Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta Sang Raja Mafia
Milan di musim dingin adalah panggung bagi para egois. Di kafe-kafe mewah distrik Brera, aroma kopi bercampur dengan wangi kulit dari butik-butik ternama. Namun, di dalam penthouse Volkov yang menjulang tinggi, atmosfernya jauh lebih pekat. Aiden Volkov tidak lagi hanya bergelut dengan kegilaan akibat ancaman musuh; kini, sebuah perasaan primitif yang jauh lebih sulit dikendalikan mulai membakar dadanya: Cemburu.
Pemicunya sebenarnya sederhana, namun bagi pria yang menganggap kontrol adalah segalanya, hal itu terasa seperti sabotase besar.
Sore itu, mansion kedatangan tamu yang tidak dijadwalkan. Seorang pria bernama Julian Valente, seorang kurator seni internasional sekaligus teman lama Ziva saat ia masih bekerja di sebuah galeri kecil di Jakarta sebelum nasib membawanya ke Milan. Julian sedang berada di Italia untuk pameran di Pinacoteca di Brera dan, entah bagaimana, berhasil melacak keberadaan Ziva melalui jaringan informan kelas atas yang ternyata juga merupakan rekan bisnis Aiden.
Aiden berdiri di balik pintu kaca ruang kerjanya, memegang gelas kristal berisi wiski. Matanya menyipit melihat pemandangan di ruang tamu bawah. Ziva tampak sangat ceria—keceriaan yang jarang Aiden lihat belakangan ini. Gadis itu tertawa lepas, memukul pelan lengan Julian saat pria itu menceritakan lelucon lama tentang masa-masa mereka di Jakarta.
"Dia terlihat... sangat nyaman," desis Aiden. Suaranya rendah, lebih mirip geraman harimau yang melihat wilayahnya diinjak.
Marco, yang berdiri di belakang Aiden, berdehem canggung. "Tuan Valente adalah warga sipil, Tuan. Rekam jejaknya bersih. Mereka hanya teman lama."
"Teman lama tidak menatap seorang wanita seolah-olah dia adalah lukisan Renaissance yang paling berharga, Marco," sahut Aiden. Gelas di tangannya berderit karena tekanan cengkeramannya.
Aiden tidak bisa membiarkan Julian pergi begitu saja tanpa "menyambutnya". Ia memerintahkan makan malam formal digelar. Di meja makan panjang yang biasanya hanya diisi oleh keheningan yang tegang, kini terdengar percakapan hangat antara Ziva dan Julian.
"Zivanna, kau ingat saat kita harus mengantar lukisan di tengah banjir Jakarta? Kau hampir menangis karena takut airnya masuk ke dalam truk," Julian tertawa, matanya berbinar menatap Ziva.
Ziva terkekeh, wajahnya merona karena tawa. "Ih, jangan diingetin! Itu kan memori memalukan!"
Aiden duduk di ujung meja, memotong daging steaknya dengan presisi yang menakutkan. Setiap denting pisaunya di atas piring porselen terdengar seperti ancaman.
"Julian," suara Aiden memotong tawa mereka. Dingin dan tajam. "Kurator seni adalah pekerjaan yang berbahaya di Milan. Banyak kolektor yang tidak suka jika milik mereka... diamati terlalu lama."
Julian, yang belum menyadari sepenuhnya siapa pria di ujung meja ini selain "pelindung kaya Ziva", tersenyum sopan. "Seni diciptakan untuk dinikmati, Signor Volkov. Jika sesuatu itu indah, adalah dosa jika kita memalingkan wajah."
Rahang Aiden mengeras. "Dan ada beberapa keindahan yang bersifat eksklusif. Menyentuhnya berarti mengundang kehancuran."
Ziva merasakan ketegangan yang mulai mencekik udara. Ia menatap Aiden dengan tatapan 'tolong-jangan-jadi-psikopat-sekarang'. "Bang Don, Julian cuma sebentar kok di sini. Dia besok udah harus ke Florence."
