya.

"Berisik," gumamnya, tapi kali ini ada sedikit lengkungan tipis di sudut bibirnya yang nyaris tak terlihat.

Sementara itu, Ziva (Zura) di dalam kelas sudah berhasil masuk ke tahap awal mimpinya. Di dalam tidurnya, ia membayangkan sedang duduk di sebuah taman bunga, memegang semangkuk cilok bumbu kacang ekstra pedas tanpa ada gangguan dari eyeliner yang luntur atau kakak yang menyebalkan.

...Teng. Teng....

Bel pelajaran pertama berbunyi nyaring, menandakan drama SMA Pelita Bangsa yang baru saja dimulai. Tapi bagi Zivanna Clarissa Winata yang baru, dunia bisa runtuh sekalipun, asalkan ia sudah mendapatkan posisi tidur yang pas.

Pagi itu, Ratu Bully telah resmi pensiun, dan Ratu Rebahan baru saja naik takhta.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!