NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Langit malam berhias ribuan lampu kota, menyinari gedung hotel bintang lima milik keluarga Maverick. Malam itu suasana tampak mewah, para tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Undangan ulang tahun Leon Maverick, mahasiswa populer sekaligus putra keluarga kontraktor besar, menjadi sorotan banyak orang.

Di antara kerumunan, sosok Thalia muncul.

Gaun biru tua selutut dengan potongan sederhana namun elegan membalut tubuhnya. Rambut panjangnya digerai bergelombang, dihiasi jepit kecil berkilau. Tatapannya tenang, namun pesona bintang yang selama ini tersembunyi tak dapat disangkal.

Thalia tak datang untuk bersenang-senang. Ia masih ingat bagaimana Leon menolongnya di kantin beberapa waktu lalu. Undangan ini ia terima sebagai bentuk terima kasih, tidak lebih.

Begitu memasuki ballroom, banyak tatapan segera tertuju padanya. Bisik-bisik terdengar di antara para tamu.

"Bukankah itu Thalia Anderson?"

"Ya ampun, dia makin cantik saja... sekarang namanya sedang naik di dunia tarik suara, bukan?"

"Benar. Aku dengar dia sedang populer di beberapa komunitas fans."

Beberapa mahasiswa pria bahkan berusaha mendekat, mencoba mengajak bicara. Namun Thalia hanya tersenyum ramah, tidak pernah melebihi batas.

Leon yang menjadi pusat perhatian malam itu, tersenyum hangat begitu melihatnya.

"Thalia, kau datang." Ia menghampiri, suaranya tulus.

Thalia mengangguk kecil. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, Leon. Semoga kamu selalu sehat dan sukses."

Leon terkekeh, matanya berbinar. "Terima kasih. Kehadiranmu sudah cukup membuat pestaku lebih berwarna."

Sementara itu, dari sudut ruangan, tatapan penuh kebencian mengintai. Nadine berdiri dengan segelas champagne di tangan, ditemani Aurora dan dua temannya.

"Lihatlah dia," desis Aurora dengan suara penuh cemooh. "Sok artis. Baru sedikit populer, sudah berlagak seperti bintang utama pesta."

Nadine mengepalkan jemarinya. Wajah cantiknya menyimpan api cemburu yang membara.

"Tidak akan kubiarkan dia terus bersinar. Malam ini, Thalia akan hancur."

Marrie sudah mengatur semuanya. Abraham, pria playboy berusia matang yang sudah lama dekat dengan lingkaran keluarga, menunggu di kamar 333. Tugas Nadine hanyalah memastikan Thalia sampai di sana.

Nadine melangkah anggun, mendekati Thalia dengan senyum manis penuh kepura-puraan.

"Thalia," sapanya lembut.

Thalia menoleh, jelas terkejut. Biasanya Nadine tidak pernah bicara padanya dengan nada seramah ini.

"Ada apa?" jawab Thalia hati-hati.

"Aku hanya ingin berdamai. Tidak baik kalau terus bermusuhan, apalagi di pesta seperti ini. Untuk merayakan ulang tahun Leon, bagaimana kalau kita minum bersama?" Nadine menyodorkan segelas champagne.

Thalia sempat ragu. Ia tahu Nadine tidak pernah benar-benar tulus. Namun, menolak mentah-mentah di depan banyak orang akan menimbulkan kesan buruk. Nadine yang lebih dulu membaca keraguannya langsung menyindir.

"Apa kau takut padaku, Thalia? Atau kau memang tidak berani menerima ajakanku?"

Tatapan Thalia langsung dingin menusuk.

"Takut padamu? Jangan bermimpi, Nadine." Ia meraih gelas itu, meneguknya tanpa ragu.

Senyum Nadine melebar, penuh kepuasan. Cairan bening itu sudah ia beri campuran obat perangsang yang bekerja perlahan. Hanya menunggu waktu sampai Thalia kehilangan kendali.

Aurora yang berdiri tidak jauh ikut terkekeh. "Bagus. Malam ini akan jadi akhir dari citra malaikatnya."

Thalia meletakkan gelasnya, lalu berbalik menuju sisi lain ballroom. Namun kepalanya mulai terasa berat, pandangan sedikit kabur. Ia menggenggam jemarinya erat, berusaha tetap berdiri tegak.

