Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden sutra yang tebal, menyinari lantai marmer kamar tamu utama.
Ketukan pelan namun tegas di pintu kayu jati itu membuyarkan lamunan Ambar yang baru saja tersadar dari tidur singkatnya yang gelisah.
Tok... tok... tok...
Ambar bangkit dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Matanya masih sedikit sembap. Saat ia membuka pintu, sosok Gabby berdiri di sana, sedang mendorong kursi roda yang membawa pria dengan tatapan sedingin es.
"Baru bangun?" tanya Baskara dengan suaranya rendah, bergema di koridor yang sepi.
Ambar menganggukkan kepalanya perlahan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Maaf, aku baru saja bisa tidur menjelang subuh tadi," jawabnya jujur.
Bayangan pengkhianatan Jayden dan Gea terus menghantuinya sepanjang malam.
Baskara memberikan isyarat dengan tangannya, dan tanpa sepatah kata pun, Gabby membungkuk hormat lalu beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang tegang.
Pria itu kemudian menyodorkan selembar kertas yang sejak tadi berada di pangkuannya.
Di bagian atas kertas itu tertera tulisan tebal: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN MAHENDRA.
"Ini surat perjanjian pernikahan kita. Kamu baca dulu baik-baik setiap poinnya," ucap Baskara datar.
Tatapannya lurus mengunci mata Ambar. "Aku tidak ingin ada paksaan. Jika kamu keberatan dengan isinya, kamu bisa pergi dari sini sekarang juga. Aku tidak akan menghalangimu."
Ambar menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia membaca poin demi poin; tentang status pernikahan yang rahasia, kewajibannya menjadi 'kaki' bagi Baskara, hingga klausul tentang pembalasan dendam yang didukung penuh oleh kekuatan finansial Mahendra.
Tidak ada kata cinta di sana. Hanya ada aliansi kekuatan.
Ambar menarik napas panjang. Di benaknya, ia melihat jam dinding.
Saat ini, di rumah keluarganya, Gea pasti sedang dirias dengan penuh tawa kemenangan, bersiap mengenakan gaun pengantin yang seharusnya milik Ambar.
Ambar menatap Baskara kembali. Tanpa ragu, ia meraih pena dari saku kursi roda pria itu.
"Aku tidak butuh waktu untuk berpikir, Tuan Baskara," ucap Ambar tegas.
Ia meletakkan kertas itu di atas meja hias di samping pintu dan menandatanganinya dengan coretan yang mantap.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan menjadi istrimu."
Baskara menatap tanda tangan itu, lalu menyeringai tipis—sebuah seringai yang mengandung janji akan badai besar bagi siapa pun yang berani meremehkan mereka.
"Pilihan yang cerdas," gumam Baskara.
"Sekarang, bersiaplah. Gabby sudah menyiapkan gaun yang jauh lebih mahal dari harga diri keluarga yang membuangmu. Kita berangkat ke penghulu satu jam lagi."
Ambar menganggukkan kepalanya dan segera mandi.
Setelah mandi, Ambar duduk di depan meja rias besar yang dikelilingi oleh lampu-lampu terang.
Rambutnya yang basah dibalut handuk putih, sementara Gabby dengan sigap mempersiapkan segala kebutuhan.
Tidak lama kemudian, dua orang penata rias profesional masuk dengan koper kosmetik yang lengkap.
Mereka membungkuk hormat seolah Ambar adalah seorang ratu.
"Silakan, Nona Ambar. Tuan Baskara meminta kami memberikan riasan yang paling sempurna untuk Anda," ucap salah satu MUA dengan ramah.
Tepat saat kuas rias pertama menyentuh kulit wajahnya, ponsel Ambar yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal
Ambar meraih ponselnya. Di layar, terpampang sebuah foto Gea yang sedang berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin lace putih milik Ambar—gaun yang Ambar pilih dengan penuh cinta berbulan-bulan lalu.