"Bagus," ucap Aiden pendek. "Karena Milan sangat tidak ramah bagi pendatang yang terlalu banyak bicara."
Setelah Julian pamit (dengan kawalan ketat pengawal Aiden yang lebih mirip pengantaran ke penjara), Ziva langsung menghampiri Aiden di ruang tengah.
"Bang! Lu apa-apaan sih?! Galak banget sama Julian. Dia itu temen baik gue!" protes Ziva, berkacak pinggang di depan Aiden yang sedang menatap perapian.
Aiden berbalik. Wajahnya tidak lagi dingin; ada api kemarahan yang liar di sana. "Teman baik? Dia menatapmu seolah dia memiliki hak atas tawamu, Ziva! Dia membicarakan masa lalu yang tidak aku ketahui!"
"Ya emang lu nggak tahu, kan kita baru ketemu beberapa bulan! Masa lalu gue ya urusan gue!"
Aiden melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Ziva terpaksa mendongak. "Tidak lagi. Sejak kau masuk ke rumah ini, masa lalumu, masa depanmu, dan setiap napas yang kau hirup adalah urusanku! Aku tidak suka melihat pria lain membuatmu tertawa seperti itu."
"Lu cemburu?" Ziva bertanya dengan nada tidak percaya. "Seorang Aiden Volkov, raja mafia yang ditakuti seluruh Eropa, cemburu sama kurator seni yang badannya nggak seberapa?"
"Aku tidak cemburu!" raung Aiden, meski urat di lehernya menonjol. "Aku hanya... aku hanya benci saat ada variabel yang tidak bisa kukendalikan masuk ke dalam hidupmu!"
"Halah, bohong! Lu cemburu buta, Bang! Lu ngerasa terancam cuma karena Julian tahu cerita banjir Jakarta gue!" Ziva mulai tertawa, sebuah tawa yang mengejek namun juga penuh kasih. "Bang Don, lu tuh ganteng, kaya, serem... tapi ternyata kalau cemburu lucu juga ya."
Tawa Ziva terhenti saat Aiden tiba-tiba mencengkeram pinggangnya dan menariknya hingga menempel ke tubuhnya. Cengkeraman itu kuat, posesif, dan penuh dominasi.
"Kau pikir ini lucu?" bisik Aiden tepat di depan bibir Ziva. "Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada pria itu jika dia berani menyentuh seujung rambutmu saja. Aku mulai kehilangan akal sehatku karena memikirkanmu dikelilingi musuh, dan sekarang aku harus melihatmu tersenyum pada pria dari masa lalumu? Jangan mengujiku, Zivanna."
Ziva tertegun. Ia bisa merasakan detak jantung Aiden yang liar. Pria ini benar-benar sedang tersiksa oleh perasaannya sendiri. Cemburu buta ini bukan sekadar rasa tidak aman; ini adalah manifestasi dari rasa takut Aiden akan kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa manusia.
"Bang..." Ziva menyentuh kemeja Aiden. "Julian itu cuma masa lalu yang nggak penting. Lu itu... lu itu masa depan gue yang ribet, bahaya, tapi yang gue mau. Lu nggak perlu cemburu. Nggak ada yang bisa gantiin naga gila kayak lu."
Aiden memejamkan mata sejenak, menghirup aroma stroberi dari rambut Ziva. Perlahan, amarahnya mereda, digantikan oleh posesivitas yang tenang namun lebih dalam.
Di luar, hujan kembali mengguyur Milan. Kota itu seolah menangis melihat kegilaan yang terjadi di dalam gedung pencakar langit tersebut. Di gang-gang gelap, agen-agen The Crimson Fang sedang memantau. Mereka melihat Julian keluar dari mansion dan segera mengikuti mobilnya.
Aiden, yang insting mafianya tidak pernah benar-benar tidur meski sedang cemburu, mendadak melepaskan pelukannya. Ia mendengar suara radio dari saku Marco di kejauhan.