Nadine mengamati setiap gerakannya. Begitu melihat Thalia goyah, ia tersenyum sinis lalu melangkah mendekat ke Aurora.

"Bersiaplah. Begitu dia menghilang, kau tahu apa yang harus dilakukan. Bawa orang-orang itu ke kamar 333. Kita akan buat dia dipermalukan habis-habisan."

Aurora mengangguk penuh semangat. "Tenang saja. Malam ini Thalia akan tamat."

Di lantai atas, kamar 333 sudah disiapkan. Abraham duduk dengan wajah mesum, menunggu "hadiah" yang dijanjikan. Di tangannya, segelas wine berputar-putar.

"Hm, semoga gadis itu tidak mengecewakan," gumamnya sambil tertawa kecil.

Kembali di ballroom, Thalia berjalan perlahan menuju balkon untuk menghirup udara segar.

Kepalanya semakin pening, napas tersengal. Ia menyandarkan tubuh pada dinding, berusaha menenangkan diri.

Di kejauhan, Nadine menatap puas.

Sebentar lagi... sebentar lagi dia akan jatuh. Dan saat itu, semua akan berakhir untukmu, Thalia.

Lampu pesta terus berkelap-kelip. Musik dari ballroom masih mengalun, namun di koridor lantai tiga suasananya tenang seperti permadani yang menelan suara. Lampu-lampu dinding menyiramkan cahaya kuning hangat, memantulkan nomor kamar berlapis perunggu: 333. Di balik angka itu, rencana yang disusun untuk mencelakai orang lain siap berputar arah.

Di ballroom, Nadine menahan napas pendek.

Panas merayap dari dada ke tengkuk, telapak tangan lembap. Efek rasa manis di champagne barusan bukan sisa gula-ada sesuatu yang mengacaukan ritme darahnya. Ia mengangkat kipas kecil, meredam gugup dengan senyum palsu.

"Aku ke kamar kecil dulu," katanya pada Aurora, berusaha terdengar biasa.

Aurora mencondongkan badan. "Kau baik-baik saja?"

"Baik." Nadine menekan kata itu, meski tumitnya terasa goyah.

Ia berbalik menuju lorong samping. Tepat ketika langkahnya melewati pilar, dua pria berjas hitam menyusul dari arah berlawanan. Potongan rambut rapi, kartu nama hotel menggantung di saku. Wajah mereka setenang batu.

"Nona Nadine Anderson?" salah satunya bertanya sopan.

Nadine mengerutkan dahi. "Ya?"

"Mohon ikut kami. Ada pesan dari Tuan Yoshi. Tamu beliau menunggu di ruang atas." Intonasi pria itu profesional seperti resepsionis, tidak memberi ruang tanya-jawab.

Nama Yoshi menyentak sisa logika yang masih dimiliki Nadine. Ayah? Lidahnya kaku. Panas dalam tubuh membuat pikirannya lamban, tetapi kata-kata "pesan dari Tuan Yoshi" terasa seperti perintah keluarga. Ia mencoba bertanya, "Ара-"

"Kami ditugaskan mengantar, Nona." Pria kedua menambahkan, lebih rendah. "Tolong."

Keduanya tidak mendorong, hanya memapah sopan-cukup tegas untuk memandu langkah yang mulai limbung. Nadine menyentuh dinding sejenak, lalu menurut. Dalam keadaan setengah sadar, ia mengira ini pengaturan ayahnya. Lagipula, mereka tampak resmi. Kartu hotel. Jalur staf. Lift khusus.

Di ear-piece mereka, suara Lucas terdengar dingin. "Objek A bergerak. Buka jalur lorong barat. Jangan biarkan terlihat di kamera publik."

"Siap."

Lift layanan terbuka sunyi. Begitu pintu menutup, salah seorang menekan tombol 3. Nadine bersandar pada panel, menelan ludah. Panas di tubuh meningkat-bukan lagi rasa malu, melainkan sesuatu yang asing dan memalukan. Ia memejam sesaat, tidak melihat tatapan sekilas kedua pria itu yang saling bertukar isyarat.

