Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
"Nir... lihat," Arka menunjuk ke arah akar pohon randu yang merambat menuju pintu rumah kakeknya.
Nirmala melihat lebih dekat. Di setiap lekukan akar pohon itu, ada sesuatu yang terselip. Ratusan foto manusia. Beberapa foto tampak baru, beberapa sudah menguning dan hancur. Dan di salah satu akar yang paling dekat dengan pintu, Nirmala melihat foto keluarganya foto ulang tahunnya yang ke-12 di Jakarta sedang dililit perlahan oleh serat-serat akar yang tampak seperti pembuluh darah.
"Mereka bukan hanya menunggu kita, Nir," kata Arka dengan nada putus asa. "Mereka sudah mulai mengonsumsi kenanganmu sejak kau memutuskan untuk menginjakkan kaki di sini."
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari dalam rumah. Seorang pria tua dengan punggung yang bungkuk muncul dari kegelapan. Ia memegang sebuah lentera tua yang cahayanya berwarna biru pucat.
"Nirmala..." suara itu parau dan dalam, seolah-olah berasal dari dalam sumur. "Kau pulang tepat waktu. Akarnya sudah sangat lapar."
Langkah kaki pria tua itu terhenti tepat di batas teras rumah yang terbuat dari kayu jati hitam. Cahaya lentera biru di tangannya menyinari wajahnya yang penuh kerutan, sedalam parit-parit di tanah kering. Matanya putih, hampir tanpa pupil, namun ia tampak bisa melihat Nirmala dengan sangat jelas.
"Masuklah, Nirmala. Jangan biarkan angin malam Sandiwayang mencuri sisa suaramu," ucap sang Kakek parau.
Nirmala melangkah maju dengan ragu, namun Arka menahan lengannya. Arka maju selangkah, menatap pria tua itu dengan tatapan menyelidik.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arka tajam. "Dan kenapa kau meletakkan foto-foto orang di akar pohon itu? Itu bukan sekadar hiasan, kan?"
Kakek itu terkekeh, suara tawanya terdengar seperti gesekan dahan kering yang patah. Ia mengalihkan pandangan putihnya ke arah Arka. "Anak muda dengan mata yang 'terbuka'. Jarang sekali ada orang sepertimu yang berani menginjakkan kaki di sini. Kau bertanya siapa aku? Aku adalah penjaga yang menunggu hutang dibayar."
"Kakek... apakah ini benar kau?" suara Nirmala gemetar. "Ayah bilang kau sudah lama meninggal."
"Ayahmu ingin aku mati dalam ingatannya, Nirmala. Itulah kesalahan pertamanya," Kakek itu berbalik dan masuk ke dalam rumah yang remang-remang. "Masuklah. Kita tidak bicara di depan 'mereka' yang sedang menguping di balik pohon."
Nirmala dan Arka terpaksa mengikuti. Di dalam rumah, aroma kemenyan bercampur dengan bau tanah basah sangat menyengat. Tidak ada perabotan modern. Hanya ada sebuah meja kayu besar dan kursi-kursi yang tampak menyatu dengan lantai kayu.
"Duduklah," perintah Kakek. Ia meletakkan lenteranya di tengah meja.
"Aku tidak datang untuk bertamu lama-lama," ujar Nirmala sambil tetap berdiri. "Aku menerima surat itu. Surat yang bilang ayahku punya hutang. Apa maksudnya? Ayahku sudah meninggal, Kakek. Apa lagi yang kalian inginkan?"
Kakek itu duduk perlahan, jemarinya yang panjang mengusap permukaan meja yang kasar. "Kematian bukan berarti lunas, Nirmala. Di Sandiwayang, kami tidak menggunakan uang. Kami menggunakan sesuatu yang lebih berharga untuk menjaga desa ini tetap hidup. Kami menggunakan ingatan."
"Ingatan?" Arka menyela, ia duduk di samping Nirmala, tangannya diam-diam meraba bandul obsidian-nya yang terus berdenyut.
"Maksudmu, kalian mencuri memori orang-orang?"
"Bukan mencuri, Anak Muda. Kami 'meminjam'. Ayahmu, Baskoro, dia melarikan diri ke kota membawa kepingan ingatan yang seharusnya ditanam di akar Randu ini. Dia ingin hidup bahagia, ingin memiliki keluarga yang normal, ingin melupakan bahwa dia adalah bagian dari tumbal desa ini."
Nirmala mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata itu. "Jadi... kebahagiaanku di kota... semua memori indahku dengan ayah dan ibu..."
"Itu adalah barang curian," potong Kakek dengan kejam. "Setiap tawa yang kau miliki di Jakarta adalah beban yang diderita oleh penduduk desa ini. Karena ayahmu tidak memberikan ingatannya, pohon Randu ini mencari penggantinya. Kau lihat foto-foto di luar? Itu adalah warga yang kehilangan kewarasannya karena ingatan mereka diambil paksa oleh akar pohon, demi menutupi lubang yang ditinggalkan ayahmu."
"Itu tidak masuk akal!" teriak Nirmala. "Itu hanya takhayul desa!"
"Takhayul?" Kakek itu berdiri dengan tiba-tiba, meskipun bungkuk, auranya terasa menekan. "Lalu kenapa kau tidak ingat apa pun sebelum usia tujuh tahun, Nirmala? Kenapa setiap kali kau mencoba mengingat masa kecilmu di sini, kepalamu terasa seperti ditusuk ribuan jarum?"
Nirmala terdiam. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Kilasan-kilasan hitam mulai bermunculan di matanya.
"Nir, jangan dengarkan dia! Dia mencoba memanipulasimu!" Arka berdiri dan menatap Kakek itu dengan amarah. "Aku bisa melihat energi di ruangan ini. Kau tidak sedang bicara sebagai kakeknya. Ada sesuatu yang lain yang bicara melalui mulutmu!"
Kakek itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang menghitam. "Kau cerdas, Arka. Tapi kecerdasanmu tidak akan membantu saat akarnya mulai merayap naik ke kakimu."
Arka melihat ke bawah. Benar saja, dari sela-sela lantai kayu, serat-serat akar halus berwarna putih pucat mulai melilit sepatu mereka.
"Apa yang kau inginkan dari Nirmala?" tanya Arka sambil menarik Nirmala mundur.
"Hanya satu hal," jawab Kakek, suaranya kini berubah menjadi ganda, seolah ada suara wanita dan anak kecil yang ikut berbicara bersamanya. "Kembalikan apa yang dibawa lari oleh Baskoro. Masuklah ke dalam kolam ingatan di bawah pohon Randu, dan biarkan akarnya mengambil kembali haknya. Setelah itu, Nirmala boleh pergi... sebagai wadah yang kosong."
"Wadah yang kosong?" bisik Nirmala ngeri. "Maksudmu... aku akan lupa siapa diriku? Aku akan lupa pada ayah dan ibu?"
"Itu adalah harga untuk keselamatan desa ini, Nirmala. Atau kau ingin melihat Arka menjadi tumbal berikutnya karena dia terlalu banyak tahu?" Kakek itu menunjuk ke arah Arka yang tiba-tiba terbatuk darah.
"Arka!" Nirmala menjerit.
"Aku... aku tidak apa-apa, Nir..." Arka berusaha berdiri, namun wajahnya sangat pucat. "Dia... dia menyerang mentalku..."
"Pilih, Nirmala," desak Kakek. "Menyerah sekarang, atau biarkan temanmu ini membusuk di bawah akar randu sebelum fajar menyingsing."