"Tuan, Tuan Valente... mobilnya dihentikan oleh dua kendaraan hitam di dekat Parco Sempione," suara Marco terdengar dari interkom.
Mata Aiden seketika berubah. Cemburu butanya langsung berganti menjadi mode predator yang mematikan. "Crimson Fang. Mereka menggunakan dia untuk memancingku."
Ziva memucat. "Julian? Bang, tolongin dia! Dia nggak tahu apa-apa!"
Aiden menatap Ziva, lalu mengambil pistolnya dari meja. "Aku akan menyelamatkannya. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku tidak akan membiarkan siapa pun yang pernah kau sebut 'teman' mati karena urusanku. Dan juga... aku belum selesai menginterogasinya soal apa yang terjadi di truk banjir itu."
Aiden melesat keluar dengan tiga mobil pengawal. Di tengah kegelapan taman Sempione yang berkabut, ia menemukan mobil Julian yang sudah hancur kacanya. Para pengepung dari Crimson Fang terkejut melihat Sang Naga Hitam sendiri yang turun tangan untuk seorang kurator seni.
"Lepaskan dia," ucap Aiden sambil berjalan santai di tengah hujan, pistolnya menggantung di samping tubuhnya.
"Volkov! Kau peduli pada serangga ini?" teriak salah satu musuh.
Aiden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bergerak lebih cepat dari kilat. Suara tembakan merobek kesunyian malam Milan. Dalam waktu kurang dari dua menit, area itu dipenuhi oleh tubuh-tubuh musuh yang tersungkur di atas aspal yang basah.
Aiden menghampiri Julian yang gemetar di samping ban mobilnya. Aiden menarik kerah baju Julian, mengangkatnya sedikit hingga pria itu terpaksa menatap mata abu-abunya yang mengerikan.
"Dengar, Kurator," bisik Aiden. "Kau akan meninggalkan Italia malam ini juga. Jangan pernah menelepon Ziva. Jangan pernah mencarinya. Jika aku melihat namamu muncul di layar ponselnya lagi, aku akan memastikan kau menjadi bagian dari koleksi artefak bawah tanah yang tidak akan pernah ditemukan orang."
Julian mengangguk cepat dengan wajah sepucat kertas.
Saat Aiden kembali ke mansion, Ziva sudah menunggunya di lobi. Melihat Aiden kembali dengan noda darah di kemejanya (yang untungnya bukan darahnya sendiri), Ziva langsung memeluknya.
"Julian gimana?"
"Dia aman. Sudah dalam perjalanan ke bandara. Dia bilang dia mendadak ingin pensiun dari dunia seni di Italia," jawab Aiden datar.
Ziva melepaskan pelukan dan menatap Aiden curiga. "Lu nggak apa-apain dia kan, Bang?"
Aiden hanya menaikkan alisnya. "Aku hanya memberinya saran karier yang sangat berguna."
Aiden kemudian mengangkat Ziva dan menggendongnya menuju lantai atas. "Sekarang, berhentilah membicarakan pria lain. Malam ini, kau hanya boleh memikirkan naga gila yang baru saja menyelamatkan saingannya karena dia terlalu mencintaimu."
Milan kembali sunyi di bawah siraman hujan. Cemburu buta sang raja mafia mungkin telah mereda untuk sementara, namun di balik bayang-bayang katedral Duomo, para musuh menyadari satu hal penting: Aiden Volkov paling berbahaya saat dia merasa miliknya sedang terancam—baik oleh musuh dengan senapan, maupun oleh teman lama dengan kenangan masa lalu.
"Bang," bisik Ziva saat mereka di dalam lift.
"Hmm?"
"Lain kali kalau cemburu, bilang aja. Nggak usah pake acara mau bakar kota segala. Boros bensin."
Aiden hanya bisa mengecup dahi Ziva, menyadari bahwa meski ia menguasai Milan, ia akan selalu kalah telak di tangan gadis kurir ini.