Koridor lantai tiga menyambut dengan udara yang lebih dingin. Langkah mereka hampir tidak bersuara di atas karpet. Mereka berhenti di depan 333. Salah satu pria mengetuk perlahan, lalu memutar kunci cadangan hotel yang di tempat milik keluarga Maverick-hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

Pintu terbuka. Aroma wine dan parfum mahal menyergap. Abraham berdiri di dalam dengan kemeja santai, cincin berkilau di jari, senyum yang tidak pernah ia sembunyikan dari siapa pun.

Pria pertama menunduk sopan. "Selamat malam, Tuan Abraham. Sesuai amanat Tuan Yoshi, kami mengantar Nona Nadine Anderson. Beliau menyebutkan-" ia menurunkan suara, formal, "-calon istri ketiga, seperti yang telah Tuan bicarakan."

Mata Abraham menyipit puas, seolah kepingan terakhir puzzle jatuh tepat di tempatnya. "Begitu," ujarnya, senyum menebal. Pandangannya menyapu Nadine yang memerah dan terengah. "Masuklah."

Nadine membuka mulut, ingin memastikan, namun lidahnya berat dan kepala berputar. Kata "istri ketiga" berpendar di tepi kesadaran. Ia sempat bergeming di ambang, lalu arus panas di nadi menggilas sisa ragunya. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Dua pria itu berpaling. Salah satunya mengirim pesan singkat ke Lucas: "Penyerahan bersih. Abraham percaya. Pintu terkunci."

Di sisi lain ballroom, Thalia baru hendak meninggalkan balkon ketika seorang pria tinggi berjas abu-abu gelap berdiri setengah membungkuk di ambang pintu samping.

"Nyonya Thalia," sapanya tenang. "Saya Lucas. Orang kepercayaan Tuan Aiden."

Thalia memiringkan kepala, mata waspada. "Kenapa menghalangi jalanku?"

Lucas menggeser tubuh, memberi ruang.

"Bukan menghalangi. Mengamankan. Ada yang berusaha menjerat Anda malam ini."

"Siapa?" Thalia bertanya datar.

"Nama itu tidak penting jika Anda ikut saya sekarang," jawab Lucas, tetap sopan. "Lorong ini lebih aman. Setelah itu saya akan jelaskan seperlunya."

Klaim

Thalia menatapnya beberapa detik. Dalam tatapan itu ada kalkulasi singkat: ia tidak suka diarahkan, tetapi ia juga tidak bodoh. Dari arah ballroom, matanya sempat menangkap Nadine telah pergi, wajahnya merah. Ada sesuatu yang janggal.

Thalia memberi angguk kecil.

"Baik. Tapi jelaskan sambil jalan," katanya.

Mereka menyusuri lorong servis yang sepi, melewati pintu dengan tanda STAFF ONLY. Lucas berjalan setengah tubuh di belakang, menjaga jarak, sementara dua anggota timnya telah menutup jalur belakang. Di ruang persiapan kecil, Lucas mempersilakan Thalia duduk, namun Thalia memilih berdiri.

"Minuman Anda tadi hendak dicampuri perangsang." ujar Lucas tanpa berputar. "Kami menukar sebelum Anda meneguk. Target yang memasang jebakan-Nadine-akhirnya meminumnya sendiri. Sementara minuman yang anda minum hanya mengakibatkan pusing, dalam satu jam pusingnya akan hilang. Maaf nyonya kami terpaksa melakukannya. itu semua agar pelaku percaya bahwa nyonya telah masuk jebakannya"

Mata Thalia mendingin. "Dan kau mengantarnya ke mana?"

"Ke tempat yang semula mereka siapkan untuk Anda." Suara Lucas tetap stabil. "Kamar 333. Di sana ada Tuan Abraham."

Nama itu tidak membuat Thalia gentar; yang disesaknya adalah kenyataan bahwa ada yang berniat menyeretnya ke skandal murahan. "Dan Aiden?" tanyanya, sekadar memastikan latar belakang gerak cepat ini.

"Beliau hanya memberi satu perintah," jawab Lucas. "Jangan biarkan siapa pun menyentuh Anda."

Keheningan sejenak. Thalia menghela napas perlahan. "Aku tidak suka berutang budi pada siapa pun," ucapnya jujur. "Tapi malam ini... baik. Sampaikan terima kasihku."