Gea tampak tersenyum lebar, memamerkan lekuk tubuhnya dalam balutan kain sutra itu.
"Terima kasih ya, Mbak, sudah memberikan gaun ini kepadaku. Pas sekali di badanku. Oh ya, jangan lupa makan ya, Mbak, meskipun mungkin sekarang Mbak lagi di pinggir jalan kelaparan. Kasihan."
Sementara itu di tempat lain, di dalam kamar pengantin yang seharusnya menjadi milik Ambar, suara tawa melengking pecah.
Gea tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
Ia melempar ponselnya ke kasur lalu berbalik, memeluk leher Jayden yang sudah rapi mengenakan setelan jas pengantin.
"Mungkin sekarang kakakku yang malang itu sedang menangis di pinggir jalan, Jay," ucap Gea manja, jemarinya membelai dasi Jayden.
"Atau mungkin dia sedang mengemis belas kasihan orang lewat karena tidak punya tempat tinggal."
Jayden hanya tersenyum tipis, meski ada sedikit kilat keraguan di matanya, ia tetap mengeratkan pelukannya pada pinggang Gea.
"Biarkan saja. Dia terlalu kuno untuk pria sepertiku, Gea. Sekarang, fokuslah pada acara kita. Sebentar lagi kita sah."
Kembali ke Ambar yang menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin.
Tidak ada air mata yang jatuh. Ia tidak lagi merasakan sakit hati yang menghancurkan, melainkan sebuah tekad yang membeku.
Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan tenang, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tolong," ucap Ambar pada sang MUA, "buat penampilanku begitu mempesona hingga siapa pun yang melihatku hari ini akan merasa sangat kecil di hadapanku."
"Tentu, Nona. Kami akan membuat Anda terlihat luar biasa," jawab MUA itu penuh semangat.
Satu jam lagi, Ambar akan berangkat. Bukan sebagai pengantin wanita Jayden yang malang, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya sanggup membeli seluruh harga diri keluarga pengkhianat itu.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang sibuk di kamar tamu utama.
Tim MUA bekerja dengan ketelitian tinggi, mengubah Ambar yang semalam tampak hancur menjadi sosok yang nyaris tak dikenali.
Rambutnya disanggul modern dengan aksen mutiara halus, membingkai wajahnya yang kini bersinar dengan riasan flawless yang menonjolkan mata tegasnya.
Gaun pengantin pilihan Baskara dimana sebuah mahakarya sutra putih gading dengan ekor panjang yang menjuntai—melekat sempurna di tubuh Ambar.
Kainnya yang mahal berkilau lembut setiap kali Ambar bergerak.
Gabby membantu memasangkan kalung berlian sederhana namun bernilai fantastis di leher jenjang Ambar.
"Nona Ambar, Anda sudah siap," ucap salah satu MUA dengan nada kagum.
Ambar menatap pantulan dirinya di cermin besar. Bukan lagi Ambar yang rapuh dan "kuno" yang ia lihat.
Di cermin itu berdiri seorang wanita berkelas, dingin, dan memancarkan aura kekuasaan yang tenang. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.
Di lantai bawah, di lobi utama yang megah, Baskara sudah menunggu di kursi rodanya.
Ia mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat rapi, menonjolkan wibawa alaminya meskipun dalam keterbatasan fisik.
Ia sedang menatap jam tangannya dengan tatapan tidak sabar saat suara langkah kaki halus terdengar dari arah tangga melingkar.
Baskara mendongak dan detik itu juga, waktu seolah berhenti. Baskara terpaku.
Ambar turun perlahan, langkahnya anggun dan mantap.
Ekor gaunnya menyapu anak tangga marmer dengan lembut.
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar lobi menerpa sosoknya, membuatnya terlihat seperti malaikat yang turun dari langit—namun dengan tatapan mata yang membara penuh dendam.
Baskara menelan salivanya keras-keras. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Jantungnya, yang selama ini hanya berdetak datar dan penuh keputusasaan, kini berpacu kencang, memukul-mukul dadanya dengan telak.
Ia belum pernah melihat wanita secantik ini, begitu rapuh semalam namun begitu mematikan pagi ini.
"Cantik sekali dia," gumam Baskara dalam hati, matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan Ambar.
Untuk sesaat, Baskara melupakan rencana balas dendamnya.
Ia melupakan rasa sakit di kakinya. Yang ada di pikirannya hanyalah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya—istri sah pewaris tunggal Mahendra.
Ambar sampai di anak tangga terakhir dan berjalan mendekati Baskara.
Ia berhenti tepat di depan kursi roda, menatap Baskara dengan tatapan datar namun penuh kepatuhan kontrak.
"Tuan Baskara," sapa Ambar pelan, suaranya tenang tanpa getaran emosi.
"Aku sudah siap."
Baskara berdehem, mencoba menguasai kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya.
Ia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang kini mengandung ketulusan kekaguman, bukan lagi sekadar sandiwara.
"Bagus," ucap Baskara, suaranya kini kembali berat dan berwibawa.
Ia mengulurkan tangannya yang dingin ke arah Ambar.
"Mari kita pergi. Dunia sudah terlalu lama menunggu kejutan dari kita."
Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan kota yang masih menyisakan sisa hujan semalam.
Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru halus mesin dan aroma parfum kayu cendana yang mahal dari tubuh Baskara.
Ambar duduk di samping kursi roda Baskara yang telah dikunci dengan aman di ruang belakang mobil yang luas.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya yang lentik, kini dihiasi kuku-kuku yang dipoles rapi, terus meremas kain sutra gaun pengantinnya yang sangat mahal.
Bayangan pengkhianatan Jayden kembali melintas seperti film rusak di kepalanya—tawa Gea, makian ayahnya, dan kehinaan saat ia diusir.
Baskara, yang sejak tadi memperhatikan melalui pantulan kaca jendela, akhirnya memecah keheningan.
"Apakah kamu ragu?" tanya Baskara dengan suara rendah dan berat.
Matanya yang tajam menatap sisi wajah Ambar yang terlihat sangat cantik namun menyimpan duka yang dalam.
Ambar tersentak pelan dan menoleh ke arah Baskara yang duduk tenang di sampingnya.
Pria itu tampak begitu berwibawa dalam setelan jas hitamnya, seolah tidak ada beban meski fisik dan hidupnya baru saja nyaris ia akhiri semalam.
"Tidak, Tuan. Aku tidak ragu," jawab Ambar dengan suara yang kini lebih mantap.
Ia menatap lurus ke dalam mata gelap Baskara. "Ragu hanya akan membuatku kembali menjadi mangsa. Hari ini, aku memilih untuk menjadi pemenang di sampingmu."
Baskara menganggukkan kepalanya perlahan. Sebuah kilatan rasa hormat muncul di matanya.
"Bagus. Karena setelah kata 'sah' terucap, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau merendahkanmu lagi, Ambar. Kamu adalah tanggung jawabku."
Tak berselang lama, mobil mewah itu mulai melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah masjid besar dengan arsitektur megah.
Di pelataran masjid itu, matahari pagi bersinar terang, seolah memberikan restu pada persatuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini.
Johan, sang supir, dengan sigap turun dan membukakan pintu.
"Kita sudah sampai, Tuan," lapor Johan dengan hormat.
Ambar menarik napas panjang, menguatkan hatinya.
Di jam yang sama, di tempat lain, Jayden mungkin sedang memegang tangan ayahnya untuk menikahi Gea. Namun di sini, Ambar akan memulai babak baru yang jauh lebih besar.
Baskara menoleh ke arah Ambar, memberikan isyarat dengan tangannya.
"Ayo, Ambar. Mari kita buat sejarah baru." ucap Baskara Mahendra.