Lucas menunduk tipis. "Saya akan sampaikan. Sekarang, izinkan saya mengantar Anda keluar lewat jalur timur. Pesta sedang memanas dengan gosip yang tidak perlu."

"Aku tidak lari dari gosip," sahut Thalia. "Aku hanya memilih tempat dan waktu untuk menjelaskan. Untuk malam ini, aku pulang."

"Baik, Nona."

Sementara itu, Aurora mengitari ballroom seperti burung yang menabur benih gosip. Suaranya dibuat setengah bisik, setengah sengaja terdengar.

"Ada yang lihat Thalia... minta kunci kamar... katanya 333. Dengan seorang pria tua buncit."

"Serius?" Mata temannya membesar. "Dengan siapa?"

Aurora mengangkat bahu, pura-pura tidak ingin menyebut nama. "Aku tidak mau menuduh. Tapi kalau benar, kasihan Leon. Pesta ulang tahunnya bisa jadi bahan tertawaan."

Kata-kata "kasihan Leon" itulah yang menembus perhatian Leon sendiri. Ia menoleh dari kerumunan tamu yang menyalaminya, kening berkerut. "Ada apa dengan namaku?" tanyanya pada Aurora.

"Kamu jangan marah," Aurora mendahului, wajah dibuat iba. "Lebih baik kamu pastikan sendiri. Aku dengar Thalia minta kunci kamar 333. Mungkin tidak benar, tapi kalau benar... reputasi pestamu taruhannya."

Leon menarik napas, menahan kesal pada gaya bicara memutar itu. Thalia yang ia kenal tidak pernah sembarangan. Namun ia juga tidak bisa menampik bahwa ia juga penasaran akan kebenarannya. Ia menatap dua temannya. "Kita periksa. Cepat."

Aurora menyeringai kecil-nyaris tak terlihat. "Aku ikut."

Rombongan kecil bergerak menuju lift sisi kanan yang lebih sunyi. Mereka naik ke lantai tiga. Koridor menyambut dengan hawa dingin, kontras dengan panas di dada Aurora. Ia berjalan di belakang Leon, mengatur napas agar tidak terlalu tampak bersemangat.

"333 di ujung," kata salah satu teman Leon.

Mereka berhenti di depan pintu. Aurora menempelkan telinga, mencari-cari bunyi. Hening sesaat. Kemudian, samar, seperti gesekan kain dan hembusan napas tertahan. Aurora menatap Leon, bibirnya melengkung tipis.

"Ketuk," desaknya.

Leon menatap pintu sejenak. Ada sesuatu yang tidak ia suka dari seluruh situasi ini-campuran tidak hormat pada privasi dan jebakan pikiran buruk. Namun ia akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, lebih tegas.

Di dalam, ada suara langkah tergesa, lalu sunyi kembali. Gagang pintu sedikit bergetar, seolah seseorang meraih, namun tidak memutar. Aurora memutar mata pada teman-temannya-ini momen yang ia tunggu.

"Kalau tidak dibuka, kita panggil keamanan saja," bisik salah satu temannya.

"Tidak perlu," sahut Aurora cepat, takut peran utamanya dirampas. "Biar aku panggil resepsionis-katakan ada tamu sakit."

Di lantai servis, Lucas menerima laporan: "Rombongan mendekat ke 333. Aurora di antara mereka. Leon ikut."

Lucas menimbang cepat. Ia memilih tidak menimbulkan kegaduhan-mengosongkan koridor akan menimbulkan tanya lebih besar. Ia justru memerintahkan dua staf keamanan hotel untuk berjaga di ujung lorong, cukup terlihat agar ada alasan sopan untuk membubarkan bila perlu.

"Prioritas satu tetap Nyonya Thalia," katanya ke radio. "Pastikan jalur timur bersih. Mobil siap."

"Siap."

Lucas menoleh pada Thalia. "Kita berangkat sekarang, Nyonya."

"Terima kasih," katanya singkat.

"Dengan senang hati," jawab Lucas.

Mobil meluncur perlahan, menelan jarak dari gemerlap ballroom.

Di koridor lantai tiga, Aurora kembali bersama seorang staf yang membawa kartu master. "Ada tamu sakit," Aurora bersuara lebih keras, menyusun situasi agar tampak darurat.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!